Bab 16

5 bulan berlalu ....

Bulan keluar dari kamar mandi dengan wajah murung , bergegas Dewa mendekati nya .

"Bagaimana sayang ?" tanya Dewa dengan antusias

Bulan menggeleng pelan seraya menyodorkan sebuah testpack bergaris satu kepada Dewa , dan pria itu langsung menerima nya dan melihatnya .

Dewa segera menarik istrinya kedalam pelukan .

"it's okay gapapa , nanti kita coba lagi . Masih ada banyak waktu jangan terburu-buru". Ucap Dewa lembut

"Tapi mas , Eyang dari kemarin nungguin kabar kehamilan Bulan ". Ujar Bulan sendu

"Yang berproses kita sayang , jadi kalo Allah belum kasih ya bagaimana . Tugas kita hanya berusaha , jangan pikirkan tentang Eyang ". Kata Dewa berusaha menenangkan istri nya .

"Bagaimana kalo Bulan gak subur mas . Bagaimana kalo Bulan gak bisa kasih mas anak ". Ucap Bulan

Tuk..

Dewa memukul pelan kening istrinya dengan jari telunjuknya .

"Mas gak suka ya kamu bicara begitu . Kita sudah cek kesehatan dan kata dokter kita berdua subur gak ada masalah dalam kesehatan kita . Cuma mungkin Allah belum kasih kita anak karena bisa jadi kita belum siap nanti nya jadi orang tua , jadi kita manfaatin waktu dulu buat lebih giat lagi berproses hmm?" Tukas Dewa panjang lebar menjelaskan

"Iya mas maaf " sahut Bulan lirih

"Ya udah gapapa , Begini saja lusakan mas ada tinjauan proyek ke luar kota . Kamu mau ikut ? Sekalian kita bulan madu . Sejak pertama menikah mas belum ajak kamu bulan madu , bagaimana ?" tanya Dewa lembut

"Boleh mas ".

"Jangan sedih lagi , coba mana senyum cantiknya mas pengen lihat ?"

Bulan langsung menyunggingkan senyum nya dengan lebar .

Cup ..

Dewa mengecup sekilas pipi chubby Bulan .

"Kalo begini kan cantik , tadi cemberut jelek banget mirip boneka mampang ". Goda Dewa

"Masss !" seru Bulan tak terima

"Iya sayang ku , kamu yang paling cantik kok ".

.

.

.

Setelah memastikan istri nya kembali tenang dan ceria , kini Dewa berpamitan akan berangkat ke kantor .

"Sayang mas berangkat dulu ". Pamit Dewa pada Bulan saat istrinya itu mengantarkannya sampai didepan pintu rumah .

"Iya mas hati-hati ". Ucap Bulan lalu memeluk sebentar sang suami .

Rasanya tak rela jika harus berpisah , meskipun hanya ditinggal bekerja . Entah apa yang Bulan rasakan , semenjak suami nya itu menyatakan jika ia juga menyimpan rasa untuknya . Perasaan Bulan terhadap Dewa semakin besar , bahkan ia takut jika suatu saat Dewa meninggalkannya .

"Kamu beneran gak mau mas antar kerumah Bunda aja ?" tanya Dewa

Bulan menggeleng pelan ,"Gak usah mas . Lagian kalo weekday begini semuanya pada sibuk kerja . Sama aja nanti Bulan kesepian kalo disana ". Ujarnya seraya mendongak menatap wajah tampan sang suami .

"Ya sudah kalo begitu mas gak maksa , tapi kabari mas jika ada apa-apa . Nanti siang mas mau makan siang dirumah , bisa tolong masakin buat mas sayang ?" pinta Dewa dengan lembut lalu mengecup sekilas kening Bulan .

"Boleh , memang suamiku mau dimasakin apa ?" tanya Bulan .

"Terserah sayang saja , apapun yang istri mas ini masak . Bakal mas makan kok ".

Bulan tersenyum senang mendengar nya . Dewa begitu menjadi sosok suami yang bisa menghargai setiap usaha istri nya dan yang paling penting pria itu tidak menerapkan prinsip patriarki .

"Ya sudah mas berangkat ya sayang , hubungi mas jika butuh sesuatu ". Kata Dewa kemudian ia mencium kening istrinya lagi , tak lupa juga Dewa meninggalkan ciuman dibibir Cherry milik Bulan .

Dan Bulan langsung meraih tangan Dewa dan menciumnya takzim . "Hati-hati mas ".

Setelah itu Dewa segera masuk kedalam mobil . Tak lupa Dewa membuka kaca sebelah kemudi lalu memberikan flying kiss pada istrinya . Dan Bulan juga membalasnya seraya melambaikan tangan nya .

