"Nikahkan Linda dan Alvin!" Ucap Rindi yang membuat semua orang yang berada di ruangan itu diam membatu. Linda yang mendengar hal tersebut, menggelengkan kepalanya pelan dan melangkah mendekat ke arah Rindi.
"Tidak Mbak, Linda sadar kalau Alvin itu milik Mbak Rindi. Lina akan menggugurkan kandungan ini dan pergi menjauh dari kalian" Ucap Linda yang kini sudah berdiri di samping brankar Rindi dengan kedua tangan kakaknya.
'Tadi katanya mau rebut Alvin dari Rindi. Ini gimana deh? Segala drama mau gugurin kandungan lagi' Batin Tika dengan menatap tak ramah kepada Linda.
"Jagan pernah lakuin hal itu Lin. Atau Mbak tidak akan pernah memaafkan kamu sampai kapan pun" Linda menggeleng ketika mendengar penuturan kakaknya.
Sedangkan Johan dan Lia yang mendengar penuturan Linda seakan tak mendengarnya. Kedua paruh baya tersebut seakan tidak terlalu peduli lagi dengan Linda sesudah mengetahui sifat aslinya.
"Ini sudah jalan takdir kalian. Jangan pernah berpikiran untuk menggugurkan janin yang tidak bersalah ini" Tambah Rindi dengan menyentuh perut adiknya.
"Maafin Linda sekali lagi Mbak. Linda salah kerena telah menyakiti hati Mbak yang sangat baik" Ucap Linda dengan memeluk erat tubuh kakaknya yang lebih mungil darinya.
Dibalik tubuh Rindi, Linda tersenyum senang, tak dapat dipungkiri bahwa memang semua itu adalah rencananya untuk merebut Alvin dari kakaknya itu.
'Terima kasih ya Allah, mungkin keberadaan janin ini mempermudah aku untuk merebut Alvin dari Mbak Rindi' Linda tersenyum senang atas keputusan Rindi. Tetapi wanita itu menutupinya dengan berpura-pura sedih.
"Mbak udah nggak papa Lin, Mbak akan mencoba ikhlas dan memulai hidup baru Mbak lagi dengan lembaran baru" Balas Rindi sembari menepuk pelan punggung adiknya itu.
Setelah pelukan keduanya terlepas, Johan dengan ketusnya meminta Linda untuk pulang diantarkan oleh Alvin dan langsung dianggukki oleh kedua sejoli tersebut.
Sikap Johan dan Lia masih sangat dingin kepada mereka berdua, terutama Linda. Johan masih belum bisa memaafkan kelakuan putri tirinya itu dan mantan tunangan putri kandungnya.
"Tika kamu pulang saja Nak, biar kami yang menjaga Rindi malam ini" Ucap Johan kepada Tika.
"Lebih baik Om dan Tante saja yang istirahat di rumah. Saya mau menjaga Rindi malam ini tidak papa Om. Lagian saya di apartemen sendirian tidak ada teman, jadi lebih baik di sini saja" Balas Tika dengan sopan kepada ayah dari sahabatnya.
"Papi sama Mama istirahat aja di rumah. Rindi tidak papa kok sama Tika berdua. Insyaallah Rindi baik-baik aja" Tambah Rindi dengan menyentuh tangan kedua orang tuanya.
"Kamu beneran tidak papa Nak kami tinggal?" Tanya Lia dan dibalas gelengan kepala oleh Rindi.
"Ya udah, Papi sama Mama pamit ya sayang. Tika kalau ada apa-apa hubungi Om ya" Ucap Johan kepada kedua gadis dihadapannya dan langsung dianggukki oleh keduanya.
Johan mencium kening putrinya dan dibalas kecupan oleh Rindi di tangan ayahnya. Lia juga mencium kening dan kedua pipi Rindi serta Tika. Lia memang sudah menganggap Tika seperti putrinya sendiri setelah mengetahui jika gadis itu yatim piatu.
Kedua orang tua Rindi keluar dari ruangan tepat pukul setengah dua belas malam. Setelahnya, Rindi meminta Tika untuk beristirahat di ranjang lain yang sudah disediakan dalam ruangan VIP Rindi.
Keduanya bersiap untuk tidur di ranjang masing-masing. Setelah beberapa menit berlalu, keduanya sudah terlelap dalam tidur nyenyak nya.
Malam semakin larut, suasana semakin sunyi hanya terdengar suara jangkrik di luar rumah sakit.
