Rindi memarkirkan mobilnya di depan rumah yang berdominasi hitam putih bergaya klasik, dengan gerbang berwarna hitam yang tinggi menjulang.
Kakinya melangkah masuk kedalam rumah orang tuanya dan disambut oleh asisten rumah tangga yang sudah dari dulu bekerja di sini. Ketika kakinya sampai di ruang keluarga, di sana terdapat sang mama dan adik tirinya.
"Assalamualaikum ma, Rindi pulang" salam Rindi kepada ibu tirinya itu sembari mencium tangannya.
"Waalaikumsalam sayang, kok nggak bilang-bilang dulu mau pulang? Kan nanti mama masakin yang banyak. Sini duduk dulu," pinta wanita berhijab itu dengan ramah dan lembut, tangannya mengajak Rindi untuk duduk di sebelahnya.
"Nggak papa Ma, Rindi cuma sebentar mau ambil flashdisk sama buku sketsa yang di kamar. Papi belum pulang, Ma?" Tanya Rindi sembari menegedarkan pandangannya mencari sang Papi.
"Belum dong Rin, tau sendiri kan Papimu itu gimana? Kamu jangan lembur terus kerjanya, dijaga kesehatannya. Sering-sering pulang juga jangan cuma nginep di butik mulu, kan rumah sepi nggak ada suara ribut kalian berdua" Celoteh Lia dengan panjang sehingga membuat Rindi tersenyum mendengarnya.
"Ekhem, saking sibuknya sampai ada Mbak pulang nggak sadar ya Ma?" Sindir Rindi kepada adik tirinya yang bernama Linda. Gadis itu sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya itu, menolehkan kepalanya. Lia yang mendengarnya hanya terkekeh kecil.
"Mbak Rindi!!! Linda kangen banget sama Mbak. Iya deh yang lagi sibuk sama karier sampai lupa sama keluarganya" Heboh Linda lalu menghampiri sang kakak dan memeluknya erat.
"Mbak kangen banget sama adik kecil Mbak ini. Eh nggak kerasa udah gede aja. Sekarang tinggian kamu loh. Alhamdulillah butik Mbak lagi ramai nih Lin" Jawab Rindi sembari membalas pelukan adiknya yang kini lebih tinggi darinya.
"Alhamdulillah kalau butik Mbak makin sukses. Iya nih, Mbak Rindi mah badannya mungil ya Ma?" Tanya Linda pada Lia yang datang dari dapur membawa minuman untuk ketiganya.
"Mbakmu mau pendek pun, tetep cantik" Ujar Mama Lia dengan senyumnya.
"Mama ada-ada aja deh, ya udah aku keatas dulu ya? Mau ambil barangnya," ucap Rindi sembari berjalan meninggalkan kedua wanita itu dan menuju kamar yang berada di lantai dua.
Ketika membuka pintu kamarnya, aroma bayi langsung menguar dari dalamnya. Kamar bernuansa baby blue tersebut selalu tertata rapi dengan peralatan-peralatan bayi tentunya.
Rindi bersyukur, meskipun dia memiliki ibu dan adik tiri mereka tetap baik dan akur. Keluarganya juga tetap bahagia layaknya keluarga pada umumnya. Rindi juga bersyukur mendapatkan ibu sambung yang lemah lembut, serta wajah teduh yang selalu menyertai wanita berhijab tersebut.
Setelah mengambil barang yang tertinggal, Rindi bergegas turun menuju lantai satu. Di sana sudah berkumpul dan ternyata Papi nya sudah pulang.
"Papi, Rindi kangen banget sama Papi" Keluh Rindi sembari memeluk leher papinya dari belakang.
"Papi juga sayang. Makanya sering-sering pulang juga. Mama sama Linda juga kangen banget sama kamu. Kerjaan mulu yang di perhatiin" Ucap Papi dengan serius namun juga dengan candaan di akhirnya. Keduanya kini tengah berpelukan di sofa yang ada di depan televisi.
Lia dan Linda yang memperhatikan keduanya hanya tersenyum bahagia.
"Butik Rindi kan lagi ramai Pi, jadi Rindi harus lembur buat pesanan pelanggannya, jadi istirahatnya cuma di butik deh." Jawab Rindi yang masih menyandarkan kepalanya dengan manja di lengan Papinya.
"Iya deh anak Papi udah sukses, sekarang ya?" Timpal Papi dengan mencium kening putrinya tersebut.
"Alhamdulillah, mama seneng dengernya Rin. Tapi jangan lupa istirahat sama makannya yang teratur ya, Nak?" Nasihat Mama Lia yang diangguki oleh Rindi.
"Kamu kenapa sih, Dek? Kok ngeliatin Mbak Rindi segitunya? Kamu ada masalah? Coba cerita ke Mbak," Ucap Rindi ketika melihat adiknya menatapnya dengan raut wajah bersalah.
