Kaki Candy gemetar, lemas, tulangnya serasa dicabut. Candu berada di sana, duduk di pinggiran jendela. Gadis pucat pasi itu menoleh kebelakang, menatap teduh sang kakak, matanya basah.
"Kak, terimakasih ya -- I love you ...!" Candu memejamkan matanya sembari mengulas senyuman tipis dengan kedua pipi yang basah. Gadis yang baru saja siuman itu, merentangkan kedua tangannya lalu melompat.
Candy berlari bagai kesetanan, berusaha menggapai tangan sang adik. Namun, sudah terlambat.
"CANDUUU ...!" jerit Candy, suaranya membelah kesunyian malam. Gadis itu tersentak dari tidurnya.
Nafasnya sengal, dadanya sakit, debaran jantungnya tak beraturan. Candy menatap wajah sang adik yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang. Lega, itu yang ia rasakan saat menyadari bahwa dirinya tengah mimpi buruk.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya Alex yang sejak tadi menunggu di luar ruangan.
Pria paruh baya itu mendekat, ingin memastikan keadaan dua nona muda nya.
"JANGAN MENDEKAT! BERHENTI DI SANA!" teriak Candy.
Alex menghentikan langkahnya dan menunduk hormat. "Baik, Nona. Maafkan kelancangan saya. Jika, Nona, membutuhkan sesuatu ... Saya berjaga di depan."
Alex mundur teratur, ini merupakan pertama kali dia dibentak nona mudanya. Kaget sudah pasti, tersinggung? Tentu saja tidak, pria paruh baya itu paham, bahwa sang nona tengah berusaha menjadi seorang kakak yang terbaik.
Semenjak Candu melakukan percobaan bunuh diri dan dinyatakan koma, Candy membuat peraturan ketat. Selain kakek, papa nya dan Dokter, tidak ada lelaki yang boleh mendekati ranjang sang adik. Bahkan Bisma yang merupakan orang kepercayaannya saja, tak diizinkan mendekat. Baginya, lelaki tetap lah lelaki.
Candy menatap sendu adiknya yang kian pucat. Hatinya kian pilu. "Kakak janji, kakak akan melindungi mu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruangan yang temaram, lebih tepatnya nyaris gelap, Bisma menyeringai. Pria tampan itu duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya. Kedua tangan mereka sibuk di atas meja, membuka kapsul kemudian menutupnya lagi. Lebih tepatnya wanita paruh baya itu membuka kapsul suplemen kecantikan milik Tantry, membuang isi nya, lalu menyerahkan cangkang kosong itu pada Bisma, untuk di isi dengan obat yang didapatkan dari Reby.
Mbok Darsih, merupakan pembantu rumah tangga yang mengabdi di rumah tantry selama sepuluh tahun dan selalu diperlakukan dengan buruk, bahkan keningnya yang sudah dipenuhi kerutan itu pernah dilempari sepatu heels oleh Tantry. Mengingat rasa sakit hatinya, wanita paruh baya itu menerima tawaran Bisma untuk bekerja sama, apalagi diiming-imingi imbalan lima ratus juta rupiah. Sesekali wanita paruh baya itu menatap majikannya yang tertidur pulas di atas ranjang.
"Mbok Darsih, tenang saja. Seisi rumah ini tidak akan terbangun sampai esok pagi. Makanan yang mereka konsumsi malam ini sudah ku bubuhi obat tidur dosis tinggi." Jelas Bisma yang seolah mengerti akan kecemasan yang melanda wanita di hadapannya.
"Itu kah sebabnya, Njenengan, melarang saya untuk makan dan minum malam ini?" tanya Mbok Darsih.
"Benar." Pria itu menutup botol suplemen kecantikan milik Tantry, yang keseluruhan isinya sudah selesai di tukar dengan obat yang diberikan Reby.
"Bawa kemari ponsel wanita jalang itu, fingerprint ada di kelingking kanannya," titah Bisma.
Darsih segera melakukan apa yang Bisma perintahkan, wanita itu menyodorkan ponsel yang sudah terbuka akses nya. Bisma lekas menyambar ponsel tersebut.
