Mari berjanji untuk tidak pergi

Pandangan Li Hua jatuh pada sepasang netra jernih milik Da Lang. Lapisan kaca pecah siap berhamburan keluar dari kelopak mata. Bibir bawahnya tergigit, dia menggeleng kuat menelan semua rasa penasarannya.

"Fu Qin, saya tidak mau pulang. Ketika kalian menjual saya maka saya bukan lagi bagian dari keluarga Li, saat saya menjadi janda mengapa kalian baru datang kemari dan memaksa saya pulang?"

"Saya tidak bod*h, lebih baik kalian pergi. Saya tau kalian akan menjual saya kembali demi mendapatkan banyak uang."

Beberapa orang berbisik-bisik, Nyonya tua Li sangat tega. Demi uang menjual cucu nya dan dengan tidak malu dia hendak membawanya pulang untuk di jual kembali.

"Ku rasa urat malunya sudah putus,"

"Dia sudah tua tapi begitu kejam, bagaimana jika anak-anak nya melakukan hal serupa pada nya?"

"Biarkan saja, hukum karma pasti terjadi."

Mereka berbicara dengan suara keras, agar Nyonya Tua Li mendengar nya. Tentu saja itu berhasil membuat wajah nenek itu merah padam. Merasa malu, dia menatap Putera nya penuh arti.

"Dengar Li Hua, kami tidak menjual mu dan kamu tetap menjadi bagian keluarga Li. Ingat lah baik Fu Qin maupun Lao Lao tidak setega itu."

"Kami tidak bisa berlama-lama, kalau kamu bersikeras disini. Kami tidak memaksa, pulang lah kalau kamu merasa tidak nyaman disini."

Keduanya segera pergi, beberapa orang menggosipkan mereka secara terang-terangan. Mereka tidak bod*h, kalau memaksa Li Hua di depan semua orang. Maka citra keluarga Li akan terkotori oleh tindakan mereka.

Da Lang bernafas lega, dia kira Li Hua akan pulang bersama mereka. Kalau iya, adik-adik nya akan merengek dan itu merepotkan. Anak itu menggelengkan kepala, alasan sebenarnya dia tidak rela Li Hua pergi. Dirinya benar-benar egois, kali ini Da Lang akan berusaha agar Ibu Sambungnya tidak sengsara. Akan lebih baik kalau Li Hua hidup nyaman, dan memiliki tubuh sehat.

"Aku kira kamu akan pergi bersama mereka."

Li Hua terdiam mendengar nya mengusap kepala Da Lang lembut,"itu tidak akan terjadi, aku tidak mau pulang."

Ujung bibir Da Lang terangkat,''syukurlah... Aku takut kamu pergi."

"Haruskah aku merasa senang? Kamu datang kemari, untuk apa?"

Anak laki-laki itu teringat sesuatu, dia bergegas keluar gerbang. Beberapa orang berpura-pura sedang lewat, nyatanya mereka semua sibuk menguping pertengkaran. Jauh-jauh datang ke kuil terlantar saat melihat kepala desa mengantar Nyonya tua keluarga Li.

Tong kayu berisi ikan hidup dibawa masuk kedalam, Kepala desa melihat nya. Ikan-ikan yang dibawa Da Lang terlihat gemuk, meskipun tidak begitu besar. Dia memikirkan dari mana Da Lang mendapatkan itu.

"Kedua saudara ku menangkapnya untuk mu, mereka pikir bisa menempatkan nya di kolam itu."Da Lang menunjuk kolam air di samping koridor.

"Ekhem, Li Hua saya pamit dulu. Maaf sudah membuat mu kesulitan hari ini."

"Tidak apa-apa,"

Kepala desa mengangguk dia berjalan pergi, Li Hua menyuruh Da Lang membawa tong kayu itu dan memindahkan ikan kedalam salah satu kolam. Li Hua tentu tidak mau Da Lang menaruhnya di induk kolam.

"Jika mereka besar, kita bisa menjadikan ikan bakar yang enak."Da Lang menatap Li Hua berseri-seri.

Ibu Sambungnya menutup pintu gerbang rapat, menoleh dan tersenyum lembut. Pemikiran Da Lang terlihat sederhana, dia menyukai itu.

"Itu terdengar ide yang bagus, apa kamu mau menemani ku pergi ke kota Hekko? Beritahu saudara mu yang lain agar mereka tidak mencari mu."

Butuh 3 jam untuk pergi ke kota Hekko, sedangkan kota Ping An hanya 1 jam saja. Seharusnya Li Hua memilih yang dekat, tapi dia tidak ingin ada orang desa melihat nya berjualan disana.

