Bab 13: Sepuluh Tahun Lalu

"Sepuluh tahun lalu?"

"Iya. Sejak aku masih SMA kelas 10. Kamu pasti lupa kita pernah ketemu waktu itu?" tebak Dzaki kecewa.

"Masa sih, Mas?" Nabila sama sekali tak bisa mengingat kapan ia pernah bertemu dengan sang suami kala itu.

Dzaki mengangguk. "Gak cuma ketemu kamu. Aku juga kenal sama Hazel, dan aku juga pernah ketemu almarhum mantan suami kamu."

Sepuluh tahun lalu...

Dzaki berjalan menuju salah satu petugas penerimaan peserta didik baru di SMA tempatnya akan bersekolah. Ia menyerahkan satu map berisi persyaratan. Setelah Itu petugas itu pun sibuk mengecek persyaratan yang Dzaki bawa.

“Kamu datang sendiri, Nak? Mana orang tuamu?” tanya petugas itu heran karena Dzaki datang seorang diri.

“Mereka sedang di luar negeri karena urusan pekerjaan. Jadi saya datang sendiri,” jawab Dzaki.

Setelah pendaftaran ulang itu Dzaki berjalan pulang. Ia melihat banyak anak-anak seusianya datang bersama dengan orang tuanya, sedangkan ia hanya seorang diri. Ini bukan yang pertama. Dulu ia pun daftar ulang tanpa kedua orang tuanya saat masuk SMP.

Ponselnya bergetar, telepon dari sang ibu.

“Nak, gimana? Udah daftar ulangnya?” tanya Dini, sang ibu di sambungan telepon.

“Udah, Mah," ujar Dzaki singkat.

“Ya udah kalau gitu kamu pulang, jangan lupa makan ya. Maaf Mama dan papa masih harus di Singapura. Kamu gak apa-apa 'kan sendirian? Hati-hati nanti kalau sudah mulai sekolah, bangunnya jangan kesiangan. Kalau dibangunin bibi harus cepet bangun. Ya?"

“Iya, Mah.” Lagi-lagi Dzaki patuh.

Sejak SD ia memang sering ditinggal pergi oleh orang tuanya. Mereka sibuk dengan pekerjaannya. Kadang mereka ke luar kota atau ke luar negeri, bahkan itu terjadi hampir setiap minggu. Hal ini membuat Dzaki jarang sekali bertemu dengan kedua orang tuanya. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi anak yang badung. Walaupun ia sering ditinggal oleh kedua orang tuanya dan hanya bersama para ARTnya di rumah, ia tetap menjadi anak yang baik dan pintar.

Setidaknya sampai ia SMP.

Singkat cerita pembelajaran di SMA pun dimulai. Dzaki mulai berkenalan dan berteman dengan teman-teman di sekolahnya. Namun sayang, ia salah bergaul. Ia bertemu dengan anak-anak yang mirip dengannya, kekurangan perhatian orang tua, dengan berbagai masalah. Hidup Dzaki yang awalnya lurus dan selalu berprestasi, menjadi berubah. Ia mulai mengenal rokok dan minuman. Meskipun demikian rupanya Dzaki yang memang cerdas, masih bisa membatasi pergaulannya untuk tidak terlalu terjerumus, termasuk masalah perempuan.

Di usianya yang sudah menginjak remaja, belum ada satu perempuan pun yang berhasil mencuri hatinya. Padahal teman-teman satu ‘geng’nya, sejak duduk di bangku SMP sudah mengenal apa itu pacaran. Bahkan ada yang sudah sering berganti pacar. Dzaki memang memperkenalkan dirinya pada rokok dan juga minuman tapi masalah perempuan ia tak mau sembarangan.

Hingga suatu hari, Dzaki dalam perjalanan pulang, melihat seorang anak kecil yang umurnya sekitar 7-8 tahun dengan seragam putih merah, menangis di pinggir jalan sendirian. Dzaki pun menepikan motornya dan menghampiri anak itu.

