"Mbak Rindi..." Panggil Linda kepada kakaknya yang berjarak tiga meja dari tempatnya duduk. Linda dan Alvin tentu sangat terkejut ketika melihat Rindi menangis.
Rindi menatap ke arah tunangan serta adik tirinya dengan tatapan matanya yang menyiratkan kekecewaan yang sungguh besar. Tangganya mengepal kuat dan kepalanya menggeleng pelan.
Rindi yang ketahuan berada di sana segera berlari keluar dari cafe itu. Tak tinggal diam, Tika juga mengikuti langkah sahabatnya. Namun sebelumnya Tika memberitahukan hal yang membuat Alvin dan Linda kaget bukan main.
"Rindi udah tahu semua perbuatan kalian dan perilaku kalian di belakangnya dan dia dengar semuanya. Lihat seberapa hancurnya perasaan Rindi gara-gara kalian berdua" Ucap Tika dengan jari telunjuk yang mengarah kepada kedua sejoli tersebut dengan tatapan marahnya. Setelahnya, Tika pergi dari cafe menyusul Rindi.
Tak tinggal diam, Alvin dan Linda keluar cafe untuk mengejar Rindi dan meminta maaf. Namun semuanya terlambat, karena mobil Rindi telah meninggalkan cafe tersebut.
Di dalam mobil yang dikendarai oleh Tika, suara tangis Rindi terdengar jelas. Tika yang melihat sahabatnya bersedih, hanya bisa menenangkannya dengan usapan lembut di pundaknya. Tika yang mengetahui jika mood sahabatnya sedang buruk, menjalankan mobil menuju butik agar sahabatnya bisa menenangkan diri di sana.
Setelah sampai di butik milik Rindi, Tika memarkirkannya di garasi. Rindi bergegas turun dari mobil dan berlari masuk kedalam setelah membuka pintu. Tika yang melihat itu hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar.
"Kurang ajar banget itu si Alvin, seenaknya mainin perasaan wanita. Kasihan deh si Rindi, diselingkuhi sama tunangannya. Eh ternyata pelakornya adik tirinya" Ucap Tika dengan suara kecilnya.
Sebelum kakinya masuk kedalam butik, Tika melihat mobil Alvin berada di luar gerbang butik. Tika bergegas mendekati mobil tersebut dan melihat wajah panik dari Alvin dan Linda.
"Mau apa Lo berdua kesini? Mau nyakitin hati Rindi lagi hah?! Kalau alasan Lo berdua kesini cuma buat minta maaf, Gue saranin pergi deh! Rindi mungkin tidak mau bertemu sama kalian, tidak punya malu Lo berdua nunjukin muka di depan Rindi lagi" Ucap Tika dengan nada tidak sukanya.
"Mbak Tika, kita cuma mau bertemu sama Mbak Rindi. Izinin kita masuk ya Mbak, kita mau minta maaf" Pinta Linda dengan tangan yang hendak menyentuh tangan Tika. Namun dengan cepat Tika menghempaskan tangan Linda dengan kasar. Sedangkan Tika yang melihat itu hanya menghembuskan napas kasar.
"Kalau Gue bilang kalian pergi, ya pergi lah! Atau mau Gue panggil satpam jaga? Sekarang kalian pergi dahulu. Temuin Rindi kalau dia udah tenang besok" Timpal Tika lalu bergegas meninggalkan kedua orang tersebut. Melangkah masuk kemudian mengunci pintu dari dalam.
Linda yang tidak bisa menemui kakaknya untuk meminta maaf hanya bisa menangis dengan segala penyesalannya. Alvin yang melihat Linda menangis segera membawa tubuh Linda kedalam pelukannya dan mencium kedua mata dan kening Linda dengan penuh kasih sayang.
Rindi yang melihat kemesraan dari kedua orang yang telah mengkhianati dirinya bertambah rasa sakit di hatinya. Rindi menyaksikan di balik gorden jendela kamarnya bagaimana perilaku manis Alvin kepada Linda.
Rindi hanya memegang dadanya yang terasa sesak ketika melihat bagaimana cara Alvin membuat Linda tersenyum, mengacak rambut panjang Linda, mencium kelopak mata Linda, dan menuntun Linda memasuki mobil dan membukakan pintu untuk Linda. Rindi menatap kecewa kearah mobil Alvin yang melaju semakin menjauh dari butik miliknya.
Hatinya semakin sesak ketika mengecek handphone miliknya, tidak ada pesan masuk ataupun panggilan dari Alvin. Rindi juga kecewa ketika tak mendapati Alvin berusaha masuk untuk menjelaskan kepadanya.
