Wu Chen terbang melintasi langit dengan sangat cepat, hingga tidak butuh waktu lama dia sampai ke tempat tujuannya.
Kota Naga (Dragon city), Universitas Tujuh Naga (Seven Dragon University).
Di sebuah ruangan kantor, tampak seorang pria paruh baya yang sedang sibuk membaca sebuah dokumen.
Pria paruh baya itu bernama Hu Jinhong, seorang Kepala Sekolah di Universitas Tujuh Naga.
Kemudian disaat Hu Jinhong sedang membaca dokumen di tangannya, perlahan dirinya menurunkan dokumen tersebut dari pandangannya.
"Sungguh kemampuan yang luar biasa. Jika dirimu tidak dengan sengaja membocorkan auramu, aku tidak akan sadar bahwa dirimu berada tepat di depan ku!" ucap Hu Jinhong.
Hu Jinhong lalu melihat ke depan, disana sudah ada Wu Chen yang sedang duduk di hadapannya.
"Lama tak jumpa, Dekan Hu?" sapa Wu Chen dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Ya, mungkin sekitar sepuluh tahun. Tapi untuk seseorang yang berada jauh di Kota Pertahanan Utara datang ke tempat ini, tidak mungkin hanya untuk menyapaku bukan? Apa tujuan kamu datang ke sini, Wu Chen??" tanya kepala sekolah Hu Jinhong agak dingin.
"Jangan bersikap dingin seperti itu. Bukankah aku juga merupakan alumni dari Universitas ini?" ujar Wu Chen dengan santai.
"Kamu hanya berada di universitas ini selama se-minggu, bagaimana bisa kamu merupakan alumni dari sini? Katakanlah, apa sebenarnya tujuan kamu datang ke sini?" tanya kepala sekolah Hu Jinhong mengulangi.
Wu Chen yang melihat respon dan sikap Hu Jinhong, kemudian tidak ingin berbasa-basi lagi.
"Baiklah, aku akan mengatakan tujuan aku datang ke sini. Aku ingin meminta 10 Tiket Emas Universitas Tujuh Naga untuk tahun ini!" kata Wu Chen.
Hu Jinhong yang mendengar permintaan itu seketika terkejut.
"Apakah aku tidak salah dengar?" tanya Hu Jinhong dengan sangat keheranan.
"Anda tidak salah mendengarnya. Aku menginginkan 10 Tiket Emas Universitas Tujuh Naga tahun ini!" Wu Chen menjawab dengan yakin.
Disisi lain, kepala sekolah Hu Jinhong yang mendengar itu mencoba untuk tetap tenang. Dia lalu bertanya kepada Wu Chen.
"Apakah kamu tahu apa itu Tiket Emas?"
"Tentu saja aku mengetahuinya! Bukankah itu adalah tiket yang bisa membuatmu masuk ke universitas tujuh naga tanpa harus mengikuti ujian? Dan Tiket itu juga hanya ada dua belas setiap tahunnya, apakah diriku benar?" jawab Wu Chen.
"Kamu sudah tahu itu, tapi kamu masih berani untuk memintanya?!" ujar Kepala Sekolah Hu Jinhong merasa kesal.
"Ya, karena aku tahu itu, makanya aku memintanya. Jadi, bisakah anda memberikan Tiket Emas itu padaku?" tanya Wu Chen.
"Kamu bahkan bukan merupakan guru dari universitas ini! Tidak ada alasan bagiku untuk memenuhi permintaan mu!" kata Hu Jinhong dengan tegas menolak permintaan tersebut.
Namun itu tidak menghentikan Wu Chen untuk mendapatkan Tiket Emas yang dirinya inginkan. Dia lalu berkata kepada Hu Jinhong.
"Bukankah anda hanya butuh sebuah alasan? Kalau begitu, bagaimana kalau aku menjadi Guru di universitas ini?" tanya Wu Chen.
Hu Jinhong yang mendengar itu seketika terkejut dan menatap Wu Chen yang ada di hadapannya.
"Apa!?? Kamu ingin menjadi guru di universitas ini??" tanya Hu Jinhong terheran-heran.
"Benar sekali! Dengan aku menjadi guru di universitas ini, apakah itu memberikan anda alasan yang cukup?" tanya Wu Chen.
"Walaupun kamu menjadi guru di universitas ini, aku tetap tidak bisa memberikan Tiket itu kepadamu!" jawab Hu Jinhong tetap menolak permintaan Wu Chen.
"Kenapa?" Tanya Wu Chen penasaran.
"Dua belas Tiket Emas adalah jumlah kuota untuk murid Kelas S. Kelas yang hanya diisi oleh para individu terbaik dari yang terbaik. Jika aku memberikan Tiket Emas itu kepada kamu, siapa yang tahu, apa yang akan kamu lakukan dengan Tiket tersebut?" ujar Kepala Sekolah Hu Jinhong.
"Tentang itu anda tidak perlu khawatir. Aku tidak datang ke sini untuk bermain-main. Aku pasti akan menggunakan tiket emas tersebut dengan baik!"
