Suara gemericik air terjun terdengar begitu menenangkan, bisikan alam berhembus lembut. Gazebo kecil di bawah tebing air terjun terlihat sangat menarik.
Dua orang anak perempuan tengah bermain boneka kayu, suara ketukan boneka kayu pada meja terdengar keras. Mereka tertawa ringan saat membicarakan hal yang mereka sukai.
"Saya akan melakukan banyak perjalanan, baik menjelajahi benua timur ini atau ke benua lain."
"Bagaimana dengan mu saudari?"
Anak perempuan dengan rambut setengah di konde itu menatap saudarinya penasaran, saudari nya tertawa kecil. Mengibaskan tangan beberapa kali.
"Saya akan menetap disini, menjalani kehidupan nyaman di desa terpencil."
Jawaban itu membuat saudarinya tak suka, mengapa harus pergi ke pedesaan dan diam membusuk disana. Ayah mereka memberikan kebebasan untuk melakukan hal apapun, tanpa mengikat erat pada keluarga inti.
"Kamu..."gadis itu terdiam sesaat,"saya akan menghargai keputusan mu, akan tetapi mari kita bertemu suatu saat nanti. Jaga diri mu baik-baik."
Wajah pucat nya tersenyum getir, tujuannya berkelana tidak sesederhana. Sesuatu dalam dirinya lah yang memaksa, keadaan mengerikan terpaut dengan nyawa.
Li Hua terbangun pagi hari, mencuci wajahnya dengan air hangat. Dia duduk terdiam di bangku panjang samping rumah. Suasana pagi hari sangat sunyi, beberapa orang terbangun untuk bersiap ke ladang.
Benaknya masih memikirkan tentang mimpi semalam, dua sosok gadis yang terasa familiar. Apa itu salah satu ingatan milik pemilik tubuh aslinya, yang bahkan tidak diberikan secara langsung pada Li Hua.
"Tidak mau percaya, tapi khawatir nya pemilik asli menyimpan rahasia besar,"gumamnya.
Mengusap wajah nya secara kasar, pintu samping rumah terbuka. Xiao Ping dari awal sudah bangun lebih dulu dari Li Hua, akan tetapi dia enggan untuk beranjak dari kasur. Rasa sakit menyerang seluruh tubuhnya, ini pertama kali dia merasakan hal itu.
Melihat pintu samping sedikit terbuka, dia Penasaran. Siapa yang bangun di pagi hari sebelum matahari berada di atas cakrawala. Wajah nya terlihat muram, Li Hua menoleh dia bingung dengan wajah muram milik Xiao Ping.
"Ada apa dengan mu?"
"Tidak apa-apa, kamu bangun terlalu pagi,"geleng Xiao Ping.
Wanita muda itu berjalan mendekati Li Hua dan duduk disampingnya, mereka merasa canggung dan terdiam sejenak.
"Aku ingin jujur pada mu."
Li Hua menoleh, menatap Xiao Ping penasaran,"jujur tentang?"
"Aku membenci mu, tidak juga... Entahlah."
Wanita itu tersenyum tipis, dia tidak tau apa yang di ucapkan nya. Li Hua merasa Xiao Ping memiliki maksud lain.
"Aku hanya membenci fakta bahwa aku Isteri kedua dirumah ini,"ucap Xiao Ping pelan.
"Mengingat identitas mu tak biasa, sudah pasti begitu bukan."Li Hua tersenyum tipis.
Xiao Ping mengangguk setuju, dia bangkit berdiri mengusap pelan bahu Li Hua dan pergi masuk kedalam rumah. Tak sengaja ber pas-pasan dengan Erlang, dia tersenyum kecil pada anak laki-laki itu.
Sayangnya Erlang membuang muka, buru-buru keluar dari rumah. Menemukan Ibu sambungnya tengah duduk di bangku panjang.
"Hua Niang..."
Suara itu menarik perhatian Li Hua, Erlang tak lagi sungkan memanggil nya Ibu. Bahkan secara terang-terangan, seakan memberikan pengakuan pada nya. Ujung bibirnya sedikit terangkat, saat Erlang duduk disampingnya.
"Diluar dingin, mengapa kamu tidak kembali tidur?"
Erlang menggelengkan kepala,"aku harus siap-siap pergi ke ladang, dua saudara ku sedang bersiap-siap."
