Bab 4. Tiga Tahun Lalu

"Mbak, dengerin aku dulu!" Ryan meronta menahan tubuhnya yang diseret keluar oleh Dania. Lelaki itu ingin memberikan penjelasan kepada Dania perihal kejadian yang memalukan di atas panggung tadi. Namun, perempuan yang kini sudah mempunyai satu anak itu seolah tak peduli. Hari ini, Ryan benar-benar membuatnya malu sekali.

"Kamu, tuh, udah malu-maluin mbak, Ryan. Awas aja kalau sampe kerjaan mbak kena imbasnya. Mbak nggak akan maafin kamu!" seru Dania sambil berjalan. Sebelah tangannya masih mencengkram tangan Ryan. Tentu sambil menyeret lelaki itu ke area parkiran.

"Tapi dia memang pacar aku, Mbak."

Mendengar itu tubuh Dania tiba-tiba berhenti mendadak, lalu menoleh ke arah Ryan sejenak. "Pacar gimana? Dia masih SMA. Sejak kapan kamu mulai memacari anak SMA, hah?" sentak Dania. Perempuan itu kesal dengan alasan Ryan yang terkesan mengada-ngada.

"Bukan SMA, Mbak. Dia udah kuliah," tukas Ryan menyanggah. Yang dia ingat kekasihnya sedang kuliah.

"Gadis yang kamu peluk tadi?" Dania memastikan dahulu gadis mana yang Ryan maksud. Ryan pun mengangguk.

"Ngayal kamu, ya. Dia tuh murid SMA ini. Kamu lupa tadi kepala sekolahnya bilang apa?"

Ryan berpikir sejenak untuk mengingat perkataan kepala sekolah sewaktu menyidangnya. Dia bilang, jika Rara adalah siswi kelas tiga. Namun, Ryan menolak untuk percaya.

"Nggak. Aku yakin dia itu memang Rara, pacar aku." Ryan tetap kekeuh dengan pendiriannya sambil menggeleng tak mau dibantah. "Mungkin maksud kepala sekolah, kalau Rara itu alumni sekolah di sini. Dia itu ...." Ucapan Ryan terjeda sejenak ketika otaknya mengingat sesuatu, "ah, iya. Rara itu tetangganya Lilis, Mbak. Waktu itu di lokasi syuting, Si Danang, sutradara itu messum pernah mau melecehkan Rara. Rara yang tadi itu korbannya dan aku yang nyelamatin dia. Mbak inget, kan? Kalau Mbak lupa, bisa tanya Lilis aja," imbuhnya sangat yakin mengingatkan Dania pada seseorang yang dia kenal di masa depan.

"Kamu ngomong apa, sih? Lilis siapa? Mbak nggak punya kenalan yang namanya Lilis." Kepalanya mendadak gatal sehingga harus digaruk asal. Tentu saja waktu itu Dania belum bertemu dengan perempuan yang bernama Lilis. Perempuan yang pernah Ryan cintai, tetapi sudah punya suami.

"Ah, dan apa kamu bilang tadi? Pak Danang si messum? Dia melecehkan gadis itu ...?" Dania berdecak sambil menggelengkan kepala, "kamu jangan sembarangan ngomong tentang Pak Danang! Kamu mau dilaporin ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik?" imbuh Dania sambil menunjuk wajah Ryan.

"Aku nggak ngomong sembarangan. Ini fakta, Mbak. Masa Mbak nggak kenal sama Lilis, sih? Dia 'kan asisten Mbak?" Ryan mulai frustrasi. Terlihat dari caranya berbicara sambil menghentakkan kaki.

"Asisten Mbak udah meninggal karena kecelakaan seminggu yang lalu. Dan namanya itu Lulu. Sejak kapan berubah jadi Lilis."

