Bab 8 Mencoba Merelakan

Disisi lain terlihat Seokjin berhasil mengejar sang istri dan langsung menahan tangannya.

“Yak, istri kim seokjin, kenapa langsung pergi sendirian begitu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mu?” Ujar Seokjin.

“Ah, maafkan aku, Oppa. Tapi aku sudah tidak mau mengingat masalah itu lagi.” Ujar Dami pelan

“Aku mengerti apa yang kamu rasakan, Sayang. Tapi bukan berarti kamu langsung pergi sendirian begitu.”

“Aku benar- benar minta maaf, Oppa, aku janji tidak akan seperti itu lagi.” Ujar Dami.

“Baiklah, Sayang lupakan saja. Tapi, aku mau tanya..., Sayang apa kamu masih mencintai Yoongi?” Tanya Seokjin.

“Kenapa Oppa menanyakan hal itu?”

“Aku hanya ingin tau Sayang, bisa katakan dengan jujur? Aku tidak akan marah.”

“Oppa mianhae, aku sedang berusaha untuk melupakannya.” Ujar Dami.

*Mian-hae, yang artinya maaf.*

“Ahh, begitu. Ya sudah Sayang, tidak masalah. Sudah ayo kita pulang.” Ucap Seokjin sambil berjalan duluan.

Melihat Seokjin berjalan didepannya, membuat Dami cukup merasa bersalah dengan reaksi suaminya. Dami segera berlari dan memanggil Seokjin.

“Chagiya!” Panggil Dami.

*Chagiya, adalah salah satu panggilan sayang yang di gunakan untuk pasangan kekasih. Yang bisa di gunakan baik untuk laki-laki maupun perempuan. Yah..., mirip seperti, sayang, beb, baby, dan sebagainya.*

“Yak, Sayang ada apa? Kenapa tiba-tiba begini?” Ujar Seokjin, kaget karena Dami segera memeluknya dari belakang.

“Maafkan aku Oppa, aku tau kamu kecewa. Tunggu aku..., aku berjanji akan melupakannya.” Ujar Dami menenggelamkan kepalanya.

“Aigo, istriku kenapa kamu menjadi imut seperti ini. Kamu tenang saja, aku akan menunggu sampai kamu bisa melupakan manusia es itu.” Ujar Seokjin berbalik dan memeluk Dami.

“Sudah lebih baik kita pulang, anak ku yang ada di dalam perutmu bisa masuk angin.” Ujar Seokjin.

Dami yang mendengar ucapan Seokjin segera tersenyum. Sedangkan, Seokjin langsung menggandeng tangannya. Baru beberapa langkah, Seokjin langsung berseru....

“Yaa! Gara-gara kamu aku sampai meninggalkan mobil mahal ku di dorm.” Serunya, yang baru ingat.

“Yaish, yasudah sana tinggalkan aku saja.” Ucap Dami, yang pura-pura ngambek

“Aishh, dasar tukang ngambek.” Ucap Seokjin mencubit pelan pipi Dami.

...........................................

...****************...

......................

Setelah Yoongi menjelaskan hubungannya dengan Dami. Dirinya pergi ke sebuah bar yang tidak jauh dari Dorm. Di sana terlihat Yoongi yang sudah mabuk akibat minum terlalu banyak.

“Sial! Aku tidak bisa seperti ini terus, aku harus segera merebut Dami dari Seokjin hyung.”

“Tapi bagaimana dengan perjanjiannya? Aish persetanan! Seharusnya sku tidak usah menyetujuinya.”

“Kim Seokjin! Kau lihat saja, aku akan merebut Dami kembali bagaimanapun caranya!”

Ucap Yoongi yang mabuk, dan terus saja berbicara sambil meminum minuman beralkohol tersebut. Hingga ke gelas wine terakhir lalu pergi dari sana.

Sedangkan, pada saat yang bersamaan, Dami baru saja sampai di rumahnya dan memilih bersantai sejenak di sofa berdua dengan Seokjin.

“Sayang, apa kamu tidak lelah? Kita benar-benar seharian full berada di luar.” Tanya Seokjin, yang sepertinya lelah akibat berjalan kaki pulang ke rumah.

“Aish, Oppa. Tenang saja, aku tidak lelah sama sekali. Aku justru ingin berterima kasih karena kamu sudah membahagiakan ku hari ini.” Jawab Dami.

“Tidak usah berterima kasih seperti itu, Sayang. itu sudah tugasku untuk membahagiakan istriku tercinta ini.” Gombal Seokjin.

“Aishh, Oppa. Kamu benar-benar pintar berkata manis."

