"Huf...., akhirnya energiku sudah kembali stabil," batin Lei Nan sambil menarik napas dalam-dalam.
Lei Nan perlahan mendongak, memandang langit yang dipenuhi awan petir. Pemandangan itu masih bisa terlihat dengan jelas, mengingatkannya akan kekuatan besar yang baru saja dia rasakan. Metode kultivasi ini memang sangat kuat, bahkan bisa membuatnya naik beberapa tingkat dalam sekejap. Namun, dia sadar betul bahwa menyerap semua kekuatan itu dengan tergesa-gesa hanya akan menghancurkan fondasinya.
Lei Nan teringat kembali pada pengalamannya dengan kedua lengannya yang kini penuh dengan tato rumit. Kelumpuhanya dulu terjadi karena dia terpaksa menggunakan teknik yang melampaui batas tubuhnya. Jika bukan karena situasi mendesak, dia tidak akan pernah melakukan hal berbahaya seperti itu.
"Huf..., dengan kekuatanku sekarang, kemungkinan aku bisa dengan mudah mengalahkan kultivator di ranah Penyerapan Energi dengan sedikit usaha," batin Lei Nan, merasakan kebanggaan yang mengalir dalam dirinya.
Namun, tiba-tiba udara dingin merayapi tubuhnya, membuatnya gemetar. Lei Nan mendongak dan menyadari bahwa tubuhnya telanjang, tanpa sehelai kain pun menutupi dirinya. Rasa malu segera menyelimutinya.
"Dingin sekali, akh sial, kemana pakaianku," ucap Lei Nan mengumpat pelan sambil melihat sekeliling.
Pandangan Lei Nan tertuju pada jubah yang dikenakan oleh pembunuh yang mengejarnya sebelumnya. Dengan cepat, dia mengambil jubah itu dan mengenakannya. Dia memeriksa sekitar, memastikan tidak ada yang melihat kejadian memalukan itu. Setelah yakin tidak ada saksi mata, Lei Nan meninggalkan tempat itu, meninggalkan mayat pembunuh di belakangnya.
Tanpa Lei Nan sadari, jauh di dalam lembah, dari gua yang gelap, terlihat sepasang mata merah menyala dari kegelapan. Pancaran mata merah itu begitu kuat, mampu membuat siapa pun yang melihatnya merasa takut.
"Hohoho, bocah itu sudah pergi. Cepat atau lambat, dirimu akan kembali kesini, nak, dan aku akan menunggumu, dan tuan pasti senang melihat dirimu yang sekarang," gumam sosok misterius itu, sebelum mata merah itu menghilang di kegelapan gua.
Kita belum tahu siapa sosok dari dalam gua itu, yang pasti sosok itu memiliki kekuatan yang amat kuat karena berani tinggal di kedalaman Lembah Petir, yang bahkan seseorang di ranah inti emas akan berpikir dua kali untuk hanya singah disana.
Lei Nan berjalan perlahan, merasa lega karena akhirnya tiba di depan pintu lembah. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, dia melanjutkan perjalanannya menuju kota. Kali ini, Lei Nan memasuki gerbang kota dengan kepala tegak, tidak seperti sebelumnya.
Di depan gerbang kota, terlihat dua penjaga yang berjaga dengan waspada.
"Tunjukkan identitasmu," ucap salah satu penjaga dengan tegas.
Penjaga lainnya, yang tampaknya mengenali Lei Nan, segera berbisik kepada temannya, "Hei, cepat buka gerbangnya, dia adalah tuan muda Lei Nan."
Mendengar itu, penjaga pertama terkejut dan segera mempersilahkan Lei Nan untuk masuk. Penjaga yang sebelumnya menghentikan Lei Nan, masih bingung dan bertanya, "Hei, bukankah dia adalah tuan muda yang cacat itu?"
"Ssst..., diam kau. Jika bukan karena tuan muda Lei Nan, mungkin keluargaku sudah musnah," jawab penjaga itu dengan tegas.
"Apa maksudmu?" tanya penjaga pertama, masih kebingungan.
"Ais.., baiklah, lebih tepatnya 1 tahun lalu," jawab penjaga itu sambil menghela napas panjang.
*****
Satu tahun yang lalu, di suatu kamar di kediaman Lei, ada seorang wanita dan beberapa pria berjubah.
"Nyonya, mari ikut kami," ucap seorang pria dengan nada memaksa.
"Cukup! Aku sudah tidak ingin kembali ke keluarga," jawab wanita itu dengan suara tegas.
"Maaf, nyonya, ini perintah kepala keluarga," ucap pria itu, segera membuat wanita itu pingsan dengan sentuhan ringan.
