Bab 9. Kesempatan Kedua

...----------------...

Sinar mentari menyapa di ufuk Timur. Ini adalah pagi pertama bagi Ryan ketika membuka matanya di rumah kontrakan baru. Ryan merasa sedikit tidak nyaman dengan kondisi rumahnya. Kondisi rumah itu memang jauh berbeda dengan rumah sewanya yang pertama.

Akan tetapi, Ryan harus bertahan demi Rara. Dia tidak boleh mengeluh jika tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya.

Pagi ini Ryan harus ke tempat syuting. Ada job menjadi figuran yang harus dia ambil. Pagi sekali dia sudah bersiap dan sekarang tengah duduk di kursi teras rumahnya sambil meminum kopi. Pandangannya lurus ke depan memperhatikan rumah yang berada di seberang rumah Rara.

Ryan mengubah posisi duduknya menjadi duduk tegak. Kedua matanya terbelalak ketika melihat seorang perempuan yang keluar dari rumah yang sedang dia perhatikan itu. Seorang perempuan berwajah cantik dengan balutan pakaian daster sederhana. Walaupun tak memakai riasan apa-apa, aura kecantikan perempuan itu seolah mengalahkan indahnya sang surya.

Dialah perempuan yang bernama Lilis. Perempuan yang pernah singgah di hati Ryan, tetapi ternyata hanya sebuah kesalahan. Betapa tidak, perempuan itu sudah mempunyai pasangan. Beruntung sekarang Ryan sudah sadar walaupun ia harus terlambat mengakui jika cintanya sudah berpaling pada seorang Rara.

Ryan melangkahkan kakinya mendekati gerbang. Dia ingin menyapa. Perempuan itu sedang menyiram tanaman di depan rumahnya. Namun, baru saja Ryan mencapai gerbang rumah Lilis, langkahnya terhenti ketika melihat seorang lelaki keluar dari rumah itu. Ryan mengenalnya, namanya Liam.

Tubuh Ryan sontak kaku ketika tatapannya bertemu dengan tatapan lelaki itu. Seketika dia linglung harus berbuat apa, lalu kakinya mengajak mundur satu langkah.

"Lis, masuk!"

Ryan bisa mendengar dengan jelas suara ketus yang dilayangkan lelaki itu untuk istrinya.

Akan tetapi, istrinya malah berkata, "Mau ngapain? Kan, Lilis baru mulai nyiram tanamannya."

"Kalau dibilangin sama suami itu harus nurut. Nggak usah banyak ngebantah."

"Ih, kalau kayak gini aja bilangnya 'suami'. Giliran Lilis minta disentuh nggak pernah dikasih."

Tawa Ryan hampir meledak mendengar Lilis berkata demikian. Perempuan itu seperti tidak ada urat malunya pada suami sendiri. Padahal suaminya itu jutek sekali. Ya, begitulah Lilis yang dikenal Ryan. Kepolosannya sungguh tidak diragukan. Ryan masih bergeming di tempatnya hingga suami istri itu masuk ke dalam rumah.

"Ngapain lo di situ?"

Ryan tersentak lalu menoleh pada seseorang yang bertanya kepadanya dari arah belakang. Dia adalah Rara yang keluar sudah memakai baju seragam.

"Ternyata hobi lo emang aneh, ya. Selain suka meluk orang asing, juga suka menatap istri orang lain."

Belum sempat Ryan menjawab, Rara sudah melanjutkan kalimatnya. Sejak Ryan berjalan menuju pintu gerbang, gadis itu sudah memperhatikan dari belakang. Dia yang baru keluar rumah sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan Ryan.

Ryan merasa Rara sudah salah paham lagi kepadanya. Lelaki itu kemudian maju mendekati gadis tersebut. "Kamu itu salah paham. Aku bukan orang yang seperti kamu pikirkan," ujarnya membela diri.

"Lalu seperti apa? Lo juga mau bilang kalau istri tetangga gue itu adalah orang yang lo kenal? Sama kayak yang lo lakukan ke gue di sekolah waktu itu. Lama-lama lo nakutin juga, ya. Lo bisa jadi pengaruh buruk di lingkungan ini. Harusnya gue nggak biarin lo tinggal di sini. Gue harus bilang ke ibu tentang kelakuan lo kali ini. Biar lo diusir."

Rara mundur beberapa langkah merasa takut dengan Ryan. Tubuhnya hendak berbalik, tetapi tangan Ryan dengan cepat menangkap lengan gadis itu.

"Tunggu, Ra! Aku bilang kamu salah paham."

"Lepasin atau gue teriak!" Rara mengancam, tetapi tangan Ryan masih tetap menahan.

"Aku bisa jelasin."

Ryan memelas dengan memasang wajah sendu. Sejenak, Rara terpaku. Merasa terkesima dengan ketampanan lelaki itu. Namun, ketika akal sehatnya kembali perempuan itu pun menepis tangan Ryan dengan kasar. Ia pun terbebas dan menatap Ryan dengan tajam.