"Dan aku berjanji, aku akan membawakan anda para individu terbaik dari yang terbaik untuk universitas ini. Anda bisa memegang kata-kataku!" ucap Wu Chen mencoba untuk meyakinkan
Namun, bahkan setelah semua kata-kata itu, Kepala Sekolah Hu Jinhong tetap tidak goyah.
"Maaf, tapi aku tetap tidak bisa memberikan Tiket Emas itu kepada mu. Itu berada di luar wewenang ku!" kata Hu Jinhong menolak permintaan Wu Chen.
Disisi lain Wu Chen yang permintaannya terus-menerus ditolak hingga berulang kali mulai merasa tidak senang.
"Dekan Hu..."
Wu Chen dengan tatapan dingin menatap Hu Jinhong yang ada di hadapannya. Suasana di ruangan itu seketika menjadi mencekam.
"Aku sudah menghormati anda dengan datang ke sini dan melakukan permintaan dengan sopan, namun anda terus menolak permintaan ku dan bersikap dengan dingin. Haruskah aku menghancurkan sekolah ini dan menghajar mu terlebih dahulu untuk mendapatkan Tiket Emas itu?"
Wu Chen menunjukkan keseriusan dalam kata-katanya, dan itu terlihat dari matanya yang menunjukkan niat membunuh.
Hu Jinhong yang mendengar ancaman itu akhirnya menyadari siapa yang sedang duduk di hadapannya.
Bahkan hanya dengan nafas dan tatapan matanya membuat Hu Jinhong tidak bisa bergerak dan sulit bernafas.
'Aku lupa bahwa orang yang sedang duduk di hadapanku ini adalah Wu Chen, orang terkuat di dunia!'
'Dia bisa melakukan apa pun yang dia mau tanpa ada yang bisa menghalanginya! Kalau dia mau, dia bisa langsung mengambil Tiket Emas itu tanpa harus memintanya padaku!'
'Namun karena dia datang dan memintanya pada ku, itu berarti dia sudah bersikap sopan dan menghormati diriku. Aku sungguh bodoh karena tidak menyadari itu!'
'Sekarang, kalau aku tidak memberikan apa yang dia inginkan, mungkin dia benar-benar akan menghancurkan sekolah ini!" pikir Hu Jinhong di benaknya.
Lalu Hu Jinhong berhenti bersikap dingin kepada Wu Chen dan berbicara dengan lebih sopan.
"Maafkan aku! Ini adalah kesalahan ku! Aku bisa memberikan Tiket Emas itu kepada mu, tetapi aku tidak bisa memberikan tiket emas dengan jumlah yang kamu mau. Aku hanya bisa memberikan sembilan Tiket Emas kepada mu!" kata Hu Jinhong.
"Hanya sembilan? Kemana tiga tiket emas lainnya?" tanya Wu Chen masih dengan wajah yang dingin.
"Tiga tiket lainnya telah aku berikan kepada orang lain. Jadi hanya ada sembilan tiket emas yang tersisa!" jawab Hu Jinhong.
"Aku harap kamu tidak berbohong kepada ku!" ujar Wu Chen mengingatkan.
"Aku tidak akan berani!" kata Hu Jinhong meyakinkan Wu Chen.
Pada saat itu, Wu Chen hanya diam dan melihat wajah Hu Jinhong yang tertunduk ketakutan.
'Sepertinya dia berkata jujur!' ucap Wu Chen di benaknya.
Karena merasa Hu Jinhong berkata jujur, maka Wu Chen tidak ingin memperpanjang masalah tersebut.
"Baiklah, kalau begitu berikan sembilan Tiket Emas yang tersisa kepada ku!" kata Wu Chen memerintahkan.
"Baik, tunggu sebentar!" jawab Hu Jinhong segera bangkit dari tempat duduknya.
Lalu Hu Jinhong mengambil sebuah koper dari salah satu lemari di belakangnya. Ketika koper itu dibuka tampak sembilan Tiket Emas yang tersisa ada di dalamnya.
"Aku akan mengambil sembilan tiket ini!" kata Wu Chen kepada Hu Jinhong.
Dia lalu mengangkat tangannya di atas sembilan tiket tersebut dan menyimpannya ke dalam telapak tangannya. Setelah itu Wu Chen kemudian bangkit berdiri.
"Terima kasih atas kerjasama mu, Dekan Hu! Sekarang, aku harus pergi. Aku akan kembali dalam waktu 3 bulan. Selama waktu itu, anda harus menyiapkan semua yang aku butuhkan. Dan sebagai gantinya aku akan membawakan murid yang anda inginkan! Sampai jumpa tiga bulan lagi!" ucap Wu Chen berbalik badan.
Kemudian dia langsung menghilang tanpa suara meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara itu, Kepala Sekolah Hu Jinhong yang masih berada di dalam ruangan kantor nya, tampak duduk dengan lemas.
Dia menghela nafas dan menatap langit-langit.
"Apakah aku sudah membuat keputusan yang benar? Sekarang aku hanya bisa berharap dia tidak menyebabkan masalah!" ucap Hu Jinhong merasa pasrah.
Dia berharap tidak akan ada sesuatu yang terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
..........
..........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Tara
yang kuat yang berkuasa...gila yach
2024-08-24
1
zhafira
yooo keren
2024-08-17
1
Ahmad Buchori
up dan kanjutkan
2024-08-14
1