5 bulan berlalu ....
Bulan keluar dari kamar mandi dengan wajah murung , bergegas Dewa mendekati nya .
"Bagaimana sayang ?" tanya Dewa dengan antusias
Bulan menggeleng pelan seraya menyodorkan sebuah testpack bergaris satu kepada Dewa , dan pria itu langsung menerima nya dan melihatnya .
Dewa segera menarik istrinya kedalam pelukan .
"it's okay gapapa , nanti kita coba lagi . Masih ada banyak waktu jangan terburu-buru". Ucap Dewa lembut
"Tapi mas , Eyang dari kemarin nungguin kabar kehamilan Bulan ". Ujar Bulan sendu
"Yang berproses kita sayang , jadi kalo Allah belum kasih ya bagaimana . Tugas kita hanya berusaha , jangan pikirkan tentang Eyang ". Kata Dewa berusaha menenangkan istri nya .
"Bagaimana kalo Bulan gak subur mas . Bagaimana kalo Bulan gak bisa kasih mas anak ". Ucap Bulan
Tuk..
Dewa memukul pelan kening istrinya dengan jari telunjuknya .
"Mas gak suka ya kamu bicara begitu . Kita sudah cek kesehatan dan kata dokter kita berdua subur gak ada masalah dalam kesehatan kita . Cuma mungkin Allah belum kasih kita anak karena bisa jadi kita belum siap nanti nya jadi orang tua , jadi kita manfaatin waktu dulu buat lebih giat lagi berproses hmm?" Tukas Dewa panjang lebar menjelaskan
"Iya mas maaf " sahut Bulan lirih
"Ya udah gapapa , Begini saja lusakan mas ada tinjauan proyek ke luar kota . Kamu mau ikut ? Sekalian kita bulan madu . Sejak pertama menikah mas belum ajak kamu bulan madu , bagaimana ?" tanya Dewa lembut
"Boleh mas ".
"Jangan sedih lagi , coba mana senyum cantiknya mas pengen lihat ?"
Bulan langsung menyunggingkan senyum nya dengan lebar .
Cup ..
Dewa mengecup sekilas pipi chubby Bulan .
"Kalo begini kan cantik , tadi cemberut jelek banget mirip boneka mampang ". Goda Dewa
"Masss !" seru Bulan tak terima
"Iya sayang ku , kamu yang paling cantik kok ".
.
.
.
Setelah memastikan istri nya kembali tenang dan ceria , kini Dewa berpamitan akan berangkat ke kantor .
"Sayang mas berangkat dulu ". Pamit Dewa pada Bulan saat istrinya itu mengantarkannya sampai didepan pintu rumah .
"Iya mas hati-hati ". Ucap Bulan lalu memeluk sebentar sang suami .
Rasanya tak rela jika harus berpisah , meskipun hanya ditinggal bekerja . Entah apa yang Bulan rasakan , semenjak suami nya itu menyatakan jika ia juga menyimpan rasa untuknya . Perasaan Bulan terhadap Dewa semakin besar , bahkan ia takut jika suatu saat Dewa meninggalkannya .
"Kamu beneran gak mau mas antar kerumah Bunda aja ?" tanya Dewa
Bulan menggeleng pelan ,"Gak usah mas . Lagian kalo weekday begini semuanya pada sibuk kerja . Sama aja nanti Bulan kesepian kalo disana ". Ujarnya seraya mendongak menatap wajah tampan sang suami .
"Ya sudah kalo begitu mas gak maksa , tapi kabari mas jika ada apa-apa . Nanti siang mas mau makan siang dirumah , bisa tolong masakin buat mas sayang ?" pinta Dewa dengan lembut lalu mengecup sekilas kening Bulan .
"Boleh , memang suamiku mau dimasakin apa ?" tanya Bulan .
"Terserah sayang saja , apapun yang istri mas ini masak . Bakal mas makan kok ".
Bulan tersenyum senang mendengar nya . Dewa begitu menjadi sosok suami yang bisa menghargai setiap usaha istri nya dan yang paling penting pria itu tidak menerapkan prinsip patriarki .
"Ya sudah mas berangkat ya sayang , hubungi mas jika butuh sesuatu ". Kata Dewa kemudian ia mencium kening istrinya lagi , tak lupa juga Dewa meninggalkan ciuman dibibir Cherry milik Bulan .
Dan Bulan langsung meraih tangan Dewa dan menciumnya takzim . "Hati-hati mas ".
