BAB 17 ARAF MENEMUKAN PETUNJUK.

Kalimat itu membuat Cintia terdiam. Ia ingin membalas, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.

“Aku cuma ingin kita berdamai,” lanjut Luna. “Aku tahu itu mungkin sulit untuk kamu, tapi aku harap kamu bisa memaafkan aku suatu hari nanti.”

Cintia menatap Luna dengan pandangan tajam, tetapi ada sesuatu yang berkecamuk di dalam dirinya. Ia sudah merencanakan segalanya dengan matang—memastikan Luna akan merasakan apa yang pernah ia rasakan di masa lalu. Namun, kata-kata Luna tadi mengguncang tekadnya.

“Maaf itu murah,” gumam Cintia akhirnya, dengan suara rendah tapi cukup tajam untuk menusuk. “Tapi luka yang kamu tinggalkan mahal, Luna. Aku nggak yakin kamu bisa membayar semuanya.”

Luna hanya terdiam, tidak ada perlawanan di wajahnya. Cintia mendecih, merasa semakin geram, lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban lebih lanjut.

Langit sore mulai berubah menjadi gelap ketika Cintia sampai di rumah kecilnya. Ia melemparkan tas kerjanya ke atas meja, lalu duduk di kursi dengan perasaan campur aduk. Kata-kata Luna terus menggema di kepalanya.

Ia meraih sebuah kotak kecil dari laci meja. Di dalamnya terdapat beberapa kertas catatan, foto-foto, dan dokumen yang selama ini ia kumpulkan untuk menghancurkan Luna. Ia sudah mempersiapkan semuanya—mencari tahu kelemahan Luna, mengumpulkan bukti, bahkan merancang cara untuk menghancurkan reputasinya secara perlahan tapi pasti.

Namun sekarang, ada keraguan yang mulai merayap di hatinya.

“Kenapa aku harus ragu?” gumamnya pada dirinya sendiri. “Dia pantas mendapatkannya. Dia harus tahu bagaimana rasanya dihancurkan.”

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Tetapi, sebelum ia bisa melanjutkan rencananya, suara ketukan di pintu mengagetkannya.

“Cintia?”

Itu suara Araf.

Cintia buru-buru menutup kotak kecil itu dan menyembunyikannya di bawah tumpukan buku di meja. Setelah memastikan semuanya aman, ia membuka pintu.

“Raf?” tanyanya dengan nada datar.

Araf berdiri di depan pintu dengan senyum tipis di wajahnya, meskipun matanya memperlihatkan kekhawatiran yang sulit disembunyikan. “Aku cuma mau mampir sebentar. Kamu nggak apa-apa?”

Cintia mengangkat alis. “Kenapa aku harus nggak apa-apa?”

Araf menggaruk tengkuknya, sedikit canggung. “Ya... aku cuma khawatir. Kamu kelihatan... berbeda sejak terakhir kali kita ngobrol.”

Cintia mendengus pelan, lalu melangkah ke dalam rumah, membiarkan pintu terbuka untuk Araf. “Aku baik-baik saja. Kalau itu yang kamu mau tahu.”

Araf masuk dengan hati-hati, pandangannya langsung tertuju pada meja kerja Cintia. Ada kertas-kertas yang berserakan di sana, tetapi ia tidak bisa melihat dengan jelas apa isinya.

“Kamu sibuk?” tanya Araf, mencoba memecah keheningan.

“Lumayan,” jawab Cintia singkat. Ia menumpuk kertas-kertas di meja dengan gerakan cepat, seolah-olah tidak ingin Araf melihatnya. “Kamu mau apa, Raf?”

Araf terdiam sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Ia tahu Cintia tidak suka ditanya terlalu banyak, tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak beberapa hari terakhir.

“Aku cuma mau ngobrol,” katanya akhirnya. “Tentang kamu.”

Cintia mengangkat alis, lalu duduk di kursi sambil menatap Araf dengan pandangan skeptis. “Ngobrol tentang aku? Bukannya kita udah sering ngobrol?”

“Bukan yang itu.” Araf menatapnya dengan serius. “Aku ngerasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Cin. Dan aku cuma mau bantu kamu.”

