Pagi hari. Seokjin yang baru saja tersadar dari mabuknya semalam. Meringis sakit kepala. Seokjin tidak mengingat apapun soal kejadian semalam. Saat dirinya mencumbu dan meniduri Dami semalam.
“Ahh sial, kepala ku sakit sekali. Eoh... kenapa albumnya ada di sini?” Gumam Seokjin sambil melihat kearah album yang Dami lihat semalam.
Seokjin yang melupakan semuanya itu. Memilih untuk mandi, lalu meminum sup penghilang mabuk yang telah di siapkan oleh ajumma. Dan bergegas turun untuk sarapan.
Namun..., baru saja Seokjin melangkah turun. Seokjin terkejut melihat Appa nya, Sunny dan kedua orang tua Sunny. Yang sudah menunggunya di ruang tamu.
“Kamu sudah bangun? Kemari dan duduklah.” Pinta Appa nya.
“Apalagi ini? Ahh, pasti soal nikah lagi!” Batin Seokjin.
Seokjin bergegas duduk di samping Appa nya. Appa nya segera menjelaskan mengapa Sunny dan kedua orang tuanya ada disini. Yah... tentu saja untuk memaksanya agar setuju untuk menikahi Sunny. Lelah mendengar ocehan Appa nya, Seokjin akhirnya pasrah dan memutuskan menyetujui pernikahannya dan Sunny.
“Sekarang Appa sudah puas? Aku pergi dulu!” Ujar Seokjin dingin dan bergegas pergi.
Seokjin yang selalu menghormati orang yang lebih tua itu, bergegas keluar tanpa berpamitan dengan kedua orang tua Sunny. Saking kesalnya dia dengan semua pengaturan pernikahan ini.
Di sisi Dami pun sama kacaunya dengan Seokjin saat ini. Dami yang sejak semalam di kunci oleh Yoongi di kamar, tidak bisa tidur dan hanya melamun hingga pagi hari.
“Ada apa dengan semua ini? Kenapa bisa Yoongi oppa berbuat sampai sejauh ini? Bahkan dia sampai tega membunuh anaknya sendiri....” Batin Dami yang seketika menangis mengingat anaknya yang telah tiada.
“Chagiya, makan lah. Aku sudah buatkan sarapan untuk mu.” Ujar Yoongi, membawakan Dami sarapan.
“Tidak mau. Aku hanya ingin menemui Seokjin Oppa.”
“Jangan memancing emosiku! Cepat makan saja!”
“Apa ucapan ku kurang jelas, Yoon? AKU TIDAK MAU!”
“Terserah! Aku akan ke agensi! Semua pintu akan ku kunci!” Ujar Yoongi, lalu keluar dan menutup pintu dengan keras.
Benar saja, sebelum meninggalkan apartemen Yoongi mengunci semua pintu keluar. Namun dirinya tidak lagi mengunci Dami di dalam kamar.
Pukul 16:50. Dami merasa tidak enak badan. Saat itu juga, Dami mendengar suara bel pintu yang berbunyi. Dengan susah payah, Dami berjalan ke arah pintu depan, dengan dua tujuan. Satu, untuk melihat siapa yang datang. Dua, semoga saja dirinya bisa meminta tolong ke orang tersebut.
Klik! Pintu terbuka dari luar.
“Aku mohon tolong aku!”
“Eh, Noona? Noona masih hidup?”
“Ya. Aku... aku mohon tolong keluarkan aku dari sini! Aku sudah tidak kuat lagi.”
“Ehh? Tu-tunggu sebentar.” Ucap orang tersebut dengan panik. Dan bergegas meminta bantuan.
Beberapa saat kemudian, orang itu segera kembali bersama petugas keamanan di sana. Saat pintu terbuka, orang itu dan petugas bergegas menolong Dami yang sudah pingsan di lantai.
“Eoh Noona!”
Mereka berdua bergegas membawa Dami ke rumah sakit. Dami dan orang itu, sampai di rumah sakit terdekat. Dami segera di tangani oleh Dokter, untuk memeriksa keadaannya.
“Dok, jadi bagaimana keadaan Noona saya? Dia baik-baik saja, kan?”
“Tuan, tenang saja. Nona ini hanya kelelahan dan belum makan saja. Jadi sepulang dari sini tolong suruh nona ini makan ya, Tuan.”
“Baik, Dok.”
“Noona dengarkan? Jadi, habis dari sini kita cari makan dulu untuk Noona.” Ujar orang itu dan melihat ke arah Dami.
“Aku tidak nafsu makan, Namjoon. Aku hanya ingin menemui Seokjin Oppa.” Ucap Dami menggeleng.
Yah, orang yang menolong Dami adalah Namjoon. Namjoon yang saat itu mampir ke rumah Yoongi sebelum ke dorm, untuk mengambil sesuatu. Belum saja masuk dirinya, malah mendapati Dami dalam keadaan yang kacau seperti itu.
“Aku janji. Sehabis makan, aku akan bawa Noona ke dorm, biar bisa ketemu Seokjin hyung. Kan kasihan badan Noona kalau sampai tidak makan.”
“Adik ipar mu benar. Terlalu bahaya untuk mu dan juga anak dalam kandungan mu, kalau sampai kamu tidak makan.”
“Tunggu...! Apa maksud Dokter, Noona ku hamil?”
“Iya. Loh? Tidak ada yang tau soal ini?”
Mendengar ucapan Dokter yang mengatakan dirinya hamil, sontak membuat Dami langsung keluar dari ruang pemeriksaan.
“Yak, Noona!” Panggilnya.
“Dok, saya pamit dulu, terimakasih.” Ucap Namjoon dan langsung berlari mengejar Dami.
...........................................
...****************...
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments