...----------------...
Suasana di dalam kelas begitu berisik karena gurunya tidak hadir. Sang guru ada keperluan sehingga tidak bisa mengajar seperti biasanya. Untuk gantinya, murid kelas XII IPA 4 itu diberikan tugas kelompok agar mereka tetap tenang di jam pelajaran.
Akan tetapi, sepertinya harapan guru tersebut hanyalah angan semata. Faktanya, hampir semua murid di kelas itu malah sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya ada beberapa gerintil murid yang tetap mengerjakan tugas. Mereka adalah murid teladan yang selalu mendapatkan nilai teratas.
"Heh, lo nggak ngerjain tugas?" Rara bertanya kepada Mita yang sibuk berkaca di depan cermin kecil. Kedua ujung jari telunjuknya menempel di pipi sebelah kanan. Gadis itu tengah berusaha memecahkan jerawat batu yang sangat menyakitkan.
"Ish, jangan gangguin gue! Gue lagi konsentrasi buat mecahin ini. Lagian lo kan ketua kelompoknya. Jadi lo yang harus tanggung jawab, dong."
"Eh, seenaknya aja lo ngomong. Tugas ketua itu cuma lihat hasil kerja anak buahnya aja, ya. Ngapain gue punya anak buah kalau harus kerja juga," sanggah Rara lalu merebut cermin kecil yang bersandar di tas temannya itu. "Udah gue bilang jangan suka mecahin jerawat kayak gitu! Ntar lo infeksi," imbuhnya membuat Mita sontak berdecak lalu duduk tegak.
Gadis itu memutar tubuh menghadap Rara. "Kalau nggak gue pecahin, jerawatnya bakalan beranak pinak. Nanti muka gue jadi perkebunan jerawat. Hih, nggak mau." Mita bergidik ketakutan setelah mengatakan itu.
"Filosofi dari mana, sih. Mending ke dokter kulit aja. Muka lo udah kena radiasi kayaknya."
Mita hendak menanggapi, tetapi kedatangan Heri membuat perkataannya tertelan lagi.
"Halo, cantik. Gimana tugas kita? Udah selesai?"
Heri adalah anggota kelompok tugas Rara yang lainnya. Dalam satu kelas itu mereka dibagi kelompok yang terdiri dari 3-4 orang saja. Karena IQ Rara dinilai paling tinggi di antara kedua temannya, gadis itu pun diusung sebagai ketua.
"Ini lagi cunguk satu. Abis dari mana lo? Dateng-dateng nanyain tugas udah selesai apa belum? Lo ngerjain juga nggak," sembur Rara pada lelaki yang selama ini selalu menggodanya itu.
"Aduh, Sayangnya gue. Sorry, tadi gue kebelet ke kamar mandi. Biasa, panggilan alam. Nggak bisa ditunda," kekeh Heri sambil memperlihatkannya deretan giginya yang sedikit kekuningan.
"Alasan aja lo." Rara meraup wajahnya kasar merasa kesal. Dirinya frustrasi karena merasa sial beberapa hari ini. Belum lagi masalah Ryan yang kini semakin bertingkah seenaknya. Karena perjanjian mereka, Rara jadi tidak bisa berbuat sesuatu untuk mengusir lelaki itu. Suasana hatinya benar-benar buruk akhir-akhir ini.
"Kenapa kelompok kita nggak kebagian si Wahyu aja, sih. Biar rada beneran dikit. Seenggaknya otaknya paling encer di kelas ini," ucap Rara lagi. Pandangannya tertuju pada murid laki-laki yang selalu menjadi juara pertama yang bernama Wahyu. Walaupun penampilan laki-laki itu terlihat cupu, kepintarannya adalah nomor satu. Benar saja, murid teladan itu terlihat begitu serius mengerjakan tugasnya di saat anggota kelompok lainnya berleha-leha. Rara jadi iri karenanya.
"Udah, terima aja nasib kita. Emang si Heri yang paling cocok buat lo."
Celetukan Mita berhasil membuat pandangan Rara langsung beralih kepadanya, kemudian kening mulus yang tertutup poni keriting itu menjadi sasaran empuk tangan Rara. "Diem lo!" sentak Rara kesal. Mita pun berhenti berkata sambil menggaruk kening yang disentil oleh sahabatnya itu.
Pandangan Rara pun beralih lagi pada Heri, lalu berkata, "Ngapain lo berdiri terus? Cepetan duduk! Bentar lagi jam pelajarannya selesai. Bisa gawat kalau tugasnya belum kelar."
Pemuda itu kemudian memepet tubuh Rara hingga tubuh gadis itu bergeser sedikit. Tanpa rasa malu, Heri langsung duduk satu kursi dengan Rara.
"Ngapain lo duduk di sini?" sentak Rara lagi. Matanya melotot tidak suka, sedangkan Mita kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda setelah berhasil mendapatkan cermin secara diam-diam dari tangan Rara. Tidak peduli dengan drama cinta antara kedua sahabatnya.
"Katanya disuruh duduk."
"Hih, bukan di sini. Minggir lo!"
Tubuh Heri langsung terpelanting ke samping dan jatuh ke lantai karena mendapatkan dorongan extra kuat dari Rara. Gadis itu langsung memosisikan duduknya di tengah-tengah agar Heri tak lagi punya celah.
"Maksud gue ambil kursi lo!" titah Rara kemudian. Walaupun hatinya sedikit menyesal, tetapi Rara pura-pura tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakan oleh temannya itu. Takutnya pemuda itu akan kege-eran.
"Jahat banget!"
Heri mengambil kursinya lalu menempatkannya di samping meja Rara. Pemuda itu duduk dengan wajah memberenggut, tetapi dalam hatinya tidak pernah membenci kelakuan Rara tersebut. Rasa suka Heri terlalu besar sehingga bisa menahan segala perlakuan kasar yang gadis itu lakukan selama ini.
"Ini lagi. Ngerjain tugas, woy!" Perhatian Rara kembali pada Mita, membuat sahabatnya itu langsung bersikap siap siaga. Cermin di hadapannya pun langsung dimasukkan ke kolong meja. Kepala Rara menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan kedua temannya.
****
Pukul 2.00 siang sudah saatnya pulang. Hari ini tidak ada jadwal ektra kurikuler atau jam tambahan sehingga murid kelas tiga SMA itu bisa pulang lebih awal.
Akan tetapi, tugas kelompok tadi belum selesai dikerjakan. Alhasil, itu menjadi pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan esok harinya. Kelompok Rara pun sepakat untuk mengerjakan tugas tersebut di rumah Rara. Walaupun Rara menolak, kedua temannya itu terus mendesak. Rara pun merasa terjebak.
"Ibu mana, Ren?" Rara bertanya kepada adiknya yang sedang duduk sambil membaca buku di kursi teras rumahnya.
"Belanja," jawab Rendi.
"Kalau bapa?"
"Bapa ke Kantor Desa."
Rara menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan dari jawaban Rendi. Kedua teman Rara pun menyapa anak kecil tersebut, lalu Rara mempersilakan keduanya duduk.
"Gue ambil minum sama cemilan dulu, ya. Kita ngerjain tugasnya di sini aja," ucap Rara lalu masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian dia kembali sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
Sang adik yang tidak terbiasa dengan banyak orang pun merasa terganggu. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
"Gue boleh minta esnya agak banyakan nggak, sih? Pengen yang agak sejuk gitu, panas banget hari ini," pinta Heri tiba-tiba, tetapi Rara menanggapinya dengan pelototan mata.
"Kalau nggak ada nggak apa-apa, kok. Ini juga udah adem." Melihat tatapan Rara yang menakutkan sepertinya Heri langsung paham. Entah kenapa hari ini emosi gadis itu terus melonjak tajam. Heri berpikir jika Rara sedang datang bulan.
Untuk beberapa saat, mereka bertiga sibuk mengerjakan tugas. Di sela kesibukan mereka, kedatangan sebuah mobil avanza membuat perhatian mereka tersita. Terlebih Mita yang sampai memicingkan kedua matanya.
Gadis itu terkesiap melihat seseorang yang keluar dari mobil tersebut. "Eh, eh, itu kan ...?"
Rara menghela menghela napasnya melihat reaksi Mita seperti itu. Hal yang ditakutkannya pun terjadi. Sudah seminggu semenjak Ryan tinggal di sini, Rara tidak pernah memberitahu sahabatnya itu.