...*****...
Waktu masih pagi, jam menunjukkan pukul setengah enam. Namun di ruangan inap bayi, kini terdengar tangisan yang sangat kencang sehingga membuat dua orang yang ada di dalamnya terbangun dari tidurnya. Rafa dengan sigap menggendong putranya yang sedang menangis sesenggukan.
Nada segera membuatkan susu untuk Galaksi supaya tangisannya berhenti. Setelah selesai membuatnya, Nada mendekati Rafa yang kini sedang menepuk pelan pantat bayinya.
"Ayo Nak, diminum dulu susunya, kamu haus ya sayang? Makanya bangun sepagi ini. Cup...cup" Ucap Rafa dengan menyodorkan botol susunya ke arah mulut kecil putranya. Namun bukannya meminum susu, Galaksi masih tetap menangis kencang.
Nada membawa cucunya kedalam gendongannya. Mengecek apakah dia rewel karena buang air kecil atau karena sedang pup. Setelah di cek, ternyata keadaan kain bedong yang baru diganti tadi malam pukul tiga itu, masih tetap kering.
Menimang cucunya dengan berjalan mengelilingi ruangan tersebut supaya tangisnya reda, namun tidak berpengaruh apapun. Tangisannya masih tetap tersisa sehingga menyebabkan Galaksi muntah dan batuk.
Rafa yang melihat hal tersebut langsung panik karena takut terjadi hal buruk kepada putranya.
"Ma, itu Gala mengapa? Aduh gimana nih" Ucap Rafa dengan nada khawatirnya dengan tangan yang mengelap bekas muntahan putranya dengan tisu yang ada di atas meja.
"Kamu tidak usah panik Raf, Galaksi tidak papa, dia cuma muntah aja karena kebanyakan minum susu terus dia juga kelamaan nangis" Jawab Nada sembari menepuk pelan punggung cucunya.
"Cup...cup...cup, cucu Oma udah dong nangisnya. Nanti capek kalau kebanyakan nangis" Ucap Nada dengan tangan yang mengelus pelan kepala Galaksi.
Galaksi masih tetap melanjutkan acara tangisnya sehingga membuat Nada dan Rafa kelimpungan. Sudah setengah jam berlalu namun tangisnya masih belum berhenti. Suster yang lewat juga ikut membantu menenangkan Galaksi, Tiyas juga sudah sampai di rumah sakit untuk membantu Nada merawat Galaksi yang tengah rewel.
Pukul enam lewat, Rafa terpaksa harus pamit untuk pulang karena hari ini ada meeting di kantornya yang tidak bisa ditunda. Nada mengijinkan Rafa untuk bekerja karena sudah ada Tiyas yang membantu menjaga Galaksi.
Antariksa yang masih berada di rumah terpaksa harus dititipkan kepada sepupu Rafa yang malah justru merasa senang dan tidak direpotkan oleh Antariksa, karena dia merupakan anak yang tidak rewel.
Kini Tiyas sedang berusaha untuk menenangkan Galaksi yang masih menangis. Seketika Tiyas teringat tadi malam, ketika hal serupa terjadi.
"Nyonya, tadi malam kan Den Gala bisa tenang karena digendong Mbak Rindi, gimana kalau kita bawa Den Gala ke Mbak Rindi Nyonya?" Usul Tiyas.
"Oh iya, mengapa baru ingat sekarang ya? Kamu tahu ruangan yang ditempati Rindi kan? Kita coba aja siapa tahu Galaksi bisa berhenti menangis" Ucap Nada yang langsung dianggukki oleh Tiyas.
Tiyas menggendong Galaksi dan diikuti oleh Nada yang berada di belakangnya menuju ke ruang rawat Rindi.
Didalam ruangannya, Rindi baru saja terbangun dan menengok ke arah ranjang Tika yang masih terlelap. Beranjak turun dari brankar, Rindi berjalan ke arah kamar mandi untuk cuci muka.
Tika terbangun dari tidurnya karena mendengar ketokan di pintu. Setelah membukanya, Tika dikejutkan karena ada seorang wanita paruh baya dan seseorang wanita yang memakai baju layaknya baby sister dengan bayi menangis yang ada di gendongannya.
"Permisi Nak, benar ini ruangan Rindi?" Tanya Nada dengan cepat.
"Oh iya benar Bu, mari silakan masuk" Jawab Tika dengan membuka lebar pintu supaya Nada dan Tiyas bisa memasuki ruangan Rindi.