"Hua Niang, apa yang akan kamu lakukan disana?"Da Lang menjadi penasaran.

Li Hua duduk dilantai kayu, menatap ikan yang berenang bebas di kolam."hanya menjual sesuatu, jangan beritahu siapapun."

Da Lang hanya mengangguk, dia akan menutup mulutnya ketika seseorang bertanya pada nya. Meskipun penasaran, ia berusaha menelan banyak pertanyaan secara bulat-bulat.

"Dan tentu kamu mendapatkan bayarannya."

Anak laki-laki itu menjadi bersemangat mendengar dia akan mendapatkan uang, dia menyukai uang. Seumur-umur dia tidak pernah mendapatkan uang saku dari Huang Ji. Membeli barang saja tidak pernah, semua yang dicari dan dimakan tentu dia ambil dari alam. Dan uang? Beberapa orang meminta untuk di bantu, sebagian memberikan imbalan berbentuk uang dan sebagian lagi memberikan bahan pangan.

Uang yang didapat nya akan di simpan dengan baik, tidak pernah dia gunakan sedikitpun. Kecuali saat situasi mendesak untuk menggunakannya.

"Hua Niang tenang saja, aku akan melakukan yang terbaik untuk membantu mu."

Pintu gerbang terbuka lebar, Sanlang dan Erlang berlari masuk. Nafas mereka terengah-engah, pandangannya menyapu seluruh halaman Kuil. Berhenti di koridor samping saat menemukan sosok yang mereka cari. Erlang kembali berlari mendekati Li Hua.

Tidak seperti Saudaranya Sanlang menutup pintu gerbang terlebih dahulu, berjalan dengan tenang. Perasaan lega terlukis di wajah nya, itu sebab nya dia tidak berlari seperti Erlang. Mendengar kabar bahwa Hua niang sedang di jemput oleh keluarga Li jelas mereka panik.

"Kami mendengar Hua Niang akan pergi."

Langkah Erlang melambat, manik matanya berkaca-kaca. Duduk didepan Li Hua menelisik mencari kebenarannya. Sanlang duduk di samping Erlang tanpa suara, dia menunggu jawaban dari Li Hua.

Ibu Sambung mereka tertawa geli, ekspresi kedua anak didepannya seakan ingin menangis keras. Dia berdeham sejenak, dan tersenyum kecil.

"Aku tidak pergi, jangan pikirkan itu. Lagi pula tidak ada hal baik yang menanti ku dirumah."

"Benarkah? Aku tidak percaya, mari buat janji terlebih dahulu."Sanlang mengulurkan jadi kelingkingnya.

Jadi kelingking miliknya terpaut dengan Li Hua, mengangguk puas. Mendesah lega, dia tidak ingin Li Hua pergi. Kalau saja Ibu sambung nya pergi, maka hubungan mereka akan terputus.

"Aku harap kamu menepati janji mu,"ucap Erlang serius.

Pemuda itu tidak mau Li Hua mengingkari janjinya, Da Lang menjitak pelan kepalanya karena gemas.

"Hua Niang tidak mungkin mengingkari janjinya."

Keesokan paginya, saat matahari belum terlihat. Da Lang terlihat sedang memikul dua keranjang anyaman. Satu keranjang berisi tomat Cherry dan satu keranjang terisi dengan daun bawang. Kedua keranjang itu terhubung dengan satu tongkat kayu, yang memudahkan Da Lang memukulnya sekaligus.

"Sebenarnya dari mana Hua Niang mendapatkan ini?"kali ini Da Lang tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Li Hua menghentikan langkahnya, dia bingung untuk menjawab. Tidak mungkin mengatakan bahwa dia mendapatkan semua itu dari ruang dimensi. Bisa-bisa dia disangka tidak waras oleh Da Lang.

"Saat kamu pulang, Ibu ku mengantarkan ini. Dia bilang di rumah memiliki banyak stok daun bawang dan tomat Cherry. Jadi dia berpikir untuk mengirimkan secara diam-diam untuk ku."

Tentu saja Li Hua berbohong, keluarga Li bukanlah petani. Da Lang tidak mengetahui apapun tentang keluarga Ibu sambung nya. Hanya mengangguk, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke gerbang desa. Mencari kereta yang di tarik oleh lembu untuk pergi ke kota. Li Hua berniat untuk pergi ke kota Ping An terlebih dahulu, Da Lang memberitahu nya.

Tidak ada kereta dari desa pergi ke kota Hekko, mereka hanya ke kota Ping An dan sekitarnya. Kalau mereka ingin pergi ke kota Hekko, itu artinya harus ke kota Ping An dan mencari kendaraan lain yang bisa pergi kesana.

