Kini kedua pengantin baru itu ikut berkumpul bersama dengan para tetua diruang tamu . Disana juga ada Arimbi kakak perempuan Sadewa .
"Ekhem.." Eyang Wijaya berdehem sebelum memulai obrolan .
"Wa " panggil Eyang pada cucu nya yang sedari terus menatap sang istri yang duduk disamping bunda nya .
"Ya yang ?" sahut Dewa lalu menoleh menatap Eyang Wijaya
"Apa rencana mu setelah ini ?" tanya Eyang Wijaya
Sejenak Dewa menarik nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan Eyang .
"Bulan harus ikut tinggal bersama Dewa , dan Dewa akan memberikan kebebasan untuk Bulan selagi ia tau batasan sebagai istri ". Jawab Dewa tegas
Eyang Wijaya beralih menatap Bulan ." Bagaimana dengan mu nak Bulan ?"tanya nya
Bulan melirik ke arah Ayah Harsa dan beliau menganggukkan kepala nya .
"Bulan akan ikut kemana pun mas Dewa pergi yang, asal Bulan masih diperbolehkan untuk kuliah dan mengejar cita-cita Bulan ". Ujar Bulan pelan
"Hm.. Kamu bisa pegang kata-kata saya ". Sahut Dewa
.
Setelah pembahasan tadi , Bunda Via dan Ayah Harsa langsung berpamitan pulang karena mereka belum sempat memberi kabar pada Senja jika Bulan menikah . Di mansion Eyang Wijaya hanya tinggal Papa Andra , Mama Dewi , Arimbi dan juga Silvia serta kedua pengantin baru .
"Mah pah , Dewa pamit ajak Bulan pulang kerumah ". Pamit Dewa pada orangtua nya
"Apa gak sebaiknya nginep dulu disini wa ? Kasihan Bulan pasti dia kecapekan ". Kata Mama Dewi
"Masih ada lain hari mah ". Ujar Dewa
Mama Dewi menghela nafas pelan , susah sekali membujuk putra nya yang keras kepala itu .
"Pulanglah Wa , kalian butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain ". Ucap Eyang Wijaya
Dewa mengangguk dan lekas berpamitan pada keluarga nya . Tangannya segera meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat .
"Kita pamit yang , mah , pah , mbak .." Ujar Dewa kemudian mengajak Bulan keluar dari mansion Eyang Wijaya .
.
"Bulan ..." teriak Silvia memanggil Bulan yang sudah akan masuk kedalam mobil Dewa
Bulan berbalik badan dan menatap Silvia sedang berlari kearah nya . "Ada apa Sil?"
Silvia langsung memeluk tubuh ramping sahabatnya itu .
"Selamat atas pernikahan loe , tadi gue belum sempat ngucapin .." ucap Silvia
Bulan membalas pelukan itu sembari tersenyum kecut ."Makasih , aku juga gak nyangka ternyata aku yang jadi pengantin nya ".
Silvia melepas pelukan itu dan mencengkeram pelan kedua lengan Bulan .
"Bilang sama gue kalo om Dewa nyakitin loe , Gue bakal jadi garda terdepan buat lindungin loe ". Ujar Silvia
Dewa yang berdiri disamping Bulan langsung menoyor kening ponakannya itu .
"Jangan bicara macam-macam dengan istriku ". Ancam Dewa menatap tajam Silvia
Sedang Bulan terkekeh melihat itu , bisa-bisa nya Silvia yang bertubuh kecil seperti dirinya berani menantang Dewa yang memiliki tubuh tinggi tegap . Mungkin Silvia sudah kalah duluan jika gelud sama Dewa .
"Makasih Sil , kamu udah mau jadi sahabat terbaikku ". Ucap Bulan tulus seraya menggenggam tangan Silvia
"Sudahlah kita pulang sekarang , saya takut kamu kena rabies jika lama-lama berdekatan dengan dia ". Sela Dewa lalu menarik tangan Bulan seraya menunjuk Silvia dengan dagu nya .
"Enak aja , Lan kamu yang harus hati-hati sama om Dewa bisa kena sakit perut lama kamu ..." teriak Silvia ketika Dewa sudah membawa Bulan masuk kedalam mobil dan melajukan mobil nya perlahan meninggalkan pelataran mansion Eyang Wijaya .
.
Didalam mobil tak ada obrolan antara Dewa dan Bulan , mereka sibuk dengan pikiran masing-masing . Bulan yang melamun seraya menatap luar jendela dan Dewa yang fokus mengemudi . Hingga 1 jam berlalu , mobil yang mereka tumpangi sudah sampai dirumah milik Dewa .
