Bab 17. Kelar Lebih Awal

...----------------...

"Kamu nyelidikin Lilis, ya?" cetus Lilis kepada Ryan.

"Enggak, lah. Ngapain nyelidikin istri orang?"

"Terus kamu tahu dari mana kalau Lilis lagi ada masalah?" Dengan polosnya Lilis bertanya.

"Keliatan dari muka kamu." Ryan tersenyum meledek setelah berkata seperti itu. Lilis pun berdecak kesal.

Semenjak mereka berkenalan, Ryan sering menyapa Lilis di tempat syuting. Bukan untuk mengejar perempuan itu lagi, melainkan hanya sebagai teman. Ryan berpikir, jika Lilis adalah orang baik yang bisa membantunya untuk mendapatkan hati Rara lagi.

Akan tetapi, terlebih dahulu Ryan harus mewujudkan misinya yang kedua pada distorsi waktu kali ini. Selain mengubah takdir Rara, Ryan juga ingin mengubah takdir temannya juga, yakni Lilis.

Pada kehidupan yang lalu, Lilis selalu diabaikan oleh suaminya. Lebih tepatnya, Liam—suami Lilis, tidak bisa jujur dengan perasaannya sendiri sehingga hati Lilis seringkali tersakiti.

Walaupun hubungan mereka akan bahagia pada waktunya, Ryan ingin membuat Lilis bahagia secepatnya. Lelaki itu akan menyadarkan Liam lebih cepat akan cintanya kepada Lilis.

"Kamu mau aku bantu mengatasi masalah kamu, nggak?" Ryan bertanya lagi membuat Lilis memicing curiga.

"Memangnya kamu tahu masalahnya apa?"

Ryan menarik kedua sudut bibirnya, lalu terdiam beberapa saat. Dia ingat jika waktu itu Lilis sedang bertengkar dengan suaminya lalu meninggalkan rumah, dan sekarang perempuan itu tinggal di rumah kakeknya.

"Kamu kabur dari rumah dan sekarang kamu merasa suami kamu seperti nggak peduli lagi sama kamu, kan?"

"Eh, beneran tahu ...." Lilis bergumam sambil membulatkan kedua matanya. Perkataan Ryan memang benar adanya. Padahal, Lilis tidak pernah memberitahukan hal tersebut kepada siapa-siapa. Walau mereka berteman, Lilis tidak mungkin bercerita tentang masalah rumah tangganya kepada Ryan begitu saja. Mereka berteman pun masih belum lama.

"Dari awal Lilis teh udah curiga, kamu teh beneran dukun, ya?" ucap Lilis dengan polosnya. Ryan pun tertawa. Perempuan itu akhirnya mengakui juga jika dia memang punya masalah.

"Kamu memang lucu dari dulu, tapi aku tetap mau bantu kamu."

Tawa Ryan mereda lalu menadahkan tangan kanannya di hadapan Lilis. "Pinjam ponsel kamu!" pintanya.

"Buat apa?"

"Pinjem bentar! Sebentar lagi kamu akan tahu bagaimana perasaan suami kamu yang sebenarnya," cetus Ryan dengan yakin.

Lilis mengerjap kaku, entah kenapa hatinya percaya dengan ucapan lelaki itu. Ia pun merogoh tas selempangnya lalu mengambil ponsel dari sana, kemudian langsung diberikan kepada Ryan.

Ryan menerima ponselnya, lalu langsung mencari nomor telepon Liam. Ryan langsung tahu nama kontak yang bertuliskan 'Ay' adalah suami perempuan itu. Tombol panggilan pun ditekan.

"Eh, kamu mau telepon siapa?" Lilis hendak merebut ponselnya, tetapi gagal karena Ryan langsung menghindar.

"Sssttt!" Ryan menyimpan telunjuknya di bibir, memberikan isyarat kepada Lilis agar tidak berisik lagi karena tanpa menunggu lama, panggilan itu diangkat oleh Liam.

"Lilis?" Terdengar suara Liam yang begitu khawatir. Sepertinya lelaki itu sedang menunggu panggilan dari nomor istrinya tersebut.

"Ck, dasar laki-laki munafik! Padahal khawatir banget, tapi masih nahan egonya sendiri." Ryan berkata dalam hati. Bibirnya mencebik dan kedua matanya berotasi malas. Sepasang suami-istri ini memang menikah bukan atas dasar cinta, tetapi ketika kini rasa cinta sudah terpatri di hati keduanya, sang suami masih saja abai dan tidak peka. Ryan sedang membantu mereka agar kesalahan itu tidak berlangsung lebih lama.

"Istrimu bersama saya. Jika kamu peduli dengan dia, datang ke alamat yang saya kirimkan sekarang!"

"Apa kamu bilang? Hei, kamu ...."

Ryan tak bisa mendengar lagi perkataan Liam di seberang telepon karena lelaki itu baru saja mengakhiri panggil secara sepihak.