Setelah itu Dewa segera masuk kedalam mobil . Tak lupa Dewa membuka kaca sebelah kemudi lalu memberikan flying kiss pada istrinya . Dan Bulan juga membalasnya seraya melambaikan tangan nya .
Perlahan mobil yang Dewa kendarai melaju meninggalkan pelataran rumah nya , setelah memastikan Dewa sudah pergi baru lah Bulan kembali masuk kedalam rumah .
Tapi saat Bulan akan menaiki tangga menuju kamar nya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah nya membuat Bulan seketika menghentikan langkah nya .
"Siapa ya ? Apa mas Dewa pulang lagi ?" Bulan bermonolog sendiri . Tak ingin ambil pusing Bulan segera berbalik badan dan melangkahkan kakinya bergegas membukakan pintu .
Ceklekk ..
"Maaf cari siapa ya ?" tanya Bulan sopan pada seorang wanita yang mungkin seusia suami nya .
Wanita itu berbalik badan dan menatap wajah cantik Bulan dengan sorot mata nya yang teduh .
"Apa benar ini rumah nya mas Dewa ?" tanya wanita itu
"Iy-iya , ada perlu apa ya ?" ujar Bulan penasaran .
"Bisa kita bicara didalam ?" pinta wanita itu dengan sopan
"Boleh , silahkan masuk ". Bulan mempersilahkan wanita itu masuk , meski didalam hati nya begitu merasakan cemas .
"Silahkan duduk ".
"Terimakasih .. "
Bulan segera memanggil bibi untuk membuat tamu nya itu minum .
"Maaf anda siapa ya ?" tanya Bulan penasaran . Karena sedari tadi wanita itu terus menatapnya membuat Bulan merasa tak nyaman .
"Perkenalkan saya Siska , teman kuliah Dewa ". Kata wanita itu seraya mengulurkan tangannya , dan Bulan membalas nya .
"Kedatangan saya kemari karena-"
"Sayang ..." teriak Dewa memanggil istrinya .
Bulan menoleh kearah sumber suara . Sedang Siska langsung terpaku ditempatnya duduk ketika mendengar suara maskulin yang begitu ia rindukan .
"Mas , kok pulang lagi ?" tanya Bulan dan segera beranjak dari duduknya menghampiri sang suami .
"Iya , ada berkas mas yang ketinggalan . Ada tamu ya sayang ?" ujar Dewa melirik Siska yang duduk membelakangi nya .
"Iya mas , katanya teman kuliah mas dulu . Mas kenal ?"
Mendengar itu , Dewa mengernyitkan dahi nya . Ia langsung melangkahkan kaki nya mendekati Siska .
Ketika melihat wajah Siska , seketika Dewa membulatkan matanya terkejut .
"Mas ..." sapa Siska
Dewa diam tak menjawab , lidahnya terasa Kelu hanya untuk sekedar membalas sapaan itu . Dia adalah wanita yang 8 tahun lalu penyebab hancurnya kehidupan Dewa .
Wanita yang 8 tahun lalu Dewa cintai dengan begitu hebat nya , wanita yang ia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya . Tapi dia tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi , hanya meninggalkan sebuah surat dari rumah sakit yang menyatakan dia telah mengandung darah daging nya .
Melihat sang suami hanya diam saja , Bulan langsung mendekat dan mengelus lengan Dewa .
"Mas ..." panggil Bulan
Suara sang istri langsung membuyarkan lamunannya akan kejadian 8 tahun yang lalu . Dengan memaksakan diri , Dewa menampakkan senyum dihadapan istri kecilnya .
"Sayang , mas ke atas dulu ambil berkas nya ". Kata Dewa sengaja menghindar dari Siska .
Tapi sayang , ucapan Siska mampu menghentikan langkah Dewa .
"Mas , tolong .. Bunga butuh kamu mas , butuh papa nya ". Mohon Siska dengan bibir yang bergetar ketika mengucapkannya . Ia mengingat putri nya yang terbaring tak berdaya diatas brankar rumah sakit .
Deg ...
Dewa terpaku mendengar nya , begitu juga dengan Bulan .
"Papa?" lirih istri Dewa .
.
.
.
Haii , jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen .. Terimakasih 🌹♥️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Erna Wati
sabar ya bulan yang kuat jangan takut masih ada mama sm papa yg masih sayang sm kamu
2025-01-21
0
🍒⃞⃟🦅Rivana84
oh aku kirain td Ghania😅😅
bibit pelakor nih kyk nya
2024-10-20
0
🍒⃞⃟🦅Rivana84
Ghania kyk nya deh
2024-10-20
0