Rumah Tua

Diah, Fitri, Neni, Jayan, Difan, dan Edi, mereka hanya anak kecil yang berusia lapan tahun, dan sepuluh tahun. Kelima anak kecil itu selalu bermain didepan rumah tua itu karena halamannya luas, dan juga dingin tidak panas tentu anak-anak menyukai tempat mungkin karena banyak pohon-pohon besar seperti pohon pokat, pohon duku, jambu, dan bambu.

Arisha ibu Diah tidak mengizinkan anak mereka bermain dekat rumah tua itu. Suatu hari ibu Diah mencari anaknya untuk makan siang ia sudah tau kemana anaknya pergi, Arisha pun pergi ke rumah tua itu mencari anaknya dan benar anaknya sedang bermain dengan yang lain.

“Astaga.. disini kamu nak, nggak bisa dikasih tahu. Pulang kalian semua! Ibu kalian lagi cari kalian sambil bawa kayu itu. Pulang!” Teriak Arisha sambil menarik kuping-nya sepanjang jalan.

“Mah, sakit kuping Diah. Lepasin mah,” kata Diah memohon.

“Ibu kan sudah bilang jagan main dirumah itu tapi kamu mai di situ lagi, setiap kamu main disitu kamu sakit.”

Diah selalu sakit setiap kali main dirumah tua itu, mungkin karena semangatnya lemah kalau kata orang makanya diah yang jatuh sakit. Begitulah anak-anak susah dilarang. Awalnya Diah tidak ingin pergi karena teman-temannya mengajak terus jadilah dia mau.

Saat mau tidur Arisha memperingati putrinya untuk tidak bermain lagi dekat rumah tua itu. Saat mau keluar kamar anaknya Arisha melihat ibu berhenti tepat depannya.

“Dia sudah tidur?” tanya ibu Arisha mama Diah.

“Sudah bu.”

“Ibu jadi khawatir, sepertinya ada yang aneh saja dengan Diah. Kenapa setiap Diah main di situ dia selalu sakit dan Diah selalu bilang kalau nenek itu baik.”

“Iya bu, aku pun berpikir yang sama, mana semalam dia masih sakit eh, sekarang main kesana lagi padahal aku sudah bulak balik kasih tahu Diah untuk jagan main-main disitu lagi. Aku bingung bu, mau bilang gimana lagi sama Diah biar dia gak main disitu lagi, kan gak mungkin aku pukul terus aku juga kasihan lihat dia terus nangis.”

“Ibu punya saran besok pulang Diah kita bawa ke rumah bu Juminah.”

“Ah, iya bu. Bu Juminah,” ulang Arisha.

“Nanti kamu jemput anakmu, jagan biar dia pulang sendiri.”

“Baik bu. Tapi bu, aku takut bu Jumiah tidak ada di rumah secara dia jarang dirumah karena ada saja orang minta di urut. “

“Pulang antar Diah kamu mampir kerumah bu Jumiah.”

“Baik buk, yasudah Arisha kekamar. “

“Iya ibu jug— loh? Diah, cucu nenek kok di luar, “ kata mama Arisha, membuat Arisha menoleh kebelakang.

“Sayang tadi kan kamu tidur masa sudah bangun saja. Mau kemana?”

“Arisha, ibu kekamar ya,” kata ibu, dan dibalas anggukan.

“Ayo masuk nak, besok kamu mau sekolah. “

Arisha menarik tangan putrinya masuk balik kekamar, pas saat mau menutup pintu ia melihat putrinya tidur diatas tempat tidur dan kembali ia melihat putrinya yang ada didepannya dan ternyata tidak ada.

“Mungkin aku terlalu berpikir. “

Sesuai yang dibilang ibu, Arisha pergi kerumah bu Jumiah setelah mengantarkan anaknya berangkat sekolah.

“Bu Jumiah mau pergi?” tanya Arisha.

“Iya nak, ada apa?” tanya bu Juminah.

“Nanti siang sekitar jam satu kerumah ya bu, bisa?”

“Bisa tapi setengah dua saya sampai dirumah. Nak Arisha tinggal ditempat rumah ibu kan?”

“Iya,” jawab Arisha singkat.

“Ok lah, kalau gitu bu pergi dulu ya mau ke GG sebelah. “

Setelah dari rumah bu Juminah Arisha balik lagi ke sekolah menunggu putrinya sampai Diah pulang.

“Ibu jemput Diah? Biasanya Diah pulang sendiri bu.”

“Gak papa ibu juga gak kerja.”

“Kenapa ibu gak kerja? Ibu sakit?”

”Sedit. Ayo kita cepat-cepat pulang kerumah. Kamu mau apa? Es krim atau susu.”

“Es krim.”

Arisha selalu mengawasi putrinya agar tidak keluar sementara bu Juminah belum juga datang bahkan sudah jam dua pas.

“Kenapa bu Juminah lama sekali ya bu, padahal ini sudah jam dua.”

Tak lama bu Juminah tiba dirumah. Bu Juminah melihat kearah Diah.

“Ini anak saya bu.”

“Saya lihat lain.”

“Lain? Maksudnya apa bu?”

“Sepertinya ada yang menginginkan dia, dan sekarang dia ada di belakangnya, seorang nenek tua.”

Perkataan bu Jumiah membuat Arisha kaget, dan melihat kearah putrinya.

“Syukurlah kalian cepat bilang kesaya kalau tidak, dan jika hari ini anakmu main disana mungkin nenek itu bawa dia,” kata bu Juminah menjelaskan.

“Tapi kenapa bu? Kenapa mau bawa anak saya?”

“Karena dia senang sama anakmu, anakmu tidak seperti anak yang lainnya. Anak mu ini bisa melihat makhluk gaib.”

“Aku tidak tahu itu bu.”

“Yang dibelakang itu natap bu dengan tajam, gak suka dia sama bu. Tadi pagi kamu datang kerumah saya tahu dia ngikutin, karena itu bu batalkan urut bu Saodah dan bilang gak ada. Bu sudah belikan tangkal untuk putri mu, insyaallah atas izin allah itu nenek dibelakang gak bakal datang lagi dan ganggu lagi, tapi nanti rajin kau sholat berdoa dan jagan kasi anak mu mai dirumah tua itu.”

“Loh, bu kok tahu. “

“Jelaslah saya tahu. Bu pegang tangannya y sayang.”

Diah menolak bu Juminah memegang tangannya nya bahkan sampai ke masukan, untungnya bu Jumiah bisa mengatasi. Mahluk itu sangat negatif walaupun bu Juminah terluka yang tidak bisa dijelaskan, tapi bu Juminah sekarang sudah baik-baik saja walaupun sempat tidak urut sebulan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!