Bab 10. Panggil Aku Abang!

...----------------...

"Permisi, Pak. Kalau boleh tahu orang-orang tadi masuk ke dalam mau ngapain, ya?" Ryan yang penasaran bertanya kepada penjaga yang berdiri di depan pintu gedung yang dimasuki Rara.

"Mereka mau jadi penonton bayaran di acara variety show. Kenapa? Kamu mau ikutan?"

Ryan berpikir sejenak lalu helaan napas lega pun terlontar ke udara. Lelaki itu lega karena setidaknya di dalam sana Rara tidak berurusan dengan si Sutradara.

"Kalau mau ikutan, masuk aja! Sebentar lagi acaranya dimulai." Penjaga itu berkata lagi membuat Ryan sejenak berpikir.

"Ehm ... kira-kira acaranya selesai jam berapa, Pak?" tanya Ryan. Dia harus mengambil kuliahnya sekarang.

"Sekitar dua jam dari sekarang."

"Sial! Lama banget!" Ryan berdecak karena dia tidak mungkin bolos kuliah. Satu jam lagi akan ada ujian penting yang tidak boleh dia tinggalkan.

Di waktu bersamaan, Danang—si sutradara nakal itu terlihat sedang berjalan bersama dengan seorang gadis cantik berpakaian casual. Mereka berjalan ke arah parkiran. Sepertinya mereka akan pergi. Ternyata kepergian Danang bersama dengan perempuan itu menyita perhatian banyak orang. Terutama si penjaga pintu dan Ryan.

"Heran, zaman sekarang masih ada aja yang mau ke naik puncak tertinggi dengan cara jalur langit."

Celetukan si penjaga itu membuat perhatian Ryan sontak tertuju kepadanya. "Bapak ngomong apa?"

"Tuh, si Danang. Udah dapat mangsa baru aja. Gadis itu pasti artis pendatang baru." Penjaga yang diketahui bernama Faisal dari nametag yang dipakai di seragamnya itu menunjuk Danang dengan memakai dagu. Kening Ryan mengernyit mendengar ucapan Faisal. Dia juga kenal perempuan itu yang merupakan rekan kerjanya yang sama-sama pemula. "Maksud Bapak apa?" tanyanya semakin penasaran.

"Eh, bukannya kamu juga artis baru yang suka main film di kru-nya dia?" Faisal mengingat wajah Ryan karena sering melihatnya di area itu.

Ryan mengangguk ragu. "Iya," jawabnya bujur.

Sebenarnya Ryan tidak ingin jujur. Jika dia jujur apakah penjaga itu akan melanjutkan ceritanya. Sungguh, dia harus mendapatkan informasi yang lebih detail tentang kelakuan Danang saat ini. Namun, untuk berbohong rasanya tidak mungkin karena sepertinya penjaga itu mengenalnya dengan yakin.

"Ck, bahaya kalau gitu. Lupain aja!"

Sudah diduga jika Faisal tidak ingin pekerjaannya jadi taruhan jika dia berkata sembarangan. Ryan menggigit bibirnya sambil memikirkan cara untuk mendapatkan informasi dari si penjaga.

"Bapak nggak usah khawatir. Saya orangnya nggak bocor, kok. Lagipula, saya kan laki-laki, jadi nggak mungkin saya bersaing dengan perempuan tadi," ucap Ryan sedikit berkelakar. Penjaga itu pun tertawa menggelegar.

"Iya juga, ya. Sini saya bisikin kamu."

Ryan memasang telinganya lebar-lebar ketika penjaga itu mendekatkan mulutnya lalu berkata pelan. Kepalanya mengangguk mengerti ketika si pria itu sudah selesai menjelaskan.

"Saya nggak nyangka Pak Danang orang yang kayak gitu," ucap Ryan pura-pura terkejut dan tidak tahu sebelumnya. Padahal dia tahu nasib Danang di masa depan akan berakhir seperti apa. Semoga saat ini nasibnya juga sama.

"Sebenarnya itu sudah menjadi rahasia umum buat semua kru di sini, tapi saya takut juga kalau ketahuan mengumbar kelakuan dia sama anak baru kayak kamu. Bisa-bisa saya dituntut karena pencemaran nama baik. Namanya wong cilik pasti ujung-ujungnya nggak bisa berkutik."

Ryan bisa mengerti dengan ketakutan Faisal. Dahulu, Rara juga dalam posisi yang serupa. Jika saja tidak ada keluarga Lilis yang membantu mereka, tentu Danang tidak akan mendapatkan balasannya. Yang membuat Ryan menyesal adalah kenapa dia tidak tahu apa-apa sebelumnya.

Itu karena di masa sebelum Ryan mengalami distorsi waktu, lelaki itu terlalu cuek dengan masalah seperti itu. Seolah tidak mau tahu dengan masalah orang lain, Ryan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Kali ini, Ryan harus serba tahu. Dia harus bisa memisahkan Rara dari lelaki itu. Kalau perlu jangan sampai mereka bertemu.

*****

Sore harinya, Ryan sudah berada di rumah ketika Rara baru kembali dari sekolah. Ryan duduk di teras rumah sambil memberi makan kucing peliharaan Rara.

"Halo, Cingu. Apa kabar kamu hari ini?" Rara menyapa kucingnya terlebih dahulu seolah tidak ada Ryan di sana. Perempuan itu mengabaikannya.

"Cingu? Namanya Cingu?"

"Ayo, kita pulang!" Tanpa menghiraukan pertanyaan Ryan, Rara langsung meraih kucingnya yang sedang makan. Namun, dengan cepat Ryan menahan.

"Tunggu! Kamu mengabaikan aku walaupun aku sudah membantu kamu merawat kucing itu?"

Rara mendengkus. Kedua matanya melirik tajam pada Ryan. "Makasih!" ucapnya ketus. Sangat terdengar tidak tulus.

Walaupun terdengar tidak menyenangkan, tetapi Ryan berusaha mengerti dan tidak marah kepada Rara. "Aku mau bicara, boleh duduk sebentar?" pintanya yang membuat tubuh Rara berbalik menghadapnya.

"Mau bicara apa? Nggak usah duduk, bisa kan? Gue nggak mau deket-deket sama orang messum kayak lo."

Kedua bola mata Ryan berotasi diiringi embusan napas penuh rasa frustrasi. Sebisanya dia menahan emosi. Sejelek itukah reputasinya di mata gadis ini?

"Aku cuma mau nanya ngapain kamu di lokasi syuting saat jam sekolah tadi? Kamu bolos, ya?"

Pertanyaan itu sukses membuat kedua mata Rara terbelalak sempurna. Dia lupa perkataan Mita tentang Ryan yang seorang artis pemula. Mita juga tidak mengingatkannya karena tidak tahu jika Ryan tinggal di sebelah rumah Rara.

"Ehm ... lo salah lihat kali. Gue sekolah, kok." Rara berkilah dengan menunjukkan sikap salah tingkah. Tentu saja Ryan tidak mempercayainya.

"Bohong! Kamu ke lokasi syuting sama temen kamu rambutnya keriting itu, kan? Mana mungkin aku salah. Aku juga tadi ke sekolah dan kamu memang nggak ada di sana."

Rara meneguk saliva. Jika Ryan membeberkan hal itu kepada ibunya. Habislah dia!

"Kamu bolos sekolah, kan?" Ryan mengulangi kalimatnya.

"Ssst! Lo bisa diem nggak, sih! Nanti kedengeran sama ibu." Secepat kilat tangan Rara mendarat di mulut Ryan karena suara lelaki itu terdengar begitu lantang. Kepalanya celingukan takut ada keluarganya yang mendengar.

Di balik tangan Rara, bibir Ryan mengulas senyuman tipis. Sepertinya, lelaki itu sudah mempunyai alasan yang bagus untuk bernegosiasi dengan Rara. Ryan yakin jika hal itu akan membuat hubungan mereka akan semakin dekat saja.

"Oke, aku akan diam dan nggak akan bocorin hal itu sama ibu kamu, tapi dengan syarat." Ryan berkata sambil melepaskan tangan Rara dari bibirnya. Tanpa disadari jarak wajah mereka terlalu dekat sehingga Rara bisa merasakan embusan napas Ryan yang menyentuh kulit wajahnya.

Untuk beberapa detik, momen itu terlihat begitu romantis, hingga Rara sadar dan langsung menepis tangan Ryan dengan kasar. Tubuhnya pun kembali tegak, lalu mengusap kepala kucing yang masih digendong dengan tangan satu tangannya. Rara berusaha memenangkan jantungnya yang berdebar tidak biasa.

"Apa syaratnya?" tanya Rara tanpa melihat wajah Ryan.

Seulas senyuman masih melengkung di bibir Ryan. Sambil duduk menopang kaki, lelaki itu terlihat begitu percaya diri. "Aku mau kamu bersikap sopan sama aku. Berhenti menggunakan panggilan 'lo gue'! Dan panggil aku 'abang'!"

Sorotan tajam langsung membidik wajah Ryan. Tentu saja Rara tidak suka dengan syarat yang dia lontarkan. "Gue nggak ma—"

"Bu ...."

"Eh, eh ... oke. Gue setuju!" Rara langsung panik ketika Ryan setengah berteriak memanggil ibunya Rara.

"Masih pake 'gue'. I—"

"Iya. Aku ... aku setuju!"

Ryan tersenyum lebar karena rencananya telah berjalan lancar. Wajah Rara terlihat lucu ketika takut dimarahi ibunya. Walaupun begitu, Ryan merasa sedikit kasihan. Namun, hal itu adalah satu-satunya cara agar Rara tidak lagi jutek terhadapnya.

"Satu lagi! Aku nggak mau denger lagi kamu bilang aku lelaki messum karena aku bukan lelaki seperti itu. Sakit, tau, dikatain kayak gitu!" Bibir Ryan memberenggut pura-pura memelas sambil menyentuh dadanya. Wajah sedihnya terlihat menggelikan di mata Rara. Perempuan itu sampai bergidik karenanya.

"Tapi lo ... eh, kamu tahu nggak aku ke sana mau ngapain?" tanya Rara penasaran sejauh mana Ryan membuntutinya.

"Tahu. Kamu jadi penonton bayaran, kan?"

Rara menghela napasnya karena jawaban Ryan benar adanya.

"Jangan bilang sama bapak masalah itu!" Rara melontarkan peringatan.

"Kenapa?"

"Bapak nggak suka aku jadi artis."

Kedua alis Ryan terangkat ke atas mendengar hal itu. Sepertinya dia mempunyai satu alasan lain untuk mengancam Rara agar tidak berani berseliweran di lokasi syuting lagi. Dengan begitu, kecil kemungkinan Rara akan bertemu dengan Danang.

...----------------...

...To be continued...

Terpopuler

Comments

Desiana Lesta

Desiana Lesta

🤣🤣🤣 bisa gituu ya

2024-11-21

0

Desiana Lesta

Desiana Lesta

nah kan. untung kamu tidak mencegat Rara. Ntar dikira orang aneh kan kesian

2024-11-21

0

angie widya

angie widya

abang !!

2024-10-17

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!