Bab 12. Membuat Jatuh Cinta

...----------------...

Denting suara jam menjadi melodi yang terdengar hambar di ruangan kecil dengan minim pencahayaan. Ryan duduk di tepi ranjangnya sambil memegang jam pasir misterius yang membawanya ke masa silam.

Sorot matanya begitu sedih. Suasana hati Ryan sedang melow hari ini. Perkataan Rara yang terdengar begitu membenci Ryan adalah pemicu kesedihannya. Mendadak hidup di kesempatan keduanya itu terasa begitu hampa. Datang ke dunia yang sama untuk kedua kalinya itu jadi terasa sia-sia. Buat apa dia hidup kembali, jika orang yang dahulu mencintainya itu malah berbalik membenci.

"Aku harus bagaimana agar bisa membuatmu jatuh cinta padaku lagi, Ra? Aku nggak tahu apakah kita masih punya waktu yang cukup untuk meraih kebahagiaan itu. Kenapa kamu berubah pikiran, sih? Padahal, dahulu kamu langsung jatuh cinta padaku pada pandangan pertama. Apa mungkin ... karena kesan pertama kita kurang menyenangkan? Ah ... yang benar saja! Kalau aku tahu sedari awal, aku bisa kembali ke masa lalu, mungkin aku nggak akan melakukan hal sekonyol itu."

Ryan mendessah frustrasi ketika mengingat momen itu kembali. Rasa kesal dan malu menerjangnya hampir bersamaan. Ryan menyesal kenapa waktu dia langsung bertindak gegabah. Namun, Ryan tidak sepenuhnya salah. Wajar saja jika dia langsung tantrum ketika melihat cintanya yang sudah meninggal dunia itu berdiri lagi di hadapannya. Lalu, siapa yang harus disalahkan sebenarnya?

Helaan napas kasar pun terlontar ke udara, lantas jam pasir itu disimpan di atas meja. Setelah itu, Ryan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa lelah dalam diri dan pikirannya mulai menerjang. Ryan pasrah akan ke mana takdir membawa cintanya melangkah?

*****

Tanpa terasa waktu terus berputar, tetapi hubungan Rara dan Ryan masih saja hambar. Namun, Ryan tidak akan pernah gentar. Walaupun Rara masih suka bersikap kasar, lelaki itu akan membalasnya dengan hati yang sabar.

Pagi sekali Ryan sudah kembali sehabis lari pagi. Peluh di dahinya menjadi saksi jika pria itu terlihat lelah sekali. Di saat yang sama Rara tengah menyapu di halaman rumah. Ini adalah hari Minggu. Keluarga Rara selalu melakukan kerja bakti di sekitar rumahnya di hari itu.

"Selamat pagi. Rajin banget, sih. Pagi-pagi udah nyapu," sapa Ryan seperti biasanya dengan ramah. Namun, respon Rara malah sebaliknya. Perempuan itu masih saja ketus dan langsung memalingkan muka.

"Iya, dong. Memangnya situ pagi-pagi udah kelayapan," sindir Rara.

Ucapan Rara sama sekali tak menyulut emosi Ryan. Sepertinya telinga lelaki sudah kebal dengan kata-kata pedas sang gadis pujaan. Ryan malah sengaja sering menggoda Rara dengan sikap usilnya. Seperti sekarang, kedua kakinya dengan sengaja mengacak-acak tumpukan sampah dedaunan yang sudah susah payah Rara kumpulkan. Tentu saja gadis itu langsung melotot tajam.

"Heh, kenapa diacak-acak lagi?" sentak Rara sambil menghentakkan sapu yang dia pegang ke tanah. Emosinya meluap, tetapi tak sampai menimbulkan asap.

"Ups, aku nggak sengaja. Tadi aku lagi jalan dan nggak tahu ada sampah di depan," kilah Ryan.

Rara tentu tidak percaya. Mana mungkin sampah segitu banyaknya tidak terlihat oleh mata. Perempuan itu begitu geram sampai menggertakkan giginya. Urat kemarahan pun terlukis di kulit lehernya yang putih. Sapu yang tidak bersalah pun dicengkeram dengan kuat. Sorot matanya seperti ingin menelan Ryan hidup-hidup.

"Rasakan ini!"

Tanpa menunggu lama lagi, Rara langsung menyapu sampah dedaunan yang berserakan arah Ryan. Lelaki itu pun jadi kewalahan. Bahkan debu yang ikut tersapu membuatnya terbatuk dan sesak napas. Rara benar-benar balas dendam.

Dalam keadaan terdesak, Ryan pasti akan bertindak. Lelaki itu menggunakan handuk kecilnya untuk meraih sapu yang dipegang Rara. Alhasil, sapu itu tertarik ke arahnya berikut si empunya. Dengan sigap Ryan menangkap tubuh Rara yang hampir terjatuh ke tanah dan membiarkan tubuh gadis itu menimpa dirinya.

Untuk beberapa saat, waktu seperti bergerak lambat. Keduanya sama-sama terpaku dengan jarak yang sangat dekat. Ryan bahkan bisa menyaksikan pantulan wajahnya di bola mata Rara yang beriris pekat.

Embusan angin dengan lancangnya mengurai rambut Rara sehingga beberapa helai di antaranya menghalangi wajah gadis itu. Tak tinggal diam, tangan Ryan langsung terulur hendak menyelipkan anak rambut yang terjuntai itu ke belakang telinga Rara. Namun, bukannya berakhir di sana, lelaki itu malah mengangkat kepalanya untuk mengikis jarak di antara wajah mereka.

Pandangannya tak luput dari benda kenyal yang terlihat ranum berwarna merah muda. Warna alami untuk bibir remaja belia. Semakin terangkat maka semakin dekat. Rara masih diam saja seolah terhipnotis sesaat.

"Kak, ini kantong sampahnya."

Suara Rendi membuat suasana romantis itu sontak menguap ke udara. Otomatis menggagalkan upaya Ryan untuk mencium pujaan hatinya. Keduanya pun jadi kelabakan dan salah tingkah. Mereka langsung berdiri dan merasa malu di depan anak kecil itu.

Akan tetapi, Rendi—si anak dingin seperti tidak melihat hal yang aneh dengan kelakuan kakaknya. Anak kecil itu langsung melengos pergi ke tempat kerjanya semula, sebelum disuruh sang kakak untuk mengambil kantong sampah. Yakni mencabuti rumput liar di pekarangan rumah.

Rara yang sudah tidak aneh dengan sikap adiknya itu langsung berpura-pura membantu, sedangkan Ryan masih diam terpaku. Selama ini, ia memang jarang berkomunikasi dengan Rendi—si pendiam itu. Namun, dia tidak menyangka jika anak itu sedingin salju.

...****...

...To be continued...

Terpopuler

Comments

angie widya

angie widya

hadeuhhhh
drama indihe meregehese 🤣🤣🤣

2024-10-19

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!