Cintia tertawa kecil, tetapi tawa itu tidak menunjukkan kebahagiaan. “Bantu aku? Kamu pikir kamu bisa bantu aku, Raf?”

Araf mengangguk. “Aku nggak tahu apa yang kamu alami sekarang, tapi aku tahu kamu nggak baik-baik aja. Aku cuma mau kamu tahu, aku ada di sini buat kamu.”

Cintia menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di satu sisi, ia merasa tersentuh oleh perhatian Araf. Tapi di sisi lain, ia tahu bahwa Araf tidak akan mendukung rencananya.

“Aku nggak butuh bantuan kamu, Raf,” katanya akhirnya. “Aku bisa ngurus semuanya sendiri.”

“Tapi apa yang kamu urus, Cin?” tanya Araf, suaranya penuh rasa ingin tahu.

Pertanyaan itu membuat Cintia terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Malam itu, Araf duduk di meja kecil di kamarnya sambil memikirkan percakapan mereka. Ada sesuatu yang tidak beres, dan ia tahu itu. Ia merasa Cintia sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi ia tidak tahu apa.

Ketika ia membuka tasnya untuk mencari buku catatan, ia menemukan sebuah kertas kecil yang tidak sengaja terselip di dalamnya. Araf mengerutkan kening, merasa tidak pernah memasukkan kertas itu ke dalam tasnya.

Ia membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati, lalu membaca isinya.

“Luna tidak pantas mendapatkan kebahagiaan ini. Dia harus tahu bagaimana rasanya dihancurkan. Aku akan memastikan dia kehilangan segalanya, seperti aku dulu.”

Araf membaca kalimat itu berulang kali, mencoba memahami maksudnya. Tulisan tangan itu jelas milik Cintia. Tapi apa artinya? Apakah ini rencana balas dendam?

Jantung Araf berdetak lebih cepat. Ia tidak tahu bagaimana kertas itu bisa ada di tasnya, tetapi ia tahu ini adalah petunjuk besar tentang apa yang sedang direncanakan Cintia.

Araf memutuskan untuk menemui Cintia lagi, meskipun ia belum tahu bagaimana cara menghadapinya. Ia tidak ingin menuduh Cintia tanpa bukti yang jelas, tetapi ia juga tidak bisa diam saja.

Ketika ia tiba di toko tempat Cintia bekerja, ia melihat gadis itu sedang melayani pelanggan dengan senyum tipis di wajahnya. Namun, Araf tahu bahwa senyuman itu hanya topeng.

“Cin,” panggilnya ketika Cintia selesai melayani pelanggan.

Cintia menoleh, sedikit terkejut melihat Araf di sana. “Raf? Kamu ngapain di sini pagi-pagi?”

“Aku cuma mau ngobrol,” kata Araf sambil tersenyum.

Cintia menghela napas, lalu mengangguk. “Tunggu sebentar. Aku selesaiin ini dulu.”

Setelah selesai dengan pekerjaannya, Cintia mengajak Araf ke bangku kecil di luar toko.

“Ngobrol apa?” tanya Cintia langsung, tanpa basa-basi.

Araf menatapnya dengan serius. “Cin, aku nemuin sesuatu kemarin.”

Cintia mengerutkan kening. “Nemuin apa?”

Araf mengambil kertas kecil dari sakunya, lalu menyerahkannya pada Cintia. “Ini.”

Cintia membeku ketika melihat kertas itu. Ia mengenali tulisannya sendiri, dan ia tahu bahwa ia tidak sengaja meninggalkan kertas itu di suatu tempat.

“Dari mana kamu dapet ini?” tanyanya dengan suara pelan, tetapi penuh tekanan.

“Itu ada di tasku,” jawab Araf jujur. “Aku nggak tahu gimana bisa ada di sana, tapi aku tahu ini tulisan kamu.”

Cintia meremas kertas itu di tangannya, mencoba menahan emosi. “Kamu nggak seharusnya baca ini.”

“Aku cuma mau tahu, Cin,” kata Araf dengan suara lembut. “Apa maksudnya? Apa kamu lagi ngerencanain sesuatu?”

