Pagi harinya, mata Rindi terlihat bengkak karena menangis semalaman. Tika yang melihat hal itupun tertawa sampai terbahak-bahak dan mengejek Rindi tiada habisnya. Para pegawai butik yang melihatnya pun hanya mampu tersenyum geli saat berpapasan dengan Rindi.
Rindi sudah mencoba mengompres bengkak di matanya karena menangis namun tetap belum kembali seperti semula, sehingga Rindi hanya bisa pasrah saat menjadi bahan lelucon bagi sahabat dan pegawainya.
Hari ini Rindi akan menyelesaikan pesanan jas untuk CEO dari Kalandra Company. Karena yang memesan orang penting, sehingga Rindi memutuskan untuk mengerjakannya sendiri.
"Dinda, bahan yang untuk pesanan jas dari Kalandra Company udah disediakan belum ya?" Tanya Rindi kepada Dinda, pegawai yang bertanggung jawab bagian persediaan kain di butik.
"Sudah tak siapkan Mbak, sebentar saya ambilkan" Jawab Dinda seraya mengambil bahan khusus yang disiapkan oleh pihak pemesan.
Setelah kain yang dibutuhkan tersedia, Rindi segera menyelesaikannya dengan teliti dan penuh perhitungan. Jangan sampai salah sedikit saja, bisa-bisa di tuntut oleh perusahaan besar itu.
Bagi Rindi menyelesaikan jas itu memerlukan waktu sekitar lima jam. Peluh keringat membasahi dahi dan lehernya. Para pegawai menetap takjub pada Rindi, pasalnya dirinya cepat dalam bekerja. Apalagi dengan penampilannya yang bisa dibilang sangat sederhana namun membuatnya tampak memesona.
"Ya ampun Mbak Rindi, ngejahit masih pakai piyama aja cantik banget apalagi kalau udah dandan. Mungkin artis aja lewat, ya kan guys?" Tanya Dinda kepada para pegawai lain yang ikut menatap Rindi.
"Perfect banget sih kalau menurut Gue. Udah cantik, karier bagus, pinter, sabar, lemah lembut lengkap deh pokoknya. Kayak gitu aja Mas Alvin masih bisa berpaling, heran deh Gue sama dia. Apa yang kurang coba dari Mbak Rindi?" Ucap Fani yang langsung dianggukki oleh teman-teman lainnya.
Pasalnya mengenai berita perselingkuhan Alvin sudah menyebar hingga di telinga para pegawai dan semua itu ulah dari Tika yang memberi tahukannya.
"Namanya juga orang bodoh, dikasih yang hampir sempurna malah milih yang masih kurang banyak. Yah ibarat menukar berlian dengan batu kali. Ya nggak guys?" Timpal Dita yang merupakan bagian kasir. Sontak hal tersebut langsung disetujui oleh teman-temannya.
"Eh kalian bubar atuh, malah pada ngerumpi. Nanti kalau Rindi tahu bisa marah dia. Udah dilanjut lagi nanti waktu istirahat" Perintah Tika yang kebetulan lewat dan dianggukki oleh semua pegawai yang berkumpul tadi. Mereka semua bergegas menuju tempat kerjanya masing-masing.
Tika melangkahkan kakinya menuju tempat menjahit yang digunakan oleh Rindi lalu duduk di sofa yang tak jauh darinya. Tika tersenyum bangga menatap salut Rindi yang selalu serius dalam mengerjakan pekerjaannya.
"Rin, serius amat deh ngerjainnya. Santai dong nggak usah tegang gitu" Canda Tika sembari menaikkan kaki kirinya ke atas kaki kanannya.
"Kali ini harus serius Tik, aku tidak mau ngecewain pelanggan aku. Lagian kamu bukannya bantuin yang lain malah duduk gitu, ngeselin deh" Gerutu Rindi dengan mencebikkan bibirnya sehingga terlihat lucu oleh Tika.
"Lo itu nggak pernah ngecewain pelanggan Rin. Lagian semua karya Lo itu bagus semua tidak ada yang buruk. Eh BTW, Gue santai gini karena kerjaan Gue udah selesai ya. Enak aja dikira makan gaji buta nanti sama yang lain" Omel Tika dengan nada kesalnya menatap Rindi yang masih fokus pada jas yang sudah selesai.
"Alhamdulillah udah selesai juga nih, tinggal packing terus nanti dikirim deh" Ucap Rindi sembari menggantung jas tersebut untuk di kemas dan di finishing oleh pegawainya.
Setelah selesai, Rindi meregangkan ototnya dan mengikat rambutnya menjadi satu. Berjalan ke arah Tika dan duduk di sampingnya. Menyeruput es teh yang tadi telah dibuatkan oleh Tika setelah mengucapkan terima kasih dan dibalas anggukan oleh Tika.