“Hey, lu kenapa nangis? Orang tua lu mana?” tanya Dzaki.

Anak itu tidak menjawab dan terus menangis.

“Lu kepisah ya? Mau Abang anter pulang gak?” Dzaki menawarkan. Ia tidak tega melihat anak itu menangis sendirian di saat matahari sudah hampir tenggelam.

“Beneran Abang bisa anterin aku?” seketika anak itu berhenti menangis.

“Beneran," Dzaki meyakinkan.

“Tapi Abang bukan orang jahat ‘kan? Abang gak akan nyulik aku ’kan?” tanyanya dengan polosnya sambil menghapus sisa air mata di pipinya.

“Ya ampun ini anak. Gak lihat baju gua? Gua anak sekolah juga sama kayak lu. Ngapain juga gua nyulik lu." Dzaki sedikit merasa tersinggung, niat baiknya malah dicurigai.

“Kalau gitu nama Abang siapa?”

“Dzaki,” sahut Dzaki.

Anak itu menyingkap jaket denim yang Dzaki kenakan untuk melihat nama di seragam yang Dzaki kenakan, apakah benar namanya Dzaki atau bukan. “Oh iya bener.”

Dzaki berdecak kesal. “Nama lu siapa?”

“Hazel."

“Hazel…” Dzaki melihat ke arah seragam yang masih dikenakan Hazel. Namun namanya bukan Hazel, melainkan Hadinabil M. H.

Dzaki pun mendumel kesal. “Apaan, nama lu Hadinabil. Bohong lu ya?!”

“Beneran, Bang! Nama aku Hadinabil Muhammad Hazel. Dipanggilnya Hazel.”

“Oh…” Dzaki mengangguk mengerti. “Ya udah ayo, gua anterin.”

Kemudian keduanya mulai menunggangi motor besar Dzaki. Untungnya Hazel hafal alamat rumahnya, meskipun ia tak tahu letaknya di mana.

Tak lama motor Dzaki berhenti di depan sebuah rumah dua tingkat. Seorang pria baru saja membuka pintu pagar rumah itu dengan tergesa. Sontak pria itu berteriak saat melihat motor besar berwarna putih membawa sang putra di jok belakang. “Hazel! Alhamdulillah, Ya Allah.”

“AYAH!” Hazel langsung saja memeluk sang ayah.

Hadi, ayah dari Hazel, menghampiri tergesa menghampiri Hazel dan memeluknya.

“Kamu gak apa-apa, Nak?" tanya pria itu antara khawatir dan lega.

“Gak apa-apa, Yah. Untung ada Abang itu.”

Hadi pun langsung menatap ke arah Dzaki. “Makasih banyak ya udah anterin anak saya,” ujar Hadi.

“Sama-sama, Pak. Saya permisi,” pamit Dzaki. Ia pun kembali mengenakan helm full facenya.

“Bang Dzaki, makasih banyak ya!” Hazel melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah bersama sang ayah.

Tepat saat keduanya akan memasuki rumah, dan Dzaki sudah menunggangi motor besarnya kembali, seorang perempuan muncul dari pintu. Gadis itu mengenakan hijab bergo dan kaos rumahan. Ia terlihat menghapus air matanya seraya mencubit kedua pipi Hazel dan bertingkah gemas khas remaja, dan kemudian memeluknya.

Dzaki langsung mengira perempuan itu pastilah kakak dari Hazel. Kemudian Hadi terlihat memberikan selembar uang kepada gadis itu, lalu gadis itu melihat ke arah Dzaki.

Seketika Dzaki tersadar bahwa ia sedang memandangi gadis itu. Gadis itupun berjalan menghampirinya. Entah mengapa, Dzaki merasakan debaran yang aneh saat melihat gadis itu.

