Rindi mengerjapkan matanya berulang kali dan setelah matanya terbuka lebar, Rindi melihat ke arah jam dinding yang sekarang sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Mengalihkan pandangannya ke arah samping, seketika senyumnya terbit kala melihat balita kecil yang tertidur pulas.
"Masih pules ternyata" Gumam Rindi pelan sembari mengusap lembut kepala Antariksa. Setelahnya Rindi menyibakkan selimut dan beranjak turun dari ranjang.
Mencuci mukanya dan menggosok gigi sebentar lalu dia berniat akan memandikan Antariksa selepas balita itu bangun nanti. Rindi mandi terlebih dahulu karena badannya terasa lengket, tak lupa Rindi juga menyiapkan air hangat untuk memandikan Antariksa, yang mendadak hari ini menjadi seperti anaknya.
"Lama-lama aku udah kayak ibu-ibu aja nih" Ucap Rindi dengan diikuti oleh tawa kecilnya.
Setelah selesai menyiapkan air hangat, Rindi keluar dari kamar untuk berniat membangunkan Antariksa. Namun matanya menangkap balita kecil yang sedang mengucek matanya masih dengan posisi berbaring nya. Melangkahkan kakinya mendekati ranjang dan duduk di pinggiran kasur.
"Aduh...anak ganteng udah bangun tidur, pintar ya Anta. Bangun tidur udah nggak rewel nih" Ucap Rindi dengan senyum manisnya.
"Mau mandi air anget nggak sayang?" Tanya Rindi dengan mendudukkan tubuh balita itu di atas pangkuannya. Rindi membelai lembut surai balita itu dan mencium puncak kepala Antariksa penuh kasih sayang.
"Andi?" Tanya Antariksa dengan suara seraknya khas bangun tidur. Lucunya, kepala balita itu dimiringkan ke kanan dan matanya mengerjap.
"Iya, mandi air anget. Ada bebek banyak lho di ember" Ucap Rindi dengan antusiasnya.
"Au" Jawab Antariksa dengan mata berbinar nya.
Rindi menggendong tubuh Antariksa memasuki kamar mandinya. Rindi mengeluarkan bak bayi yang di beli beberapa bulan lalu bergambar binatang laut dan mengisinya menggunakan air hangat.
Setelah melucuti pakaian si kecil, Rindi menceburkan tubuh Antariksa di bak tersebut dengan hati-hati. Tak lupa Rindi juga memasukkan beberapa pernak-pernik lucu untuk mandi anak kecil seperti bebek mainan.
"Coba sini anak ganteng, Tante pakaikan sabunnya" Ucap Rindi dengan membalurkan sabun mandi anak kepada Antariksa. Rindi memandikannya dengan pelan karena takut bajunya akan basah kembali.
Ketika Rindi menggosokkan sabun di bagian ketiak dan perutnya, balita itu tertawa karena kegelian.
"Hahaha, geli" Ucap Antariksa masih dengan tawanya yang membuat Rindi terkekeh gemas. Selanjutnya, Rindi memandikan Antariksa dengan sepenuh hati.
Setelah selesai memakaikan sabun dan shampo khusus bayi kepada Antariksa, Rindi mengangkat tubuh mungil itu dan memakaikan handuk yang juga diambil dari lemari koleksinya.
"Pinter nya Antariksa, nggak rewel ya Nak?" Ucap Rindi dengan mencium pipi Antariksa yang wangi kerena sabun bayi.
Setelah meletakkan Antariksa di atas karpet bulunya dan menyiapkan pakaian yang berada di tas perlengkapannya. Setelah di buka ternyata ada bedak bayi, minyak telon, minyak kayu putih, minyak kemiri khusus bayi, dan parfum bayi.
Memakaikan semua perlengkapan tersebut secara berurutan dan setelahnya, Rindi memakaikan pakaian kepada Antariksa. Terakhir, Rindi memakaikan parfum aroma bayi yang Rindi ketahui harganya tak murah, disemprotkan kepada Antariksa.
"Yey! Anak ganteng udah mandi" Ucap Rindi dengan senang seraya mengangkat tubuh balita itu ke gendongannya dan menciumi wajah tampannya.
"Eh baju kita sama ya sayang, warnanya putih" Ucap Rindi ketika bercermin di meja riasnya.
Rindi baru sadar, ternyata baju yang mereka kenakan sama, yaitu Rindi yang mengenakan dress berwarna putih polos dan balita itu menggunakan sweater berwarna putih dan celana berwarna navy berbahan kaos.