Setelah semua duduk di sofa, Nada menceritakan semuanya kepada Tika. Kini mereka sedang menunggu Rindi yang berada di dalam kamar mandi.
'Ceklek'
Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Rindi yang tampak terkejut melihat adanya Nada, Tiyas dan Galaksi yang sedang menangis. Yang lebih membuat Rindi kelimpungan adalah, bayi mungil itu sedang menangis.
Karena tidak tega melihat muka Galaksi yang sudah memerah karena menangis terlalu lama, Rindi berjalan pelan ke arah Tiyas dan membawa segera Galaksi kedalam gendongannya.
"Cup...cup...cup anak ganteng nggak boleh rewel dong. Kan tadi malam udah dibilangin jangan nangis lagi. Jadi batuk kan sayang" Ucap Rindi seraya menenangkan Galaksi dengan cara menimang bayi mungil tersebut.
Tangisan galaksi perlahan terhenti saat Rindi mencium kedua pipi dan kening Galaksi dengan penuh kasih sayang. Menatap kedua bola mata Galaksi yang berwarna abu-abu itu dan menghapus sisa air mata yang membekas di pipinya.
Nada, Tika dan Tiyas menatap tak percaya ke arah Rindi yang sedang menimang Galaksi di dekat jendela. Memperhatikan cara Rindi menenangkan Galaksi membuat ketiga wanita tersebut menatap kagum ke arah Rindi.
"Cara Mbak Rindi menenangkan Den Galaksi seperti perilaku seorang ibu pada anaknya. Saya jadi salut sama Mbak Rindi. Meskipun Den Galaksi bukan siapa-siapanya, Mbak Rindi kelihatan tulus banget sama Den Galaksi" Tutur Tiyas yang dianggukki oleh Nada dan Tika. Mereka bertiga mengobrol tanpa rasa canggung meskipun Nada sudah tua, namun tatap nyaman saat diajak ngobrol.
Rindi merebahkan bayi kecil yang berada di gendongannya di atas brankar dan juga mendudukkan dirinya sehingga mereka berdua berada di brankar yang sama. Rindi menatap wajah bulat Galaksi dengan senyum manisnya sehingga membuat bayi itu juga ikut tersenyum.
"Aduh kok ganteng banget sih kalau lagi senyum gini" Ucap Rindi sembari menggesekkan hidungnya pelan ke perut Galaksi sehingga membuat bayi kecil berusia enam hari itu tersenyum lebar menampakkan gusinya karena kegelian. Rindi tertawa lepas melihat kelucuan Galaksi kala menjilat bibirnya.
"Ih, kok melet-melet sayang, kamu haus ya? Sebentar ya ganteng" Ucap Rindi dengan lembutnya.
"Mbak Tiyas, minta tolong susunya Gala ada?" Tanya Rindi dan dianggukki oleh Tiyas yang segera memberikan botol bayi milik Galaksi pada Rindi.
"Nih diminum sayang. Aduh...anak ganteng haus banget ya, sampai nggak sabar gitu. Pelan-pelan aja Nak, nggak akan ada yang minta susunya" Ucap Rindi dengan tangan kanan yang memegang botol bayi dan memperhatikan Galaksi yang sedang berada di gendongannya.
Tanpa disadari, Nada merekam semua interaksi Rindi dengan cucunya menggunakan ponselnya dan mengirimkannya kepada putranya.
Tika pamit kepada semuanya untuk mandi karena sedari bangun dirinya merasa badannya sangat lengket. Tika memasuki kamar mandi dengan menenteng tas yang berisi keperluannya.
"Jangan bobo dulu ya sayang nanti muntah" Kata Rindi sembari memberikan botol susu Galaksi yang sudah kosong kepada Tiyas.
Tangannya masih menimang Galaksi dengan dirinya yang sedang duduk di atas brankar. Tiyas membantu Rindi untuk mengikatkan rambut karena Rindi sedang menggendong Galaksi sehingga tidak bisa mengikat rambutnya sendiri.
Setelah beberapa waktu, Rindi merebahkan tubuh mungil Galaksi yang sudah tertidur di atas brankar yang sama dengannya.
"Bu, Galaksi biarkan tidur di sini tidak apa-apa. Nanti takutnya kalau kembali ke kamarnya malah terbangun dan rewel lagi" Ucap Rindi kepada Nada setelah menidurkan Galaksi dengan nyaman.
