Bab 2. Dejavu

Gemuruh yang silih bersahutan dengan kilatan cahaya dari langit membuat Ryan tak bisa berkonsentrasi mengemudi. Ditambah semburan air yang menghantam kaca mobilnya bertubi-tubi. Gerakan wiper kaca mobil di depannya membuat fokus mata Ryan pun jadi terbagi, membuat lelaki itu harus extra hati-hati.

"Kenapa hujannya langsung gede gini? Padahal sebelum aku ke sini, cuacanya cerah banget," tutur Ryan bermonolog sendiri. Tangannya pun memutar setir kemudi ke arah kiri lalu setelah berhasil berbelok, mobil itu bergerak lurus kembali.

Beberapa saat kemudian, ponsel Ryan berdering menandakan ada panggilan telepon di sana. Ekor matanya menengok layar ponsel yang menancap di dasbor mobil. Terlihat nomor tak dikenal memanggil.

"Siapa yang nelepon hujan-hujan gini?" ucap Ryan karena dirinya pun takut tersambar petir karena radiasi.

Ryan hendak menekan tombol merah untuk menolak panggilan tersebut, tetapi tak sengaja malah menekan tombol hijau dan panggilan pun diterima.

"Ah, sial! Kenapa diterima," rutuk Ryan pada dirinya sendiri. Sudah terlanjur diterima dia pun berkata pada si penelepon dengan suara tinggi, "Aku lagi nyetir, nanti ku telepon lagi."

Tangan Ryan terulur hendak mengakhiri panggilan tersebut. Namun, belum sempat tangannya menyentuh tombol, suara seseorang yang berada di seberang sana membuatnya sontak membulatkan kedua mata.

"Bang Ryan!"

"Rara?"

Ryan sangat kenal dengan suara perempuan yang sangat dicintainya itu. Sontak lelaki itu pun jadi bengong. Bagaimana bisa seseorang yang sudah meninggal bisa menghubunginya lewat telepon?

Tanpa Ryan sadari, ia sudah kehilangan konsentrasi. Sesaat kesadarannya pun kembali, tetapi seekor kucing yang tiba-tiba melintas di depannya membuat Ryan hilang kendali. Ryan pun langsung banting setir ke arah kiri.

Nahas, di sebelah kiri itu adalah turunan terjal yang di bawahnya terdapat danau besar. Ryan tidak bisa menghentikan laju kendaraannya. Mobilnya terus merosot ke bawah. Tiba-tiba rem mobil itu tidak berfungsi sama sekali. Ryan berusaha keluar dengan membuka pintu mobil, tetapi gagal. Alhasil, lelaki itu pun berpikir jika dirinya sebentar lagi akan meninggal.

"Ya, Tuhan ... jika Engkau mau mengambil nyawaku hari ini, tolong pertemukan aku dengan Rara lagi."

Bukannya berdo'a agar selamat, lelaki itu malah berdo'a seperti itu. Seolah hidupnya sudah tidak penting lagi, Ryan ingin segera mati.

Mobil itu dengan mudahnya ditelan air danau. Walaupun Ryan sudah pasrah, secara refleks lelaki itu tetap berusaha untuk menyelamatkan dirinya ketika berada dalam bahaya. Segala cara dia lakukan untuk membuka pintu mobil, tetapi tidak bisa. Hingga lelaki itu kehabisan pasokan udara karena terlalu banyak meminum air yang memenuhi ruang mobilnya.

Tubuh Ryan melemah, kedua matanya pun perlahan tertutup karena tak sanggup menahan perih berendam di dalam air terlalu lama. Napasnya terasa sesak, nyawanya seperti sedang di ujung tanduk. Pikirannya pun seketika kosong, hanya bayangan wajah Rara yang muncul di pikirannya sebelum lelaki itu benar-benar tidak bisa tertolong.

*****

"Hh ...."

Ryan tersentak ketika tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Pundaknya naik turun dengan napas tersengal seperti habis lari maraton. Keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya. Kemeja yang dikenakan pun sampai basah karenanya.