"Sudah sekarang mendingan kita tidur, Oppa.” Ujar Dami lalu beranjak dari duduknya.

“Baiklah Sayang, kalau gitu, kajja kita tidur.” Ucap Seokjin mengikuti Dami.

Baru saja mereka ingin berjalan ke kamar, tiba- tiba saja Seokjin mendapat panggilan telfon dari Pd~nim, yang mengharuskan nya untuk pergi ke agensi, saat itu juga.

“Sayang, aku benar-benar minta maaf, sepertinya malam ini kamu harus tidur sendirian.” Ucap Seokjin.

“Ehm, emangnya ada apa Oppa? Apa ada urusan mendadak?”

“Iya, Sayang, Pd~nim menyuruh ku pergi ke agensi untuk membahas project soloku.”

“Benarkah? Kalau begitu pergilah Oppa, itu hal yang sangat penting. Aku tidak masalah, tidur sendiri.”

“Beneran? Kamu tidak takut? Kalau memang kamu takut aku akan ke agensi besok pagi saja.”

“Aishh Oppa jangan seperti itu. Lagipula aku akan langsung menelepon mu, kalau sampai terjadi apa-apa padaku.” Ujar Dami menyakinkan suaminya.

“Aigo, istriku benar-benar pengertian.” Ujar Seokjin sambil menarik Dami kedalam pelukannya.

“Aku pergi dulu ya, Sayang. Jangan lupa kunci pintunya dan tolong langsung hubungi aku kalau terjadi apa-apa padamu.” Ucap Seokjin.

“Iya, Oppa, kamu tenang saja, dan jangan khawatir.”

Setelah berpamitan Seokjin bergegas keluar untuk pergi ke agensi, sedangkan Dami segera mengunci pintu sesuai ucapan suaminya. Namun baru beberapa saat, tiba-tiba saja bel pintu rumahnya berbunyi.

Ting! Tong! Bunyinya pun terus berulang. Hingga Dami memutuskan untuk membuka pintu untuk melihat siapa yang datang, dan juga Dami berpikir Seokjin melupakan sesuatu makanya kembali lagi.

“Iya, Oppa, tunggu sebentar. Apa ada yang ketinggalan?” Ucapnya sambil membukakan pintu rumah.

Begitu pintu terbuka, Dami benar-benar terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya saat ini. Sosok yang benar-benar ingin di lupakannya, Yoongi.

Dami yang terdiam karena terkejut melihat Yoongi ada di rumahnya, tanpa sadar bahwa dirinya telah di dorong masuk kedalam rumah dan Yoongi langsung menutup pintunya.

“Ada urusan apa kau kesini? Suamiku sedang keluar, jadi lebih baik kamu pergi dari sini.” Ucap Dami yang tersadar pada akhirnya.

“Suami? Kau memanggilnya dengan sebutan yang seharusnya untukku?!”

“Berhenti berbicara omong kosong seperti itu, aku benar-benar sudah muak dengan mu.” Ucap Dami.

“Cih, kamu memang tidak pandai berbohong. Aku tau kamu belum bisa melupakanku. Berhenti menjadi wanita munafik Dami~a!!”

“Oppa! Aku memang belum bisa melupakanmu. Tapi aku sedang berusaha untuk itu. Jadi aku mohon jangan dekati aku lagi!”

“Cihh! Apa lelaki tua itu yang mengajarimu untuk berani melawanku?”

“Tolong jangan memanggil suami ku seperti itu!” Seru Dami.

“Brengsek!” Umpat Yoongi dengan marah dan langsung mendorong Dami sampai dirinya terjatuh di atas sofa.

“Yo-yoon..., jangan gila! Menjauh dariku sekarang juga!” Bentak Dami sambil berusaha melepaskan cengkraman Yoongi.

“Kenapa gugup seperti itu, Sayang? Bukankah kita pernah melakukannya sampai kau hamil baby Min.” Ucap Yoongi yang mabuk.

“Cih! Kau mabuk Yoon!! Ku bilang lepaskan tanganku dan pergi dari sini!”

“Kalau aku tidak mau, apa yang mau kamu lakukan?” Ujar Yoongi yang sudah mabuk berat.

Dami benar-benar takut, dengan perlakuan kasar Yoongi padanya. Dami terus berusaha untuk melepaskan diri dari Yoongi yang sudah mabuk berat itu. Dami langsung menendang tepat pada titik fatal milik Yoongi, sampai Yoongi meringis kesakitan.