Rumah yang tak kalah jauh mewah dari mansion milik Eyang Wijaya , hanya saja mansion milik Eyang bergaya klasik eropa sedang milik Dewa bergaya modern .
Bulan sempat terkagum-kagum melihat kemegahan mansion Dewa , meskipun rumah nya juga besar tapi Bulan akui mansion Dewa bisa diukur dua kali lipat dari rumah ayah Harsa .
"Turun ..." titah Dewa ketika sudah berdiri membukakan pintu mobil untuk Bulan .
"Iy-iya " sahut Bulan terbata-bata karena terkejut
Dewa mengulurkan tangannya agar Bulan bisa berpegangan . "Hati-hati " ucapnya lembut seraya sebelah tangannya melindungi puncak kepala Bulan agar tak terkantuk bagian atas pintu mobil .
"Makasih om". Ujar Bulan
Dewa berdecak kesal , bukankah tadi Bulan sudah memanggilnya mas ketika berkumpul tadi ? Tapi kenapa sekarang balik manggil om lagi ? Gemas sekali Dewa rasakan .
"Ck , kenapa panggil om lagi ? Sudah saya ingatkan bukan ?" kata Dewa
"Ingatkan apa om?" tanya Bulan
"Saya akan menghukum mu jika berani panggil saya dengan sebutan om, kamu tak lupa kan ?" ucap Dewa seraya menaikkan sebelah alis nya yang tebal
"Kan Bulan manggil om cuma pas kita berduaan gini , kalo didepan keluarga ya panggil nya mas . Kan gak sopan ". Kata Bulan dengan santai nya
Sedang Dewa sudah membulatkan mata nya tak percaya jika istri kecil nya ini bisa melakukan pencitraan . Dewa memijat pelipis nya pelan , merasa pusing dengan tingkah Bulan .
"Saya gak mau tau , mulai sekarang biasakan panggil saya mas . Saya ini suami mu kalo kamu lupa ". Dewa mengingatkan status mereka
"Iya , Bulan tau kalo kita udah jadi suami istri . Tapi-"
"Jangan lagi membantah atau saya akan kurung kamu " ancam Dewa
"Bulan bukan ayam om ". Cerocos Bulan
Oh Astaga ! Dewa pikir istri nya ini gadis pendiam ternyata hanya cover nya saja yang kelihatan lugu serta polos . Padahal asli nya bikin kepala Dewa bisa meledak , bisa dipastikan tensi darah Dewa akan selalu naik jika berhadapan dengan istri kecil nya itu .
Dewa segera menarik tangan Bulan dan membawa nya masuk kedalam rumah . Bahkan Dewa langsung menunjukkan kamar utama yang akan mereka tempati .
Ceklekk
Dewa membuka pintu kamar nya . Kamar yang dominan dengan cat abu-abu serta wangi parfum maskulin begitu mendominasi kamar mewah itu . Bahkan luas kamar nya bisa dijadikan sebagai lapangan sepak bola .
"Ini kamar kita berdua ". Ucap Dewa seraya mendudukan dirinya disofa yang terletak disudut ruang kamar nya .
"Kita tidur berdua om?" tanya Bulan memastikan
"Hm..." Dewa menjawab nya dengan berdehem
"Satu ranjang ?" tanya Bulan lagi
Dewa mengangguk .
"Apa gak ada kamar lain lagi ?"
"CK! Kamu ini banyak tanya , saya sengaja kamu tidur satu kamar karena kamar yang lain sudah ditempati oleh maid ". Ucap Dewa gemas
Bulan menghela nafas pelan
"Saya sudah sediakan pakaian untuk mu diruang walk in Closet , segera bersihkan diri dan istirahat ". Titah Dewa lalu beranjak dari duduknya dan melepas pakaiannya tepat didepan Bulan .
"Om mau ngapain buka baju begitu , malu om ". teriak Bulan seraya menutup mata dengan telapak tangannya .
"Saya mau mandi , kamu pikir saya mau apa ?"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
safana
meskipun masih bocah istrinya tp tetep ya om dewa gak bisa nganggep kaya ponakan
2025-02-13
0
Erna Wati
bocil dinikahi ya harus sabar lah ngadepin nya/Sweat//Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
2025-01-21
0
🍒⃞⃟🦅Rivana84
blm jg sehari jd suami istri kmu udh pusing aja Dewa/Facepalm//Facepalm/
2024-10-20
0