Bab 5. Orang Gila

...----------------...

"Ini mustahil. Kenapa aku bisa kembali ke masa lalu?" Ryan mondar-mandir di dalam kamarnya setelah memilih pulang dari sekolah. Ia tidak bisa bertemu Rara lagi karena pihak sekolah sudah mewanti-wanti. Jika dia kembali, maka akan berurusan dengan polisi.

Ryan merasa dirinya sedang berhalusinasi. Kembali ke masa lalu hanyalah cerita fiksi yang sering dibaca di novel dan drama serial yang pernah dia bintangi. Oleh karena itu, Ryan harus lebih memastikan lagi hal yang menimpanya benar-benar terjadi.

Beberapa kali Ryan memastikan tanggal berapa sekarang, tetapi hasilnya tetap membuatnya tercengang. Pun dengan keadaan rumahnya yang tidak sama seperti dekorasi sebelum dirinya pergi ke makam Rara. Itu adalah dekorasi rumah ketika Ryan baru pindah ke sana.

Ryan memang seorang urban yang ingin mencapai cita-citanya menjadi seorang pemain film. Padahal dia adalah anak orang terkaya di desanya, tetapi Ryan ingin menikmati hidup yang sesuai dengan panggilan jiwa. Berbekal alasan kuliah di ibukota, Ryan ikut dengan Dania. Namun, dia tidak mau tinggal serumah dengan sepupunya itu karena ingin bebas. Ryan malah lebih banyak menggunakan waktunya untuk melakukan casting film dan menjadi figuran di beberapa film televisi.

Ryan bahkan pernah cuti kuliah dengan alasan sibuk bermain drama. Padahal, dia hanya berperan sebagai figuran saja. Sang papa tidak bisa berbuat apa-apa karena Ryan terkenal sebagai anak manja. Ryan selalu bersikap masa bodoh dengan kuliahnya.

Ryan selalu mendapatkan info tentang lowongan bermain peran melalui koneksi kakak sepupunya yang bernama Dania yang notabene seorang MUA.

Entah karena kurang beruntung atau memang tidak mahir dalam bermain drama, Ryan tidak pernah ditawari menjadi pemeran utama oleh sutradara, sehingga namanya tidak begitu terkenal dijagat maya maupun di kehidupan nyata. Namun, Ryan tidak pernah berkecil hati atau berputus asa. Dia menganggap bermain peran itu sebagai ajang bersenang-senang saja.

"Mustahil ... aku beneran kembali ke tiga tahun lalu." Ryan menyugar rambutnya kasar. Sedikit menjambak sehingga dia bisa merasakan sakit di kepalanya. Dengan begitu, Ryan yakin jika itu benar-benar nyata.

"Ah, jam pasir itu ...." Ryan langsung berlari ke luar rumah menuju ke mobil yang terparkir di halaman. Dibukanya pintu mobil dengan kasar lalu diraihnya jam pasir yang tergeletak di atas jok mobil depan. "Apa maksudnya dengan jam pasir ini yang ikut ke zaman ini bersamaku?" imbuh Ryan sambil berpikir keras.

Kedua matanya memicing tajam memperhatikan gerakan pasir di dalamnya yang bergerak sangat lamban. "Kenapa turunnya lambat sekali," gumam Ryan semakin bingung. Semakin dia mencoba menalar, semakin tidak masuk akal.

Tiba-tiba saja selintas kejadian di makam Rara terekam di pikiran Ryan. Kejadian ketika dia menangis pilu atas kepergian Rara, termasuk janji yang dia lontarkan jika Rara bisa kembali kepadanya.

Ryan tersentak tentu saja ketika ingatan itu hilang dengan sendirinya. "Apa ini jawaban dari do'aku waktu itu? Ya, Tuhan ... apa Engkau benar-benar mengabulkan do'aku?" Ryan menengadah sambil berteriak saat mengatakan hal itu.

Beberapa detik lelaki itu terpaku, sebelum kemudian berubah menjadi orang gila yang tertawa terbahak-bahak sampai tubuhnya bersimpuh di atas tanah. Kedua tangannya masih memegang jam pasir dengan erat. Kedua matanya sampai mengeluarkan cairan bening yang menganak sungai melintasi pipi. Entah itu tangis bahagia, entah apa. Ryan tidak bisa mendeskripsikan perasaannya. Untuk beberapa saat, Ryan hanyut dalam rasa haru. Tangisnya pun mereda setelah ia sadar akan sesuatu.

"Apa Tuhan sengaja memberikan jam pasir ini sebagai penanda waktu ...?" Ryan menghentikan kata. Kedua matanya membulat sempurna dengan kilatan berkilauan terpancar bak mutiara. Seolah mendapatkan anugerah, Ryan pun kembali berkata dengan semringah, "Mungkin Tuhan menghendaki aku untuk mengubah takdir Rara di masa depan."

