CH 17 : Lapangan Latihan

Huang Jiang dan Huang Lei berdiri saling berhadapan.

Dengan tubuh yang lebih tinggi dan besar, Huang Jiang memandang rendah Huang Lei yang lebih kecil dan lebih pendek dari dirinya.

"Aku sudah mendengar kabarnya. Aku dengar, kamu membangkitkan bakat tingkat E dengan atribut Tumbuhan, serta tanpa jiwa Bertarung. Apakah itu benar?" tanya Huang Jiang dngan nada meremehkan.

Huang Lei yang mendengar pertanyaan tersebut hanya diam dan memberikan tatapan tidak senang.

Melihat Huang Lei yang hanya diam dan tidak memberikan jawaban apapun, Huang Jiang sudah tahu apa jawabannya.

"Sepertinya itu benar, hahahaha! Pecundang yang membangkitkan Kemampuan Sampah! Itu benar-benar cocok untukmu!" kata Huang Jiang dengan senyum merendahkan.

Huang Lei yang mendengar hinaan tersebut menjadi marah.

Huang Jiang yang melihat ekspresi kemarahan Huang Lei, seketika tersenyum senang. Dia lalu mendekatkan wajahnya dan berkata.

"Hei, ada apa dengan ekspresi dan tatapanmu itu? Apakah kamu marah padaku?"kata Huang Jiang mencoba memprovokasi Huang Lei.

Namun walaupun Huang Lei merasa sangat marah, dia tetap diam dan tidak termakan provokasi tersebut.

Melihat Huang Lei yang tidak terprovokasi dengan tindakannya, Huang Jiang kemudian menarik wajahnya kembali.

"Sejak awal aku sudah tahu, kamu itu hanyalah seorang pecundang! Sayangnya Ayah terlalu keras kepala dan tetap menaruh harapan padamu!"

"Sekarang semua yang aku katakan terbukti benar, kamu hanyalah seorang pecundang yg bahkan lebih buruk dari sampah!" kata Huang Jiang merendahkan dan menghina Huang Lei

Pada saat itu, An Xian yang tidak tahan melihat sikap Huang Jiang kepada Huang Lei, kemudian memarahinya.

"Huang Jiang, apakah ini sikapmu kepada saudaramu? Walaupun kalian tidak berasal dari ibu yang sama, tapi Huang Lei tetaplah adikmu! Apakah pantas kamu berkata kasar seperti itu?" ucap An Xian memarahi Huang Jiang.

"Apa? Adikku? Omong kosong apa yang kamu katakan? Sejak kapan aku menganggap orang ini sebagai adikku?" kata Huang Jiang dengan nada sombongnya.

An Xian yang mendengar perkataan Huang Jiang, seketika sangat terkejut dan tidak bisa berkata-kata.

"Menyebalkan! Minggir dari jalanku! Aku ingin bertemu dengan Ayah!" kata Huang Jiang dgn arogan dan tanpa sopan santun.

Melihat sikap Huang Jiang yang sama sekali tidak menghormatinya, An Xian hanya diam tanpa bisa melakukan apapun.

Lalu An Xian dan Huang Lei sedikit menepi dan memberikan jalan bagi Huang Jiang untuk lewat.

Huang Jiang kemudian masuk ke dalam ruangan untuk menemui ayahnya.

Sementara itu, Huang Ji yang masih dalam suasana hati yang kurang baik merasa agak terkejut melihat kedatangan putra keduanya.

"Huang Jiang?"

"Ayah!"

"Apa yang membuat kamu datang ke sini? Sekarang Ayah sedang dalam suasana hati yang kurang baik, kalau kamu cuma datang untuk membuat Ayah semakin marah, lebih baik kamu urungkan niatmu dan pergi dari sini!" kata Huang Ji.

"Tenang saja Ayah, aku membawa kabar baik untukmu!" kata Huang Jiang sembari tersenyum.

Huang Ji yang mendengar itu menjadi merasa penasaran.

"Apa itu?" tanya Huang Ji.

"Hehe! Ayah lihat saja sendiri!"

Huang Jiang kemudian melepaskan aura berwarna emas kecoklatan dari tubuhnya.

"Hari ini aku berhasil mendapatkan pencerahan dan naik ke tingkat Master!" ucap Huang Jiang penuh rasa bangga.

Huang Ji yang mendengar hal tersebut seketika merasa sangat senang dan gembira.

"Ha-ha-ha! Bagus! Bagus! Kamu benar-benar putra kebanggan ku!" ucap Huang Ji sembari memegang pundak Huang Jiang.

Sementara itu di sisi lain, tampak Huang Lei dan An Xian masih berdiri diluar.

Huang Lei yang mendengar percakapan mereka berdua, hanya bisa menutup mulut dan menyimpan rasa cemburunya.

Pada saat yang sama, di atas atap sebuah gedung, tampak Wu Chen yang sedari tadi mengawasi mereka.

'Jadi anak itu adalah putra kedua dari Keluarga Huang?'

'Seorang Pecundang yang membangkitkan kemampuan sampah, sepertinya target kedua ku sudah di tentukan!" ucap Wu Chen sembari tersenyum dan menyeringai.

Kemudian...

Keesokan harinya, di lapangan latihan Keluarga Huang, tampak Huang Jiang dan Huang Lei yang sedang melakukan latihan, dengan caranya masing-masing.

Disana terlihat, Huang Jiang yang sedang melakukan latihan sparing dengan seorang Pria Tua berambut putih di tengah lapangan, sementara Huang Lei berlatih sendirian di pinggir lapangan.

Lalu di tengah lapangan, Huang Liang yang telah mencapai puncak latihannya, bersiap untuk mengeluarkan serangan terakhirnya.

"Kakek, aku akan mengeluarkan serangan terakhir ku. Ini adalah jurus terkuat ku, jadi bersiaplah!" kata Huang Jiang yang hendak mengeluarkan serangan pamungkasnya.

"Karena kamu bilang begitu, maka perlihatkan padaku, bagaimana jurus terkuat mu itu!" kata Pria Tua tersebut dengan salah satu tangan di belakang pinggang.

Pria tua itu bernama Huang Shen, seorang ahli di Tingkat Kaisar Tahap Tujuh. Dia adalah ayah dari Huang Ji, alias kakek dari Huang Lei dan Huang Jiang.

Huang Jiang kemudian melapisi tinju kanannya dengan bongkahan tanah dan maju menyerang ke arah Huang Shen.

"HYAAAA!!" teriak Huang Jiang penuh percaya diri.

Namun hanya dengan satu tangan, Huang Shen dengan mudah menangkap dan menahan pukulan tersebut.

"Itu adalah pukulan yang bagus. Namun sayang sekali, itu masih belum cukup untuk membuat orang tua ini mundur!" kata Huang Shen dengan penuh percaya diri.

Dia kemudian melepaskan tangan Huang Jiang dan berkata.

"Berlatihlah lebih keras lagi dan tingkatkan kekuatan mu!"

"Baik, Kakek!" jawab Huang Jiang sembari menunduk dan memberi hormat pada Huang Shen.

"Baiklah, sekarang mari kita sudahi latihannya!" kata Huang Shen.

Kemudian Huang Shen dan Huang Jiang mengakhiri latihan mereka.

Namun ketika mereka hendak pergi meninggalkan lapangan latihan, Huang Jiang menoleh dan melihat ke arah Huang Lei yang sedang berlatih mengendalikan atributnya di pinggir lapangan.

"Kakek, bukankah Huang Lei sudah terbangkitkan? Apakah kamu tidak ingin melatihnya?" tanya Huang Jiang.

"Tidak ada gunanya melatih seorang sampah. Itu hanya akan membuang-buang waktu dan sumber daya!" jawab Huang Shen.

Mendengar jawaban itu, Huang Jiang tersenyum senang. Lalu mereka lanjut berjalan pergi meninggalkan lapangan latihan.

Disisi lain, tampak Huang Lei yang sedang berusaha mengembangkan kekuatan atribut miliknya.

Pada saat itu, diantara kedua telapak tangan Huang Lei terlihat sebuah rumput hijau kecil yang sedikit demi sedikit berkembang.

Namun saat rumput itu baru tumbuh sekitar sepuluh centi, rumput itu seketika hancur dan lenyap di udara.

Huang Lei yang melihat itu menghela nafas.

'Hah... Sial! Itu adalah percobaan ke enam puluh tiga! Ini lebih sulit daripada yang aku pikirkan!' ucap Huang Lei dalam benaknya.

Huang Lei benar-benar merasa bingung dan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengembangkan kemampuannya.

Kemudian ketika dia sedang bingung dan kesusahan, Wu Chen yang ternyata berada di atas pohon tiba-tiba berbicara.

"Apakah kamu sedang kesulitan?" tanya Wu Chen.

Mendengar seseorang tiba-tiba berbicara, Huang Lei dengan cepat mendongak dan melihat ke atas.

Huang Lei benar-benar terkejut melihat Wu Chen yang berdiri di atas pohon.

"Si-siapa kamu?" tanya Huang Lei dengan perasaan waspada.

Lalu Wu Chen turun dari atas pohon dan berdiri di depan Huang Lei.

Huang Lei yang melihat Wu Chen turun dari atas pohon dan berdiri di depannya, menjadi semakin waspada.

Mereka berdua berdiri saling berhadapan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...****************...

...****************...

................

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!