"Di mana aku?" Ryan celingukan mendapati dirinya masih terduduk di belakang setir kemudi.

Ya, Ryan masih berada di dalam mobil, tetapi di luar sana bukanlah air danau yang menenggelamkannya, melainkan deretan mobil yang berjajar rapi di sebuah lapangan terbuka.

"Ah, aku sudah di akhirat? Apa ini yang dinamakan Padang Mahsyar?" celetuk Ryan yang mengingat seorang Ustadz pernah berceramah tentang hari penghisaban setiap amal perbuatan manusia. Tempat semua makhluk akan dikumpulkan di akhir zaman untuk diperhitungkan amal perbuatannya selama hidup di dunia. Mungkin Ryan lupa, jika ada Alam Barzah dahulu sebelum hari perhitungan itu tiba.

"Tapi Pak Ustadz nggak pernah bilang kalau di akhirat bisa pakai mobil juga. Apa amal aku sangat banyak sehingga Tuhan ngasih bonus kendaraan biar bisa cepat melewati jembatan Shiratal Mustaqim untuk mencapai surga?"

Bisa-bisanya Ryan berpikir se-absurd itu. Masalah amal seseorang hanya Allah yang punya perhitungan. Seenaknya saja dia mengambil kesimpulan.

Suara nada dering ponsel membuat perhatian Ryan tersita. Pandangannya langsung beredar mencari asal suara. Ponsel tersebut tergeletak di kursi kosong di samping kemudinya. Terpampang nama Mbak Dania di sana.

Dania adalah kakak sepupu Ryan. Lekas, lelaki itu pun menerima panggilan.

"Hei, kamu udah sampai mana? Lama banget, sih? Cepetan bawa kotak make-up Mbak ke sini!"

Baru saja Ryan mendekatkan ponselnya ke telinga, rentetan kata-kata dengan suara lantang langsung menusuk telinganya. Ryan sampai menjauhkan ponselnya sebentar, lalu mendekatkan lagi ke telinga untuk melanjutkan panggilan telepon mereka.

"Mb-Mbak Dania?" Suara Ryan terdengar gagap saking bingungnya.

"Apa? Jangan bilang kamu masih di rumah, ya! Mbak udah bilang buru-buru. Make-up itu mau dipake sekarang."

"Make-up? Make-up apa?"

"Ryan!"

Ryan terperanjat mendengar Dania menyentak. Telinganya seperti di lempar petasan yang tiba-tiba meledak. "Nggak usah teriak-teriak bisa nggak, sih!" seru Ryan kesal.

"Makanya jangan bercanda terus!" Terdengar embusan napas panjang sebelum Dania kembali berkata, "oke ... Ryan, sayang. Sekarang bukan waktunya bercanda, ya. Sebentar lagi acaranya mau dimulai, tapi riasan para model belum sempurna. Riasan mereka nggak akan selesai kalau make-up mbak yang ketinggalan itu belum kamu berikan."

Ryan berpikir sejenak mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan kakak sepupunya itu. Kali ini suaranya lebih rendah, sehingga Ryan bisa mencernanya lebih mudah.

Ketika kedua matanya menangkap sebuah kotak berwarna hitam, Ryan bisa sedikit menyambungkan benang merah. Dengan kaca transparan di bagian atasnya, lelaki itu bisa melihat jika isi kotak tersebut adalah alat make-up yang dimaksud Dania.

"Apa itu kotak make-upnya?"

Sekeras mungkin Ryan berpikir, tetapi ia tidak bisa mencerna kejadian yang menimpanya saat ini adalah nyata. Ia tidak bisa berpikir jernih tentang semua peristiwa yang dia alami. Kejadian acak yang menimpanya saat ini terasa seperti mimpi.

"Ah, sakit!" Ryan mencubit pipinya sendiri dan tentu saja terasa perih. Itu membuktikan jika yang dia alami bukanlah mimpi.

