Bab 18. 'Orang Dalam'

...----------------...

Malam begitu terang karena cahaya rembulan. Senyuman yang mengembang selalu terpancar dari bibir Ryan. Lelaki itu merasa senang setelah berhasil menyatukan dua insan yang selama ini tidak pernah mau jujur mengungkapkan perasaan.

Kini, sudah saatnya Ryan melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Sudah beberapa bulan lamanya dia kembali ke masa lalu, tetapi hubungannya dengan Rara masih saja begitu. Tak ada kasih sayang apalagi kemesraan. Yang ada selalu salah paham.

Ryan memarkirkan mobilnya di halaman rumah, berbarengan dengan keluarnya Rara dari pintu rumahnya. Gadis itu keluar menggunakan piyama. Lampu mobil Ryan menyoroti tubuh Rara dengan sempurna. Sekali lagi, Ryan begitu terpesona dengan kecantikan gadis itu. Cinta memang selalu membuat seseorang yang biasa pun terlihat seperti ratu.

"Silau, woy!"

Teriakan Rara mengembalikan pikiran Ryan yang sempat melayang ke negeri tetangga. Lelaki itu pun langsung mematikan mesin mobilnya. Lampu mobil pun ikut padam juga. Gegas, Ryan turun dari dalam sana lalu mendekati Rara.

"Kamu mau ke mana?" tanya Ryan.

"Mau ke warung, beli sabun."

"Boleh aku ikut?"

"Mau ngapain?"

Rara berjengit sambil memicing tajam. Dia tahu jika lelaki itu pasti hanya modus saja.

"Ehm ... aku juga mau beli sesuatu di warung, sekalian nganterin kamu," ucap Ryan sambil menunjukkan deretan giginya yang putih.

Rara berdecih tidak percaya. "Sini aja uangnya! Biar aku yang beliin." Rara menadahkan sebelah tangannya untuk meminta uang. Namun, Ryan tidak mau merepotkan.

"Eh, aku nggak mau ngerepotin kamu. Biar aku aja yang beli."

Rara terdiam sejenak lalu menarik salah ujung bibirnya ke atas. Senyuman miring mengiringi trik liciknya kali ini.

"Kalau gitu aku aja yang nitip beliin sabun, ya! Aku tunggu di sini. Males juga jalan ke warung depan," ucap Rara sambil menyodorkan selembar uang 10 ribuan.

Tentu saja Ryan tidak senang. Ia pun menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.

"Ya udah sini!" Ryan masih mencoba sabar, walaupun lelaki itu kesal ketika menarik uang dengan sedikit kasar. Ryan pun melangkah pergi, tetapi urung karena Rara berkata lagi.

"Aku cuma bercanda. Ayo, pergi bareng!"

Kedua sudut Ryan tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman, kemudian langsung berbalik badan. Dia senang karena sikap Rara mulai lembut kepadanya. Ryan merasa Rara-nya yang dahulu sudah kembali. Rara yang lembut dan baik hati.

"Aku tahu," ucap Ryan tersenyum begitu tampan.

Kedua mata Rara seperti tertusuk ribuan cahaya ketika wajah Ryan yang tersenyum begitu menawannya. Ketampanannya kian terpancar diterangi sinar rembulan. Astaga, tanda apakah gerangan?

"Ehem ...."

Rara seperti tersedak ludahnya sendiri. Tenggorokannya terasa kering ketika pikirannya terjaga kembali. Perempuan itu pun pura-pura tersedak lalu berdehem sekali.

"Kenapa? Mau minum dulu?" tanya Ryan sedikit khawatir.

"Nggak apa-apa. Cuma keselek nyamuk aja," kilah Rara dan Ryan pun tertawa.

"Bisa gitu, ya, nyamuk masuk ke tenggorokan kamu tiba-tiba. Coba liat!"

"Apa, sih! Jadi ke warung nggak?"

Rara langsung menghindar ketika Ryan hendak memeriksa mulutnya. Tentu saja Ryan hanya bercanda. Lelaki itu sangat suka menggoda Rara. Terlebih, ketika ia melihat semburat merah yang merebak di pipi sang gadis. Sinar rembulan membuat biasnya terlihat lebih kontras.

Setelah tersenyum puas, Ryan melebarkan langkah untuk mengejar Rara yang sengaja mendahuluinya. Kini, tubuh mereka sejajar, berjalan berdampingan di sebuah gang padat permukiman.

"Malam ini bulannya cantik, ya? Sama kayak kamu. Cantik banget malam ini." Ryan memulai perbincangan mereka dengan gombalan.