'Ceklek'
Pintu kamar terbuka yang menampakkan sang mama yang memandang ke arahnya dengan senyum manisnya. Lia berdiri di ambang pintu dengan satu tangan yang memegang handle pintu.
"Wah bajunya kompak banget nih kayak ibu sama anaknya" Ucap Lia dengan senyumnya.
"Iya nih Ma, kebetulan baju yang dibawain didalam tas Anta warnanya putih. Jadi kita sama deh. Iya kan Nak?" Ucap Rindi dengan senangnya. Antariksa menjawab pertanyaan Rindi dengan anggukkan kepala.
"Ya udah, kamu bawa Anta turun ya. Mungkin habis ini dia dijemput" Ucap Lia sebelum menutup kembali pintu kamar Rindi.
"Pangeran Tante ganteng banget sih" Ucap Rindi dengan mendaratkan ciumannya di pipi kiri balita itu. Antariksa tersenyum manis setelah mendapatkan ciuman di pipi dari Rindi.
"Iya dong" Jawab Antariksa dengan semangatnya membuat Rindi terkekeh gemas.
Rindi menggendong Antariksa seperti koala dan tak lupa membawa turun tas milik balita itu. Selama menuju ke ruang keluarga, Antariksa anteng dalam gendongan Rindi dengan menyandarkan kepalanya dengan manja di dada Rindi.
Setelah sampai di ruang keluarga, Rindi mendapati sang papi yang sedang bersantai di sofa dengan majalah di tangannya. Mendudukkan dirinya tak jauh dari sang papi, dan mengelus punggung Antariksa yang masih menempel padanya.
"Eh, siapa anak ganteng ini? Coba sini lihat" Ucap Johan dengan menutup majalahnya.
"Akek" Ucap Antariksa dengan suara lucunya. Mata indah milik Antariksa memandang ke arah Johan dengan berbinar.
"Iya Nak, itu Kakek. Mau main sama kakek?" Tanya Rindi dengan mengelus kepala balita kecil itu.
"Ndak au, antuk" Ucap Antariksa dengan kembali menyandarkan kepalanya di dada Rindi.
"Loh, kamu baru bangun aja lho Nak. Mau bobok lagi kah?" Ucap Rinfi dengan herannya, sedangkan Antariksa sudah memejamkan matanya kembali.
Johan tertawa terbahak-bahak karena merasa gemas dengan tingkah lucu balita itu. Rindi menepuk pelan punggung Antariksa supaya cepat tertidur.
"Ini yang namanya Antariksa Nak?" Tanya Johan kepada putrinya. Tangan Johan yang sudah mulai mengeriput itu, mengelus pelan punggung putrinya.
"Iya Pi, anaknya anteng banget dari tadi. Nggak rewel gitu, jadi Rindi seneng deh sama dia" Balasnya dengan mencium kening balita di pangkuannya itu.
"Udah kaya sama anaknya aja kamu ini Nak" Ucap Johan yang membuat tawa keduanya kembali pecah.
Setelahnya, Johan dan Rindi mengobrol ringan mengenai kesembuhan Rindi dan juga mengenai kerjaan Rindi. Dengan antusiasnya Rindi menceritakan keseharian ini dengan Antariksa sehingga membuat Johan bahagia mendengarnya.
"Nak itu babysister nya Anta udah nunggu di ruang tamu" Ucap Lia dengan mengelus kepala Rindi.
"Iya Ma" Jawab Rindi dengan menggendong Antariksa menuju ruang tengah dengan berjalan perlahan supaya Antariksa tidak terbangun. Sesampainya di sana, Rindi terkejut bukan main.
Rindi melihat babysister dari Galaksi, yang beberapa hari lalu ditemuinya di rumah sakit. Tiyas sedang duduk dengan sopan dan memainkan ponselnya.
"Mbak Tiyas" Pekik Rindi dengan senang sehingga membuat Antariksa yang berada di gendongannya menangis, namun hanya sekejap karena balita itu kembali tenang setelah ditimang oleh Rindi.
"Shut...sayang, maaf ya Tante lupa. Tidur lagi ya" Ucap Rindi dengan menimang Antariksa dengan menepuk pelan punggung balita itu.
Dirasa sudah kembali terlelap, Rindi mendudukkan tubuhnya di samping Tiyas yang sedari tadi memperhatikan nya.
"Ya ampun Mbak Tiyas, kangen tahu udah lama, nggak ketemu" Ucap Rindi dengan senangnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Tiyas sejenak.
