Bab 3. Siapa Dia?

Dalam bayangannya Ryan pernah mengalami hal yang sama. Dalam ingatan itu, Ryan membawakan kotak make-up milik Dania juga. Hanya sekejap, ingatan itu pun kembali lenyap.

"Mbak mau masuk lagi, ya. Makasih, loh, udah dianterin." Ucapan Dania membuat kesadaran Ryan kembali.

"Tunggu, Mbak!" seru Ryan menghentikan langkah Dania.

"Ada apa?"

"Ehm ... di dalam ada acara apa?" tanya Ryan sedikit ragu. Banyaknya kendaraan yang parkir membuat Ryan yakin ada acara besar di gedung sekolah tersebut. Mungkin ia bisa mendapatkan sedikit pencerahan dari sepupunya itu.

"Tadi 'kan Mbak udah bilang sebelum minta tolong sama kamu buat nganterin kotak make-up. Di sini lagi ada acara peragaan busana hasil rancangan Miss Rani Hatta. Kamu lupa?"

Ryan berpikir sejenak lalu menyengir setelahnya. "Oh, iya. Aku lupa," ucapnya pura-pura malu.

"Kamu kenal Rani Hatta 'kan? Desainer terkenal itu," seru Dania lagi.

Tentu saja Ryan ingat nama itu. Desainer favoritnya yang cukup terkenal terutama di kalangan generasi muda. Desainer itu selalu bisa merancang desain pakaian yang styles dan fashionable. Ia mampu menghadirkan beraneka ragam tema dan inspirasi yang dituangkannya pada busana yang modern dan trendi, sehingga anak muda bisa memakainya untuk sehari-hari.

"Tentu saja kenal, tapi kenapa diadakan di sekolah? Apa nggak mengganggu kegiatan belajar siswa?"

"Ya, mungkin karena pasar dari desain pakaiannya itu untuk anak muda, tapi Mbak nggak tahu juga. Lagian ini hari Minggu, Ryan. Semua sekolah di negara ini libur semua."

"Minggu?" Ryan terkesiap mendengar itu. Lelaki itu ingat betul jika sekarang adalah hari Jum'at. Hari yang baik untuk mengunjungi makam Rara.

"Kenapa, sih, kamu jadi banyak nanya? Biasanya cuek sama kerjaan Mbak." Dania sedikit curiga dengan gelagat Ryan yang berbeda dari biasanya.

"Ah, nggak apa-apa, kok. Hari ini aku lagi pengin kepo aja sama urusan orang-orang di sekitar aku."

Dania berdecak sebal. Jawaban Ryan terdengar asal. Apalagi melihat senyuman menjengkelkan yang terbesit di bibir pemuda itu. Seperti sedang meledek Dania.

"Ya, udah. Kalau kamu mau tahu lebih banyak, mendingan ikut Mbak aja. Sekalian kamu bisa lihat hasil desainer Rani Hatta. Mbak lagi buru-buru ini," ajak Dania yang membuat Ryan sangat antusias.

"Ayo, Mbak! Aku mau lihat."

Bermodal rasa penasaran yang tinggi, Ryan pun mengikuti Dania dan masuk ke gedung sekolah.

"Selain peragaan busana oleh pada model yang disewa. Miss Rani juga mengadakan kontes perlombaan fashion show, loh, untuk para murid di sini. Mungkin itu juga salah satu alasannya kenapa fashion show ini diadakan di sekolah."

Walaupun tidak ditanya, Dania tetap menjelaskan kepada Ryan tentang kegiatan yang diadakan di sana sembari berjalan di koridor sekolah. Ryan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi perkataan Dania. Kedua matanya terus mengumpulkan informasi tentang kejadian apa yang dia alami saat ini.

