Rumah dengan halaman luas, tembok batu bata tinggi menjulang. Gerbang kayu besar. Papan nama kuil tergeletak disamping gerbang, begitu masuk halaman. Disambut dengan rumput-rumput tinggi memenuhi halaman. Kegelapan pekat menyelimuti kuil, pintu aula besar tempat berdoa terbuka sedikit.
Terkesan horor dimata Erlang dan Sanlang, keduanya merapatkan tubuh menghimpit Li Hua dari kedua sisi. Kepala desa tersenyum getir, dia tidak menyangka kuil tidak terurus sama sekali. Padahal dia menyuruh beberapa orang untuk membersihkan nya, dan apa ini? Mereka semua memakan gaji buta dari sumbangan masyarakat untuk kuil.
"Kepala desa, ini lebih suram dari yang anda katakan."
Kepala desa merasa tak enak,"maaf, sepertinya saya tidak mengurusnya dengan baik. Tapi dalamnya pasti masih bisa untuk tinggal malam ini."
"Mari ikuti saya."Kepala desa, berjalan didepan.
Memasuki koridor samping aula, menuju kamar-kamar tamu. Didekat koridor, terdapat pagar kayu, dan kolam ikan buatan. Airnya terlihat sangat jernih, pantulan lampu malam terlihat begitu jelas di air.
Membuka salah satu kamar, memang terlihat bersih dan rapih. Tempat tidur tertutupi kain dan lemari serta ranjang kayu, bahkan lebih baik dari rumah kecil Huang.
"Diaman lampu minyaknya, seharusnya ada di meja."
Li Hua hanya menonton kepala desa dari ambang pintu, lelaki tua itu panik. Dia berusaha menyalakan api, dengan alat manual. Begitu mendapatkan alat yang di dapatkan nya, beberapa menit kemudian. Kamar menjadi terang meksipun, masih remang-remang.
"Ini sudah cukup, saya tidak dapat membantu lagi."
Li Hua mengangguk mengerti,"terimakasih telah membantu saya kepala desa."
"Tidak masalah, saya pamit dulu."
Lelaki tua itu buru-buru pergi keluar, suasana hatinya sangat tidak enak. Kuil suram yang bahkan lebih suram dari bayangan nya. Tak berani untuk menoleh, memutuskan segera pergi ke rumah.
Pintu kamar ditutup rapat-rapat, Erlang masih saja terlihat takut. Wajah Sanlang terlihat begitu pucat, mereka tidak menyangka Hua Niang akan tidur ditempat menyeramkan.
"Kalian takut?"
Mendengar pertanyaan itu Erlang dan Sanlang sontak langsung menggeleng kecil, mereka gengsi untuk mengakuinya. Berniat menjadi Garde depan Ibu Sambung, kalau ketahuan mereka ketakutan bukankah itu hanya membuat mereka terlihat tak berguna.
"Kemari, dan tidur bersama. Ranjang ini cukup besar untuk menampung kita bertiga."
Menurut Li Hua, kamar mereka terlalu mewah untuk kamar tamu di kuil. Ranjang kayu terbuat dari pohon mahoni, meskipun kasur dari jerami tapi terasa nyaman karena kain tidak terlalu kasar.
Erlang dan Sanlang tidur diatas kasur, mereka tak berani bergerak lebih banyak. karena Li Hua berada ditengah, keheningan menyelimuti kamar. Hembusan nafas beriringan terdengar begitu tenang. Dalam hitungan menit kedua anak itu terlelap dalam tidur.
Kenyamanan dan kelembutan kain kasur menjadi faktor utama. Sedikit empuk dan tidak kasar, mereka menyukai itu. Begitu pagi menjelang Erlang dan Sanlang buru-buru pergi pulang kerumah. Berpamitan pada Li Hua, mereka takut Da Lang dan Siniang akan mencari mereka berdua.
Li Hua menatap halaman Kuil penuh dengan rumput liar, dia menghela nafas. Menyingsingkan lengan baju nya, berjongkok mencabut rerumputan liar. Akar rumput yang lama tumbuh sangat kuat menancap. Tenaga ekstra harus di keluarkan demi satu rumput, ibaratkan pondasi bangunan. Yang kokoh dan kuat, tidak mudah dirobohkan dalam satu kali pukul.
"Tidak apa-apa, demi kenyamanan pun harus aku lakukan,"
Dia mencoba menyemangati diri sendiri, mencabut rerumputan selama berjam-jam. Dan matahari semakin menaik, terasa panas menyengat. Nafasnya menjadi tak teratur, memilih duduk dibawah pohon willow.
