Malam harinya pukul setengah delapan, Abi sampai di ruangan Laura setelah diberi kabar bahwa hanya ada Laura dan anaknya di ruangan itu.
Laura bersyukur karena sejak pertengkarannya dengan Rafa pagi tadi, pria itu tidak lagi datang ke ruangannya. Setelah bertanya kepada suster yang mengantar bayi mungil itu kembali ke ruangannya, suster itu mengatakan jika ayah bayi itu kembali lagi ke kantornya sehingga membuat Laura menghembuskan napas lega.
Sedangkan selama di ruangan itu, Laura yang masih menunggu kedatangan Abi, berperilaku cuek terhadap anaknya. Laura sama sekali tidak menatap ke arah box bayi seakan tak menganggap bayi itu ada.
'Ceklek'
Pintu ruangan terbuka dari luar dan muncul seorang pria tampan menggunakan jaket hitam dan topi juga masker yang berwarna hitam juga. Laura tersenyum manis menatap ke arah Abi yang membuka maskernya.
"Kamu udah siap sayang?" Tanya Abi dengan membelai puncak kepala Laura dengan lembut.
"Udah dong sayang" Balas Laura dengan memberikan kecupan di pipi kekasihnya itu. Abi yang diperlakukan seperti itu oleh Laura bukannya menolak, malah justru merasa senang.
"Gimana? Suratnya udah kamu bawa kan?" Tanya Laura dengan membelai lembut rahang Abi.
"Aku udah bawa surat cerai dan udah aku urus semuanya" Ucap Abi dengan mengeluarkan map berwarna merah yang berisi surat cerai Laura dan Rafa, sedangkan Laura mengangguk.
"Kamu yakin mau ninggalin bayimu itu?" Tanya Abi sekali lagi dengan menatap ke arah box bayi.
"Iya lah sayang aku yakin. Lagian aku lebih memilih karirku daripada mengurus dua bayi yang tidak tahu diuntung itu yang menyebabkan karirku hancur karena kehadirannya" Jawab Laura dengan menatap marah terhadap bayinya.
Setelah meletakkan surat perceraian di atas nakas, Abi membantu Laura untuk segera kabur dari rumah sakit sebelum anggota keluarga Rafa datang. Karena badan Laura masih lemah, Abi menggendong Laura dengan gaya bridal style selama perjalanan menuju parkiran.
Setelah sampai di parkiran, Abi membantu Laura memasuki mobilnya. Sesudah itu, keduanya berlalu meninggalkan rumah sakit.
Tentu saja semua gerak-gerik Laura dan Abi diketahui oleh Rafa melalui kamera cctv dan penyadap suara. Rafa merasa sangat diuntungkan dengan memasangnya, namun malah mendapatkan fakta lain yang mengejutkannya.
'Kita mulai permainannya Laura! Kita tunggu kehancuranmu dan kekasih gelapmu itu' Batin Rafa dengan senyum miringnya serta matanya masih setia menatap monitor di depannya.
Rafa mengabari kedua orang tuanya untuk menjaga bayinya dan memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti mobil Abi dan Laura.
Di sisi lain, Abi yang menyadari mobilnya diikuti oleh mobil lain, menancapkan gas dengan kecepatan tinggi.
"Sial, sepertinya anak buah Rafa mengikuti kita sayang" Ucap Laura dengan nada paniknya. Laura bahkan tidak memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika dia melarikan diri dari suaminya itu.
'Sial! Aku tidak memikirkan sampai sejauh ini!' Batin Laura merutuki kebodohannya ini.
"Kamu tenang Laura, kita pasti bisa mengelabuhi anak buah Rafa. Kita lihat saja nanti" Balas Abi dengan senyum liciknya.
Dua mobil itu masih saya saling mengejar dan saling mengebut. Sementara mobil yang ditumpangi oleh Laura dan Abi masih berada di depan mobil para pesuruh Rafa.
Ketika berada di belokan jalan, mobil yang dikendarai oleh Abi kehilangan arah karena beberapa meter di depannya terdapat seorang gadis yang berdiri dengan belanjaan yang ada di kedua tangannya.
