Hua Niang Jangan pergi

Sorot mata Li Hua menjadi dingin, menoleh menatap Da Lang, Erlang dan, Sanlang. Dia merasa pusing saat anak-anak ikut campur.

"Masuk kedalam kamar, ini urusan kami berdua. Siniang bawalah semua Gege mu kedalam kamar dan bermain disana."

Siniang menggeleng, mempererat pelukannya. Dia merasa akan berpisah dengan Li Hua kalau melepaskan tubuh Ibu sambung nya.

"Hua Niang kami tidak bisa diam saja,"kali ini Erlang mencoba meyakinkan Li Hua.

"Anak-anak tidak perlu pergi, aku akan pergi tapi dengan satu syarat."

Alis kanan Huang Ji menaik, dia merasa Li Hu mencoba memberikan sebuah minyak tanah agar api - api kecil membesar. Terlihat bagaimana wajah ketiga anak laki-laki!nya semakin memburuk.

"Katakan,"

"Jangan melarang mereka, saat mereka ingin menemui ku."

Terdengar sederhana, tapi membuat Huang Ji tidak menyukainya. Untuk apa menemui mantan Ibu sambung, itu hanya membuang-buang waktu saja.

"Baik, aku menyetujuinya dan kemasi barang-barang mu."angguk Huang Ji puas.

Da Lang jelas tidak menyetujuinya, dia menepuk pundak kanan Li Hua.

"Aku tidak setuju, kamu..."

"Pikirkan bagaimana dengan adik-adik mu, apa kamu mau membiarkan mereka kedinginan dimalam hari?"sela Li Hua berhasil membuat Da Lang tak bisa berkata-kata.

Kalau dipikirkan kembali, Da Lang mengerti. Li Hua tidak memiliki tujuan diluar. Membawa mereka sama saja membuat mereka seperti terombang-ambing di Laut oleh gelombang. Li Hua bangkit berdiri, membuka pintu kamar Huang Ji.

Xiao Ping segera keluar saat Li Hua masuk, bersikap seakan tidak terjadi apapun. Saat membuka lemari pakaian, sesuatu menampar wajah Li Hua.

Dia tak menyangka bahwa pemilik asli hanya memiliki 4 set pakaian, dan satu pakaian katun paling bagus diantara pakaian lain. Memasukkannya kedalam kantung kain, benda pipih bulat dengan ukiran Phoenix terlihat mencolok dimatanya.

Benda itu jatuh dari dalam lipatan pakaian katun, batu giok pengenal. Sebuah huruf karakter terpahat halus, giok Hijau zamrud.

"Zhao?"

Benaknya dipenuhi pertanyaan, kalau benda itu milik pemilik asli. Mengapa marga yang diukir giok pengenal identitas berbeda dari marga Li Hua. Jari jemarinya memasukkan giok tersebut kedalam kantung kain penuh kehati-hatian.

Dia segera keluar dari kamar, tatapan netra jernih milik empat tauge kecil nya hampir membuat Li Hua lemah.

"Nona Li Hua, mengapa kamu membawa kantung sebesar itu?"Xiao Ping mengernyit saat melihat Li Hua membawa kantung kain.

"Dia akan pulang kerumahnya jangan khawatir kan itu,"cetus Huang Ji seraya membuang muka.

Siniang meraih tangan Li Hua, menggenggam nya erat."Hua Niang, bawa aku juga."

Li Hua berjongkok didepan Siniang, membelai lembut kepala gadis kecil itu. Mata jernih tauge kecilnya berkaca-kaca. Rintikan embun bening turun membasahi pipi Siniang.

"Hua Niang, tolong bawa aku. Mengapa kamu pergi tanpa membawa ku?"

"Apa Hua Niang membenci ku?"

Pertanyaan itu membuat Li Hua tersenyum pahit,"nak... Hua Niang tak bisa membawa mu sekarang, bersikap baik lah selama Hua Niang tidak ada. Patuhi perintah Kakak-kakak mu, bagaimana pun kini mereka yang menjaga mu."

Erlang menarik Siniang menjauh dari Li Hua, gadis kecil itu meraung keras. Mencoba meraih tangan Ibu sambungnya, saat Li Hua berbalik pergi. Jeritan tangis memilukan tauge kecilnya terdengar begitu menyayat.

"Hua Niang..."

"Hua Niang! Jangan pergi, Hua Niaaang..."

Erlang berusaha keras menahan Siniang agar tidak lepas dan mengejar Li Hua.

"Lepaskan, Hua Niang... Aku menginginkan nya, mengapa kalian menahan ku?"pandangan menjadi berkabut dan tak begitu jelas.

Menatap kakak-kakak nya penuh amarah, tidak ada yang bisa di lakukan tubuh kecilnya. Menangis dan menangis lebih keras, memanggil Hua Niang yang tak kunjung berbalik.

"Siniang, tidak perlu menangis. Tetap tenang dan kembali ke kamar mu,"perintah Hang Ji.

Da Lang menggendong Siniang, menenangkan nya di dalam kamar. Erlang dan Sanlang saling mengangguk. Berlari keluar rumah, mencari jejak keberadaan Ibu sambung mereka.