Pria itu menghubungkan kabel usb ke ponsel dan laptop miliknya, menyalin dan memindahkan sebuah aplikasi peretas yang dibelinya dari agen rahasia amerika kenalannya, ke ponsel Tantry. Begitu terpasang dan aktif, segera pria itu menyembunyikan aplikasi tersebut dari tampilan layar ponsel wanita itu.
"Bantu lepaskan salah satu bohlam yang ada dalam lampu gantung di kamar ini, Mbok," pinta Bisma setelah selesai mengakses ponsel Tantry.
Wanita paruh baya itu mengangguk dan segera mengerjakan apa yang Bisma pinta. Selagi Darsih memanjat di kursi dan berusaha membuka bohlam, Bisma mendekati wanita paruh baya itu sembari menenteng sebuah lampu bohlam yang sudah di lengkapi kamera tersembunyi.
Begitu selesai meletakkan kamera tersembunyi di kamar majikan nya, Darsih menyerahkan beberapa copyan dokumen penting Erlangga Group yang ia dapatkan dari kamar tuan dan nyonya nya. Sebuah perusahaan milik majikan yang sudah berjalan selama sebelas tahun.
"Kerja bagus, Mbok Darsih. Cek M-banking nya ya, dua ratus lima puluh juta rupiah sudah kami transfer. Sisanya akan ditransfer kembali, setelah kami memastikan wanita jalang itu meminum obatnya," jelas Bisma.
Wanita paruh baya itu meraih ponselnya demi memeriksa pundi-pundi rupiah yang masuk ke rekening nya. Mata teduh itu seketika penuh binar saat menghitung jumlah angka yang kini sudah menjadi miliknya.
"Terimakasih, Den? Njenengan siapa ya namanya?" Darsih baru ingat bahwa dia belum mengetahui siapa nama pria yang merupakan keponakan dari sahabatnya, Nela.
"Panggil saja Sakti, Mbok." Bisma mengulas senyuman tipis.
"Terimakasih, Den Sakti. Mbok jadi punya banyak uang, lumayan untuk biaya kuliah anakku loh." Darsih tersenyum cerah.
"Panggil saja Sakti, jangan pakai aden. Ya sudah, Mbok, saya permisi dulu," pamit Bisma.
Bisma melangkah keluar, menuju ruang keamanan. Beberapa petugas keamanan tertidur pulas akibat mengkonsumsi makanan yang dibubuhi obat tidur. Pria itu menghapus rekaman cctv beberapa jam lalu hingga sekarang. Selesai memastikan tidak ada jejak yang tertinggal, pria itu mematikan akses cctv di seluruh area rumah. Gesit Bisma melangkah pergi, misi dari ksatria nya selesai ia kerjakan.
Bisma tersenyum bangga. "Wah, aku gak nyangka ... ternyata aku secerdas ini, wohoooo...!"
Pria tampan itu mempercepat laju motornya, deru Harley kesayangannya memecah hening malam.
Setibanya di rumah sakit, pria itu memeriksa ponselnya yang sejak tadi berdering.
"Hello?"
"Hello, Tuan Bisma?"
"Ya, benar. Dengan siapa?"
"Saya Saddam, orang kepercayaan Tuan Louis, sahabat Anda. Saya ingin mengantarkan Marco pada Anda, kami baru saja tiba di Indonesia. Maaf karena kami sedikit terlambat membawa Marco ke negara ini, prosesnya sangat rumit. Bisa kah kita bertemu sekarang, Tuan Bisma? Jujur saja, saya tidak berani berlama-lama bersamanya."
"Baiklah, sekarang kalian di mana?"
"Saya masih di area bandara."
"Ok, aku akan segera kesana."
Bisma memutuskan panggilan telepon dan segera memarkirkan motornya, lalu menuju dan masuk ke sebuah mobil sport milik Candy.
Gegas pria itu melaju, suara mobil pun menderu, hati pria itu tak menentu.
Bisma meneguk kasar ludahnya. "Tuhan, selamatkan aku. Jangan cabut nyawaku malam ini."
*
*
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Nendah Wenda
siapa ya Marco apa berbahaya semoga Bisma baik baik aja
2024-08-14
1
Anonim
ooooohhh Candy mimpi ternyata
2024-08-08
1
Reni
Walahhh Tantri diapain itu 😬😬 perlahan balas dendam berjalan
2024-08-07
2