Perutnya berbunyi keras, sejak bangun dia tidak makan sama sekali. Bahkan minum pun tak sempat, sekarang tenggorokan nya terasa begitu kering. Seperti gurun pasir, matanya tak sengaja melirik kearah kolam ikan buatan. Merangkak, meraih air sebanyak mungkin menggunakan kedua telapak tangan nya. Meminum tanpa takut akan sakit perut, dahaga nya merasa terpuaskan begitu meminum banyak air.
"Untuk kolam kecil ini, airnya sangat jernih meskipun tidak dirawat. Agak aneh, mungkin ada sesuatu dibawah sana?"
Li Hua menunduk menatap dasar kolam penuh bebatuan kerikil. Meskipun banyak daun yang jatuh, tidak membuatnya begitu kotor.
Gelembung-gelembung kecil bermunculan, seakan ada arus keluar dari celah-celah batu.Tangannya masuk kedalam kolam mengecek sesuatu. Tekanan air halus membuat nya mengedipkan mata beberapa kali. Mulutnya terbuka lebar, dia tak berani membuka celah batu itu. Sesuatu akan membanjiri halaman dan tak mau berhenti.
Batu tak terlalu besar itu celah dari sungai bawah tanah, airnya muncul ke permukaan. Itu sebabnya air di kolam tidak surut, terserap tanah ataupun akar pohon dalam tanah. Dan airnya hampir mencapai batas nya, Li Hua menatap kolam buatan lain. Tersambung sepanjang koridor, terlihat kering karena sumber utama aliran air dari kolam induk tertutup.
"Sepertinya, mereka berniat membuat kolam ikan agar suasana kuil terasa damai. Tapi belum terselesaikan, melihat kolam nya sudah sempurna, dan benar-benar kering."
Matanya melirik sambungan air dari kolam induk tertutupi oleh tanah liat kering. Beberapa benda padat agar air tak mengalir sebelum kolam benar-benar selesai. Tanpa ragu membuka penghalang, arus deras keluar dari sambungan. Mengisi kolam lain, Li Hua menepuk dahinya. Dia meluapkan sesuatu, seharusnya membersihkan kolam terlebih dahulu. Membuang daun-daun kering dan ranting, baru membuka sambungannya.
Di rumah Huang Kecil, terlihat Huang Ji tengah memarahi Sanlang dan ErLang. Mereka tidak pulang semalaman, dan itu membuat semua orang dirumah panik.
"Fu Qin kami tidak bermaksud untuk..."Erlang mencoba menjelaskan.
Akan tetapi Huang Ji menyela nya,"sepertinya kamu lebih memilih Li Hua, jelas-jelas keluarga kandung mu adalah aku. Tapi kamu malah berkeliaran mengejarnya."
Hantaman keras terdengar menggema diruang utama. Tubuh Sanlang gemetaran saat menyaksikan adegan kekerasan. Xiao Ping mengerut kening mendengar suara dari ruang utama. Dia melanjutkan kegiatannya, tidak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh Huang Ji.
Erlang terdegun, rasa perih merambat di pipi kanan. Bekas merah akibat tamparan keras itu , sangat menyakitkan. Tenaga Huang Ji tidak main-main, ujung bibirnya ikut terkena tepukan keras. Untungnya tidak ada darah atau apapun. Netra jernihnya berkabut, mendongak menatap Huang Ji tak percaya.
Bagaimana bisa seorang Ayah menampar putera nya sebegitu keras, padahal kesalahan tak begitu fatal.
"Kalau saja kamu berani melakukan seperti itu lagi, lihat saja. Aku akan menggantung mu secara terbalik di dahan pohon beringin."
Ancamannya terdengar bercanda, tapi sorot mata Huang Ji membuat Erlang yakin itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
"Kita akan membawa umbi dns kacang tanahnya secara diam-diam."Erlang berbisik pelan, tangannya mengelus pipi kanan yang terasa perih.
Sanlang terlihat ragu,"aku tidak berani, aku takut."
Mendengar suara Sanlang gemetar, Erlang tersenyum kecil. Mengelus pelan bahu Sanlang dan berbisik.
"Jangan takut, ini demi Hua Niang. Apa kamu rela membiarkan nya mati kelaparan disana?"
Tentu saja Sanlang tidak mau, dia menggeleng cepat.
"Baik, baik. Aku akan tetap membantu mu membawanya."
Erlang mengangguk puas,"mari kita lakukan ketika, semua orang tengah sibuk."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Sry Handayani
/Smile//Smile/
2024-12-25
2
Cat Cat
cerita bagus 👍👍
2024-11-11
1
Ida Rohani
next thor semangatnya terus ya biar bisa up lg/Pooh-pooh/
2024-09-23
1