Cintia menatapnya dengan mata yang penuh kemarahan, tetapi juga kesedihan. “Itu bukan urusan kamu, Raf.”

“Tapi aku peduli sama kamu,” balas Araf. “Aku nggak mau kamu ngelakuin sesuatu yang bakal kamu sesali nanti.”

Cintia bangkit dari bangku, mencoba mengakhiri percakapan itu. “Aku udah bilang, itu bukan urusan kamu. Jangan ikut campur!”

“Cin, tolong,” kata Araf, suaranya penuh harapan. “Aku cuma mau bantu kamu. Kalau kamu lagi sakit, aku mau ada di samping kamu. Tapi kalau kamu nyakitin orang lain, aku nggak tahu gimana caranya aku bisa bantu kamu.”

Cintia berhenti sejenak, tetapi ia tidak menoleh. “Aku nggak butuh bantuan kamu, Raf. Aku bisa ngurus ini sendiri.”

Terpopuler

Comments

⧗⃟ᷢʷ мιѕѕнαιυ🐌

⧗⃟ᷢʷ мιѕѕнαιυ🐌

cuma bisa menghela napas atas sikap Cintia 😔

2025-02-24

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 AWAL MULA.
2 BAB 2 BULLYING SOSIAL.
3 BAB 3 WAJAH TERSEBUNYI.
4 BAB 4 HUBUNGAN YANG MULAI TERJALIN.
5 BAB 5 AWAL KEPERCAYAANNYA.
6 BAB 6 MASA LALU YANG KEMBALI.
7 BAB 7 LUKA YANG BELUM SEMBUH.
8 BAB 8 LUKA YANG BELUM SEMBUH 2
9 BAB 9 RAHASIA ARAF.
10 BAB 10 PERTEMUAN DENGAN AYAH
11 BAB 11 HUBUNGAN YANG MULAI TERJALIN.
12 BAB 12 PENGHIANATAN ATAU KESALAHPAHAMAN?
13 BAB 13 RENCANA YANG MULAI DISUSUN
14 BAB 14 ARAF KEMBALI, TAPI DENGAN JARAK.
15 BAB 15 LANGKAH PERTAMA BALAS DENDAM
16 BAB 16 PERTEMUAN DENGAN LUNA.
17 BAB 17 ARAF MENEMUKAN PETUNJUK.
18 BAB 18 ALAM BAWAH SADAR.
19 BAB 19 BAYANGAN DALAM MIMPI.
20 BAB 20 BAYANGAN DI BALIK SENYUM.
21 BAB 21 MUSUH DI BALIK BAYANGAN
22 BAB 22 MUSUH DI BALIK BAYANGAN 2
23 BAB 23 JERAT YANG SEMAKIN DALAM.
24 BAB 24 PILIHAN YANG BERBAHAYA.
25 BAB 25 TARGET BARU
26 BAB 26 BABAK AWAL-RADITYA
27 BAB 27 PERMAINAN BARU.
28 BAB 28 TELAK!
29 BAB 29 KEPEDULIAN ARAF.
30 BAB 30 KETULUSAN HATI
31 BAB 31 HATI YANG MELULUHKAN
32 BAB 32 SESUATU YANG LEBIH KUAT DARI DENDAM ~CINTA~
33 BAB 33 BENCI YANG MULAI MEMUDAR.
34 BAB 34 PENGAKUAN ARAF
35 BAB 35 KEMBALINYA LUNA.
36 BAB 36 TOPENG YANG TAK RETAK.
37 BAB 37 PERMAINAN AWAL.
38 BAB 38 MENIKMATI PERMAINAN.
39 BAB 39 DI BALIK SENYUM MANIS.
40 BAB 40 SEMAKIN DEKAT DENGAN KEHANCURAN
41 BAB 41 PERMAINAN YANG BERUJUNG PERANG.
42 BAB 42 MENDEKATI API.
43 BAB 43 CINTIA DAN PERMAINAN CATUR YANG IA CIPTAKAN.
44 BAB 44 CATUR PERMAINAN.
45 BAB 45 PERMAINAN YANG BERLANJUT.
46 BAB 46 CINTA YANG TAK BISA DIHINDARI
47 BAB 47 DUA HATI YANG TERJEBAK.
48 BAB 48 SEKUTU DALAM KEGELAPAN.
49 BAB 49 MEMPERERAT JERAT.
50 BAB 50 MENUTUP RUANG GERAK LUNA!
51 BAB 51 AWAL KEHANCURAN LUNA.
52 BAB 52 KEHANCURAN LUNA.
53 BAB 53 KEHANCURAN LUNA BAGIAN 3
54 BAB 54 KEMENANGAN CINTIA!
55 BAB 55 AWAL KEHIDUPAN BARU CINTIA
Episodes