"Sama Mbak, nggak nyangka lho kita ketemu lagi" Ungkap Tiyas yang dianggukki oleh Rindi. Tiyas mengelus pelan lengan Rindi.
"Kok Mbak Tiyas bisa jadi babysister nya Antariksa? Bukannya Mbak babysister nya Galaksi ya?" Tanya Rindi dengan bingung.
"Jadi Den Anta itu adalah kakak dari Den Gala Mbak" Ucap Tiyas yang membuat Rindi terperangah kaget. Rinfi masih terdiam mencerna ucapan Tiyas yang menurutnya sangat mengejutkan.
'Kok bisa kebetulan gini sih' Ucap Rindi dalam hati.
"Beneran Mbak? Nggak bohong kan?" Tanya Rindi untuk memastikan, dirinya masih belum percaya.
"Iya dong Mbak, Den Anta juga ditinggal oleh ibunya dan lebih parahnya lagi, mulai dia lahir sampai sekarang belum pernah digendong sama ibunya. Selama ini dia tinggal di rumah Nyonya Nada dan Tuan Andre. Den Anta juga dirawat oleh Oma dan Opanya" Ungkap Tiyas membuat Rindi tak sadar ikut menitikkan air matanya.
Rindi merasakan sakit hati ketika mendengarkannya. Seakan dirinya tak terima jika balita di gendongannya diperlakukan buruk oleh ibu kandungnya.
"Saya juga kagum sama Mbak Rindi. Biasanya Den Antariksa nggak mau sama orang baru kecuali keluarga, tapi ini kok langsung lengket sama Mbak. Kelihatannya langsung akrab begitu" Ucap Tiyas sehingga membuat Rindi tersenyum manis.
"Den Galaksi juga gitu ya. Wah kayaknya cocok jadi ibunya nih Mbak Rindi" Celetuk Tiyas sehingga membuat Rindi terkekeh dan geleng-geleng kepala.
"Jangan ngawur deh Mbak, ada-ada aja Mbak Tiyas ini" Ucap Rindi dengan tawa hambarnya.
Meskipun mulutnya berusaha mengelak, namun hatinya mengaminkan ucapan Tiyas. Rindi hanya berharap bisa menyayangi kedua anak tersebut sepenuh hatinya.
"Sikap Mbak Rindi juga jauh berbeda dengan perlakuan ibu kandung Den Anta dan Den Gala. Malah seperti Mbak Rindi yang ibu kandung mereka" Ungkap Tiyas yang membuat Rindi merasa terharu.
"Saya juga nggak tahu, kenapa bisa semudah ini untuk dekat dengan Anta dan Gala" Jawab Rindi dengan gelengan kepala pelan.
"Pantas saja saya merasa bahwa Anta dan Gala itu sama. Eh ternyata kakak beradik ya" Canda Rindi yang membuat Tiyas ikut tertawa.
Rindi menceritakan kesehariannya dengan Antariksa kepada Tiyas dengan antusias. Tiyas pun mendengarkannya dengan senang, karena bisa mendengar kedekatan Antariksa dengan Rindi.
"Gala gimana Mbak? Sehat kan dia? Suka rewel nggak?" Tanya Rindi dengan beruntun sehingga menyebabkan Tiyas tersenyum haru.
Tiyas mengerti jika Rindi menyayangi kedua cucu majikannya itu dengan tulus, terlihat dari cara memperlakukan Anta dan Gala yang sangat berbeda dengan perlakuan Laura dulu.
"Alhamdulillah, Den Gala udah nggak gampang rewel" Ucap Tiyas sehingga membuat Rindi tersenyum.
"Alhamdulillah Mbak, ikut senang dengarnya kalau begitu" Ucap Rindi.
"Den Anta kok bisa pules gitu boboknya, biasanya kalau nggak di baringkan di kasur suka rewel lho Mbak. Memang beda ya kalau sama Mbak Rindi. Den Anta sama Den Gala langsung bisa nurut aja gitu" Ucap Tiyas dengan seriusnya.
"Nggak tau juga nih Mbak, kalau deket sama mereka berdua itu, hawanya nyaman banget" Ungkap Rindi membuat Tiyas mengangguk.
"Sesuka-sukanya aku sama anak kecil nih ya Mbak, nggak pernah langsung akrab dalam sekali ketemu kayak mereka berdua" Ucap Rindi sembari membelai lembut wajah damai Anta yang sudah tertidur pulas.