"Halo, Ryan! Ryan! Kamu masih di sana 'kan?" Suara menggelegar di balik ponselnya mengembalikan pikiran Ryan yang sempat berputar-putar.

"Ah, iya. Aku masih di sini," ucap Ryan mencoba mengikuti alurnya saja. Mungkin sebentar lagi dia akan tahu apa yang terjadi kepadanya.

"Mbak tanya sekali lagi, kamu ada di mana sekarang?"

"Aku? Sebentar ...." Ryan mengedarkan pandangannya ke arah luar. Kali ini pandangannya lebih difokuskan. Tak jauh di depan mobilnya ada sebuah gedung yang terpampang tulisan 'SMA Pelita Harapan'.

"SMA Pelita Harapan." Ryan membaca tulisannya pelan bahkan hampir tak terdengar, tetapi Dania bisa mendengarnya dari seberang.

"Oh, kamu udah sampai di sekolah? Ah ... syukurlah! Kamu ada di mana? Mbak yang temui kamu aja," seru Dania langsung menyambar.

"Eh, sekolah apa? Bukannya aku lagi di Padang Mahsyar?" Ryan terkejut tentu saja. Bagaimana bisa dia menyebut parkiran sekolah sebagai tempat penghisaban amal perbuatan setelah akhir zaman.

"Kamu ngomong apa, sih? Bercandanya nggak lucu, tahu!"

Ryan meneguk ludah menyesali kebodohannya. Sekaligus takut karena Dania benar-benar marah. Sungguh, Ryan tidak pernah berniat untuk menjadikan hal itu sebagai bahan candaannya.

"Iya, Mbak, maaf! Aku ... sepertinya ada di parkiran sekolah," ucap Ryan sedikit takut. Dania pun terdengar mendengkus.

"Oke, tunggu Mbak di sana!"

Panggilan pun berakhir setelah Dania memutuskan panggilan telepon terlebih dahulu. Tinggallah Ryan yang masih merasa ambigu. Ia menggaruk keningnya yang tidak gatal sembari berpikir keras. Kejadian tidak masuk akal yang menimpanya itu membuatnya hampir tidak waras.

"Apa kecelakaan itu yang mimpi?" Ryan frustrasi sambil mengacak rambutnya sendiri. "tapi nggak mungkin. Aku ingat betul kalau aku baru pulang dari makamnya Rara beberapa jam yang lalu, terus aku mengalami kecelakaan. Lalu, kenapa sekarang aku ada di sini? Membawa make-up Mbak Dania ke sekolahan? Kapan aku disuruh oleh dia?"

Ryan benar-benar tidak mengerti. Ia berusaha mengingat semua kejadian sebelum dirinya terdampar di sana, tetapi hasilnya tetap sama. Kepalanya seperti mau pecah memikirkan jawaban atas kebingungannya.

"Ryan!"

Suara Dania yang diiringi suara ketukan kaca membuat Ryan terlonjak kaget, lalu menghela napas kasar setelah melihat Dania-lah pelakunya. Ryan pun membuka pintu mobil setelah meraih kotak make-up yang diinginkan sepupunya itu, lalu keluar dari mobil.

"Mana kotak make-upnya?"

Ryan memberikan kotak make-up itu kepada Dania. Pandangannya menyapu ke segala arah hingga tiba-tiba perasan dejavu menyerang pikirannya. Ryan pun sontak membelalakkan kedua mata.

"Sepertinya aku pernah ke tempat ini," ucapnya sambil mengingat sesuatu.

...******...

...To be continued...

Jangan lupa cek novel keren di bawah ini juga, ya

Terpopuler

Comments

michela sherla

michela sherla

apa ada hubungannya dengan jam pasir 🧐

2024-11-20

0

michela sherla

michela sherla

diluar nalar 😱😱

2024-11-20

0

michela sherla

michela sherla

jangan jangan rara belum meninggal 🧐

2024-11-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!