Bab 15. Mulai Luluh

...----------------...

Semilir angin terasa begitu sejuk menerpa kulit. Kini, Ryan sedang berada di sebuah restoran Jepang yang menyajikan makanan khas Negeri Sakura yang cukup terkenal. Restoran itu terbilang mahal untuk kalangan menengah ke atas. Apalagi dengan menu andalan restoran itu, yakni steak daging sapi Wagyu yang terkenal dengan kandungan lemak yang tinggi, gurih, serta empuk.

Rara merasa begitu terhormat bisa menapakkan kakinya di restoran tersebut. Dahulu, dia pernah sekali ke sana bersama keluarganya ketika dia berulang tahun yang ke-10. Sang ayah sengaja mengajaknya ke sana karena anak perempuan satu-satunya itu begitu mengidamkan makanan Jepang tersebut.

Kala itu, Rara begitu senang karena keinginannya terpenuhi. Namun, belakangan dia tahu jika uang yang ayahnya gunakan untuk mentraktir keluarganya makan di sana adalah uang pesangon dari perusahaan tempat ayahnya bekerja dahulu. Ayahnya Rara pernah bekerja di salah satu perusahaan swasta, tetapi kemudian kena PHK.

Keluarga Rara mulai kesulitan keuangan semenjak saat itu. Makanya sang ayah memutuskan untuk menyenangkan Rara walaupun hanya sekali saja dengan uang pesangonnya terlebih dahulu.

"Kamu suka, kan, makan di sini?" tanya Ryan membuat pikiran Rara kembali dari kenangan masa lalunya.

"I—iya," jawab Rara sedikit gugup.

Ryan tersenyum. Tentu saja dia tahu akan hal itu karena lelaki itu pernah mengajaknya sekali ke sana di masa depan dan gadis itu sangat menyukainya. Kali ini, Ryan hanya memajukan waktunya saja. Rara yang di masa depan juga pernah bercerita tentang kenangannya di restoran itu kepada Ryan. Lelaki itu ingin membangkitkan kenangan yang menyenangkan milik Rara. Sudah tentu agar hatinya melunak dengan segera.

"Ehm ... bagaimana kamu bisa tahu kalau aku suka makanan Jepang?" tanya Rara sedikit penasaran. Lihat, kan? Sepertinya hati Rara sudah sedikit tersentuh. Terbukti dari panggilannya yang berubah menjadi 'aku kamu'.

"Biar aku ralat sedikit. Kamu bukan suka makanan Jepang, melainkan kamu awalnya hanya ingin mencoba makan di restoran mahal seperti ini. Lalu Bapak kamu ngajak makan ke sini. Jadi, tempat ini sudah menjadi tempat nostalgia bagi kamu. Iya, kan?"

Rara mengerjap kaku dengan kedua alis saling bertautan. Kenapa perkataan lelaki itu semuanya benar? Padahal, gadis itu tidak pernah memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun kecuali keluarganya, tidak juga pada Mita.

"Bagaimana kamu bisa tahu?" selidik Rara, "pasti dari Rendy, ya?" desaknya.

Ryan melengkungkan senyuman manis sambil menggelengkan kepalanya membuat Rara semakin penasaran saja. Jika dipikir lagi, Rendy tidak mungkin menceritakan itu kepada Ryan. Bahkan kedua lelaki beda usia itu sangat jarang bertemu apalagi berbincang.

"Nggak penting aku tahu dari siapa. Yang penting sekarang makan dulu. Tuh, makanannya udah datang," ucap Ryan menunjuk pelayanan restoran yang membawa hidangan dengan menggunakan dagunya.

Terlihat raut kebahagiaan yang terpancar di wajah gadis tersebut ketika melihat makanan favoritnya itu terhidang di atas meja. Seperti mimpi di siang bolong bisa merasakan makanan itu lagi. Terlebih, harga makanan itu cukup fantastis untuk kalangan menengah ke bawah sepertinya.

"Tapi ini mahal, lho." Rara berkata lagi sebelum memakan steaknya. Khawatir jika Ryan tidak mampu untuk membayar. Ryan memang hanya bekerja sebagai figuran yang gajinya belum seberapa, tetapi uang saku yang diberikan papanya setara dengan uang jajan Rara selama beberapa bulan ke depan.

"Tenang aja! Aku baru gajian," ucap Ryan berbohong.

Rara tidak perlu sungkan lagi jika Ryan sudah berkata seperti itu. Hari ini dia harus memanfaatkannya kesempatan yang ada. Mumpung ada traktiran, harus pulang dalam keadaan kenyang.

****

Ryan dan Rara sepertinya akan pulang agak terlambat. Mereka mampir dahulu ke beberapa tempat. Mereka pergi ke sebuah Mall atas permintaan Rara. Ryan bisa apa selain menyetujuinya.

Di Mall itu, mereka memasuki arena permainan. Rara seperti anak kecil yang baru dilepaskan oleh ibunya agar bisa bermain sepuasnya. Gadis itu bahkan mencoba segala permainan yang ada, sedangkan Ryan hanya berdiri sebagai penonton saja. Namun, terkadang lelaki itu ikut bermain juga.

"Udah puas?" tanya Ryan ketika mereka dalam perjalanan pulang. Keduanya berjalan berdampingan menuju area parkiran.

"Lumayan puas, sih ...." Rara menjeda kalimatnya. Gadis itu sedikit ragu saat hendak melanjutkan kata. Bibir bawahnya terlipat ke dalam merasa masih ada kalimat yang sulit sekali keluar. Ryan pun sama, dia masih bergeming karena menunggu perkataan Rara selanjutnya.

"Makasih."

Kata singkat yang penuh arti itu adalah perintah dari dalam hati. Rara begitu malu ketika mengatakan hal itu. Kepalanya pun menunduk tak berani menatap Ryan.

Seulas senyuman pun terukir di bibir Ryan. Tentu saja lelaki itu begitu bahagia jika gadisnya itu juga bahagia.

"Awas!"

Ryan refleks menarik tangan Rara karena ada seorang pengemudi motor yang hampir menabrak gadis itu. Alhasil, kini tubuh mereka seperti orang berpelukan bahkan tidak ada jarak di antara keduanya.

Sejenak, tatapan keduanya terkunci dalam diam. Mereka terlihat seperti pasangan yang tengah mabuk cinta. Mereka tidak malu terus berpelukan walaupun ditonton banyak orang. Jika saja tidak ada pengendara motor lain yang nyeletuk, "Woy, kalau nggak kuat, cari hotel aja!" Mungkin mereka masih berpikir jika dunia hanya milik mereka saja. Sontak keduanya melepaskan pelukan mereka.

"Jalannya hati-hati!" ucap Ryan setelah tubuh mereka terpisahkan. Rara pun tersenyum samar. Rasa malunya terlukis di bibirnya yang sedikit bergetar.

...****...

...To be continued...

Terpopuler

Comments

angie widya

angie widya

hhhmmmm dikit amat
ga berasa baca teh 😁

2024-10-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!