"Bukannya dia cowok asing yang sudah mengacaukan acara lomba peragaan busana itu, ya. Kok, dia ada di sini?" Heri berucap heran. Pemuda itu langsung mengenal wajah Ryan karena dulu sudah berani memeluk sang pujaan.
"Iya, Ra. Lo jelasin sekarang! Kenapa tuh cowok ganteng bisa mendarat di rumah lo?" desak Mita, membuat Rara harus menenggak saliva. Apalagi ketika melihat Ryan malah melangkah mendekati mereka. Habislah dia, jika Mita tahu lelaki itu adalah tetangganya.
...----------------...
Bulan bersinar cerah di malam tanggal empat belas. Dedaunan terlihat gemulai diterpa angin yang berembus. Ryan tengah asyik duduk sendirian di teras depan rumahnya sambil menatap langit malam. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Walaupun dia tahu apa yang dilakukannya itu tidaklah benar. Udara yang dia hirup di malam hari adalah karbondioksida, tentu sangat tidak baik untuk kesehatannya. Namun, karena momen itu terlalu indah baginya, tidak salah jika dia melakukannya sekali saja.
"Hai."
Kedua mata Ryan yang semula terpejam sontak terbuka. Kepalanya langsung menoleh pada orang yang menyapanya. Dialah Rara.
"Ya ... hai, juga." Ryan jadi salah tingkah. Untuk pertama kalinya Rara bersikap manis kepadanya. Biasanya, perempuan itu selalu memasang wajah ketus.
Kali ini sikap Rara memang terlihat sangat berbeda. Dia menghampiri Ryan dengan anggunnya. Kedua tangannya mengepal di depan seperti malu-malu kucing. Sungguh imut dalam pandangan Ryan.
"Ada perlu apa?" Ryan memberanikan bertanya karena dalam beberapa detik, Rara terlihat diam saja. "Mau duduk?" tanyanya lagi.
Padahal Ryan hanya basa-basi, tetapi tak disangka Rara malah menuruti. Gadis itu duduk tepat di sebelah Ryan. Padahal, biasanya tidak pernah mau jika disuruh bersebelahan.
Jangan ditanya bagaimana kabar jantungnya Ryan. Jika saja Tuhan tidak membungkusnya dengan sempurna di dalam rongga dada, mungkin saja jantung itu sudah melesak ke udara.
"Gue ... eh, aku mau tanya sesuatu. Boleh?"
"Boleh. Tanya apa pun boleh."
Ryan begitu bersemangat, apalagi kini tubuh mereka berhadapan dengan jarak yang agak dekat.
"Kamu, kan, udah jadi bintang film sekarang. Aku boleh minta tolong dikenalin sama sutradaranya, nggak? Kali aja—"
"Nggak boleh!"
Raut wajah Ryan langsung berubah drastis setelah mendengar permintaan Rara. Gadis itu pun sedikit terlonjak saking kagetnya.
"Kenapa nggak boleh?" Tentu saja Rara merasa aneh.
"Pokoknya nggak boleh."
Ryan memutar tubuhnya menghadap ke arah lain. Demi apa pun dia sangat kesal dengan permintaan pujaannya itu. Gila saja jika dia mau membantu. Sudah susah payah sampai harus kembali ke masa lalu untuk membuat Rara dan Danang tidak bertemu. Sekarang, gadis itu malah mengajukan diri ingin bertemu dengan lelaki itu.
"Heh, gue tahu maksud lo apa. Bilang aja lo nggak mau kesaingan sama gue, kan? Ngaku aja lo! Udah capek-capek gue bersikap manis, ternyata nggak ada hasilnya. Dasar egois!"
"Loh, kok, jadi lo gue lagi?" Ryan terkejut tentu saja. Tubuhnya kembali menghadap Rara. "Bukan itu alasannya," tambahnya hendak menyentuh tangan Rara, tetapi gadis itu langsung menepisnya lalu berdiri dengan tampang penuh emosi.
"Apa? Lo mau ngadu sama ibu? Ngadu aja sana! Gue nggak peduli! Kalau emang lo nggak bisa bantu gue nggak apa-apa. Gue bisa sendiri kalau gue mau jadi artis."
