CH 10 : Hell's Gate City dan Mei Kong

Dua jam kemudian, tepatnya pada siang hari, tampak Wu Chen yang telah sampai di depan gerbang sebuah kota.

"Akhirnya aku tiba di kota ke-tiga, Kota Gerbang Neraka (Hell's Gate City)!" kata Wu Chen merasa cukup bersemangat membaca papan nama di depannya.

Kota Gerbang Neraka, kota ini dinamakan seperti itu karena dulunya kota ini pernah menjadi tempat terbukanya Alam Rahasia Neraka.

Alam rahasia tersebut membawa bencana sekaligus berkah kepada kota ini.

Namun itu adalah kejadian yang terjadi di masa lalu. Sekarang kota ini telah menjadi kota yang damai dan tentram.

"Karena aku sudah datang ke sini, haruskah aku mengunjungi wanita itu?" pikir Wu Chen.

Lalu Wu Chen berjalan memasuki kota. Beberapa saat kemudian, Wu Chen akhirnya tiba di depan sebuah tempat hiburan malam.

"Sudah enam tahun. Sepertinya ini tempatnya!" kata Wu Chen.

Kemudian tanpa ragu Wu Chen masuk ke tempat tersebut.

Setelah Wu Chen masuk, disana terlihat orang-orang yang sedang memainkan musik dengan keras, menari, dan minum minuman keras.

Di tengah kebisingan itu, seorang wanita dengan pakaian terbuka datang menghampiri Wu Chen.

"Kakak, apakah kamu datang sendirian?" tanya Wanita itu.

"Ya. Aku datang sendirian!" jawab Wu Chen.

"Mau aku temani?" tanya Wanita itu menawarkan diri sembari menggandeng tangan Wu Chen dan menempelkan dadanya.

"Tidak perlu!" jawab Wu Chen menolak dengan tenang.

"Aku bisa melakukan gaya apapun! Hanya untuk satu malam, kakak pasti tidak akan menyesalinya!" kata Wanita itu mencoba menggoda Wu Chen dengan berbisik di telinganya.

"Tapi aku tidak punya uang!" ucap Wu Chen.

"Cih! Miskin!" ucap Wanita itu menghina dan langsung menghempaskan tangan Wu Chen dari tubuhnya.

Wanita itu kemudian langsung pergi meninggalkan Wu Chen seorang diri.

Disisi lain, setelah wanita pengganggu itu pergi meninggalkannya, Wu Chen kemudian berjalan ke suatu tempat.

Namun ketika Wu Chen ingin masuk ke sebuah lorong, Wu Chen segera di hentikan oleh dua pria berpakaian hitam.

Yang satu memiliki pedang di pinggangnya, sedangkan yang satunya lagi memiliki tubuh besar dan tinggi dua meter.

"Berhenti disitu! Jalan ini bukan tempat yang bisa kamu masuki. Pergilah dari sini!" ucap salah satu pria tersebut.

Melihat kedua pria itu melarangnya untuk masuk, Wu Chen kemudian mengucapkan sebuah Kata Sandi.

"Didalam Kegelapan ada sebuah kecantikan!"

Mendengar Wu Chen mengucapkan Kata Sandi tersebut, kedua pria tersebut bukannya memberi ijin untuk masuk tapi malah bersiap untuk menyerang.

"Itu adalah Kata Sandi yang lama, kamu harus mati!"

"Ah, ini jadi merepotkan!" ucap Wu Chen.

Kemudian dalam sekejap mata, Wu Chen memukul belakang kepala kedua pria itu dan langsung membuat mereka terjatuh pingsan.

"Maaf, tapi aku harus masuk!" ucap Wu Chen kepada mereka yang telah pingsan.

Wu Chen lalu lanjut berjalan memasuki lorong tersebut.

Setelah berjalan cukup lama, Wu Chen akhirnya sampai di ujung lorong dan berdiri di depan sebuah pintu yang terbuat dari logam.

Lalu tanpa mengucapkan kata apapun, Wu Chen membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya.

Setelah masuk, Wu Chen melihat sebuah ruangan yang cukup luas, kira-kira seluas setengah lapangan sepak bola.

Namun saat Wu Chen baru saja memasuki ruangan tersebut, tiba-tiba sebuah tangan dengan kuku yang tajam muncul dan menyerang ke arah kepalanya.