"Anak-anak sangat sensitif, mereka tidak seharusnya terlibat dalam urusan ini."Xiao Ping menatap pintu kamar anak - anak penuh rasa Iba.

Siniang masih menangis dan Da Lang berusaha menenangkannya.

"Tidak perlu pikirkan itu, begitu mereka dewasa. Mereka akan memahami hal ini."Huang Ji mengibaskan tangan, menganggap itu hal remeh.

Tapi tidak dengan Xiao Ping, wanita itu tersenyum masam. Anak-anak tidak akan melupakan luka masa kecil mereka, selamanya akan membekas di hati.

Walaupun bisa memaafkan, akan tetapi luka yang mengering meninggalkan bekas. Mereka akan terus mengingat hal yang menjadi salah satu tragedi besar di hidup mereka. Dia tertawa kecil, sudah pasti akan di benci.

"Rumah ini perlu di renovasi,"Xiao Ping mengalihkan pembicaraan nya.

Huang Ji mendengar nya jadi bersemangat,"anda benar, beberapa perabotan perlu diganti juga."

"Mari rencana kan pembangunan rumah ini."

"Tentu."

Pandangan Li Hua terasa kosong, jalan sepi dipenuhi bebatuan dan debu tertiup angin. Seakan menunjukkan isi pikiran nya yang kosong, kemana langkah kakinya akan pergi? Haruskah, Li Hua kembali ke rumah keluarga Li di desa sebelah. Faktanya dari ingatan yang di gali, pemilik tubuh asli memiliki hubungan buruk dengan orang-orang dirumah Keluarga Li.

Matahari semakin tenggelam, dan langit mulai gelap. Kebingungan melanda isi pikiran nya. Sebuah suara menarik perhatian nya, lelaki tua berdiri didepannya.

"Apa kamu Li Hua?"

"Benar, saya Li Hua."

Lelaki itu mengerut kening dan, menghela nafas berat,"saya kepala desa disini. Mungkin kamu baru bertemu dengan saya."

Mata nya menyipit saat melihat buntalan kain, kepala desa tersenyum kecil. Ah, nasib buruk gadis itu jauh lebih parah dari diperkirakan nya.

Buntalan kain yang di bawa Li Hua, membuat kepala desa semakin yakin dengan dugaannya.

"Apa Huang Ji sudah menyerahkan suratnya? Saya benar-benar minta maaf, karena saya lah yang membantu nya membuat surat cerai."

Sangat lucu, dirinya yang membantu tapi merasa bersalah. Wajar saja, itu karena Huang Ji memberikan uang dan dia membutuhkan nya.

"Anda tidak perlu meminta maaf, bagaimana pun ini sudah terjadi dan anda hanya menjalankan tugas saja."Li Hua menggeleng.

"Saya tidak bisa menghapus rasa bersalah ini, kemana kamu akan pergi? Hari sudah mulai gelap. Tidak mungkin kamu akan pergi kekediaman keluarga Li sekarang."

Li Hua terdiam, dia menggeleng sekali lagi. Gadis itu tidak tau, dia bahkan bingung kemana lagi akan pergi. Huang Ji benar-benar ingin menelantarkan nya tanpa masa pertimbangan sama sekali.

"Bagaimana, kalau kamu tinggal di kuil tak terpakai? Warga desa tak mau memakai nya. Kuil itu jauh dari rumah-rumah, dan dekat dengan hutan. Meskipun tidak pernah dikunjungi tapi masih layak untuk ditinggali."Kepala desa merasa itu ide yang bagus.

"Kuil tempat yang suci bagi orang-orang tertentu, dan saya tidak berani mengotorinya."

"Tenanglah, disana tidak ada benda apapun yang berkaitan dengan kuil. Semuanya dipindahkan pada kuil baru, kuil lama lebih terlihat seperti rumah biasa."

Disaat keraguan melanda, mendadak Erlang dan Sanlang muncul dengan nafas terengah-engah. Memeluk tubuh Li Hua erat, kedua mata mereka berair dan merah.

"Kami benar-benar tidak mau kamu pergi."Erlang menatap Li Hua penuh perasaan rumit.

Ibu sambung nya tidak menjawab sama sekali, melainkan mengangguk pada Kepala desa.

"Saya akan tinggal disana,"

"Akan lebih baik kamu tinggal disana, surat-surat nya akan saya urus. Lagi pula tidak ada satupun yang mau menempati nya."

"Hua Niang, kemana kamu akan pergi?"tanya Sanlang penasaran.

"Ketempat yang di tawarkan oleh kepala desa."

"Kepala desa, bisakah kami ikut?"Erlang menatap Kepala desa penuh harap.

"Ikutlah dan temani Aniang kalian, tempatnya sedikit suram. Tapi masih layak untuk ditinggali."

Erlang dan Sanlang tidak mengerti tempat mana yang kepala desa bicarakan, mereka hanya mengikuti dua orang dewasa itu tanpa banyak bicara. Kepala desa memutuskan membantu Li Hua karena tanggung jawabnya. Bagaimana pun setelah menikah dengan Huang Ji, Li Hua menjadi warga desa nya juga.