"Ibu, dimana ibu!" teriak seorang pemuda berumur 15 tahun, berlari masuk ke dalam kamar.
"Sial, sepertinya ada seseorang yang akan menuju tempat ini," ucap pria itu dengan panik.
Mereka segera meninggalkan kamar itu, namun saat akan pergi, pintu tiba-tiba terbuka lebar.
"Kalian siapa? Dan apa yang kalian lakukan kepada ibuku?" ucap bocah itu, yang tak lain adalah Lei Nan.
"Cepat, kita pergi!" ucap pemimpin kelompok itu dengan cepat, bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Dengan gerakan cepat, mereka melarikan diri. Namun, saat sampai di dekat gerbang kota, mereka terkejut melihat seorang bocah yang sudah berdiri tepat di depan mereka.
"Sialan bocah ini, hey cepat buat dia pingsan," ucap pemimpin mereka dengan marah.
"Baik, tuan," jawab salah satu pria, maju ke depan.
Dengan cepat, pria itu menyerang Lei Nan. Namun, dengan ketangkasan yang luar biasa, Lei Nan menghindari setiap serangan. Kejadian itu berulang-ulang hingga akhirnya pria itu semakin marah dan berniat membunuh Lei Nan.
"Paman, kau lamban sekali," ucap Lei Nan dengan nada mengejek.
Deg
"Apa!" ucap pria itu semakin marah, mengangkat lengannya ke atas. Muncul energi yang sangat besar di atasnya, tidak menyadari bahwa Lei Nan adalah anak dari nyonyanya.
Pemimpin mereka yang menyadari situasi itu segera membuka matanya lebar-lebar. "Hei, kau cepat berhenti!" teriaknya, namun pria itu tidak mendengarkannya.
Di daerah itu penuh dengan pemukiman, dan mereka yang awalnya berniat bersembunyi sekarang diketahui oleh bocah ini. Bola energi itu segera mengarah ke Lei Nan, namun dari pandangannya, bola itu terlihat sangat lambat dan dengan mudah dihindari.
"Paman, seranganmu lambat sekali," ucap Lei Nan melihat bola energi yang melewatinya.
Namun, saat melihat ke arah mana bola itu pergi, Lei Nan terkejut. Di sana ada seorang gadis kecil yang sudah menangis ketakutan. Lei Nan menyadari bahwa dia tidak akan sempat menyelamatkan gadis itu dengan cepat. Dengan tekad kuat, dia mencoba menahan serangan itu.
"Ark...., aku tidak mampu menahan ini. Aku terpaksa menggunakannya," ucap Lei Nan, menutup matanya. Dari tubuh Lei Nan, terdengar ledakan yang keras.
Boom!
Boom!
Dalam sekejap, Lei Nan mencapai ranah Pembentukan Akar Suci tahap awal. Namun, suara tulang yang retak terdengar sangat nyaring.
Krak!
"Ark..., aku harus menahannya, jika tidak, bola energi ini akan menghancurkan tempat ini," batin Lei Nan sambil menahan sakit. Kedua lengannya sudah sangat rusak, namun dia masih bisa bergerak, mungkin karena tekadnya yang sangat kuat. Harus diketahui bahwa seseorang yang memaksakan trobosan harus rela kehilangan fungsi salah satu bagian tubuhnya, dan sekarang kedua tangan Lei Nan yang menjadi lumpuh.
Boom!
Ledakan besar terjadi, membuat seluruh penduduk di sana terbangun. Sedangkan Lei Nan terhempas ke rumah penduduk di sekitar.
Segera pria sebelumnya ingin menghentikan pria sebelumnya, yang ingin membunuh Lei Nan dengan tinjunya segera menhabisi pria itu.
"Sial ayo kembali dan bawa mayat sampah itu."ucap pria itu pergi melihat jika Lei Nan masih hidup segera dia pergi di ikuti pria lainya.
"Tidak, jangan bawa ibu..." ucap Lei Nan akhirnya, lalu pingsan. Perlahan, ranahnya kembali turun ke Ranah Penyerapan Energi tahap delapan.
*****
"Kenapa kau yakin dengan cerita itu?" tanya penjaga pertama, masih penasaran.
"Karena bocah perempuan itu adalah anakku," jawab penjaga itu singkat, dengan tatapan mata sedih saat melihat punggung Lei Nan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
spooky836
tak paham langsung cerita apa 1 thun lps.
2025-03-19
0
Sutikno 23
ternyata bantu anaknya
2024-10-11
0
Atuk
⭐⭐⭐⭐⭐
2024-10-03
0