Rindi berbalik dari jendela, melangkah menuju pinggiran ranjang dan mendudukkan diri di sana. Air matanya luruh semakin deras rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Pikirannya seakan tidak bisa melupakan segala perilaku Alvin terhadap Linda. Kejadian tadi seakan kaset rusak yang terus berputar di otaknya.
Menghapus air matanya, Rindi berusaha tegar dengan semua ini. Biarlah masalah ini akan diselesaikannya nanti jika dirinya sudah siap lagi. Rindi membuka pintu dan berjalan menuju ruang tv, dilihatnya Tika sedang duduk santai di sofa putih miliknya itu.
"Gimana, udah lumayan tenang belum?" Tanya Tika saat Rindi duduk disebelahnya dengan memangku bantal sofa bergambar animasi bayi milik Rindi.
"Udah lumayan Tik. Aku tidak tau gimana kedepannya, apa aku harus ikhlasin Alvin sama Linda atau aku tetap lanjutin hubungan ini sama Alvin tetapi pasti aku akan menyakiti hati adikku. Jujur aku bingung Tik" Ucap Rindi dengan nada yang bergetar menahan tangis. Tika membawa kepala Rindi untuk bersandar di bahunya dan menepuk pelan pundak Rindi yang bergetar.
"Kalau menurut Gue nih ya Rin, lebih baik Lo minta Alvin buat milih antara kalian berdua. tetapi kalau menurut Gue sih jangan nyerah gitu aja Rin. Perjalanan cinta kalian berdua itu panjang banget dimulai dari masa-masa SMA. tetapi itu saran aja sih dari Gue, semua terserah Lo aja Rin" Ucap Tika dengan nada seriusnya menatap dalam mata sembab milik Rindi.
Memang Rindi, Tika dan Alvin teman dari masa SMA jadi mereka bertiga sangat dekat. Namun dari awal hubungan Rindi dan Alvin, Tika tidak setuju dan tidak menyukainya.
"Ya udah nanti coba aku pikirin lagi lah, gini aja dahulu deh. Kita liat sejauh mana dekatnya mereka berdua, kalau misal mereka saling cinta, aku yang bakalan mundur dari hubungan ini Tik" Ucap Rindi sembari membersihkan sisa air matanya menggunakan tissue yang ada di meja.
Hatinya seakan tak rela jika hubungannya dengan orang yang sangat dicintai harus kandas, bibirnya seakan kelu mengucapkan kata menyerah dari hubungan ini.
"Ya udah kita makan dahulu yuk, tadi udah Gue order. Kan kita belum jadi makan eh udah ada drama perselingkuhan" Ucap Tika yang kini berjalan menuju dapur yang langsung diikuti oleh Rindi.
Keduanya makan dengan nasi goreng box yang tadi dipesan oleh Tika karena sudah malam sehingga tidak sempat untuk memasak makanan.
Selama makan, Rindi tak membuka bicara sedikitpun, dan memakan makanan didepannya dengan tatapan kosongnya.
Setelah selesai dengan urusan makannya, Rindi pamit kepada Tika untuk menuju kamarnya dan memberikan kunci kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar milik Rindi. Kamar itu memang biasa digunakan oleh Tika jika menginap di butik.
Rindi menuju balkon yang ada di kamarnya dengan membawa gelas berisikan kopi hitam panas. Meletakkan gelas berwarna baby blue nya dimeja bundar dekat dengan ayunan rotan yang ada di balkon kamarnya.
Pikirannya kini melayang jauh mengenai hubungannya dengan tunangan yang sangat dicintainya. Tangannya memainkan cincin yang berhiaskan permata ditengahnya, cincin tersebut pemberian Alvin ketika mereka bertunangan.
Air matanya jatuh, mengingat pria yang dicintai nya selama tujuh tahun berkhianat dari dirinya. Dan parahnya lagi dia selingkuh dengan adik tiri yang sudah Rindi anggap seperti adik kandungnya.
"Apakah selama tujuh tahun ini aku mencintaimu tiada artinya...selama ini aku mencintaimu sepenuh hatiku...apakah ini akhirnya? Jadi...penantian ku selama ini harus berujung mengikhlaskan Vin?..." Akhirnya Rindi meluapkan isi hatinya meskipun tiada seorang pun di sekitarnya.
"Mengapa harus adikku yang menjadi wanita yang kau cintai? Sikapmu pada Linda membuatku yakin bahwa kau lebih mencintainya daripada denganku. Kau tampak lebih bahagia bersamanya. Candamu, tawamu, dan perilaku manis mu tak pernah kau perlihatkan di depanku Vin. Itu yang membuatku sesak melihatnya. Jika kau lebih bahagia dengan Linda maka aku akan mengikhlaskan mu Vin" Lanjut Rindi dengan diiringi isak tangisnya.
Tak disangka bahwa di balik jendela pembatas balkon kamar Rindi terdapat Tika yang sedang melakukan video call dengan Alvin dan Linda di seberang sana. Beberapa waktu lalu memang Tika sengaja melakukannya supaya mereka berdua mendengar keluh kesah dari Rindi.
"Jika memang ini akhir dari perjuanganku selama ini, aku akan memutuskan hubungan pertunangan kita dan aku akan mengikhlaskan mu untuk Linda. Aku akan belajar melupakan semua tentang kita Vin..." Ucapan Rindi berhenti karena isak tangisnya semakin jelas dan air matanya deras mengalir di pipi chubby nya.
Di seberang sana, Linda yang mendengar keluh kesah dari kakaknya itu pun menangis pilu. Dirinya merasa menjadi wanita yang hina karena telah merebut tunangan kakaknya. Karena melihat Linda menangis, Alvin segera mematikan sambungan teleponnya dengan Tika dan menenangkan Linda.
Tika yang melihat sahabatnya semakin terisak, segera menghampiri Rindi. Berusaha menenagkan sahabatnya itu dengan memeluk erat dan mengelus punggungnya. Hatinya ikut teriris mendengar tangis pilu dari Rindi.
Setelah dirasa Rindi sudah tenang, Tika mengurai pelukannya dan membantu menghapus bekas air mata yang keluar dari mata indah sahabatnya itu.
"Lo udah putusin akan ngambil keputusan apa kan Rin? Gue percaya semua keputusan yang Lo ambil karena itu pasti yang terbaik. Dan Gue dukung apapun keputusan yang Lo ambil Rin" Ucap Tika sembari memegang kedua bahu sahabatnya dan menatap matanya tajam. Rindi menjawabnya dengan anggukan tegas.
"Aku udah ngambil keputusan Tik. Mungkin sudah saatnya mengakhiri hubungan ini, besok aku bakalan nemuin mereka untuk memutuskannya" Ucap Rindi dengan mantap tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Gue dukung keputusan Lo Rin, tidak ada kesempatan kedua untuk lelaki pengkhianat seperti Alvin" Timpal Tika dengan nada seriusnya dan dijawab senyuman oleh Rindi. Lantas keduanya berpelukan kembali.
"Ya udah aku tidur dahulu ya Tik, besok masih kerja dan nemuin mereka berdua" Ucap Rindi sembari bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamar dan diikuti oleh Tika yang menutup pembatas balkon.
"Gue balik ke kamar ya Rin. Kalau ada perlu apa-apa teriak aja, nanti Gue buru-buru deh kesini nya" Ucap Tika disertai dengan cekikikan. Rindi yang mendengar itu hanya bisa tersenyum kecil dan merasa bahagia memiliki sahabat yang selalu ada saat dia butuh sandaran.
"Iya Tik, udah sana ngantuk nih aku" Jawab Rindi dengan nada mengusirnya sehingga membuat Tika mendengus kesal. Namun tak urung, Tika tetap beranjak dari kamar Rindi menuju kamar sebelah, tak lupa menutup pintu kamar Rindi.
Sebelum beranjak tidur, Rindi mengirim pesan kepada Alvin dan juga Linda untuk menemuinya besok hari di cafe milik Rindi. Setelah mengirimkan pesan tersebut, Rindi menatap cincin yang ada di jari manis tangan kirinya dengan tatapan kecewa.
"Ayo Rindi, kamu harus kuat. Ikhlasin dia dan belajar move ons dari pria berengsek seperti dia. Aku akan kembalikan cincin ini padanya besok. Ini harus berakhir!" Semangat Rindi untuk dirinya sendiri dengan memasang senyum palsunya seakan menguatkan dirinya sendiri.
Merebahkan diri di atas kasur yang nyaman, mematikan lampu utama sehingga menyisakan lampu tidur yang temaram dan bergegas untuk ke alam mimpi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 314 Episodes
Comments
Malaika langit devina putri A.
iya rin putusin aja si Alvin siapa tahu dapet duda kan hihihi
2024-12-23
0
Hazel Luvena arabella Putri
iya bener rin cowok kaya Alvin mah buang aja siapa tahu dapet berlian kan
2024-06-12
0
Yuli Yuli
uda putusin aja Rin lelaki kyak gt g prlu dprtahan, dlnjutin aja paling g ya msih nyakitin km Rin
2024-05-08
0