"Untungnya jadwal fashion show para model dijadwalkan belakangan. Mbak masih ada waktu untuk menyelesaikan riasan mereka," ujar Dania lagi, lalu berhenti di depan pintu sebuah ruangan kelas. "Mbak mau lanjut kerja. Kalau kamu mau lihat perlombaannya ada di sana, di ruangan aula," imbuh Dania sambil menunjuk ke arah aula sekolah.

Tak banyak bicara, Ryan hanya menganggukkan kepala. Kebingungan masih menguasai otaknya. Selain mengikuti alur, dia bisa apa. Ryan seperti berada di dunia lain, tetapi anehnya orang yang dikenalnya pun ada di sana.

Langkah kakinya membawa Ryan menuju aula sekolah. Banyak sekali penonton terutama para siswa. Mereka bersorak sorai setiap ada peserta perlombaan yang masuk dan berlenggaklenggok di atas catwalk. Ryan tidak terlalu memperhatikan peserta. Kedua matanya masih sibuk mencari jawaban yang entah untuk pertanyaan yang mana.

Kebingungannya terlalu banyak. Sama banyaknya dengan pertanyaan yang menjejal di otak. Kejadian rancu yang dialaminya itu, membuat akalnya terasa buntu.

"Rara!"

Teriakan seseorang membuat kepala Ryan sontak menoleh ke asal suara. Suara itu berasal dari seorang gadis berambut ikal yang berdiri di depan panggung. Dia sedang berjingkrak kegirangan sambil mengacungkan sebuah karton berwarna putih yang bertulisan nama 'Rara' di depannya. Sepertinya dia adalah seorang siswi yang sedang mendukung temannya yang ikut lomba peragaan busana.

"Rara! Rara! Rara!"

Beberapa siswa yang lain pun ikut meneriaki nama itu. Refleks, pandangan Ryan langsung beralih ke arah panggung. Jantungnya langsung berdetak kencang. Apa mungkin Rara yang mereka maksud adalah kekasihnya? Namun, kemungkinan tersebut pastilah nihil karena Rara memang sudah meninggal dunia.

Hati Ryan langsung mengembang hanya karena mendengar nama itu. Walaupun tidak mungkin, jantungnya seperti melesat ketika langkah kaki seorang gadis mengayun lenggang dari balik layar. Kedua matanya langsung terbuka lebar. Seorang gadis cantik yang berjalan di atas catwalk itu membuat bola mata Ryan hampir keluar.

"Ra—Rara?"

Wajah gadis itu sangat mirip dengan Rara—kekasihnya. Tidak! Dia memang Rara. Wajah yang sama, tubuh yang sama, dan cara berjalan yang sama. Ryan hafal betul dengan itu semua. Lagipula semua orang di sana juga menyebutnya Rara. Ryan yakin jika perempuan itu adalah kekasihnya.

"Rara ...."

Tanpa berpikir panjang, kaki jenjang Ryan langsung melesat membelah kerumunan. Ia berlari menaiki panggung yang kini tengah diadakan perlombaan. Tak peduli jika itu hanyalah sebuah khayalan.

Dunia seolah berhenti ketika Ryan berlari. Suara riuh di dalam aula terdengar seperti melodi yang menenangkan hati. Apa pun yang akan terjadi nanti, Ryan tidak peduli. Yang terpenting kini rasa rindunya bisa terobati.

"Aku kangen sama kamu, Ra. Akhirnya aku bisa memelukmu lagi," ucap Ryan setelah berhasil merengkuh tubuh mungil di atas panggung itu.

Tak memerlukan waktu lama untuk membuat seisi ruangan terdengar bergemuruh. Imajinasi Ryan runtuh ketika tubuhnya didorong dengan kasar dan hampir terjatuh.

"Lo gila, ya! Siapa lo? Dateng-dateng meluk gue." Rara yang tidak senang langsung mengumpat kasar.

"Lo ... gue?" Ryan tercekat tentu saja. Baru kali ini dia mendengar Rara berkata kasar kepadanya.

