Di depan pintu rumah njid dan juga jiddah nya telah menunggu Mahda. Dengan senyum manis jiddah Ita merangkul dan memeluk Mahda.
"Udah siap kan?" tanya jiddah Ita.
"Udah jiddah" jawab Mahda.
"Ayo, niat dulu!" titah njid Mahbub.
Mahda pun di tuntun melafalkan niat mencari ilmu sebelum berangkat dan juga di do'akan oleh Zein sendiri.
Sepanjang perjalanan Mahda terus diam. Mungkin ia merasa sedih atau apa, entahlah.
"Kamu tahu sayang, dulu yemma mu juga susah masuk pondok, sedikit di paksa, eh pas udah di pondok malah keenakan, betah gak mau keluar" tutur jiddah Ita.
"Masa sih jiddah? Jiddah tau dari mana?" tanya Mahda tak percaya pada apa yang di ucapkan jiddah Ita.
"Beneran. Kata almarhum njid kamu. Nih ya, saking betah nya yemma di pondok dulu, pas udah nikah masih tetep pengen tinggal di pondok, kalau anak yang lain sih jarang kaya gitu" jelas jiddah Ita lagi.
"Beneran tuh yemma?" kini Mahda berbalik tanya pada Haniyah yang duduk di belakang nya.
"Iya" jawab Haniyah.
"Tuh kan. Jadi sekarang kamu yang bener ya di pondok. Belajar yang rajin, jangan ngelanggar peraturan, yang patuh, sopan sama orang lain apalagi sama yang lebih tua" jiddah Ita memberi wejangan pada Mahda.
"Iya deh jiddah, in syaa Allah" ucap Mahda.
***
Saat Zein dan keluarga tiba di pesantren, mereka langsung di sambut hangat oleh pengurus. Mengapa tidak, Zein sudah sering datang kesana karna Aly pun juga menempuh pendidikan di pesantren tersebut.
Haniyah di berikan formulir pendaftaran juga rincian biaya untuk Mahda selama di pesantren. Saat ini, pesantren dan sekolah sama-sama mengelurkan biaya yang cukup besar, satu kitab pun tak jarang harga nya berharga ratusan ribu.
Setelah mengikuti beberapa test, akhir nya Mahda bisa masuk ke pesantren tersebut dengan beberapa peraturan yang berlaku.
"Yemma tega ninggalin aku di sini?" rengek Mahda dengan sendu sambil terus memeluk Haniyah.
"Kata nya siap, ko melow gini? Di sini banyak orang loh, Da. Kamu gak sendiri. Tuh, abang kamu juga ada di sini" tutur Haniyah.
"Kalau Mahda gak betah gimana?" tanya Mahda.
"Harus betah dong! Nanti yemma kasih hadiah kalau kamu betah, rajin, pinter, lancar hafalan nya" tutur Haniyah menyemangati Mahda.
"Sawa' (beneran)?" tanya Mahda meyakinkan.
"In syaa Allah" jawab Haniyah dengan di hiasi senyum manis dari bibir nya.
***
Haniyah dan jiddah Ita terlebih dahulu soan (silaturahmi) kepada pemilik pondok sebelum mengantarkan Mahda ke asrama.
Zein dan Haniyah sengaja tak memasukan ke dua anak nya ke pesantren tempat dahulu mereka menimba ilmu, alasan nya agar mereka tak manja. Karna mereka yakin jika Aly dan Mahda di tempatkan di sana akan di fasilitasi dengan sangat nyaman dan cukup di hormati. Mereka ingin Aly dan Mahda menjadi santri sebagai mana mesti nya, merasakan hidup dalam kesederhanaan tanpa melihat kasta dan juga tahta.
Selesai berbincang Haniyah dan jiddah Ita juga Mahda pamit menuju asrama. Asrama yang cukup luas dengan 2 lantai, taman yang cukup luas juga menambah asri dan mempercantik area asrama tersebut.
Dengan di antar oleh seorang pengurus, Mahda dan Haniyah di antar ke kamar asrama. Sementara jiddah Ita, ia pamit keluar.
Menempati ghurfah Az-zahra di lantai 2, Mahda menelisik setiap sudut tempat tersebut.
Lumayan nyaman, gak parah-parah banget. Udara juga dingin gak perlu ac, hammam (kamar mandi) juga banyak, taman luas, ah betah nih kayak nya.
Gumam Mahda.
Mahda segera memasukan satu per satu baju nya ke dalam lemari yang telah di sediakan. Banyak pasang mata santri yang terus menatap ke arah nya.
Maklum lah, santri baru.
Fikir nya lagi.
"Ma, lemari nya gak muat" keluh Mahda.
"Lah, emang kamu bawa baju berapa Da?" tanya Haniyah heran.