Wajahnya sangat cantik khas asia timur. Matanya bercahaya dan hidungnya mancung dan kecil. Bibirnya berwarna merah muda. Tubuhnya langsing dan tidak terlalu tinggi, membuatnya terlihat sangat manis.

“Halo? Kamu gak apa-apa?” tanya gadis itu.

Seketika Dzaki terbangun dari lamunannya. “Hah? I-iya..?”

Suara gadis ini, indah sekali. Lembut dan menggetarkan hati, pikir Dzaki.

Gadis itu tersenyum. Bahkan senyumnya mampu membuat Dzaki berdebar lebih kencang lagi.

“Ini buat kamu dari ayahnya Hazel. Makasih ya kamu udah anterin Hazel pulang.”

“Sama-sama.” Dzaki masih tertegun. "Uangnya gak usah. Saya ikhlas kok."

Kemudian gadis itu tersenyum lagi, diraihnya tangan Dzaki dan memberikan uang itu ke dalam genggaman Dzaki. Saat tangannya bersentuhan, jantung Dzaki pun lebih menggila lagi.

Kemudian gadis itu berbalik memasuki pagar rumah.

Merasa ini adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali, Dzaki pun memberanikan diri memanggil gadis itu. “Hey.”

Dengan bingung gadis itu berbalik. “Kamu manggil saya?”

Dzaki mengangguk. “Boleh tahu namanya?” Jantungnya masih berdebar hebat.

“Nama saya?” tanya gadis itu agak terkejut.

Dzaki mengangguk.

Gadis itu tertawa kecil, namun bukan karena tersipu lebih seperti tak menyangka mendapat pertanyaan itu. Ia pun menjawab, “Nabila.”

Setelah itu ia masuk ke dalam rumah itu meninggalkan Dzaki yang masih berada di depan pagar rumah.

“Nabila…” gumam Dzaki seraya tersenyum senang.

Ia pun kembali mengendarai motornya. Ia membawa motornya keluar dari perumahan itu dan setelah melewati perempatan, ia menarik pedal gasnya lebih dalam di saat jalanan itu sudah agak lengang. Dzaki ingin menyalurkan rasa bahagianya yang membuncah. Nafasnya menderu, jantungnya berdebar kencang sekali.

Wajah Nabila terus terbayang di dalam benak Dzaki. Akhirnya Dzaki yang berusia 15 tahun saat itu tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, untuk pertama kalinya.

Kemudian sambil terus melajukan motornya, Dzaki pun berteriak, “Nabila, lu bakal jadi pacar gua!”

Terpopuler

Comments

Dewi Anggya

Dewi Anggya

kira² ingat gk y Nabila....