Setelah berkata seperti itu, Rara pun pergi meninggalkan Ryan yang masih bergeming tak mengerti. Kenapa keadaannya bisa seperti ini?
***
Begitulah kilas balik yang membuat mood Rara tidak baik-baik saja hari ini. Semalam, Ryan sudah membuatnya kesal setengah mati.
Mengingat itu, Ryan sempat ragu untuk menampakkan wajahnya di depan Rara. Namun, demi misinya, dia harus bermuka tebal. Apa pun yang dilakukan Rara, lelaki tidak akan pernah gentar.
"Hai, semua." Ryan menyapa Rara teman-temannya.
"Hai juga." Hanya Mita yang membalas sapaan pria itu. Rara dan Heri memasang wajah ketus.
"Ngapain, sih, ke sini? Sana pergi!"
Sebelum Ryan lebih dekat dengan mereka, Rara terlebih dahulu menghampirinya. Lelaki pun tertahan sebelum kakinya menginjak teras depan rumah Rara.
Tentu saja Ryan tidak paham dengan maksud Rara. Niat hati hanya ingin menyapa, tetapi Rara bersikap seolah dirinya adalah pengganggu tak ubahnya seperti hama.
"Kenapa, sih? Abang kan cuma mau nyapa teman-teman kamu. Kalian lagi belajar kelompok, kan?" Ryan bertanya seperti itu karena melihat beberapa buku di atas meja.
"Gue bil—"
"Kamu masih marah soal semalam?" Ryan memotong perkataan Rara sambil memiringkan kepala. Raut wajahnya dibuat sendu dan menyesal.
"Iya, makanya lo cepet pergi dari sini!" Rara mengusir Ryan lagi. Namun, lelaki itu tak bergeming sama sekali.
"Aku mau ke mana? Rumahku, kan, di sini."
"Ra ...."
Rara terperanjat ketika Mita memanggilnya. Terlalu lama mengobrol dengan Ryan membuat gadis berambut keriting itu jadi curiga. Gadis itu pun memutar tubuhnya menghadap Mita, lalu berdehem sekali agar kegugupannya tidak kentara.
"Iya, kenapa? Lo butuh minum lagi?" tanyanya mengalihkan perhatian Mita.
Akan tetapi, gadis keriting itu malah bangkit dari duduknya. Kedua matanya memicing tajam penuh rasa penasaran. Tatapannya tertuju pada Ryan yang sedari tadi mengulas senyuman.
"Mit, gue bisa jelasin ...."
Suara Rara tertahan di balik telapak tangan Mita yang membungkam wajahnya. Gadis itu mundur beberapa langkah karena Mita mendorongnya dari sana. Kini, sahabatnya itu sudah berdiri tepat di hadapan Ryan. Kedua matanya mengerjap kaku, berusaha meyakinkan diri jika lelaki di hadapannya itu adalah Ryan yang dia tahu.
"Ada apa? Kenapa lihatnya kayak gitu?" tanya Ryan tanpa rasa bersalah. Wajah polosnya itu sangat menyebalkan di mata Rara. Dia tidak tahu saja jika sahabatnya itu sudah marah, hancurlah kamar mandi dan isinya.
"Kamu beneran cowok yang dulu meluk Rara di panggung itu, kan?" Pertanyaan itu sedari tadi Mita ingin dilontarkan. Ryan pun mengangguk mengiyakan.
"Bukannya kalian nggak saling kenal?"
Ryan mengerjap bingung. Dia tidak mengerti ke mana arah pertanyaan Mita, lalu memutuskan untuk diam saja.
"Bisa jelasin kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Mita lagi. Rara hendak menjawab, tetapi Mita masih tak mengizinkan gadis itu untuk berbicara.
"Aku tinggal di situ," jawab Ryan sambil menunjuk rumah yang ditempatinya.
Napas Mita mulai sesak saat itu juga. Kedua pundaknya naik turun menahan emosi dalam dada. Ternyata sahabatnya itu adalah seorang pendusta.
"Oh, jadi gitu ...." Kepala Mita berputar ke arah Rara. Sorot matanya seperti ingin menghujam mangsanya. Rara pun jadi seketika menelan saliva.