Kening Ryan mengernyit dalam mendengar Dania berkata demikian. Kepalanya yang semula menunduk langsung mendongak. Memang benar, sebelum Lilis menjadi asisten Dania, perempuan yang bernama Lulu adalah asistennya. Sebuah kecelakaan merenggut nyawanya sehingga Dania cukup kerepotan jika ada job seperti sekarang.

"Mbak jangan bercanda, dong!" ucap Ryan mulai ketakutan. Bulu guduknya tiba-tiba meremang.

"Emangnya muka mbak keliatan lagi bercanda, hah? Minta ditabok kamu, ya? Apa kamu mau Mbak laporin ke Papa kamu aja? Biar nanti kamu disuruh tinggal di desa ngurusin sapi, iya?"

"Kenapa jadi bawa-bawa Papa, sih? Kita lagi ngomongin Rara."

Ryan berdecak lagi. Dia paling tidak suka jika terus membahas sang papa dengan peternakan sapinya. Pikirannya sudah tidak bisa berpikir jernih. Ada apa dengan semua ini? Kenapa semua ingatannya bertentangan dengan kenyataan yang dia alami?

"Habis kamunya ngeselin, sih! Mbak pusing ngomong sama kamu, dari tadi nggak ada yang nyambung . Mbak beneran nggak kenal dengan gadis itu. Pokoknya mbak nggak mau tahu, ya. Sekarang kamu harus pergi dari sini! Mbak nggak mau kamu nambah masalah lagi."

Dania menarik tangan Ryan lagi, lalu setelah sampai di parkiran, ia mendorong tubuh pemuda itu hingga membentur badan mobil. "Pergi!" usir Dania sambil berkacak pinggang. Terlihat sadis dan menyeramkan.

"Tapi aku masih mau di sini sama Rara, Mbak. Aku masih kangen sama dia."

"Astaga!" Dania mengusap wajahnya sambil menghela napas kasar. Melihat kelakuan Ryan yang kekanak-kanakan membuatnya tidak sabar. Lelaki itu sepertinya sudah hilang akal.

"Mana kunci mobil!" pinta Dania sambil menadahkan sebelah tangannya. Dia kesal karena tidak bisa membujuk Ryan secara baik-baik.

"Buat apa?"

"Siniin kunci mobilnya!" Tatapan Dania begitu mengintimidasi. Dengan terpaksa Ryan pun merogoh saku celananya, lalu memberikan kunci mobil yang dia ambil dari sana.

Dania merebutnya dengan kasar, lalu menekan tombol otomatis untuk membuka pintu mobil Ryan. Setelah pintu mobil itu terbuka, perempuan itu memaksa tubuh Ryan agar masuk ke dalamnya. Namun, tubuh Ryan sangat sulit dilumpuhkan. Tubuh itu terlalu kuat dan masih berdiri di pintu mobil berusaha menahan.

"Ryan, mbak mohon sama kamu untuk kali ini jangan buat mbak kesulitan! Mbak nggak mau kerjaan mbak jadi korban gara-gara ulah kamu tadi. Mbak mohon kamu pergi. Mbak udah susah payah ngejelasin ke pihak sekolah dan panitia supaya kamu diampuni. Atau ... kamu mau dibawa ke kantor polisi?" Dania memohon sekaligus mengancam Ryan sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Tatapannya terlihat memelas dan putus asa.

Hal tersebut sukses membuat Ryan sejenak terdiam. Ia mulai menyadari kesalahannya. Perbuatannya tadi memang terlalu bar-bar untuk dilakukan di tempat terbuka. Lagipun bukan pada tempatnya. Ryan jadi lupa diri karena terlalu senang bisa melihat Rara lagi. Ia tidak memikirkan dengan imbas yang akan terjadi.

Ryan pun menghela napasnya sebelum berkata, "Baiklah, aku pergi. Maaf atas kesalahanku tadi."