"Gimana, hari ini Lo jadi bertemu sama si Alvin dan Linda nggak? Atau mau Gue temenin aja?" Tawar Tika sembari menatap ponselnya.
"Insyaallah jadi Tik, biar nggak jadi beban pikiran aku kedepannya. Siap nggak siap ya harus siap dong. Nggak usah Tik, aku sendiri aja" Jawab Rindi dengan berlalu meninggalkan Tika dan menuju kamarnya untuk bersiap menemui Alvin dan Linda.
Setelah berkutat dengan segala keperluannya, kini Rindi tengah bersiap menuju cafe tempat mereka bertemu nanti. Memantapkan hatinya agar kuat untuk menjalaninya. Berangkat seorang diri dengan menaiki mobilnya dan bergegas untuk ke cafe.
Sesampainya di cafe, Rindi terlebih dahulu mengecek keadaan cafe dan mengawasi para pegawainya. Sapaan dari pegawai hanya dibalasnya dengan senyuman hangat.
"Farhan, nanti kalau Alvin dan Linda sudah datang, langsung saja suruh ke ruangan saya ya" Pesan Rindi kepada pegawai laki-laki yang berada di kasir.
"Siap Mbak, nanti saya sampaikan" Jawab Farhan yang dianggukki oleh Rindi.
Rindi berjalan menuju ruangan pribadi miliknya. Membuka pintu cokelat dan disuguhkan pemandangan yang sudah lama tidak dilihatnya. Karena sibuk mengurus butik, menyebabkan dirinya jarang mengelola cafe dan di amanah kan kepada Tika.
Berjalan memutari meja kerjanya dan duduk di kursi kerjanya yang berwarna putih tulang. Tangannya menyentuh bingkai yang berisi foto dirinya dan Alvin ketika bertunangan. Senyum pedih muncul menghiasi wajah cantiknya ketika sadar bahwa hubungannya segera berakhir.
Rindi tersentak kala mendengar pintu terbuka dan menampakkan dua sejoli yang selalu mengganggu pikirannya. Memperhatikan mereka sejenak, lalu mempersilahkan keduanya duduk di hadapannya.
Alvin dan Linda yang melihat wajah Rindi yang datar serta tajam hanya bisa meneguk ludahnya kasar. Karena biasanya wajah Rindi selalu memperlihatkan kelembutan dan keteduhan.
"Ada yang mau kalian katakan pada saya?" Tanya Rindi dengan nada datarnya tanpa menatap kedua orang didepannya yang sedang merasa takut karena aura menakutkan Rindi. Hening, tidak ada jawaban dari keduanya sehingga membuat Rindi mengangguk paham.
"Untuk mempersingkat waktu, saya ingin bertanya apa mau kalian berdua? Jawab dengan cepat karena waktu saya berharga" Ucap Rindi masih dengan nada datarnya.
"Mbak Rindi, Linda bisa jelasin semua....." Ucapan Linda terpotong karena Rinda mengacungkan jari telunjuknya untuk memerintahkan Linda berhenti.
"Cukup, saya sudah tahu semuanya dari mulut anda dan kekasih anda sendiri. Saya juga sudah mencari tahu melalui anak buah saya jika kalian berdua sudah bersama selama lima bulan terakhir kan? Benar begitu Alvin?" Sindir Rindi yang membuat keduanya kaget bukan main mendengar penuturan Rindi. Keduanya hanya mengangguk lemah untuk menjawab pertanyaan Rindi.
Pertahanan yang sedari tadi Rindi bangun untuk tidak menangis, akhirnya kini runtuh juga. Dengan sekuat tenaga, Rindi berusaha menahan agar air matanya tidak seluar sekarang.
"Jadi selama tujuh tahun ini saya mencintai anda tiada artinya? apakah ini akhirnya? jika memang akan berakhir seperti ini, mengapa harus dengan cara anda mengkhianati saya? jika memang tidak cinta katakan saja, jangan menjadi seperti pengecut yang menghancurkan hati saya. Jawab saya Alvin! " Kini Rindi berbicara dengan nada tinggi yang membuat kedua orang didepannya terkejut. Untung saja ruangan ini dibuat kedap suara sehingga para pelayan dan pengunjung tidak mendengarnya.
Alvin dan Linda masih tetap bungkam dan masih tetap mendengarkan segala ungkapan kekecewaan dari Rindi.
"Mungkin mulai hari ini, semua rasa yang saya miliki untuk anda akan hilang. Dan saya kecewa pada kalian berdua karena telah mengkhianati saya" Lanjut Rindi dengan suara yang mulai melemah.
"Kalian tidak tahu kan... seberapa sakitnya hati saya ketika harus dikhianati oleh dua orang yang saya sayangi? Jika kemarin Anda... mengatakan tidak bisa memilih di antara saya dan adik saya, maka anda tidak perlu memilih" Lanjut Rindi dengan tangan yang menunjuk ke arah wajah Alvin dengan tatapan marahnya.
