Mason berjalan mendekat ke arah Remy, mengulurkan tangan. Wajahnya menunjukkan sedikit rasa penasaran.
Remy menyambut tangan Mason dengan santai. "Remy," ujarnya, maklum bahwa Mason mungkin tidak tahu namanya.
"Remy! Senang akhirnya bisa bertemu langsung," kata Mason dengan nada antusias. "Maaf ya, saya belum tahu nama Anda."
Remy tersenyum. "Sama-sama, Pak Mason. Saya sudah mendengar banyak tentang Anda… yah, sejak lama." jawab Remy dengan nada bercanda. "Dan, tidak masalah, karena memang hanya sedikit orang yang tahu identitas saya sebagai CEO PT Trinova Global."
Mason tertawa. "Saya juga bisa bilang hal yang sama. Tapi, jujur saja, saya tidak menduga seseorang dengan gaya sesantai ini," jawabnya dengan ekspresi tertarik.
Remy menyeringai. "Hidup ini terlalu singkat untuk selalu serius, bukan?"
Mason tertawa lagi. "Saya suka cara berpikir Anda," katanya sambil duduk di salah satu kursi di ruang rapat.
Remy duduk di hadapannya, dan meskipun suasananya santai, aura wibawa keduanya terasa memenuhi ruangan.
Setelah mereka duduk, Mason mulai membuka topik.
"Jadi, Remy, saya dengar rumor tentang kemajuan terbaru Trinova di bidang AI dan teknologi baterai. Banyak yang membicarakannya. Saya pikir… mungkin… Anda bersedia berbagi sedikit rahasia?" tanya Mason dengan mata berbinar penuh minat.
Remy tersenyum misterius. "Wah, kalau saya kasih tahu, mungkin saya harus menagih biaya dobel," jawabnya, bercanda.
Mason tertawa keras, menepuk meja. "Fair Enough! Saya tahu pertemuan ini bakal menarik." Ia lalu mengatur nada suaranya lebih serius. "Baiklah, secara serius, saya percaya kita bisa bekerja sama untuk menciptakan sesuatu yang revolusioner. Bagaimana menurut Anda?"
Remy mengangguk, berpikir sejenak. "Langsung saja. Anda tertarik dengan teknologi optimisasi baterai berbasis AI kami, kan?"
Mason mengangguk. "Tepat. Tesla sedang berusaha meningkatkan densitas energi, tapi ada batasnya. Saya penasaran apakah Trinova punya solusi untuk membantu kami melewati batas itu."
Remy menyilangkan tangan di depan dada, menatap Mason dengan tatapan tajam namun santai. "Menariknya, kami sudah mengantisipasi hal itu. Tim kami sedang mengerjakan desain yang bisa meningkatkan densitas energi setidaknya 30% lebih tinggi dari yang ada saat ini."
Mason bersandar di kursinya, kagum. "Hebat. Tapi beri tahu saya, apa yang membuat AI Anda lebih unggul? Apa keunggulannya?"
Remy mengangguk, lalu mulai menjelaskan dengan nada lebih serius dan profesional. "AI kami tidak hanya menganalisis performa baterai saat ini; AI kami juga memprediksi keausan di masa depan, pola penggunaan, dan dampak lingkungan. Ini adalah sistem yang bukan hanya reaktif, tapi juga proaktif dalam mengoptimalkan efisiensi, daya tahan, dan keamanan."
Mason mengangguk pelan. "Saya suka. Prediktif, adaptif… Anda benar-benar punya sesuatu di sini."
Remy tersenyum lebar. "Itu sebabnya kita di sini, kan? Saya pikir Tesla bisa mendapat sedikit ‘sentuhan Trinova’."
Mason tertawa kecil. "Jujur saja, saya sudah lama memperhatikan Trinova. Anda telah berhasil mendisrupsi begitu banyak industri dalam beberapa tahun saja. Hebat, Remy."
"Terima kasih. Tapi jangan merendahkan diri, Pak Mason. Tidak semua orang bisa melakukan apa yang Anda capai dengan Tesla, SpaceX… dan itu baru permulaan."
Mason tersenyum lebar. "Anda benar. Jadi, bagaimana kalau kita mulai mendiskusikan syarat-syaratnya? Mari kita lihat apakah kemitraan ini bisa terwujud."
Remy mengangguk. "Saya siap mendengarkan. Silakan."
Mereka mulai membahas poin-poin penting untuk kolaborasi. Diskusi berlangsung intens, tapi tetap diwarnai dengan canda di sana-sini.
Pada satu titik, Mason menatap Remy dengan serius, seolah ingin menguji keteguhan pemuda itu. "Jadi, Remy, dengan segala kesuksesan ini… tidak pernah merasa tertekan? Menghadapi begitu banyak kekuasaan dan pengaruh?"
Remy tersenyum santai. "Tekanan? Ah, saya malah menikmati itu. Mungkin hanya saya, tapi saya pikir orang terlalu sering khawatir. Kita harus tetap santai dan terus maju."
Mason mengangguk setuju. "Saya rasa itu adalah pola pikir yang diperlukan untuk terus berinovasi."
Remy menambahkan, "Dan lagi, kalau Anda tidak pernah gagal beberapa kali di jalan, mungkin Anda bermain terlalu aman. Bukankah itu cara Silicon Valley?"
Mason tertawa keras. "Tepat sekali, Remy. Tepat sekali."
Pertemuan berlanjut dengan diskusi mendalam tentang teknologi dan bisnis.
Remy menunjukkan wawasan dan analisis tajam tentang tren industri, sampai-sampai Mason terlihat sangat tertarik dan mengagumi kecerdasannya.
Setelah pembahasan inti usai, Mason berkata, "Jadi, Remy, bagaimana kalau kita adakan sedikit kompetisi? Mari lihat siapa yang bisa membuat baterai paling berkelanjutan terlebih dahulu."
Remy tertawa kecil, menerima tantangan itu dengan senyum penuh arti. "Boleh. Tapi, kalau saya menang, Anda harus mentraktir saya makan malam di salah satu tempat rahasia khusus para miliarder itu."
Mason tertawa. "Deal. Tapi kalau saya menang, Anda harus mengajak saya tur keliling kantor pusat Trinova."
Remy mengangguk. "Anggap saja sudah selesai, Pak Parrish."
Akhirnya, mereka mengakhiri pertemuan dengan jabat tangan erat.
Saat meninggalkan ruangan, Remy merasa percaya diri. Meskipun rasanya aneh tiba-tiba dia punya kemampuan bisnis sehebat itu.
Di lift, Remy menyandarkan diri, tersenyum kecil. "Sistem All-In-One," gumamnya pada dirinya sendiri, "Bukan cuma identitas, tapi juga ngasih gue kemampuan dan ingatan. rasanya kayak lagi ngubah takdir."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments