Pagi ini Firman sudah berada di sebuah kota terpencil. Kota masa kecilnya dulu sebelum bertemu dengan Aya. Disini dulu Firman di lahirkan dan dibesarkan sebelum akhirnya pindah ke kota Yogyakarta. Kota yang tidak jauh dari Yogyakarta hanya saja banyak orang tidak mengenal kota itu.
Rumah sederhana dengan taman bunga yang indah, terlihat sangat alami dan asri. Bangunan kuno dengan jendela besar dan tembok yang masih berasal dari batu.
"Apa kamu menyesal dengan kehidupan yang kamu alami saat ini Firman." ucap Nenek Asti kepada Firman dengan lembut. Tangan tua dan keriput itu mengusap kepala hingga punggung Firman dengan penuh kelembutan.
Tatapan Firman yang kosong ke arah luar jendela. Disinilah Firman berdiri, menyemangati dirinya sendiri dan berusaha sendiri dengan apa yang dia miliki saat ini.
Kedua orangtuanya sudah meninggal karena kecelakaan. Keduanya kritis dan di rujuk ke Rumah Sakit di Ibu kota namun takdir berkata lain, keduanya menghembuskan nafas terakhirnya saat akan menjalankan operasi besar.
Kesedihannya tidak bisa dibendung lagi, hatinya terasa perih dan sesak. Di hari yang sama, Firman harus kehilangan kedua orangtuanya bersamaan.
Rencananya rumah yang ada di Yogyakarta akan dijual, Firman akan pindah ke kota kecil ini dan mulai membuka usahanya sebagai Fotografer. Sekolahnya akan dilanjutkan di daerah ini juga, mungkin dengan begitu semua kenangan indah bersama kedua orangtuanya pun bisa di lupakan.
"Jangan di ungkit lagi Nek. Firman tidak kuat mengingatnya. Terlebih..... " ucapan Firman pun terhenti.
"Nenek tahu kegundahanmu Firman. Mau sarapan apa? Nenek buatkan." ucap Nenek Asti lembut.
"Tidak perlu Nek. Firman menunggu Mbak Tuti. Rumah sepertinya sudah dijual. Semua barang juga dijual semua. Aku ingin melupakan semuanya Nenek." ucap Firman pelan.
Buliran kristal bening itu pun luruh di pipi pria tampan itu. Hatinya terasa mencelos ke luar mengingatkan ketiadaaan kedua orang tuanya. Setiap hari Firman pun mengunjungiakam kedua orang tuanya. Makam yang bersebelahan dan masih berwarna merah dan basah. Kembang tujuh rupa pun masih terlihat segar di atas tanah kuburan.
"Assalamualaikum.... Nenek Asti.. " ucap Mbak Tuti dan Mas Alex serempak.
"Waalaikumsalam... Masuk Tuti, Alex... " Ucap Nenek Asti pelan.
Mereka pun masuk dan duduk di kursi tamu. Mbak Tuti adalah asisten kepercayaan Bunda Firman. Sedangkan Mas Alex adalah tangan kanan Ayah Firman. Beberapa usaha kini diambil alih oleh mereka berdua, dan keuntungannya akan di transfer ke rekening pribadi Firman.
Firman pun duduk diantara keduanya. Hidupnya sudah tidak bergairah lagi. Semua orang tidak ada yang tahu akan kejadian ini, termasuk ibu Aya.
"Mas Firman yang sabar, semua sudah kehendak Allah SWT." ucap Mbak Tuti penuh kasih sayang.
"Aku gak papa Mbak Tuti. Hanya saja kadang hidupku saat ini tidak berarti dan ingin ikut bersama mereka." ucap Firman lirih, wajahnya tampak sedih dan sendu.
"Mas Firman harus tetap tabah dan ikhlas. Ini semua takdir yang sudah digariskan oleh Allah SWT, kita tidak bisa mengelaknya." ucap Mas Alex menguatkan sambil menepuk bahu Firman dengan pelan.
"Akan ku coba Mas Firman. Terima kasih sudah banyak membantu keluarga Firman selama ini. Jaga Aya untuk Firman ya Mas Alex dan Mbak Tuti." ucap Firman memelas.
Hatinya benar-benar belum bisa menerima keadaan ini. Ingin rasanya tetap bersama Aya untuk selalu menemani gadis pujaannya tapi mungkin ini waktu yang tepat untuk menguji cinta dan rasa cinta mereka. Mereka hanya saling ketergantungan atau mencintai dengan ketulusan dan kasih sayang.
JAZAKALLAH KHAIRAN
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Friska Petra
like.. 🥰🥰
2021-03-20
1
Mawati
Aku mampir kak, bawa like, rate sama vote buat kaka, jangan lupa mampir di cerita aku ya 😉
2020-12-20
1
Adel
Jangan lupa mampir di karyaku yah...
Salam dari
RINDUKU DI UJUNG SURGA...
Trims
2020-12-02
1