Air mata Rindi tak bisa terbendung lagi, dengan derasnya luruh membanjiri pipi chubby milik Rindi.
Tangan kanannya digunakan untuk melepas cincin pertunangan mereka dan menyodorkannya di hadapan Alvin dengan tangan bergetar.
"Saya kembalikan cincin ini... kepada anda, dan saya yang akan mundur... dalam hubungan rumit ini. Mulai hari ini, kita tidak ada hubungan lagi dan anggap saja... kita tidak pernah saling mengenal" Ucap Rindi dengan pandangan yang menatap kearah Alvin dengan tatapan kecewanya.
Linda yang mendengar pengakuan dari kakaknya menatap tak percaya kearahnya. Menutup mulutnya dan menggeleng kepala pelan dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Kamu bercanda kan Rin, kamu jangan aneh-aneh deh! Kamu tidak mungkin ngelakuin ini kan. Jagan gini Rindi, please aku sayang sama kamu" Ucap Alvin dengan mata memerahnya menahan tangis dengan tangan yang berusaha menggenggam tangan Rindi dan langsung ditepis kasar oleh Rindi.
"Anda bilang apa? Anda sayang kepada saya? Bullshit! saya tidak akan percaya hal itu. Jangan jadi pengecut dengan mempertahankan saya di hubungan percintaan kalian. Lepaskan saya dan biarkan saya bahagia dengan lelaki yang lebih baik dari Anda" Tukas Rindi dengan nada kasar nya.
"Mbak, jangan gini...biarin Linda yang pergi dari kalian karena Linda yang merusak hubungan kalian...Jangan korbanin perasaan Mbak untuk Linda" Mohon Linda kepada kakaknya itu.
"Keputusan Saya sudah bulat, jadi mulai hari ini... Saya, bukan lagi tunangan dari anda. Saya akan biarkan kalian berdua bahagia dan saya akan mencari kebahagiaan saya sendiri. terima kasih untuk tujuh tahun terakhir " Ucap tegas dari Rindi.
"Rin, aku mohon sayang, jangan seperti ini. Kita selesaiin baik-baik ya. Kita jangan pisah aku...." Ucapan Alvin terpotong oleh suara dari Rindi.
"Saya tidak mau dengar lagi ucapan kalian berdua. Jadi silakan keluar dari ruangan saya. Sekarang!" Bentak Rindi dengan nada yang tinggi membuat Linda tersentak dan menangis histeris dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Mbak Rindi maafin Linda ya...." Gerakan Linda yang akan memeluk Rindi terhenti karena teriakan dari kakaknya itu.
"KELUAR DARI RUANGAN SAYA!" Teriak Rindi yang disertai tangis pilunya sehingga mau tak mau keduanya harus meninggalkan ruangan Rindi dengan keadaan yang sama-sama kacau menahan tangis.
Setelah kepergian Alvin dan Linda, Rindi menangis dengan keras, berteriak, memukul meja, membanting barang-barang yang ada di atas meja dan yang terakhir membanting bingkai foto keduanya ke lantai kemudian diinjak menggunakan kakinya yang terbalut sepatu flatshoes.
Kini ruangannya hancur, sama seperti hati yang kini tengah hancur tak berbentuk. Rindi mengedarkan pandangannya lalu mengacak rambutnya frustasi.
"Semuanya telah berakhir! Kau puas kan Alvin? Selamat, kau berhasil membuatku sakit hati" Teriak Rindi dengan frustasi dengan tangannya memukul dadanya berkali-kali karena merasa sesak.
Rindi tak percaya jika hubungannya akan kandas secepat ini. Impiannya untuk hidup bersama Alvin selamanya harus pupus mulai saat ini.
Setelah setengah jam berlalu Rindi habiskan untuk menangis di pojok ruangan, kini Rindi mulai mengatur emosinya supaya lebih tenang. Di dalam hati, Rindi merasa lega karena masalahnya sudah selesai dan saatnya untuk melupakannya.
Dirasa sudah lebih baik, Rindi berniat untuk kembali ke butik. Untuk masalah ruangan yang sudah hancur, Rindi akan memanggil tukang bersih-bersih.
Rindi bingung, apakah dia bisa memaafkan Alvin dan Linda atau tidak sama sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 314 Episodes
Comments
Hazel Luvena arabella Putri
laki laki bnyk rin biarin Alvin sama si baru kali kaya Linda dan kebahagiaan akan menyertaimu rin
2024-06-12
0
Yuli Yuli
Uda g usa sdih rindi ada kbhgiaan yg akan mghmpirimu kelak, Uda tgalin aja dia
2024-05-08
1
Idahas
bulsyit alvin
2023-12-04
1