"Memangnya kamu nggak cerita ke temen kamu kalau abang tinggal di sini, Ra?"
"Hah, abang?"
Satu lagi kenyataan yang membuat Mita tersentak. Kalimat Ryan berikutnya terdengar begitu akrab dengan panggilan mesra yang dia sematkan untuk Rara. Lemas sudah kaki Rara saat ini. Pengakuan Ryan membuatnya seperti mau mati.
"Ternyata lo munafik juga, ya! Lo bilang benci banget sama orang ini, tapi sekarang malah tinggal bareng. Gimana, sih?"
"Bukan tinggal bareng, Mit. Tapi dia ngontrak di rumah sebelah."
"Kenapa lo nggak pernah cerita?" sungut Mita.
Satu alasan yang membuat Mita begitu marah karena sahabatnya itu seperti sedang mempermainkannya. Bagaimana tidak? Semenjak Mita tahu jika Ryan adalah pemain film, gadis itu pun langsung mengidolakannya. Setiap hari Rara dijejali dengan cerita tentang akting Ryan di layar televisi. Walaupun Ryan masih menjadi figuran, sosok tampannya pantas menjadi sang pujaan.
Bagaimana mungkin Rara tidak merasa geli karena orang yang disanjung-sanjung temannya itu sangat menyebalkan sekali. Jadinya, dia tidak mau Mita tahu jika Ryan tinggal di sebelah rumahnya. Bisa-bisa gadis itu akan pindah rumah juga.
"Jahat lo, Ra! Selama ini lo anggap gue ini apa, hah?"
"Tadinya gue mau cerita sekarang, tapi keburu dia datang." Rara berkilah sambil cengengesan.
Ryan sedikit tersanjung karena merasa sudah punya penggemar. Lelaki itu pun melerai pertikaian kedua gadis SMA itu. "Kamu jangan marah sama Rara! Aku yang salah karena mendadak pindah ke sini. Mungkin dia belum siap buat cerita sama kamu," kata Ryan yang sukses meredam emosi Mita yang sedang terbakar. Wajahnya yang tampan dihiasi senyuman, membuat Mita tak tahan ketika pria itu menyentuh tangannya seperti memohon minta pengampunan.
"Iya, Mit. Awalnya gue malu sampe nggak tahu harus mulai dari mana cerita sama lo tentang dia. Apalagi tiap hari lo muji-muji dia terus. Gue sampe enek dengernya. Lo tahu sendiri kalau gue gedek banget sama tuh orang. Terus tiba-tiba gue cerita kalau dia jadi tetangga gue. Lo pasti bakalan ngeledek gue abis-abisan."
Hati Ryan seolah melesak mendengar alasan kenapa Rara tidak memberi tahu temannya. Sebenci itukah Rara kepadanya? Namun, Ryan harus tetap bertahan. Dahulu, Rara-lah yang merasakan hal demikian. Sakit hati, diremehkan, dan dibenci oleh Ryan adalah makanan sehari-harinya. Namun, kala itu Rara tetap setia mengejar cintanya. Kali ini, Ryan juga harus melakukannya demi Rara.
Mita terlihat menarik napas panjang lalu mengeluarkannya kasar. Dia berpikir mereka tidak salah. Mungkin masalahnya memang ada pada dirinya yang kecewa karena baru tahu jika sang idola selama ini tinggal di lingkungannya.
"Oke, gue maafin lo." Mita akhirnya bisa menguraikan kemarahannya, lalu pandangannya beralih Ryan. "Aku juga boleh panggil 'Abang', nggak?" tanyanya dengan wajah dibuat seimut mungkin. Namun, kesannya jadi seperti orang mabuk emrin.
Sedangkan di belakang sana, Heri yang tidak diizinkan untuk ikut campur hanya bisa terdiam di tempatnya. Walaupun sebagai seorang lelaki yang menyukai Rara, tentu saja dia cemburu ketika ada pria lain yang mendekati gadis pujaannya.
...----------------...
...To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Desiana Lesta
Wkwkkwkwk
2024-11-21
0
angie widya
mendarat 😁😁
ryan pk helikopter emang ?
2024-10-17
2