Gadis yang berambut ikal tadi pun langsung naik ke atas panggung untuk mengamankan Rara. Memeluk gadis itu lalu menjadikan tubuhnya sebagai penjaga. Wajahnya terlihat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap sahabatnya.

"Siapa lo? Berani-beraninya meluk sahabat gue!" cecar gadis berambut ikal yang bernama Mita.

"Woy, orang gila, turun! Ngerusak acara aja." Seorang murid laki-laki pun ikut menghardik Ryan.

"Iya, ih. Siapa sih dia?" sahut yang lainnya.

Seketika Ryan pun kembali dari dunia ilusi, kemudian suara riuh yang sempat hilang itu pun terdengar kembali. Dunia yang tadinya lengang kembali ramai. Telinga Ryan pun sontak berdengung dengan sorakan semua orang. Mereka menyebut lelaki itu sebagai biang onar.

Sungguh, perbuatan Ryan memang memalukan. Di tengah keramaian dia berlari seperti orang gila, lalu memeluk Rara yang tengah melakukan lomba. Membuat semua orang bertanya-tanya. Siapakah dia?

"Pak Satpam mana, sih? Kenapa orang gila diizinin masuk ke sini?" Mita kembali berteriak histeris. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri mencari petugas security. Gadis itu seperti pahlawan yang berada di barisan terdepan untuk menyelamatkan Rara.

"Ra, kamu nggak kenal aku? Aku Ryan, pacar kamu."

"Dih, jangan ngaku-ngaku lo, ya! Gue kenal lo juga nggak," sentak Rara membantahnya.

Berbarengan dengan itu dua orang security pun tiba. Mereka langsung mengunci kedua tangan Ryan di kedua sisi yang berbeda.

...----------------...

...To be continued...

Jangan lupa cek novel keren di bawah ini juga, ya

Terpopuler

Comments

wulandari Lidya

wulandari Lidya

jadi ini Rara siapa ya 😭

2024-11-20

0

wulandari Lidya

wulandari Lidya

apakah ada berhubungan dengan hal gaib sehingga Ryan mengalami begini? aku penasaran