"Baju tidur 5, abaya 7, gamis biasa 5, handuk 2, mukena 3, kerudung 10, daleman, udah segitu doang" jelas Mahda tanpa merasa bersalah.
"Astaghfirulloh Mahda, kebanyakan. Kalau di pesantren baju tuh di jatah, ini-ya Allah, sini yemma pilihin" gerutu Haniyah.
Sementara pengurus yang tadi mengantar nya hanya tersenyum.
"Nah, segini cukup, iya kan mbak?" tanya Haniyah pada pengurus tadi.
"Iya bu" jawab nya sopan.
"Yemma, mana cukup. Nanti kalau baju aku kotor atau masih basah gimana?" rengek Mahda.
"Ya kamu harus rajin lah, kalau udah di pake langsung cuci biar cepet kering! Bisa di pake lagi" jelas Haniyah.
"Cuci kering pake dong? Mana bisa sih yemma, nyuci sama laundry langsung di anterin lagi" ucap Mahda masih merajuk.
"Siapa yang bilang nyuci nya sama laundry, cuci sendiri Mahda" timpal Haniyah.
"Haaahhhh, yemma"
Mahda kembali berdrama. Ia merajuk pada pengurus agar di perbolehkan membawa baju banyak dan mencuci ke laundry, namun sayang pengurus pun tak memberikan nya izin sekalipun Mahda anak seorang yang dekat dengan pemilik pondok.
***
Kini saat nya Mahda berpisah dengan keluarga nya. Memulai hidup baru di pesantren dengan teman-teman yang baru ia kenal beberapa waktu lalu.
Mulai mencari ilmu agama, menggali lebih dalam lagi tentang agama. Lebih mengenal lagi tentang sang Pencipta, juga bagaimana cara mendapat syafaat dan keridhoan-Nya.
"Jiddah, do'ain Mahda ya" pinta Mahda sembari memeluk jiddah Ita.
"Tentu, jiddah akan selalu mendo'akan cucu jiddah yang paling jiddah sayangi ini" timpal jiddah Ita haru.
"Yebba, sering-sering tengokin Mahda ya" pinta Mahda.
"In syaa Allah" jawab Zein tenang padahal jauh di lubuk hati nya ia begitu sedih harus melepaskan putri kesayangan nya di pesantren.
Namun ini semua juga demi kebaikan nya Mahda. Ia tak ingin menjadi orang tua yang lalai dengan pendidikan agama anak nya.
Meskipun Mahda belajar di pesantren milik abi nya, ia tetap memutuskan untuk memasukan nya ke pesantren agar wawasan nya lebih luas juga ia bisa merasakan indah nya hidup di pesantren.
"Sholehah nya yemma" ucap Haniyah sendu seraya memeluk anak gadis nya.
"Yang betah ya sayang. Semoga mendapat ilmu yang barokah dan bermanfa'at" lanjut Haniyah dan sedikit menyeka air mata nya.
Tak dapat di pungkiri, meskipun ia sering bertengkar dengar anak gadis nya ini namun melepas nya kini membuat nya menitihkan air mata juga.
"Yemma" hanya rengekan yang keluar dari mulut manis Mahda.
Ia menangis tersedu di pelukan wanita yang telah melahirkan dan membesarkan nya sampai saat ini.
"Udah gih balek ke dalem. Yemma pulang dulu ya. Nanti yemma jenguk lagi. Kalau butuh apa-apa, minta mbak hubungi yemma!" titah Haniyah.
Mahda pun mengangguki ucapan Haniyah. Menyalami satu persatu keluarga nya. Sayang nya ami dan amati nya tak ikut, ya Irfan dan Lulu. Mereka berhalangan mengantarkan Mahda ke pesantren karna tengah pulang ke kampung halaman Irfan.
Dengan berderai air mata Mahda melepaskan semua keluarga nya kembali pulang. Meninggalkan diri nya sendiri di sini.
"Udah, jangan drama. Masuk sana!" ucap Aly yang berdiri di samping Mahda.
"Cih, jadi abang gak ada empati nya sama sekali. Peluk, tenangin adek nya kek, gimana gitu" decih Mahda.
"Mau di kira pacaran?" tanya Aly menantang.
"Masa iya pacaran sama abang sendiri, jangan nagco deh" kekeh Mahda.
"Ya udah, sana masuk! Sebelum pintu gerbang nya di kunci" titah Aly tegas.
"Nggeh, abang" timpal Mahda dan berlalu dari hadapan Aly.
Tadi aja ada yebba, yemma, diem aja, kalem. Cuma nggeh, nggeh, baru pergi udah ngatur.
Gerutu Mahda sambil berjalan ke arah asrama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Yani Ciut Kiut
seru. ni cerita ny
2021-08-17
2
mimip69
suka👍🏻
srmangat ya kk💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
2021-03-03
1