Dania pun menurunkan kedua pundaknya bersamaan sambil bernapas lega. "Dari tadi, kek, kayak gini!" serunya masih sedikit kesal. Ia membantu Ryan menutup pintu mobil ketika Ryan sudah duduk di depan kemudi. "Inget, ya! Bukan berarti kesalahan kamu hari ini mbak maafin begitu aja. Setelah acara ini selesai, mbak masih punya perhitungan sama kamu," ucap Dania dari balik pintu mobil yang kacanya terbuka.

"Perhitungan apa lagi? Aku udah jelasin, tapi Mbak nggak percaya."

"Masih keras kepala aja, kamu!" Dania hampir saja memukul kepala lelaki itu jika saja kaca pintu mobilnya tak segera ditutup oleh Ryan. Perempuan itu pun berdecak sebal. Dania hafal betul dengan sikap Ryan. Pemalas, tidak pernah serius jika melakukan sesuatu, dan masa bodoh dengan keadaan sekitar adalah rincian kejelekan lelaki itu.

Perkataan Dania dan sikap Rara selalu terngiang-ngiang di kepala Ryan. Ada banyak keanehan yang lelaki itu rasakan. Jiwanya seperti mengambang dalam raga yang bimbang. Ryan seperti bukan hidup pada tubuhnya sendiri. Rasanya kecelakaan itu sudah membuatnya kehilangan memori.

Walaupun Ryan masih di ambang kebingungan, lelaki itu berniat untuk pulang. Biarlah dia beristirahat sejenak agar bisa berpikir jernih. Mungkin dia terlalu lelah sehingga membuat otaknya jadi kurang sehat. Ryan masih berharap jika kejadian hari ini adalah mimpi sesaat.

Ketika Ryan hendak menginjak pedal gas, tanpa sengaja kakinya menyentuh sesuatu di bawah sana. Keningnya mengernyit berbarengan dengan gerakan tangannya yang menjulur ke bawah mencari benda aneh tersebut.

"Ini ... bukannya ... jam pasir yang aku temukan di makam Rara tadi? Kenapa bisa di sini?"

Kedua mata Ryan terbuka sempurna ketika tangannya berhasil meraih benda aneh yang tiba-tiba berada di dalam mobilnya tersebut. Seingatnya, Ryan meninggalkan benda tersebut di makam Rara. Ia yakin tidak membawa benda itu bersamanya. Namun, entah kenapa benda itu bisa berada di dalam sana?

Otak Ryan mulai berpikir dan menyambungkan benang merah kejadian yang dia alami beberapa waktu terakhir. Rentetan kejadian yang menimpanya seperti rekaman yang disetel ulang dalam pikiran. Ditambah dengan sikap aneh Rara dan perkataan Dania. Ryan mengurutnya secara detail.

Ada yang tidak beres. Ryan menyadari sesuatu dan berharap hal itu tidaklah benar. Lelaki itu langsung mencari ponsel lalu menemukannya di saku celana. Tak membutuhkan waktu lama, layar ponsel itu pun menyala. Kedua mata Ryan pun seketika membola untuk kesekian kalinya.

Betapa tidak? Terpampang di layar ponsel Ryan tanggal berapa sekarang. Ryan sampai menyetel ulang tanggal secara otomatis beberapa kali, tetapi hasilnya tetap sama.

"Nggak mungkin!" Ryan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Merasa tidak percaya dengan apa yang dia alami.

"Jadi sekarang bukan tahun 2024, melainkan 2021?" Ryan tercengang karena waktu tiba-tiba mundur menjadi tiga tahun lalu.

...----------------...

...To be continued...

Terpopuler

Comments

wulandari Lidya

wulandari Lidya

sudah kuduga sepertinya emang garagra jam pasir ini 😱

2024-11-20

1

wulandari Lidya

wulandari Lidya

nah Lo Ryan sebaiknya jangan gegabah

2024-11-20

0

wulandari Lidya

wulandari Lidya

Apakah RARA HIDUP LAGI? 😱 garagra jam pasir? tapi jadi anak sekolah?

2024-11-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!