Updated 55 Episodes

1
BAB 1 AWAL MULA.
2
BAB 2 BULLYING SOSIAL.
3
BAB 3 WAJAH TERSEBUNYI.
4
BAB 4 HUBUNGAN YANG MULAI TERJALIN.
5
BAB 5 AWAL KEPERCAYAANNYA.
6
BAB 6 MASA LALU YANG KEMBALI.
7
BAB 7 LUKA YANG BELUM SEMBUH.
8
BAB 8 LUKA YANG BELUM SEMBUH 2
9
BAB 9 RAHASIA ARAF.
10
BAB 10 PERTEMUAN DENGAN AYAH
11
BAB 11 HUBUNGAN YANG MULAI TERJALIN.
12
BAB 12 PENGHIANATAN ATAU KESALAHPAHAMAN?
13
BAB 13 RENCANA YANG MULAI DISUSUN
14
BAB 14 ARAF KEMBALI, TAPI DENGAN JARAK.
15
BAB 15 LANGKAH PERTAMA BALAS DENDAM
16
BAB 16 PERTEMUAN DENGAN LUNA.
17
BAB 17 ARAF MENEMUKAN PETUNJUK.
18
BAB 18 ALAM BAWAH SADAR.
19
BAB 19 BAYANGAN DALAM MIMPI.
20
BAB 20 BAYANGAN DI BALIK SENYUM.
21
BAB 21 MUSUH DI BALIK BAYANGAN
22
BAB 22 MUSUH DI BALIK BAYANGAN 2
23
BAB 23 JERAT YANG SEMAKIN DALAM.
24
BAB 24 PILIHAN YANG BERBAHAYA.
25
BAB 25 TARGET BARU
26
BAB 26 BABAK AWAL-RADITYA
27
BAB 27 PERMAINAN BARU.
28
BAB 28 TELAK!
29
BAB 29 KEPEDULIAN ARAF.
30
BAB 30 KETULUSAN HATI
31
BAB 31 HATI YANG MELULUHKAN
32
BAB 32 SESUATU YANG LEBIH KUAT DARI DENDAM ~CINTA~
33
BAB 33 BENCI YANG MULAI MEMUDAR.
34
BAB 34 PENGAKUAN ARAF
35
BAB 35 KEMBALINYA LUNA.
36
BAB 36 TOPENG YANG TAK RETAK.
37
BAB 37 PERMAINAN AWAL.
38
BAB 38 MENIKMATI PERMAINAN.
39
BAB 39 DI BALIK SENYUM MANIS.
40
BAB 40 SEMAKIN DEKAT DENGAN KEHANCURAN
41
BAB 41 PERMAINAN YANG BERUJUNG PERANG.
42
BAB 42 MENDEKATI API.
43
BAB 43 CINTIA DAN PERMAINAN CATUR YANG IA CIPTAKAN.
44
BAB 44 CATUR PERMAINAN.
45
BAB 45 PERMAINAN YANG BERLANJUT.
46
BAB 46 CINTA YANG TAK BISA DIHINDARI
47
BAB 47 DUA HATI YANG TERJEBAK.
48
BAB 48 SEKUTU DALAM KEGELAPAN.
49
BAB 49 MEMPERERAT JERAT.
50
BAB 50 MENUTUP RUANG GERAK LUNA!
51
BAB 51 AWAL KEHANCURAN LUNA.
52
BAB 52 KEHANCURAN LUNA.
53
BAB 53 KEHANCURAN LUNA BAGIAN 3
54
BAB 54 KEMENANGAN CINTIA!
55
BAB 55 AWAL KEHIDUPAN BARU CINTIA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!