2025-02-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Janda Satu Anak
2 Bab 2: Pria di Kamar Nabila
3 Bab 3: Mendadak Nikah
4 Bab 4: Sisi Dzaki
5 Bab 5: Bulan Madu
6 Bab 6: Bila
7 Bab 7: Mulai Penasaran
8 Bab 8: Mendekat
9 Bab 9: Usaha Dzaki
10 Bab 10: Rasa yang Dalam
11 Bab 11: Tak Berjarak
12 Bab 12: Malam Terakhir
13 Bab 13: Sepuluh Tahun Lalu
14 Bab 14: Gagal Berkenalan
15 Bab 15: Patah Hati
16 Bab 16: Hanya Nabila
17 Bab 17: Di Rumah Nabila
18 Bab 18: Bertemu Diam-diam
19 Bab 19: Protektif
20 Bab 20: Pendekatan
21 Bab 21: Berdebat
22 Bab 22: Kesempatan Sekali Seumur Hidup
23 Bab 23: Bertemu Mertua
24 Bab 24: Permintaan
25 Bab 25: Semakin Curiga
26 Bab 26: Cepat atau Lambat
27 Bab 27: Keluarga Nabila
28 Bab 28: Manis
29 Bab 29: Ini adalah Saatnya
30 Bab 30: Suami Baru
31 Bab 31: Sesi Curhat Ayah-Anak Sambung
32 Bab 32: Pencemburu
33 Bab 33: Akal-akalan Dzaki
34 Bab 34: Rumah Baru
35 Bab 35: Manager?
36 Bab 36: Bisa Menerima
37 Bab 37: Kata-kata Ajaib
38 Bab 38: Sushi untuk Hazel
39 Bab 39: Salah Paham
40 Bab 40: Orang yang Penting
41 Bab 41: Cerminan Diri
42 Bab 42: Jalan yang Sama
43 Bab 43: Sudah siap
44 Bab 44: Gugup
45 Bab 45: Sudut Pandang
46 Bab 46: Mantan Ibu Mertua
47 Bab 47: Suami Pertama
48 Bab 48: Menenangkan Nabila
49 Bab 49: Memberi Tahu
50 Bab 50: Tak Terima
51 Bab 51: Tanpa Ragu
52 Bab 52: Gua Cinta Nyokap Lu
53 Bab 53: Hikmah
54 Bab 54: Benci
55 Bab 55: Apa yang Salah dengan Jatuh Cinta?
56 Bab 56: Mulai Luluh
57 Bab 57: Masih ada Harapan
58 Bab 58: Menyesuaikan Diri
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1: Janda Satu Anak
2
Bab 2: Pria di Kamar Nabila
3
Bab 3: Mendadak Nikah
4
Bab 4: Sisi Dzaki
5
Bab 5: Bulan Madu
6
Bab 6: Bila
7
Bab 7: Mulai Penasaran
8
Bab 8: Mendekat
9
Bab 9: Usaha Dzaki
10
Bab 10: Rasa yang Dalam
11
Bab 11: Tak Berjarak
12
Bab 12: Malam Terakhir
13
Bab 13: Sepuluh Tahun Lalu
14
Bab 14: Gagal Berkenalan
15
Bab 15: Patah Hati
16
Bab 16: Hanya Nabila
17
Bab 17: Di Rumah Nabila
18
Bab 18: Bertemu Diam-diam
19
Bab 19: Protektif
20
Bab 20: Pendekatan
21
Bab 21: Berdebat
22
Bab 22: Kesempatan Sekali Seumur Hidup
23
Bab 23: Bertemu Mertua
24
Bab 24: Permintaan
25
Bab 25: Semakin Curiga
26
Bab 26: Cepat atau Lambat
27
Bab 27: Keluarga Nabila
28
Bab 28: Manis
29
Bab 29: Ini adalah Saatnya
30
Bab 30: Suami Baru
31
Bab 31: Sesi Curhat Ayah-Anak Sambung
32
Bab 32: Pencemburu
33
Bab 33: Akal-akalan Dzaki
34
Bab 34: Rumah Baru
35
Bab 35: Manager?
36
Bab 36: Bisa Menerima
37
Bab 37: Kata-kata Ajaib
38
Bab 38: Sushi untuk Hazel
39
Bab 39: Salah Paham
40
Bab 40: Orang yang Penting
41
Bab 41: Cerminan Diri
42
Bab 42: Jalan yang Sama
43
Bab 43: Sudah siap
44
Bab 44: Gugup
45
Bab 45: Sudut Pandang
46
Bab 46: Mantan Ibu Mertua
47
Bab 47: Suami Pertama
48
Bab 48: Menenangkan Nabila
49
Bab 49: Memberi Tahu
50
Bab 50: Tak Terima
51
Bab 51: Tanpa Ragu
52
Bab 52: Gua Cinta Nyokap Lu
53
Bab 53: Hikmah
54
Bab 54: Benci
55
Bab 55: Apa yang Salah dengan Jatuh Cinta?
56
Bab 56: Mulai Luluh
57
Bab 57: Masih ada Harapan
58
Bab 58: Menyesuaikan Diri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!