Tidak ada niat buruk apapun, lelaki tua itu membuat Li Hua tersenyum lebar. Mau seburuk apapun rumah barunya, selama tidak mengeluarkan uang untuk membeli. Dia akan tinggal disana, kondisinya sekarang tidak bisa menuruti ego semata.

Terpopuler

Comments

Daniela Whu

Daniela Whu

sdh tau anak" akan trauma tp lo malh misahin mak sama anak yg sdh mulai buka hatinya buat li hua, kuharap anak" kembali mals sj kyk dulu biar bapak yg ada otak itu kalang kabut, dan si emak baru syok klo tau kerjaannya banyak dirumah itu

2024-11-13

1

Shenaylin..😌😌

Shenaylin..😌😌

Aku tak senggup 😭😭😭😭😭😭😭

2024-12-27

1

sahabat pena

sahabat pena

kpn nih di up Thor? jd pinisirin kelanjutan nya. ayu simingit💪💪💪

2024-09-21

0

lihat semua
Episodes
1 Hua Niang marah
2 Cuci dan cuci semuanya!
3 Apa kita bisa memakan ini lagi?
4 Panen ubi liar
5 Menantu ketiga anda menjual ubi
6 Pergi ke pasar
7 Tidak menyukainya sama sekali
8 Sepotong melon besar (gosip)
9 Kamu sangat berani memukulnya
10 Saya telah membelinya dengan 10 Yuan
11 Kepingan ingatan tersembunyi
12 Dia sangat baik, tapi kamu tak bisa melihat nya
13 Hua Niang Jangan pergi
14 Ini lebih suram dari yang kamu katakan
15 Suasananya sangat damai
16 Ruang dimensi
17 Mereka tidak percaya
18 Kami datang menjemput mu
19 Mari berjanji untuk tidak pergi
20 Ini di luar dugaan kita
21 Kemana mereka berdua pergi?
22 Dua penyusup
23 Nikmati sampai kau berakhir sama seperti ku
24 Pagi itu menjadi hal yang paling buruk
25 Kau sama hal nya seperti opium
26 Mari membuat kesepakatan
27 Dihadapan gejolak api, ia tak berdaya
28 Tidak bisa terus bergantung pada rumah tua
29 Bisakah aku belajar, meksipun memberatkan mu?
30 Kamu sangat malas
31 Bisakah kita tinggal disini saja?
32 Lao Lao dan Lao Ye menyetujui nya
33 Kamu terasa begitu nyata
34 Sujud kami hanya untukmu Niang
35 Lao Lao hampir tidak percaya
36 Apa benar kami akan pergi?
37 Kami takut, dia akan merebut Niang
38 Mencoba mencari sesuatu tentang Zhao
39 Merasa gelisah
40 Sedikit terungkap akan sebuah rahasia
41 Semuanya semakin rumit
42 Ingin mengundurkan diri
43 Tidak boleh merebut Wai Po
44 Udaranya semakin dingin
45 Terjadi Hal Lain
46 Dia masih hidup
47 Berpisah
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Hua Niang marah
2
Cuci dan cuci semuanya!
3
Apa kita bisa memakan ini lagi?
4
Panen ubi liar
5
Menantu ketiga anda menjual ubi
6
Pergi ke pasar
7
Tidak menyukainya sama sekali
8
Sepotong melon besar (gosip)
9
Kamu sangat berani memukulnya
10
Saya telah membelinya dengan 10 Yuan
11
Kepingan ingatan tersembunyi
12
Dia sangat baik, tapi kamu tak bisa melihat nya
13
Hua Niang Jangan pergi
14
Ini lebih suram dari yang kamu katakan
15
Suasananya sangat damai
16
Ruang dimensi
17
Mereka tidak percaya
18
Kami datang menjemput mu
19
Mari berjanji untuk tidak pergi
20
Ini di luar dugaan kita
21
Kemana mereka berdua pergi?
22
Dua penyusup
23
Nikmati sampai kau berakhir sama seperti ku
24
Pagi itu menjadi hal yang paling buruk
25
Kau sama hal nya seperti opium
26
Mari membuat kesepakatan
27
Dihadapan gejolak api, ia tak berdaya
28
Tidak bisa terus bergantung pada rumah tua
29
Bisakah aku belajar, meksipun memberatkan mu?
30
Kamu sangat malas
31
Bisakah kita tinggal disini saja?
32
Lao Lao dan Lao Ye menyetujui nya
33
Kamu terasa begitu nyata
34
Sujud kami hanya untukmu Niang
35
Lao Lao hampir tidak percaya
36
Apa benar kami akan pergi?
37
Kami takut, dia akan merebut Niang
38
Mencoba mencari sesuatu tentang Zhao
39
Merasa gelisah
40
Sedikit terungkap akan sebuah rahasia
41
Semuanya semakin rumit
42
Ingin mengundurkan diri
43
Tidak boleh merebut Wai Po
44
Udaranya semakin dingin
45
Terjadi Hal Lain
46
Dia masih hidup
47
Berpisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!