2024-11-20

0

wulandari Lidya

wulandari Lidya

wahh, jangan jangan Ryan ini anu

2024-11-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Janji
2 Bab 2. Dejavu
3 Bab 3. Siapa Dia?
4 Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5 Bab 5. Orang Gila
6 Bab 6. Memastikan
7 Bab 7. Penasaran
8 Bab 8. Bertetangga
9 Bab 9. Kesempatan Kedua
10 Bab 10. Panggil Aku Abang!
11 Bab 11. Merasa Sial
12 Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13 Bab 13. Bertemu Istri Orang
14 Bab 14. Gugup
15 Bab 15. Mulai Luluh
16 Bab 16. Misi Kedua
17 Bab 17. Kelar Lebih Awal
18 Bab 18. 'Orang Dalam'
19 Bab 19. Hanya Mengingatkan
20 Bab 20. Modus Doang
21 Bab 21. Saudara Kembar
22 Bab 22. Bisnis Papa
23 Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24 Bab 24. Mengusir Ryan
25 Bab 25. Hilang Sendiri
26 Bab 26. Maling Teriak Maling
27 Bab 27. Konsekuensi
28 Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29 Bab 29. Aku Pergi
30 Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31 Bab 31. Diajak Makan
32 Bab 32. Tukang Gombal
33 Bab 33. Bertemu Idola
34 Bab 34. Nostalgia
35 Bab 35. Sudah Resmi
36 Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37 Bab 37. Salah Sangka
38 Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39 Bab 39. Sudah Kecolongan
40 Bab 40. Mengancam Tuhan
41 Bab 41. Mau Nikah
42 Bab 42. Membuat Gara-Gara
43 Bab 43. Merasa Aneh
44 Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45 Bab 45. Buru-Buru
46 Bab 46. Kejutan
47 Bab 47. Berani Macam-Macam
48 Bab 48. Nggak Suka Aku
49 Bab 49. Kecewa
50 Bab 50. Prasangka
51 Bab 51. Permintaan Mama
52 Bab 52. Ke Pantai
53 Bab 53. Pulang
54 Bab 54. Bertengkar
55 Bab 55. Ikut Campur
56 Bab 56. Wejangan
57 Bab 57. Imbalan
58 Bab 58. Berwisata
59 Bab 59. Mengubah Takdir
60 Bab 60. Sudah Setuju
61 Bab 61. Mengubah Rencana
62 Bab 62. Sah? Sah!
63 Bab 63. Menyabotase
64 Bab 64. Diculik Lagi
65 Bab 65. Kecelakaan
66 Bab 66. Meninggal
67 Bab 67. Mendung Telah Pergi
68 Bab 68. Berumur Panjang (The end)
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1. Janji
2
Bab 2. Dejavu
3
Bab 3. Siapa Dia?
4
Bab 4. Tiga Tahun Lalu
5
Bab 5. Orang Gila
6
Bab 6. Memastikan
7
Bab 7. Penasaran
8
Bab 8. Bertetangga
9
Bab 9. Kesempatan Kedua
10
Bab 10. Panggil Aku Abang!
11
Bab 11. Merasa Sial
12
Bab 12. Membuat Jatuh Cinta
13
Bab 13. Bertemu Istri Orang
14
Bab 14. Gugup
15
Bab 15. Mulai Luluh
16
Bab 16. Misi Kedua
17
Bab 17. Kelar Lebih Awal
18
Bab 18. 'Orang Dalam'
19
Bab 19. Hanya Mengingatkan
20
Bab 20. Modus Doang
21
Bab 21. Saudara Kembar
22
Bab 22. Bisnis Papa
23
Bab 23. Dengan Berbagai Cara
24
Bab 24. Mengusir Ryan
25
Bab 25. Hilang Sendiri
26
Bab 26. Maling Teriak Maling
27
Bab 27. Konsekuensi
28
Bab 28. Jangan Salahkan Aku!
29
Bab 29. Aku Pergi
30
Bab 30. Tidak Bisa Bohong
31
Bab 31. Diajak Makan
32
Bab 32. Tukang Gombal
33
Bab 33. Bertemu Idola
34
Bab 34. Nostalgia
35
Bab 35. Sudah Resmi
36
Bab 36. Insiden Tabrak Lari Terjadi Lagi
37
Bab 37. Salah Sangka
38
Bab 38. Sesuatu yang Tertinggal
39
Bab 39. Sudah Kecolongan
40
Bab 40. Mengancam Tuhan
41
Bab 41. Mau Nikah
42
Bab 42. Membuat Gara-Gara
43
Bab 43. Merasa Aneh
44
Bab 44. Jangan Grasak-Grusuk!
45
Bab 45. Buru-Buru
46
Bab 46. Kejutan
47
Bab 47. Berani Macam-Macam
48
Bab 48. Nggak Suka Aku
49
Bab 49. Kecewa
50
Bab 50. Prasangka
51
Bab 51. Permintaan Mama
52
Bab 52. Ke Pantai
53
Bab 53. Pulang
54
Bab 54. Bertengkar
55
Bab 55. Ikut Campur
56
Bab 56. Wejangan
57
Bab 57. Imbalan
58
Bab 58. Berwisata
59
Bab 59. Mengubah Takdir
60
Bab 60. Sudah Setuju
61
Bab 61. Mengubah Rencana
62
Bab 62. Sah? Sah!
63
Bab 63. Menyabotase
64
Bab 64. Diculik Lagi
65
Bab 65. Kecelakaan
66
Bab 66. Meninggal
67
Bab 67. Mendung Telah Pergi
68
Bab 68. Berumur Panjang (The end)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!