"Aaaah ... Rara ....!"

"Ibu?"

Rara dan Ryan tersentak bersamaan ketika mendengar suara jeritan dari dalam rumahnya. Keduanya langsung berlari ke dalam rumah dan melupakan masalah mereka sejenak. Dalam keadaan darurat seperti itu, mereka terlihat begitu kompak.

"Ada apa, Bu?" Rara yang sudah berada di dalam rumah langsung bertanya. Di sana juga sudah ada ayah dan adiknya ikut terkejut mendengar teriakan Salma.

"Ini, lho. Kucing kamu gangguin ibu." Aji yang menjawab itu.

"Dih, kirain ada apa." Rara mendengkus, tetapi helaan napas lega terlontar dari hidungnya. Sebelah tangannya mengusap dada. Meski kesal, gadis itu merasa lega karena ibunya baik-baik saja.

Rara lekas mengambil alih kucing yang digendong oleh Aji. Tentu saja sambil mendengarkan sang ibu mengomel lagi.

"Ibu kan udah bilang, jangan sampai kucing itu gangguin ibu! Belum juga kamu berangkat sekolah, tapi dia udah berkeliaran aja!"

"Iya, maaf. Namanya juga kucing."

"Ibu nggak mau tahu. Bawa pergi kucing itu!"

"Tapi Ibu udah ngizinin dia tinggal di sini."

Suasana pagi itu sedikit tegang dengan perdebatan ibu dan anak tersebut. Rara bersikeras begitupun ibunya.

"Udah, ah, jangan ribut! Apalagi di depan Nak Ryan. Malu-maluin aja." Aji menengahi keduanya dan mereka pun sontak terdiam, tetapi saling menatap tajam.

Ryan sedikit bingung hendak melakukan apa. Keluarga Rara begitu harmonis dengan cara mereka. Terkadang mereka akur dan kompak, lalu tiba-tiba bertengkar secara mendadak.

"Ehm ... bukannya kucingnya mau dititipin di rumah aku? Jadi, 'kan?" Rara menoleh pada Ryan yang bertanya demikian. Gadis itu sedikit ragu karena tadi sempat mau mengusir lelaki itu.

"Jadi," ucap Rara ketus lalu melangkah pergi, "tunggu sebentar! Aku mau ngambil bak pasir sama makanannya di kamar," imbuhnya kemudian.

Ryan mengulas senyuman karena sepertinya ancaman Rara tidak akan terjadi selama kucing itu masih ada di sini. Kini, dia harus berbuat sesuatu untuk membuat citranya baik di depan Rara lagi. Lelaki itu tidak boleh melakukan cela untuk kesekian kali.

*****

Pukul 09.00 WIB Ryan sudah selesai syuting. Dia pun hendak pergi ke kampus. Tahun ini, seharusnya dia mengambil cuti. Namun, karena Ryan melakukan distorsi waktu dari masa depan, lelaki itu akan mengubah keadaan.

Ryan tahu masa depannya di dunia perfilman tidak akan berjalan lancar. Oleh karena itu, Ryan ingin lebih fokus lagi dengan kuliahnya. Lelaki itu ingin menata masa depannya agar menjadi lebih baik lagi. Kesempatan kedua yang diberikan oleh Tuhan ini tidak boleh menjadi sia-sia karena mungkin saja kecelakaan waktu itu juga membuatnya mati muda.

Dengan langkah gontai Ryan menuju parkiran mobilnya. Namun, belum sampai ke tempat tujuan, iris pekat Ryan menangkap seseorang yang dia kenal memasuki sebuah gedung bersama dengan beberapa orang yang lainnya.

"Rara? Ngapain dia di area syuting di jam sekolah?"

Ryan terkejut tentu saja. Lelaki itu langsung mengambil langkah panjang untuk mengejar perempuan itu. Namun, terlambat karena belum sampai Ryan menggapai Rara, pintunya langsung ditutup oleh penjaga.

"Aku nggak bisa biarin dia berkeliaran di tempat ini. Bagaimana jika dia bertemu dengan Danang? Tapi ...." Ryan berpikir sejenak sambil terus berjalan, "hari ini bukanlah hari kejadian itu terjadi. Apakah aku melewatkan sesuatu? Apa mungkin Rara pernah ke sini sebelum kejadian itu?"

...----------------...

...To be continued...

Jangan lupa cek novel keren di bawah ini juga, ya

Terpopuler

Comments

Desiana Lesta

Desiana Lesta

Sebaiknya harus hati hati Ryan. Mending biarin ajah. Takutnya gara-gara kamu nanti ada yang keubah sesuatu cerita masa lalumu 😰😰 kamu ubah dibagian yang kurang baik ajah

2024-11-21

0

Desiana Lesta

Desiana Lesta

susah juga ya posisi Ryan. Tapi mending ikutin arus kehidupan dulu ga sih. biar ga disangka orang aneh terus 😰

2024-11-21

0

angie widya

angie widya

awal mula ketemu danang ya

2024-10-15

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!