Memencet klakson berkali kali yang bertujuan perempuan tersebut menyingkir, namun gadis itu diam tak berkutik karena tiba-tiba pikirannya kosong karena kaget.
'BRUK'
Kecelakaan tidak dapat dihindari lagi, bagian depan mobil milik Abi menabrak keras bagian perut wanita tadi sehingga menyebabkan gadis itu terpental lumayan jauh dan perutnya lagi-lagi membentur trotoar dan badannya tergeletak di aspal dengan bercucuran darah.
Abi yang mengetahui telah menabrak seseorang merasa sangat ketakutan begitu juga dengan Laura. Keduanya langsung melarikan diri dari lokasi kejadian dan tidak diikuti oleh anak buah Rafa yang sibuk membantu korban.
Anak buah Rafa memberikan informasi yang terjadi kepada atasannya itu dan Rafa langsung bertindak untuk menindak lanjuti kejadian tersebut.
Gadis yang menjadi korban tabrak lari oleh Abi itu tergeletak tak berdaya di atas aspal dengan belanjaannya yang berserakan. Jangan lupakan juga baju yang dikenakan wanita itu bersimbah darah.
"Rindi!......." Teriak gadis yang disertai air matanya setelah melihat korban kecelakaan adalah temannya. Ya, dia adalah Tika yang tengah panik melihat sahabatnya menjadi korban tabrak lari.
"Cepat panggil ambulans, teman saya sudah banyak kehilangan darah! Cepat panggilkan!" Histeris Tika dengan air mata yang mengalir deras di pipinya karena melihat keadaan sahabatnya yang bercucuran darah. Untungnya malam itu, ada beberapa orang yang masih berlalu lalang di sekitar sana.
Setelah ambulans datang, Rindi segera dibawa ke rumah sakit ditemani oleh Tika dan beberapa warga yang menyaksikan kejadiannya. Di dalam ambulans, Tika tak berhenti menangis saat mengingat kejadian yang beberapa saat lalu menimpa sahabatnya.
Setelah sampai di rumah sakit, brankar yang terdapat Rindi, dibawa menuju ruang IGD untuk penanganan cepat. Setelah Rindi dibawa masuk dan di tangani oleh dokter, Tika memberikan kabar kepada keluarga Rindi dan segera mengurus administrasinya.
Ketika sampai di bagian administrasi, bagian resepsionis mengatakan bahwa korban kecelakaan yang baru saja dibawa ke IGD sudah ditanggung biayanya oleh seseorang. Meskipun Tika bingung, namun dia hanya bisa pasrah.
Sementara Rafa mengembuskan napas beratnya ketika mengetahui kejadian buruk yang menimpa korban tabrak lari dari Laura dan selingkuhannya. Entah mengapa, Rafa berniat tanggung jawab terhadap korban itu.
Selesai semua urusan, Tika kembali menuju IGD tempat Rindi ditangani dan sudah terdapat Lia dan Johan yang selaku kedua orang tua Rindi.
"Bagaimana kejadiannya Tika? kok bisa Rindi mengalami kecelakaan seperti ini?" Tanya Lia dengan suara bergetar nya dengan nada yang terlihat sangat khawatir. Pipinya sudah dibanjiri oleh air matanya yang mengalir deras.
"Jadi tadi sewaktu kita pulang dari toko perlengkapan bayi permintaan Rindi, saya sedang mengambil ponsel yang tertinggal di dalam, saya melihat Rindi yang membawa belanjaannya sudah berdiri di pinggir jalan. Saya kaget ketika melihat mobil yang melaju kencang kearah Rindi, sudah banyak yang berteriak meminta Rindi untuk menyingkir, tetapi Rindi berdiri kaku di sana. Mungkin karena dirinya kaget dan syok sehingga tidak dapat bergerak tante. Maafkan saya tante, om. Saya tidak bisa jaga Rindi dengan baik" Ungkap Tika dengan nada bersalahnya.
Lia membawa Tika kedalam pelukannya, Lia yakin bahwa Tika juga mengalami syok setelah melihat kejadian yang menimpa putrinya. Meskipun Rindi hanya putri tirinya, tatapi Lia sudah sangat menyayangi layaknya anak kandungnya.