"Enggak ada apa-apa kok, Mbak" Jawab Linda disertai gelengan kepala.
"Kamu yakin, nggak ada yang di sembunyiin dari Mbak?" Selidik Rindi menatap adiknya intens. Pasalnya adiknya yang berusia empat tahun dibawahnya itu selalu terbuka dengannya. Entah mengapa, Rindi merasakan ada yang disembunyikan darinya.
"Enggak Mbak, percaya deh sama Linda" Jawab Linda disertai dengan senyum meyakinkan dan diangguki oleh Rindi. Kedua orang tua gadis itu bahagia ketika melihat kedua anak mereka dekat dan akur.
"Ya udah, Mbak balik ke butik dulu. Mau ngawasin pegawai yang lain. Rindi pamit ya?" Pamit Rindi kepada semua orang dengan menyalami tangan kedua orang tuanya dan mencium pipi serta kening dari adiknya.
"Hati-hati Rin, jangan ngebut ngebut" Ucap Papi setelah mencium kening putrinya yang langsung dianggukinya.
"Ingat pesen Mama Nak, jangan terlalu kecapekan, istirahat yang cukup, makan jangan telat dijaga kesehatannya ya?" Nasihat sang mama yang disambut tawa oleh semua orang. Rindi yang diberi pesan oleh mamanya lantas tersenyum hangat.
"Iya Mamaku cantik, nanti Rindi tepatin deh," Jawab Rindi sembari memeluk Ibunya itu dengan dibalas kecupan di kening dan pipinya lalu beralih pada adiknya.
"Mbak sering-sering pulang ya? Biar kita bisa banyak ngobrol lagi," ucap sang adik dengan memeluk kakaknya erat.
"Iya, nanti Mbak usaha luangin waktu deh" Jawab Rindi kepada adiknya dan berjinjit untuk mencium kening adiknya.
"Ya udah, Rindi pamit ya semuanya. Assalamualikum" pamit Rindi sambil berlalu memasuki mobil. Saat akan keluar gerbang, Rindi menurunkan kaca untuk melambai ke semua orang yang berada di teras rumah dan dibalas oleh mereka. Membunyikan klakson dan mobil berlalu keluar gerbang, menuju butik milik Rindi.
Setelah sampai di butik, Rindi melakukan tugasnya yaitu mengawasi para pegawainya dan turut melayani pengunjung yang sedang ramai.
Tak terasa malam telah tiba. Kini Rindi dan Tika sedang bersiap untuk makan malam di luar sesuai rencana mereka tadi. Malam ini Rindi style yang simpel menggunakan dress abu-abu berlengan hingga siku dengan panjang hingga di bawah lutut dan dipermanis dengan menggunakan jepit rambut yang memberikannya kesan manis.
Rindi bergegas menyambar tas selempangnya dan menggunakan sepatu flatshoes berwarna senada dengan bajunya. Berjalan menuju lantai bawah karena Tika sudah menunggunya di bawah untuk memanaskan mobil.
"Ya ampun Rindi, cantik banget sih Lo malem ini. Gue aja kalah," Puji Tika ketika melihat Rindi tiba di hadapannya.
"Bisa aja nih ... Kamu juga cantik lho tumben feminim dikit, biasanya juga pakai celana Tik" Ucap Rindi sembari menaik-turunkan alisnya guna menggoda Tika, sedangkan Tika memutar bola matanya dengan malas.
"Udah yuk buruan berangkat, nanti terburu rame, kan ini weekend" Ajak Tika sembari membuka pintu mobil Rindi bagian kemudi.
Rindi bergegas masuk kedalam mobil menyusul Tika. Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata menuju cafe yang akan di kunjungi oleh mereka berdua.
Setelah perjalanan selama tiga puluh menit, keduanya telah sampai di depan kafe bernuansa alami yang kini banyak lampu berkilauan. Keduanya masih berada di dalam mobil, tepatnya Tika yang sedang menunggu Rindi yang sedang membalas email dari pelanggan butiknya.
"Eh,eh Rin. Itu bukannya Alvin, ya? Wah parah sih, dia lagi sama cewek gitu. Mana romantis lagi, sambil ketawa-tawa gitu padahal sama Lo aja jarang senyum." Ucapan Tika membuat Rindi mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah dalam cafe yang tampak tunangnnya bersama seorang wanita.
"Itu beneran Alvin? Ngapain dia di sini, padahal tadi kutanya dia ada acara sama mamanya. Kok dia bohong sih?" Jawab Rindi tanpa mengalihkan pandangannya dari dua sejoli yang sedang tertawa tersebut.
"Itu ceweknya siapa coba? Mana nggak kelihatan lagi. Coba Lo telepon si Alvin buat buktiin dia bohong atau nggak." Saran dari Tika yang diangguki oleh Rindi. Sebelumnya Rindi memperhatikan wanita yang posisinya membelakangi mereka sehingga tidak terlihat wajahnya.