Helaan napas panjang pun terlontar diiringi dengan seulas senyuman. Ryan jadi mempunyai harapan untuk hidup bahagia bersama Rara. Namun, ada masalah yang harus dihadapinya sekarang. Kesan pertama mereka bertemu mungkin bisa jadi penghalang. Sepertinya Rara begitu membenci Ryan. Lalu, harus bagaimanakah Ryan agar bisa menyelamatkan nyawa gadis yang dicintainya itu?

*****

Senja menghiasi langit di ufuk barat menandakan petang sudah mendarat. Rara dan Mita pulang bersama setelah selesai lomba peragaan busana. Walaupun perlombaan itu ada sedikit masalah karena ulah Ryan, ternyata Rara tetap menjadi pemenang.

Gadis cantik itu memang tiada lawan. Gaya dan penampilannya sudah seperti model terkenal. Alhasil, kemenangan gadis itu tidak bisa dielakkan walaupun ada insiden kecil yang menjadi penghalang.

"Lo emang keren, Ra! Padahal tadi ada gangguan, tapi lo masih bisa melanjutkan lomba dengan penampilan terbaik lo," ucap Mita memuji sahabatnya.

"Iya, dong. Siapa dulu ... Rara!" Rara mengatakan hal tersebut dengan gaya angkuh yang dibuat-buat. Piala yang dia bawa dipeluk sangat erat. Kelakuan Rara tersebut membuat Mita mencebikkan bibir, tetapi tertawa setelahnya.

"Iya, iya ... lo emang jago kalau masalah fashion. Tapi sebenarnya make up lo itu yang paling mengesankan. Benar-benar cetar membahana! Gue sampe tersepona. Lo make up di salon mana?" dalih Mita setelah tawanya reda.

"Nggak ke salon, tapi di tetangga baru gue yang depan rumah. Dia jago banget make up-in orang. Gue jadi kayak Cinderella."

"Wah, kapan-kapan gue mau ke sana juga, ah. Kali aja gue bisa disulap jadi Cinderella kayak lo ...," celetuk Mita. Sejenak terdiam lalu berkata lagi seperti ada sesuatu yang terlintas di pikirannya. "Eh, Ra, gue masih penasaran, lho, sama orang gila tadi. Lo beneran nggak kenal sama dia?" Rara yang tengah berjalan kaki sontak menghentikan langkah karena Mita menghadangnya di depan.

"Udah gue bilang berkali-kali, gue nggak kenal sama dia." Rara menjawabnya sambil menyerobot tubuh Mita dan membuka jalannya kembali seperti tidak peduli. Mita pun segera mengejar lagi.

"Tapi tadi gue lihat dia kayak yang serius banget, lho, Ra. Gue lihat nyampe nangis juga." Kali ini Mita berkata sambil berjalan di samping Rara sambil menggandeng tangannya.

"Bodoamat. Emangnya gue pikirin."

Rara tetap melangkah santai seperti tanpa beban. Padahal dalam hatinya ada sedikit rasa penasaran terhadap lelaki yang sudah memeluknya tadi. Tiba-tiba saja bayangan kejadian di panggung tadi melintas di pikirannya. Rara mengingat tatapan Ryan yang begitu dalam ketika sejenak mereka beradu pandang.

Sorot matanya tersirat penuh arti. Butiran bening yang berkelipan di bola matanya menandakan sesuatu telah terjadi. Entah itu apa. Rara juga ingin bertanya, tetapi dia berpikir apa untungnya buat dia. Jadi, lebih baik menganggapnya sebagai orang gila.

"Ra, lo mau ke mana?" Pertanyaan Mita mengembalikan pikiran Rara ke tempat semula.

"Mau pulang, lah," jawabnya enteng.

"Lah, itu rumah lo udah kelewat. Lo mau pulang ke rumah gue?"

Rara sedikit tersentak. Arah pandangnya mengikuti arah tangan Mita yang menunjuk ke arah yang berlawanan dengan tempatnya sekarang. Rara pun tersadar jika dirinya sempat melamun sejenak. Namun, gadis itu berkelit agar tidak ketahuan oleh Mita.

"Tadinya gue mau nganterin lo dulu, tapi nggak jadi, deh. Gue capek," ujarnya sambil melepaskan tangan Mita yang masih menggandeng tangannya.

"Dih ... ga jelas banget!" Mita berkata sambil mengernyitkan kening. Menatap punggung Rara sampai menghilang di balik pintu pagar rumahnya.

Rumah mereka memang berada di gang perumahan yang sama. Setiap hari mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama dengan berjalan kaki ke jalan raya, lalu naik angkutan umum dari sana.

...----------------...

......To be continued .... ......

Terpopuler

Comments

wulandari Lidya

wulandari Lidya

mungkinkah RYAN disuruh untuk mengubah masa lalunya🧐🧐

2024-11-21

0

wulandari Lidya

wulandari Lidya

😭😭😭 coba diinget inget baik

2024-11-21

0

wulandari Lidya

wulandari Lidya

pantesan Rara masih sekolah. jadi ini kembali ke masa lalu

2024-11-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!