Johan meneteskan air matanya mengetahui musibah yang menimpa putrinya. Johan merasa gagal menjaga putri yang diamanahkan oleh almarhumah istrinya untuk dijaga.
Dokter keluar dengan wajah paniknya dan membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Maaf pak kami harus melakukan operasi karena perut pasien mengalami benturan yang sangat keras sehingga kita harus melakukan operasi tersebut untuk menyelamatkan nyawa pasien. Apakah keluarga setuju?" Tanya dokter tersebut.
"Lakukan yang terbaik untuk putri saya Dok" Jawab Johan dengan nada tegasnya yang langsung dianggukki oleh dokter tersebut dan menyodorkan surat persetujuan untuk ditanda tangani oleh Johan.
Setelah Johan selesai menanda tangani surat tersebut, dokter bergegas masuk kembali kedalam ruang IGD.
Setelah lamanya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penanganan Rindi, akhir nya Rindi bisa segera di pindahkan menuju ruang rawatnya untuk menunggu keadaannya membaik dan menunggu kesadarannya kembali.
Kini, diruang rawat Rindi terdapat Johan, Lia dan juga Tika. Ketiga orang tersebut sedang menunggu Rindi kembali sadar setelah tadi operasinya berjalan dengan lancar yang membuat ketiganya menghembuskan napas lega.
Lia selalu menggenggam tangan Rindi yang tidak di pasang infus dan Johan yang tangannya mengelus lembut puncak kepala Rindi yang terlilit perban karena benturan serta Tika yang berdiri di samping Lia dengan wajah lesunya berharap semoga Rindi cepat sadar.
Tangan Rindi yang dipasang infus, jari telunjuknya bergerak sontak membuat ketiganya terkejut dan senang.
"Mi...num.." Ucap Rindi dengan suara pelannya yang masih terdengar lemah. Dengan sigap Lia mengambilkan gelas yang sudah terdapat sedotan serta Johan yang membantu mengangkat kepala putrinya.
Tika yang menyadari sahabatnya sudah sadar, segera memencet tombol darurat yang berada di atas ranjang perawatan Rindi.
Johan membantu merebahkan putrinya kembali. Setelah beberapa saat menunggu, dokter datang dan memeriksa keadaan Rindi.
"Syukurlah, keadaan pasien semakin baik dan tubuhnya juga sudah semakin pulih setelah operasi. Namun pasien harus tetap istirahat yang banyak. Sejauh ini, saya lihat perkembangan untuk pulih kembali sangat pesat dan mungkin akan segera kembali sehat dalam waktu sekitar seminggu" Papar dokter tersebut dengan melepas stetoskop yang tadi digunakan untuk memeriksa Rindi.
Rindi yang mendengar hal tersebut lantas tersenyum simpul. Rindi merasa tubuhnya masih sangat lemas, apalagi bagian perutnya masih terasa nyeri dan sakit. Melihat sekujur tubuhnya yang terdapat beberapa selang dan alat yang menempel serta kepalanya terlilit perban dan beberapa bagian yang lecet karena tergores aspal.
"Memangnya separah apa hingga saya harus di operasi?" Tanya Rindi dengan tatapan herannya meskipun dengan nada lemahnya.
"Setelah mengalami kecelakaan tadi siang, kami memeriksa ternyata benturan yang terjadi di bagian perut lumayan keras sehingga kami harus mengeceknya lebih lanjut. Sebenarnya kecelakaan yang dialami oleh pasien bisa menyebabkan akibat yang fatal bahkan bisa menyebabkan kematian jika tidak cepat terselamatkan. Dan syukurlah semua berjalan dengan lancar" Jelas dokter tersebut dengan teliti.
Rindi yang mendengar penjelasan dari dokter, berulang kali mengucapkan syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan nyawanya dan masih memberikan kesempatan hidup.
"Dan saya ingin menjelaskan satu hal lagi mengenai pasien..." Jeda dokter tersebut dengan mengambil napas dalam-dalam. Rindi yang penasaran akan kelanjutan ucapan dari dokter didepannya menatapnya dengan intens dan juga Jovi, Lia dan Tika.
"Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata pasien mengidap kista ovarium yang sudah berubah menjadi kanker. Sehingga setelah melakukan pertimbangan dengan dokter bedah yang lainnya, kami memutuskan untuk melakukan operasi laparotomi. Yang di mana kita mengharuskan mengangkat salah satu indung telur yang bertujuan mencegah sel kanker yang akan menggerogoti organ tubuh pasien" Ucap dokter tersebut sehingga membuat keempatnya kaget.
"Karena salah satu indung telur sudah diangkat maka otomatis hanya tersisa satu indung telur saja yang menyebabkan kemungkinan untuk hamil menjadi lebih sulit" Lanjut dokter tersebut dengan wajah sendunya menatap Rindi.
Seperti disambar petir di siang bolong, hati Rindi mencelos ketika mendengar pernyataan yang diucap oleh dokter tersebut.
"Jadi kemungkinan saya untuk bisa hamil hanya sedikit dok?" Tanya Rindi dan dianggukki oleh dokter tersebut.
Detik itu juga air mata Rindi mengalir dengan derasnya. Rindi begitu menyukai anak kecil dan sangat berharap akan memiliki bayi suatu hari nanti. Namun harapan dan impiannya harus pupus mulai saat ini. Meskipun masih ada kemungkinan untuknya hamil, namun tidak dipungkiri jika itu akan sangat mustahil baginya. Dunianya seakan runtuh seketika.
Johan, Lia dan Tika yang mendengar tangis pilu Rindi juga ikut meneteskan air mata. Mereka sangat tahu jika Rindi menyukai segala hal tentang bayi dan harapannya untuk memiliki bayi. Johan berjalan mendekati putrinya dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.
"Yang sabar ya sayang, kamu pasti kuat melewati ini semua, anak Papi itu anak yang kuat" Ucap Johan sembari mengelus pelan punggung putrinya.
"Kamu kuat nak, kamu harus kuat. Kamu harus bersyukur karena Allah masih memberi kamu kesempatan untuk sembuh nak" Semangat Lia kepada Rindi yang langsung dianggukki oleh Rindi.
"Rindi, Lo yang kuat ya. Anggap ini semua ujian dari Allah supaya Lo jauh lebih kuat menghadapi semuanya" Timpal Tika dengan mengelus lembut tangan Rindi yang pucat.
Rindi yang mendapatkan support dari orang terdekatnya menjadi lebih tenang dan berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Meskipun tak bisa dipungkiri jika dirinya masih belum percaya sepenuhnya.
"Pasien harus di rawat sampai kondisinya membaik dan usahakan jangan banyak bergerak serta perbanyak istirahat. Kalau begitu saya permisi" Ucap dokter dan dianggukki oleh keempatnya.
Lia mendekat ke arah brankar Rindi dan memegang kepala putrinya. Mengecup kening, kedua mata, kedua pipi putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu istirahat lagi ya sayang. Jangan terlalu capek supaya badannya cepat pulih lagi" Nasihat Lia kepada Rindi dan langsung dianggukki oleh Rindi.
Johan membantu membaringkan tubuh Rindi dan menutup tubuhnya menggunakan selimut. Sebelumnya Johan juga mencium kening putrinya dengan singkat.
Rindi mencoba memejamkan matanya dan mencoba untuk segera tertidur meski kini badannya sangat lemas untuk digerakkan. Tak butuh waktu sampai sepuluh menit, Rindi sudah terlelap dalam tidurnya.
Johan, Lia dan Tika mengistirahatkan tubuhnya yang sedari siang hingga kini hampir tengah malam yang belum beristirahat sama sekali.
...*****...
Terimakasih untuk kalian yang masih stay di cerita ini.
...Gracias...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 314 Episodes
Comments
Yuli Yuli
lnjut
2024-05-08
0
Nurhayati Nur
thour aku suka ceritanya,,,,
2023-12-07
0
Praised94
terima kasih 👍👍👍👍👍
2023-11-25
0