Li Hua tak menyangka mereka akan pergi pagi ini, melihat Da Lang dan Sanlang sudah keluar membawa alat bertani. Dia hanya bisa mengangguk pasrah,"hati-hati dijalan ya."
"Iya, kami akan berhati-hati. Siang kami akan pulang jadi tunggulah,"angguk Erlang.
Sanlang melambaikan tangan sebelum pergi, mereka bertiga meninggalkan halaman rumah. Li Hua masuk kedalam rumah, mengecek Siniang yang masih tertidur pulas.
"Aku pikir dia akan terbangun juga,"desahnya pelan.
Ia takut gadis kecil itu akan menangis saat tau tiga saudara nya pergi meninggalkan Siniang sendiri dirumah. Begitu matahari berada di cakrawala, rumah menjadi sibuk.
Membereskan dan membuat sarapan untuk 4 orang, dan membungkus beberapa makanan untuk tiga saudara kecil. Li Hua tak menyangka akan bersikap rajin. Tapi demi bahan baku makanan yang bagus itu tidak masalah.
Huang Ji merasa senang, saat bangun sudah tercium aroma makanan lezat. Melihat Xiao Ping menyajikan nya di ruang utama, dia berpikir bahwa Isteri keduanya lah yang memasak.
Faktanya Li Hua yang membuat semua itu, Xiao Ping memaksa untuk membantu menata makanan.
"Saya tidak menyangka anda bisa memasak."Huang Ji menatap Xiao Ping kagum.
Wanita itu tersipu,"tidak juga, Li Hua yang membuat semua ini. Saya hanya membantu nya menata makanan."
"Meskipun begitu, semuanya jadi terlihat enak berkat anda."kilah Huang Ji.
Li Hua merasa ingin memukul lelaki itu menggunakan centong sayur. Dia menahan diri, begitu Siniang keluar dari kamar. Dia hendak duduk bersama Huang Ji, mengurungkan niatnya saat melihat Hua Niang berdiri diambang pintu dapur.
"Selamat pagi, Hua Niang."
Deretan gigi putih bersih dan kecil, membuat Li Hua mengira Siniang pasti jelmaan tikus. Gigi kecil lucu itu, membuat nya merasa gemas.
"Kamu sudah bangun, cuci muka terlebih dahulu menggunakan air hangat. Dan sikat gigi mu terlebih dahulu, Hua Niang telah menemukan beberapa ranting pohon willow muda yang bisa di gunakan untuk membersihkan gigi."
"Umm,"angguk Siniang.
Gadis kecil itu membasuh muka nya dengan air hangat. Mengupas kulit ranting pohon willow dan mengunyahnya pelan, menurut Li Hua ranting itu memiliki manfaat seperti batang siwak. Masih bisa di gunakan untuk membersihkan gigi, sebagai pengganti sikat gigi.
"Makanlah bersama dengan Fu Qin, Hua Niang akan pergi sebentar mengantar makanan untuk saudara mu."
"Kemana mereka pergi?"Siniang melupakan ny.
Padahal semalam Erlang membicarakan urusan mereka,"ke ladang.''
"Bisakah aku ikut?"mata jernihnya bersinar terang.
Mendapatkan serangan puppy eyes, Li Hua merasa hatinya tak aman.
"Tidak, nanti saja kamu ikut dengan ku saat siang."
"Kemana?"
Li Hua berjongkok dan berbisik di dekat telinga Siniang,"pergi menggali sayuran liar, dan mencari harta Karun kecil."
Mata jernih gadis kecil itu membulat, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rahasia besar ibu sambungnya akan mencari harta Karun. Dia mengangguk cepat, berlari menghampiri Huang Ji dan Xiao Ping.
Li Hua meraih keranjang kecil anyaman, berisi semua makanan yang dia masak. Dia merasa Siniang sangat menggemaskan saat bereaksi mendengar kata harta Karun. Faktanya yang dicari hanya makanan saja, mungkin bertemu sesuatu berharga seperti umbi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
⎯⎯꯭ᷤ💕Sisk𝚊⃤𝐊𝐔ˢ⍣⃟ₛ꙳❂͜͡✯:≛꯭➛
aku pun jika mendengar harta karun, pasti kan berbinar... hohoho
2024-10-28
4
Yurniati
terus lanjut update nya thorr
2024-09-16
1
Yurniati
tetap semangat terus update nya thorr
2024-09-16
1