Rara sedikit tersanjung, tetapi gadis itu terlalu malu untuk mengakuinya. "Enak aja disamain sama bulan ...." Rara berhenti, lalu berdiri di hadapan Ryan, "apa kamu nggak tahu bentuk bulan yang sebenarnya kayak gimana? Bulan itu terbentuk dari beberapa unsur senyawa; oksigen, silikon, magnesium, besi, kalsium, aluminium, kromium, titanium, dan mangan. Senyawa yang terbanyak adalah logam. Bentuk permukaannya juga nggak rata karena sebagai besar adalah dataran tinggi yang dipenuhi kawah.

"Jadi, bisa-bisanya kamu nyamain muka aku kayak gitu. Memangnya mukaku terlihat seperti itu di mata kamu?"

"Wah, bener-bener anak IPA. Kamu tahu banget tentang bulan. Aku malah baru tahu. Pinter banget, sih, kamu." Ryan melongo takjub mendengar penjelasan Rara tentang benda bulat yang sedang mereka perbincangkan. Padahal, bukan reaksi tersebut yang diinginkan Rara.

"Aku juga cuma tahu itu aja. Nggak usah natap aku kayak gitu!"

Seperti kehilangan muka, Rara kembali dibuat salah tingkah karena ditatap sedemikian rupa. Ryan menatapnya begitu dalam dengan tatapan penuh damba.

"Ah, udahlah. Kamu mau lanjut ke warung nggak?" Rara yang tadinya ingin memojokkan Ryan malah terpojok sendiri hanya dengan tatapan mata lelaki itu. Hal itu sungguh membuatnya malu.

Setibanya di warung Rara langsung membeli sabun, sedangkan Ryan hanya membeli beberapa cemilan karena kendatinya itu hanya sebuah alasan agar bisa jalan berdua bersama Rara.

"Kamu sering ngemil malam-malam? Nggak takut badannya melar? Kamu kan artis," tanya Rara pada Ryan sambil berjalan menuju pulang ke rumahnya lagi.

"Cuma sekadar figuran sih nggak apa-apa melar juga. Lagian kayaknya aku mau nyerah aja. Main film bukan bidang aku."

"Loh, kenapa?" Rara berhenti melangkah dan Ryan yang berjalan di sebelahnya pun sontak berhenti juga. "Bukannya itu mimpi kamu? Kamu mau jadi artis terkenal, kan?" imbuh Rara lagi. Ryan menggeleng sebagai tanggapan.

"Dulu iya, tapi sekarang nggak. Dunia itu terlalu berbahaya untuk masa depan aku. Awalnya aku melakukannya karena coba-coba, lalu tertantang ingin menguasainya. Tapi ternyata aku memang nggak berbakat di sana. Jadi, ya, gini. Udah lama main film masih tetep jadi figuran biasa."

Rara menatap Ryan dengan tatapan iba. Sungguh sayang, jika wajah setampan itu harus disia-siakan kalau hanya dijadikan figuran.

"Gimana kalau lewat orang dalem? Kalau kamu mau, kamu bisa ngelobi sutradara."

"Maksudnya?" Kening Ryan mengernyit dalam. Emosinya langsung sensitif ketika mendengar kata 'sutradara'.

"Temanku punya sepupu temannya sutradara terkenal, namanya Danang. Dia bisa ...."

"Kenapa kamu selalu ingin berurusan dengan sutradara itu, sih? Segitunya kamu mau jadi artis?" Ryan memotong perkataan Rara sambil mencengkeram lengan atas perempuan itu. Tentu saja membuat Rara sontak membeku.

Rara mengerjap kaku. Dia terkejut dengan perubahan sikap lelaki itu. Sikap Ryan berubah drastis dari yang manis menjadi bengis. Hampir saja membuat Rara ingin menangis.

"Aku ... sakit," Rara berdesis lirih sambil menatap tangan Ryan yang masih mencengkram lengannya. Arah pandangan Ryan pun beralih juga.

"Maaf," sesal Ryan sontak melepaskan tangan gadis itu.

"Memangnya sutradara itu kenapa?" tanya Rara setelah tangannya terlepas. Namun, Ryan tak lantas menjawab karena sibuk mengatur napas.

...----------------...

...To be continued...

Terpopuler

Comments

marie_shitie💤💤

marie_shitie💤💤

dah jelaskan biar Rara tau alasan knp km g mau ad urusan m danang

2024-11-10

0

angie widya

angie widya

eng ing enggg

2024-10-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!