Terpopuler

Comments

Enah Siti

Enah Siti

thor gak up lgi 🙏🙏🙏🙏🙏

2024-10-06

3

RJ 💜🐑

RJ 💜🐑

semangat buat karya nya thor, ceritanya bagus 🤗🤗👍🏻❤

2024-10-04

1

Lala Kusumah

Lala Kusumah

lanjuuuuuuuuuuutttt

2024-10-03

2

lihat semua
Episodes
1 Hua Niang marah
2 Cuci dan cuci semuanya!
3 Apa kita bisa memakan ini lagi?
4 Panen ubi liar
5 Menantu ketiga anda menjual ubi
6 Pergi ke pasar
7 Tidak menyukainya sama sekali
8 Sepotong melon besar (gosip)
9 Kamu sangat berani memukulnya
10 Saya telah membelinya dengan 10 Yuan
11 Kepingan ingatan tersembunyi
12 Dia sangat baik, tapi kamu tak bisa melihat nya
13 Hua Niang Jangan pergi
14 Ini lebih suram dari yang kamu katakan
15 Suasananya sangat damai
16 Ruang dimensi
17 Mereka tidak percaya
18 Kami datang menjemput mu
19 Mari berjanji untuk tidak pergi
20 Ini di luar dugaan kita
21 Kemana mereka berdua pergi?
22 Dua penyusup
23 Nikmati sampai kau berakhir sama seperti ku
24 Pagi itu menjadi hal yang paling buruk
25 Kau sama hal nya seperti opium
26 Mari membuat kesepakatan
27 Dihadapan gejolak api, ia tak berdaya
28 Tidak bisa terus bergantung pada rumah tua
29 Bisakah aku belajar, meksipun memberatkan mu?
30 Kamu sangat malas
31 Bisakah kita tinggal disini saja?
32 Lao Lao dan Lao Ye menyetujui nya
33 Kamu terasa begitu nyata
34 Sujud kami hanya untukmu Niang
35 Lao Lao hampir tidak percaya
36 Apa benar kami akan pergi?
37 Kami takut, dia akan merebut Niang
38 Mencoba mencari sesuatu tentang Zhao
39 Merasa gelisah
40 Sedikit terungkap akan sebuah rahasia
41 Semuanya semakin rumit
42 Ingin mengundurkan diri
43 Tidak boleh merebut Wai Po
44 Udaranya semakin dingin
45 Terjadi Hal Lain
46 Dia masih hidup
47 Berpisah
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Hua Niang marah
2
Cuci dan cuci semuanya!
3
Apa kita bisa memakan ini lagi?
4
Panen ubi liar
5
Menantu ketiga anda menjual ubi
6
Pergi ke pasar
7
Tidak menyukainya sama sekali
8
Sepotong melon besar (gosip)
9
Kamu sangat berani memukulnya
10
Saya telah membelinya dengan 10 Yuan
11
Kepingan ingatan tersembunyi
12
Dia sangat baik, tapi kamu tak bisa melihat nya
13
Hua Niang Jangan pergi
14
Ini lebih suram dari yang kamu katakan
15
Suasananya sangat damai
16
Ruang dimensi
17
Mereka tidak percaya
18
Kami datang menjemput mu
19
Mari berjanji untuk tidak pergi
20
Ini di luar dugaan kita
21
Kemana mereka berdua pergi?
22
Dua penyusup
23
Nikmati sampai kau berakhir sama seperti ku
24
Pagi itu menjadi hal yang paling buruk
25
Kau sama hal nya seperti opium
26
Mari membuat kesepakatan
27
Dihadapan gejolak api, ia tak berdaya
28
Tidak bisa terus bergantung pada rumah tua
29
Bisakah aku belajar, meksipun memberatkan mu?
30
Kamu sangat malas
31
Bisakah kita tinggal disini saja?
32
Lao Lao dan Lao Ye menyetujui nya
33
Kamu terasa begitu nyata
34
Sujud kami hanya untukmu Niang
35
Lao Lao hampir tidak percaya
36
Apa benar kami akan pergi?
37
Kami takut, dia akan merebut Niang
38
Mencoba mencari sesuatu tentang Zhao
39
Merasa gelisah
40
Sedikit terungkap akan sebuah rahasia
41
Semuanya semakin rumit
42
Ingin mengundurkan diri
43
Tidak boleh merebut Wai Po
44
Udaranya semakin dingin
45
Terjadi Hal Lain
46
Dia masih hidup
47
Berpisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!