"Kayaknya Mbak Rindi udah sayang gitu ya sama mereka berdua" Ungkap Tiyas dan dianggukki yakin oleh Rindi dengan senyumnya.
"Aku juga nggak tahu kenapa Mbak. Apalagi dengar cerita kalau Anta dan Gala diperlakukan buruk sama ibu kandungnya, kayak ada rasa marah dan rasa nggak terima aja gitu Mbak. Rasanya nyesek banget, mau marah tapi aku bukan apa-apanya" Terangkan Rindi membuat Tiyas terperangah tak percaya akan simpati Rindi.
"Mbak beneran sesayang itu sama mereka berdua?" Tanya Tiyas dan dianggukki oleh Rindi dengan mantap tanpa keraguan.
"Saya yakin, ini harus jadi ibunya Den Anta sama Den Gala" Ucap Tiyas dengan mantap.
Rindi tertawa karena ucapan Tiyas. Namun dalam hati, Rindi kembali mengaminkan do'a itu karena rasa ingin melindungi Anta dan Gala sudah besar.
'Boro-boro mau jadi ibunya Mbak, bapaknya aja aku nggak pernah liat. Nggak papa deh diamin kan dulu' Ucap Rindi dalam hati yang membuatnya terkekeh sendiri.
"Ada-ada aja deh Mbak Tiyas ini" Ucapnya dengan menggelengkan pelan kepalanya.
"Semoga aja kan Mbak" Jawab Tiyas yang akhirnya dianggukki oleh Rindi. Tiyas yang melihat anggukkan dari Rindi tersenyum cerah.
"Ya udah Mbak, saya pamit dulu. Takutnya nanti sudah ditunggu Nyonya dan Tuan di rumah" Ucap Tiyas.
"Kok buru-buru sih Mbak? Lain kali main kesini lagi ya" Ucap Rindi dengan nada lesunya sehingga dihadiahi tawa kecil oleh Tiyas.
Tiyas merasa begitu nyaman saat bersama dengan Rindi mungkin karena pembawaannya yang ramah dan mudah menyesuaikan sehingga membuat Tiyas nyaman saat mengobrol berdua dengan Rindi.
"Iya, Insyaallah Mbak" Jawab Tiyas.
Rindi menyerahkan Antariksa ke dalam gendongan Tiyas dengan hati-hati karena takut terbangun dan menangis. Setelah berada di gendongan Tiyas, Rindi mengantarkan sampai pintu utama dengan membawakan tas bawaan Antariksa.
"Sampaikan salam saya pada Nyonya Lia dan Tuan Johan ya Mbak, saya langsung pulang karena nanti takut Den Anta bangun lagi terus rewel" Ucap Tiyas kepada Rindi dan dianggukki olehnya disertai dengan senyuman.
"Terimakasih banyak ya Mbak sudah mau merawat Den Anta, dan maaf kalau Aden merepotkan Mbak" Ucap Tiyas lagi.
"Enggak sama sekali Mbak Tiyas. Malahan saya senang banget bisa merawat Anta seharian ini" Balas Rindi dengan menyentuh pipi Antariksa menggunakan jari telunjuknya.
"Saya pamit Mbak, Assalamualaikum" Pamit Tiyas dengan menenteng tas milik Antariksa.
"Iya Mbak, Waalaikumsalam" Jawab Rindi.
Setelah itu, Tiyas melangkah menuju mobil yang sudah ditunggu oleh sopir di halaman rumah Rindi. Sang sopir membantu membukakan pintu mobil untuk Tiyas.
"Hati-hati Pak, jangan ngebut ya" Teriak Rindi kepada sopir yang sudah hampir setengah baya. Sang sopir mengangguk dengan tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"Siap Mbak" Ucapnya. Setelah mobilnya berjalan dan membunyikan klakson sekali.
Setelah mobil yang membawa Anta menjauhi halaman rumahnya, Rindi memasuki rumahnya dan tak lupa menutup pintu utama karena hari sudah sore.
...*****...
Jangan bosan menunggu kelanjutannya ya kak...
Terimakasih untuk pembaca yang masih tetap stay di cerita pertama Karita dan Terimakasih untuk like serta komennya...
...Gracias...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 314 Episodes
Comments
Siti Muyasaroh
seneng banget ya
2024-09-12
0
Yuli Yuli
heemm sng bgt ya rin
2024-05-09
0
Dewie👓
udah liat kamu rin.. saat papasan di rumah sakit itu lho
2024-01-07
1