"Iya Nak, maaf jadi merepotkan lagi. Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan gadis sebaik kamu" Balas Nada dengan senyum teduhnya.
"Saya malah senang karena bisa mengenal bayi lucu seperti Galaksi sehingga membuat saya melupakan masalah saya sejenak" Balas Rindi.
"Kalau begitu, saya tinggal pulang sebentar tidak apa kan Nak?" Tanya Nada.
"Tidak apa-apa Bu. Lagian di sini ada Mbak Tiyas dan Tika teman saya. Insyaallah saya jaga cucu Ibu" Balas Rindi sembari memperhatikan Galaksi yang sedang tertidur.
"Tiyas, saya pulang dulu ya. Mau liat kondisi rumah dahulu, kamu baik-baik di sini ya. Oh iya, kamu sudah sarapan belum?" Ucap Nada kepada baby sister cucunya itu.
"Baik Nyonya, saya belum sarapan Nyonya. Mungkin habis ini saya ke kantin" Balas Tiyas dan dijawab anggukan oleh Nada.
"Yasudah saya pamit dulu" Kata Nada lalu berjalan meninggalkan ruang rawat Rindi dan bertepatan dengan Tika yang sudah selesai mandi.
"Mbak Tiyas, ikut saya ke kantin yuk sekalian sarapan bersama" Ajak Tika kepada Tiyas. Pengasuh dari Galaksi itu mengangguk sebagai jawabannya.
"Itu buburnya dimakan dahulu Mbak, baru saja diantarkan oleh suster" Peringat Tiyas kepada Rindi dan dianggukki olehnya.
"Mbak Rindi, saya tinggal dahulu ke kantin tidak papa kan? Ada yang mau dipesan biar sekalian saya beliin?" Tanya Tiyas.
"Tidak ada Mbak, saya tidak nitip apa-apa deh kan udah ada bubur sama air putih juga" Balas Rindi sembari mengangkat mangkuk buburnya untuk dimakan mumpung masih hangat.
"Ya udah Gue sama Mbak Tiyas ke kantin ya Rin. Baik-baik Lo sama si bayi di sini" Ucap Tika dengan tawa kecilnya di akhir kalimat.
"Saya permisi dahulu Mbak" Tambah Tiyas dengan membungkukkan badannya dan dianggukki oleh Rindi dan senyum tipisnya.
"Oke" Jawab singkat Rindi dengan mengacungkan jempolnya.
Setelah keduanya keluar menuju kantin rumah sakit menyisakan Rindi yang sedang memakan buburnya. Setelah selesai makan, meminum obatnya dengan air putih yang tersedia di atas nakas.
Rindi mendudukkan tubuhnya di samping Galaksi yang sudah tertidur pulas. Menunggu beberapa saat supaya makanannya tercerna dengan baik. Tangannya membuka layar ponsel dan membalas pesan yang masuk selama dia sakit.
Mata Rindi terasa sangat berat karena menahan ngantuk. Akhirnya Rindi membaringkan tubuhnya di samping Galaksi yang sudah tertidur. memosisikan tidurnya dengan miring menghadap bayi mungil tersebut.
Mengamati sebentar wajah tampan Galaksi dan tersenyum manis dengan tangan menyentuh pipi gembul milik Galaksi.
'Andai saja, kamu bayiku Nak'
Rindi menggelengkan kepalanya guna mengusir hal konyol tersebut, wanita cantik itu terkekeh geli karena pemikirannya barusan . Setelahnya Rindi mengecup pelan kening Galaksi di sertai bisikan halusnya.
"Selamat tidur jagoan kecilku" Bisik Rindi dengan suara lembutnya di dekat telinga Galaksi. Setelah mengucapkan hal tersebut, Rindi terlelap dalam tidurnya di samping Galaksi.
...*****...
Wah, Rindi ketemu lagi nih sama Galaksi. Gimana ya karma yang akan didapat oleh Linda di masa yang akan datang? Ditunggu kelanjutannya ya...
Terimakasih untuk kakak-kakak yang masih stay di cerita ini dan Terimakasih untuk Like dan Komennya.
...Gracias...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 314 Episodes
Comments
Yuli Yuli
rindi mempunyai sifat keibuan yg tulus JD mgkn smua bayi akan seneng dgnnya
2024-05-09
0
Kartolo Bae
kenapa🤔bkn mengapa
2024-03-07
0
Kartolo Bae
kenapa bukan mengapa
2024-03-07
0