Perlahan mobil yang Dewa kendarai melaju meninggalkan pelataran rumah nya , setelah memastikan Dewa sudah pergi baru lah Bulan kembali masuk kedalam rumah .

Tapi saat Bulan akan menaiki tangga menuju kamar nya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah nya membuat Bulan seketika menghentikan langkah nya .

"Siapa ya ? Apa mas Dewa pulang lagi ?" Bulan bermonolog sendiri . Tak ingin ambil pusing Bulan segera berbalik badan dan melangkahkan kakinya bergegas membukakan pintu .

Ceklekk ..

"Maaf cari siapa ya ?" tanya Bulan sopan pada seorang wanita yang mungkin seusia suami nya .

Wanita itu berbalik badan dan menatap wajah cantik Bulan dengan sorot mata nya yang teduh .

"Apa benar ini rumah nya mas Dewa ?" tanya wanita itu

"Iy-iya , ada perlu apa ya ?" ujar Bulan penasaran .

"Bisa kita bicara didalam ?" pinta wanita itu dengan sopan

"Boleh , silahkan masuk ". Bulan mempersilahkan wanita itu masuk , meski didalam hati nya begitu merasakan cemas .

"Silahkan duduk ".

"Terimakasih .. "

Bulan segera memanggil bibi untuk membuat tamu nya itu minum .

"Maaf anda siapa ya ?" tanya Bulan penasaran . Karena sedari tadi wanita itu terus menatapnya membuat Bulan merasa tak nyaman .

"Perkenalkan saya Siska , teman kuliah Dewa ". Kata wanita itu seraya mengulurkan tangannya , dan Bulan membalas nya .

"Kedatangan saya kemari karena-"

"Sayang ..." teriak Dewa memanggil istrinya .

Bulan menoleh kearah sumber suara . Sedang Siska langsung terpaku ditempatnya duduk ketika mendengar suara maskulin yang begitu ia rindukan .

"Mas , kok pulang lagi ?" tanya Bulan dan segera beranjak dari duduknya menghampiri sang suami .

"Iya , ada berkas mas yang ketinggalan . Ada tamu ya sayang ?" ujar Dewa melirik Siska yang duduk membelakangi nya .

"Iya mas , katanya teman kuliah mas dulu . Mas kenal ?"

Mendengar itu , Dewa mengernyitkan dahi nya . Ia langsung melangkahkan kaki nya mendekati Siska .

Ketika melihat wajah Siska , seketika Dewa membulatkan matanya terkejut .

"Mas ..." sapa Siska

Dewa diam tak menjawab , lidahnya terasa Kelu hanya untuk sekedar membalas sapaan itu . Dia adalah wanita yang 8 tahun lalu penyebab hancurnya kehidupan Dewa .

Wanita yang 8 tahun lalu Dewa cintai dengan begitu hebat nya , wanita yang ia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya . Tapi dia tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi , hanya meninggalkan sebuah surat dari rumah sakit yang menyatakan dia telah mengandung darah daging nya .

Melihat sang suami hanya diam saja , Bulan langsung mendekat dan mengelus lengan Dewa .

"Mas ..." panggil Bulan

Suara sang istri langsung membuyarkan lamunannya akan kejadian 8 tahun yang lalu . Dengan memaksakan diri , Dewa menampakkan senyum dihadapan istri kecilnya .

"Sayang , mas ke atas dulu ambil berkas nya ". Kata Dewa sengaja menghindar dari Siska .

Tapi sayang , ucapan Siska mampu menghentikan langkah Dewa .

"Mas , tolong .. Bunga butuh kamu mas , butuh papa nya ". Mohon Siska dengan bibir yang bergetar ketika mengucapkannya . Ia mengingat putri nya yang terbaring tak berdaya diatas brankar rumah sakit .

Deg ...

Dewa terpaku mendengar nya , begitu juga dengan Bulan .

"Papa?" lirih istri Dewa .

.

.

.

Haii , jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen .. Terimakasih 🌹♥️

Terpopuler

Comments

Erna Wati

Erna Wati

sabar ya bulan yang kuat jangan takut masih ada mama sm papa yg masih sayang sm kamu

2025-01-21

0

🍒⃞⃟🦅Rivana84

🍒⃞⃟🦅Rivana84

oh aku kirain td Ghania😅😅
bibit pelakor nih kyk nya

2024-10-20

0

🍒⃞⃟🦅Rivana84

🍒⃞⃟🦅Rivana84

Ghania kyk nya deh

2024-10-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!