"Beres, ayo, pergi!" ucap Ryan sambil menyodorkan ponsel Lilis.

Lilis malah bengong dan tersadar ketika Ryan menepuk pundak perempuan itu. "Malah bengong. Ayo, pergi ketemu suami kamu!" ajak Ryan lagi.

"Kamu mau mau bantuin mecahin masalah apa mau nambah masalah, sih? Ini namanya mancing masalah lagi. Bisa-bisanya kamu teh memprovokasi suaminya Lilis, hah?"

Lilis mengamuk, dia memukul bahu Ryan beberapa kali. Tentu saja lelaki itu dengan cepat menghindari.

"Kamu itu bodoh apa gimana? Justru dengan cara ini kamu bisa tahu bagaimana perasaan suami kamu yang sebenarnya. Jika dia tahu istrinya bersama dengan laki-laki lain, apa dia akan rela?"

Lilis bergeming sesaat. Pikirannya merambah ke mana-mana. Dia ingin mencobanya, tetapi sedikit tidak yakin jika suaminya peduli akan hal itu. Terlebih, Lilis sudah ingin menyerah untuk mengejar cinta suaminya itu.

"Jangan banyak mikir! Lebih cepat tahu, lebih baik. Daripada hati kamu lebih lama sakit. Aku punya keyakinan jika suami kamu juga mempunyai perasaan cinta yang sama, bahkan lebih dari yang kamu punya," ucap Ryan dengan sorot yang meyakinkan.

Lilis pun mencoba percaya. Sejak pertama kali bertemu dengan lelaki itu, ucapannya tidak pernah salah. Lilis curiga jika Ryan adalah titisan Jayabaya—Seorang Raja yang melegenda dari Pulau Jawa. Konon katanya, Beliau pernah meramalkan tentang masa depan Negara Nusantara dan ternyata banyak orang yang percaya.

"Oke, atuh, Lilis setuju. Tapi awas aja kalau salah. Lilis aduin sama miss Dania." Lilis mengancam dan Ryan tidak mau mendengarkan. Lelaki itu lekas menarik tangan Lilis, lalu membawanya ke parkiran. Tak lama mobil Ryan pun melesat membelah jalanan.

*****

Tak membutuhkan waktu lama, mobil Ryan terlebih dahulu tiba di tempat yang ditentukan. Sebuah taman yang tak jauh dari lokasi syuting Ryan.

"Ingat, ya, Lis! Kalau nanti suamimu datang, biarkan dia luapkan perasaannya terlebih dahulu. Kamu cukup diam. Jika sekiranya emosinya sudah mereda, kamu cukup peluk dia lalu katakan yang sejujurnya!"

Ryan memberikan instruksi kepada Lilis yang duduk di kursi taman. "Kamu yakin ini akan berhasil? Bagaimana kalau dia malah langsung menceraikan Lilis karena menyangka Lilis selingkuh sama laki-laki lain?"

"Hish, nggak mungkin. Dia itu cinta setengah gila sama kamu."

"Sok tahu!"

Ryan merasa gemas dengan sikap Lilis yang penakut dan tidak percaya diri. "Ikutin aja! Kenapa, sih? Bawel banget!" geram Ryan. Lilis pun mencebik kesal. Tak ayal hatinya menjadi galau.

Sorot cahaya dari lampu mobil yang datang membuat perhatian mereka teralihkan. Lilis tahu itu adalah mobil Liam. Ryan pun buru-buru pergi meninggalkan Lilis sendirian. Hingga mobil tersebut parkir di dekat Lilis lalu pengemudinya keluar, Ryan masih berdiri di tempat persembunyian.

Dari kejauhan, kedua mata Ryan tak lepas dari pasangan suami istri yang kini terlihat seperti bertengkar. Sang suami sedang berbicara sendiri seperti sedang meminta penjelasan kepada istrinya. Namun, istrinya hanya diam saja. Cukup lama Ryan hanya jadi penonton, tetapi dia tak mau menolong. Ryan yakin jika hubungan pasangan itu akan berakhir baik-baik saja.

Benar saja, lengkungan manis terukir di bibir Ryan ketika netranya melihat Lilis dan Liam berpelukan, sepertinya mereka sudah berbaikan dan saling mengungkapkan perasaan.

"Hah ... satu masalah udah kelar lebih awal. Nggak percuma aku kembali ke masa lalu," gumam Ryan masih mengembangkan senyuman.

...----------------...

...To be continued...

Terpopuler

Comments

marie_shitie💤💤

marie_shitie💤💤

ya Ryan misi mu belum kelar ayo selesai agar km bisa lebih yakin bahwa km bisa perbaiki masalalu

2024-11-09

1

marie_shitie💤💤

marie_shitie💤💤

Lilis kebanyakan mistis nih

2024-11-09

1

angie widya

angie widya

" Eh beneran tahu .."

disitulah mulai ga sadar senyum sendiri 🤣🤣🤣

2024-10-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!