Bab 11

Jasmine mencebik ketika mendengar ucapan absurd suaminya. Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya karena tidak mau berlama-lama dengan Junior. Junior masih dengan santainya menikmati susu hangat yang hampir habis. Tak lama kemudian ia terdiam, ia kembali mengingat kenangannya bersama dengan Paris.

Rindu ini benar-benar berat, apalagi merindukan orang yang sudah tidak ada membuat ia semakin merasa kesakitan. Melihat raut wajah suaminya, Jasmine mendekati Junior. Ia memberanikan diri menggenggam tangan suaminya, bulir bening lolos begitu saja dari sudut mata Junior.

Jasmine menarik Junior membawanya ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut punggung sang suami, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

"Aku mencoba melupakannya tapi kenangan bersamanya selalu muncul. Aku merindukan Paris!" Junior menangis tergugu membuat Jasmine merasakan kesedihan suaminya.

"Aku sudah mengatakan, kamu enggak perlu melupakannya. Cukup kamu simpan semua kenangan indah itu di hatimu, pikirkan saat ini ia tersenyum senang saat melihat dirimu baik-baik saja dari sana" ucap Jasmine penuh kelembutan.

Jasmine mengajak Junior untuk ke kamar mereka, sebelumnya ia mematikan lampu ruangan kerja terlebih dahulu.

Junior merebahkan tubuhnya, ia masih terdiam mendengar ucapan Jasmine. Ia mencoba menyajikan kenangan pahit kehilangan Paris menjadi kenangan indah saat bersama dengan gadis itu. Sungguh ia merindukan Paris, ingin sekali Junior merengkuh tubuh mendiang kekasihnya.

Junior menatap wajah Jasmine yang hampir mirip dengan Paris, ia mendekatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri yang baru saja memejamkan matanya. Jasmine tersentak saat merasakan pelukan yang berasal dari suami dinginnya itu. Junior semakin merapatkan tubuhnya pada Jasmine, mencari kehangatan yang ia cari. Dalam bayangannya ia saat ini sedang memeluk Paris kekasihnya.

"Kenapa kamu pergi ninggalin aku?" racau Junior sembari memejamkan matanya.

Jasmine merasa Junior saat ini sedang mengigau, ia mengusap puncak kepala suaminya penuh sayang. Tak lama kemudian Jasmine ikut memejamkan matanya menyusul suaminya ke alam mimpi.

Pagi menyapa dua insan yang masih setia berpelukan, sayup-sayup terdengar suara burung diluar sana seolah membangunkan mereka. Sinar sang mentari menerobos masuk lewat celah gorden jendela kamar. Manik mata Junior mengerjap, ia terkejut ketika ia membuka matanya saat ini ia berada begitu dekat dengan Jasmine.

Wajah cantik Jasmine yang natural tanpa polesan make up membuat Junior melengkungkan sedikit sudut bibirnya. Gadis itu terlihat sangat tenang, meskipun ia menyimpan banyak kesedihan dalam hatinya, tapi ia masih tetap terlihat ceria di depan semua orang. Junior pikir semalaman ia memeluk Paris, namun ternyata Jasmine yang ia peluk.

Tak lama kemudian Jasmine membuka kedua matanya, Junior bergegas beranjak dari tempat tidur. Ia tidak boleh ketahuan sedang memperhatikan Jasmine, ia melenggangkan kakinya memasuki kamar mandi.

Jasmine bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi lain. Sebelumnya ia menyiapkan pakaian Junior terlebih dahulu, setelah selesai dengan ritual mandinya ia membantu bibi menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Junior.

"Biar saya saja non," ucap Bibi merasa tidak enak majikannya ikut membantu.

"Enggak apa-apa, Bi. Nanti kalau Bibi pulang kampung jadi aku sudah bisa masak, masa sudah menjadi istri, aku hanya bisa menggoreng telur saja." pungkas Jasmine lalu terkekeh.

Bibi pun ikut tertawa, mau tidak mau ia mengizinkan Jasmine membantu dirinya memasak. Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi, Jasmine bergegas membukakan pintu.

Jasmine terkejut ketika melihat siapa yang datang mengunjungi mereka pagi ini.

"Pagi, Nak!" sapa Oma Alexa dan Oma Stella bersamaan.

"Pagi Oma!" balas Jasmine lalu menyalami keduanya bergantian.

Jasmine mempersilahkan kedua Oma Junior masuk ke dalam. Junior yang sudah siap baru saja turun dari lantai atas. Ia tersenyum ketika melihat kedua Oma kesayangannya.

Junior menyalami mereka, lalu memeluk kedua Oma nya. Mereka pun duduk di sofa ruang keluarga, mengetahui kehadiran nyonya besar Bibi pun menyajikan minuman dan beberapa camilan.

"Kalian mau ke kantor?" tanya Oma ketika melihat sepasang suami istri ini sudah rapi.

"Iya, Oma. Kebetulan perusahaan akan mengadakan acara fashion show dalam waktu dekat ini," Jawab Jasmine mengulas senyum.

"Jangan terlalu kecapekan Jasmine, Oma pengen gendong cicit dari kalian," seloroh Oma Stella.

Jasmine hanya tersenyum tipis mendengar ucapan para Oma yang begitu antusias, ia melirik Junior yang terlihat santai menanggapi ucapan mereka.

Bagaimana mau mengandung, keduanya sampai saat ini masih belum melakukan hal itu. Namun, mana mungkin Jasmine mengatakan hal yang sebenarnya.

"Kami masih mau menikmati masa-masa berdua dulu, Oma. Ya kan sayang?" tanya Junior memberi kode ketika ia tiba-tiba merangkul mesra Jasmine.

Jasmine yang langsung sigap menerima kode dari Junior hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Ia mencoba tersenyum kikuk meskipun saat ini jantungnya semakin bermasalah karena berada dekat dengan Junior.

"Jangan lama-lama dong, biar Azzura ada temennya." celetuk Oma Stella ikut mendukung keinginan Oma Alexa.

"Iya, Oma kami akan berusaha." jawab Junior yang malas berdebat dengan para Oma.

Setelah lama berbincang, akhirnya kedua Oma pamit undur diri karena Junior dan Jasmine harus berangkat bekerja. Saat ini Jasmine sedang memakaikan dasi pada kerah kemeja suaminya.

Jarak mereka sangat dekat, membuat Junior terus memperhatikan bibir tipis dengan liptint merah muda membuat Jasmine terlihat cantik dengan make up tipis.

"Aku harus pergi sekarang, hari ini aku dan Vano akan sangat sibuk. Jadi aku pergi duluan ya!" pamit Jasmine lalu mencium punggung tangan suaminya sebelum beranjak pergi keluar rumah.

"Vano lagi?"

Ia lalu melihat kearah meja makan, dimana Jasmine belum sempat sarapan. Ia lebih memilih cepat-cepat bertemu dengan Vano daripada sarapan dengannya.

"Tuan tidak sarapan dulu?" tanya Bibi ketika melihat majikannya hendak pergi.

"Tidak, Bi."

"Padahal, nyonya Jasmine bela-belain belajar masak hanya untuk memasak semua ini untuk Tuan." Mendengar hal itu Junior menghentikan langkahnya, ia lalu duduk untuk menikmati makan yang sudah Jasmine buat.

Matahari mulai meninggi, dimana Vano dan Jasmine masih sibuk mempersiapkan segalanya. Semua orang memuji kemampuan Jasmine yang sangat hebat membuat pakaian yang akan menjadi trend fashion nantinya. Caitlyn mendengus kesal mendengar hal itu, sementara Vano dan Deasy terus menyemangati Jasmine.

"Bagaimana kalau kita makan malam bersama untuk merayakan semua ini?" usul Vano dan langsung disetujui oleh Jasmine dan yang lainnya.

"Kita akan makan malam dimana, Pak Vano?" tanya Julian yang sangat antusias apabila soal makan.

"Bagaimana kalau restoran barbeque atau steak, rasanya aku ingin makan daging setelah mempersiapkan semua ini" usul Jasmine sangat antusias.

"Oke, setuju!" jawab mereka semua serentak.

"Kau mau ikut tidak?" tanya Caitlyn.

"Tidak, aku malas pergi ke tempat seperti itu," tolak Caitlyn.

Ia tidak mau terlalu akrab dengan mereka, lagipula Junior pasti tidak akan ikut dengan mereka, karena Junior tidak menyukai keramaian.

"Saya pun ikut!"

Terpopuler

Comments

ᶯᵗ⃝🐍𝚖𝚋 𝚠𝚊𝚔𝚝𝚞 𝐀⃝🥀

ᶯᵗ⃝🐍𝚖𝚋 𝚠𝚊𝚔𝚝𝚞 𝐀⃝🥀

membangun hubungan sama melupakan yang ada itu sulit.keculi orang tersebut GK setia kawan .uups GK setia sama pasangan mkssudnya

2024-09-08

2

🍒⃞⃟🦅sɪɴᴛᴀ❣𖤍ᴹᴿˢ᭄off

🍒⃞⃟🦅sɪɴᴛᴀ❣𖤍ᴹᴿˢ᭄off

pasti si jun jun ini🤭

2024-08-08

2

🍒⃞⃟🦅sɪɴᴛᴀ❣𖤍ᴹᴿˢ᭄off

🍒⃞⃟🦅sɪɴᴛᴀ❣𖤍ᴹᴿˢ᭄off

jun mulai sekarang simpan kenangan mu bersama Paris mulai lah dengan jasmine karena hidup itu terus berjalan kedepan

2024-08-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!