Telepon dari Rindi belum diangkat oleh Alvin, namun Rindi mencoba sekali lagi, dan akhirnya diangkat oleh tunangannya itu. Rindi tak lupa untuk me-loudspeaker hp nya
"Halo sayang, ada apa?" ~Alvin
"Eh enggak Vin, aku cuma mau tanya kamu jadi pergi sama Mama?" ~Rindi
"Jadi kok sayang, ini aku sama mama lagi di rumah temen mama bahas acara arisan" ~Alvin
"Kamu nggak bohong kan, Vin?" ~Rindi
Didalam sana Alvin dan perempuan yang disebelahnya tampak sedang gelisah karena takut ketahuan oleh Rindi. Sedangkan didalam mobil Rindi, Tika mulai geram akan perbuatan Alvin.
"Enggak dong sayang, ini aku lagi ngobrol sama anak temen mama. Kamu kok tiba-tiba ngomong gitu sih? Lagi ada masalah ya?" ~Alvin
"Oh enggak kok Vin, ya udah aku mau lanjut desain lagi ya, Bye" ~Rindi
Di dalam cafe, Alvin dan wanita itu tampak lega dan tak lama melanjutkan perbincangan mereka.
Dari dalam mobil, mata Rindi mulai berkaca-kaca sedangkan Tika sudah marah akan sikap tunangan dari sahabatnya itu. Tika mengajak Rindi untuk segera turun dari dalam mobil menuju dalam cafe.
"Aku nggak siap Tik, gimana kalau dia emang selingkuh dari aku? Terus gimana hubungan ini?" Ucap Rindi dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Hati Rindi terasa sakit ketika mengetahui bahwa tunangannya berbohong kepadanya dan jalan bersama wanita lain. Ternyata yang dikatakan oleh Tika dan Fani sebuah kebenaran.
"Coba kita cari tahu dulu siapa wanita itu. Setahu Gue sih, si Alvin nggak punya saudara perempuan," Ucap Tika seraya tangannya membuka pintu mobil.
Rindi bersiap akan turun dari dalam mobil, dia berusaha meyakinkan diri dan mencoba untuk berpikir positif tentang tunangannya meskipun ada keraguan didalam hatinya.
Keduanya berjalan memasuki cafe, karena posisi Alvin dan wanita itu membelakangi pintu, jadi keduanya belum menyadari kehadiran Rindi dan Tika.
"Vin, kalau Mbak Rindi tahu hubungan kita gimana? Aku nggak mau buat Mbak Rindi kecewa" Ucap wanita yang duduk di sebelah Alvin dengan tangannya yang berada di genggaman Alvin.
Deg ...
Rindi terpaku ketika dirinya mengenali suara itu, itu adalah suara Linda, adik tirinya. Rindi kaget mendengar ucapan Linda yang berarti keduanya memiliki hubungan. Tika yang mendengar itu mencoba menahan Rindi untuk mengetahui kelanjutan ucapan dari keduanya.
"Ya, kita jangan sampai ketahuan sama Rindi. Lagian dia percaya kok sama aku kalau aku setia sama dia" Jawab Alvin yang membuat hati Rindi terasa sesak.
"Tapi kalian udah tunangan, kita harus gimana dong ini. Aku nggak mau ya, nyakitin Mbak Rindi. Mau gimanapun, aku sayang banget sama dia" Jawab Linda seraya menyandarkan kepalanya di bahu Alvin.
"Aku juga belum tahu kedepannya gimana, aku sama-sama cinta sama kalian berdua. Aku nggak bisa milih diantara kalian berdua. Aku juga nggak bisa ngelepas salah satu dari kalian" Jawab Alvin dengan tangannya yang membelai lembut kepala Linda dengan mesra.
Rindi yang mendengar semuanya dan melihat perlakuan manis dari Alvin untuk Linda, hatinya merasa sangat sesak. Air matanya mengalir dengan deras dari kedua mata indahnya. Tika merengkuh tubuh rapuh Rindi yang kini bergetar karena tangis.
Tika yang melihat itu, mengurungkan niatnya untuk melabrak tunangan sahabatnya yang berkhianat. Tika tidak akan ikut campur karena masalah ini menyangkut perasaan dan keluarga, biarlah Rindi yang mengatasinya.
Rindi berniat untuk beranjak pergi dari sana, hatinya sakit saat menegetahui semua pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Ketika Rindi berdiri dari duduknya, tak sengaja mata Linda menangkap kehadiran kakaknya itu.
"Mbak Rindi..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 314 Episodes
Comments
Yuli Yuli
hemmm....Linda kok kbngeten si SM kakaknya Uda tau kakaknya Uda tnangan kok diganggu jg
2024-05-08
0
Arin
ini laki maruk amat ya...... adek-kakak semua mau di embat
2023-12-06
2
Praised94
terima kasih 👍👍👍👍👍👍
2023-11-25
0