Wu Chen yang menyadari serangan itu dengan cepat menangkap pergelangan tangan tersebut dan berkata

"Sungguh sambutan yang luar biasa!"

Tangan dengan kuku yang tajam itu ternyata adalah milik seorang wanita berparas cantik dan tubuh yang seksi.

"Aku pikir siapa yang datang... Ternyata itu kamu!" kata wanita tersebut melihat ke arah wajah Wu Chen.

Wanita itu bernama Mei Kong, seorang ahli di Tingkat Suci Tahap Delapan.

Kemudian Wu Chen melepaskan pergelangan tangan Mei Kong dari genggamannya. Dia lalu berjalan dan Mei Kong mengikutinya dari arah belakang.

"Kenapa kamu datang kemari?" tanya Mei Kong.

"Tentu saja untuk mengunjungi mu!" jawab Wu Chen.

"Orang yang selalu berada di perbatasan utara datang ke kota ini hanya untuk mengunjungi ku? Berhentilah ber-omong kosong!"

"Katakan yang sebenarnya, apa tujuan kamu datang ke kota ini?" tanya Mei Kong mengulangi.

"Baiklah, sebenarnya aku datang ke kota ini untuk mencari murid!" jawab Wu Chen dengan jujur.

"Apa? Coba ulangi, sepertinya pendengaran ku sedikit bermasalah!"

"Aku datang ke kota ini untuk mencari murid. Apakah kamu mendengarnya?" kata Wu Chen.

Mei Kong yang mendengar itu merasa sangat terkejut dan sulit untuk mempercayainya.

"Tidak... Tunggu... Kamu mencari murid? Apakah kamu serius?" tanya Mei Kong benar-benar merasa keheranan.

"Tentu saja aku serius! Untuk apa aku berbohong padamu?" jawab Wu Chen meyakinkan.

Mendengar itu, Mei Kong masih merasa bingung dan penuh keheranan. Sulit untuk mempercayai apa yang di katakan oleh Wu Chen.

Dia lalu lanjut bertanya.

"Apa alasan kamu mencari murid?" tanya Mei Kong penasaran.

"Tidak ada alasan. Aku hanya ingin mencari kesenangan dan menghilangkan kebosanan ku!" jawab Wu Chen.

"Hanya itu?" Mei Kong benar-benar dibuat keheranan.

"Ya... Hanya itu!" jawab Wu Chen meyakinkan.

Mei Kong yang mendengar jawaban tersebut berkata dalam hatinya.

'Dia benar-benar orang yang aneh!'

Lalu Mei Kong lanjut bertanya lagi.

"Tipe murid seperti apa yang kamu cari?" tanya Mei Kong.

"Tidak ada! Asalkan dia dapat membuat aku tertarik, maka itu sudah cukup!" jawab Wu Chen.

"Astaga, itu benar-benar sulit!" ucap Mei Kong.

Alasan mengapa Mei Kong mengatakan itu benar-benar sulit, karena pada kenyataannya sangatlah sulit untuk menarik perhatian orang seperti Wu Chen.

"Bagaimana dengan ku? Bisakah aku menjadi muridmu? Aku rasa aku cukup menarik!" tanya Mei Kong menawarkan dirinya.

"Tidak!" jawab Wu Chen spontan.

"Kenapa?"

"Kau tidak menarik!"

"Anj***!" ucap Mei Kong seketika memaki.

Kemudian, Wu Chen yang tadi terus berjalan sampai pada sebuah kursi panjang yang mirip sebuah singgasana

"Sepertinya kamu suka bermain menjadi seorang ratu. Apakah kamu selalu duduk di sini?" tanya Wu Chen sembari memandangi kursi tersebut.

"Tidak selalu, tapi cukup sering!" jawab Mei Kong sedikit malu.

"Heh!"

Wu Chen yang mendengar itu langsung menghela nafas dan tersenyum remeh.

Mei Kong yang melihat Wu Chen meledeknya seketika merasa kesal. Dia kemudian berkata kepada Wu Chen.

"Berhenti melihat kursi itu. Karena kamu sudah datang ke sini, bagaimana kalau kamu ikut minum teh bersama ku?" tanya Mei Kong.

"Hmm... Minim teh ya... Baiklah... Kebetulan aku juga sudah lama tidak minum teh!" kata Wu Chen menerima tawaran Mei Kong.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...****************...

..........

..........

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!