Dan Dami langsung melepaskan diri dan berlari ke kamarnya, dan mengunci pintu kamar. Dami yang benar-benar ketakutan, memilih bersembunyi di kolong meja riasnya. Sedangkan di luar Yoongi sudah berada tepat di depan pintu kamarnya sambil terus menggedor pintu kamar dan berteriak.

“Dami~a! Keluar kamu! Kamu benar-benar ingin menguji kesabaranku!” Teriaknya.

“Oppa aku mohon baca pesan ku, aku benar-benar takut.” Gumammu gemetar.

Yoongi yang benar-benar kesal karena tidak ada jawaban dari mu, memilih untuk pergi. Namun sebelum itu, Yoongi memberikan peringatan pada Dami.

“Brengsek! Shin Dami, dengarkan ucapanku baik-baik! Akan ku pastikan kamu kembali padaku!” Teriknya dan langsung pergi.

Di agensi.

Terlihat Seokjin baru saja sampai di sana, dirinya terlihat sedang duduk sambil menunggu pd~nim. Seokjin yang mendengar ponselnya menerima sebuah notif pesan segera membuka ponselnya, dan melihat pesan Dami.

Entah apa yang di tulis Dami di pesannya, yang membuat Seokjin langsung bergegas pulang tanpa mengucapkan apa-apa.

Tidak butuh waktu lama Seokjin sampai di rumah dan bergegas mencari Dami ke setiap sudut rumah.

“Sayang, kamu di mana? Kamu tidak apa-apa, kan?” Teriaknya sambil membuka pintu setiap ruangan.

Tidak berhasil menemukan istrinya, di lantai bawah. Seokjin bergegas naik ke lantai atas dan segera menuju kamar tidur mereka. Sesampainya di depan pintu kamar Seokjin mencoba membukanya namun pintu itu terkunci dari dalam.

Seokjin langsung mengetuk pintunya, karena dirinya yakin bahwa Dami ada di dalam sana. Dan benar saja pintu kamarnya terbuka oleh Dami.

“Sayang kamu tidak apa-apa? Apa dia menyakitimu? Apa ada yang terluka?” Tanya Seokjin beruntun pada Dami.

“Tidak oppa, aku tidak apa-apa. Sudah tenang lah.” Ucap Dami yang mengelus punggung Seokjin yang saat ini sedang memeluknya.

“Apa kau yakin, Sayang?”

“Apa kau melihat Wajah Perampok itu?”

Tanya Seokjin lagi, yang benar-benar khawatir dengan keadaan Dami

Pesan yang di kirim oleh Dami pada Seokjin adalah bahwa perampok memasuki kediaman mereka. Dami sengaja tidak memberitahu Seokjin bahwa Yoongi lah yang datang, melainkan perampok. Dami hanya takut akan ada perkelahian antara Seokjin dan Yoongi, nantinya.

“Ti-tidak, Oppa. Aku tidak ingat bagaimana ciri-ciri perampok itu.” Ucap Dami, merasa bersalah karena telah berbohong.

“Apa kau yakin, Sayang? Jadi bagaimana, apa mau kita bawa ke jalur hukum?”

“Tidak perlu, Oppa, yang penting aku tidak terluka.”

“Oppa bolehkah aku tidur sekarang? Aku benar-benar lelah.”

“Yasudah kalau memang seperti itu, ayo kita tidur.” Ucap Seokjin, langsung berbaring dan memeluk Dami..

“Sekarang tidurlah, besok jam 8 kita harus ke agensi. Maaf, sudah meninggalkan mu sendirian tadi.” Ucap Seokjin sambil memeluk erat Dami.

“Iya, Oppa. Tidak masalah, selamat tidur suami tampan ku.” Ucap Dami dan Seokjin mencium keningnya dan mulai tertidur.

...........................................

...****************...

......................

Pukul 04:50 pagi, Seokjin yang terlihat gelisah karena masih memikirkan masalah perampok yang menerobos masuk. Langsung ke ruang kerjanya karena penasaran Seokjin memutuskan melihat rekaman CCTV yang ada di rumahnya.

“Ternyata benar dugaan ku, dasar Yoongi sialan! Berani sekali dia begitu kepada istriku.” Ucapnya yang telah selesai melihat CCTV.

“Tenanglah Seokjin jangan berfikir buruk tentang Dami. Dia hanya tidak ingin kau bertengkar dengan adikmu sendiri.”

“Yoongi~a! Kau yang memulai permainan ini duluan. Jadi jangan salahkan aku.”

Ucap Seokjin, dan kembali ke kamar, sebelum Dami terbangun.

...........................................

...****************...

......................

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!