Jasmine dan Vano baru saja sampai di perusahaan, saat itu pula Junior sedang memberi tahu para staff asisten barunya. Caitlyn tersenyum manis kepada semua orang, namun senyumnya memudar saat melihat Jasmine.
"Perkenalkan saya Caitlyn asisten bos, mohon bantuannya" ucap Caitlyn sembari menatap Jasmine.
Pandangan mata Junior kini tertuju pada Jasmine dan Vano yang baru saja datang.
"Nah, Caitlyn perkenalkan ini Jasmine dan Vano. Jasmine desainer kami sementara Vano adalah wakil saya selama saya tidak ada." Vano dan Jasmine menjabat tangan Caitlyn bergantian.
Entah mengapa Jasmine merasa wanita ini tidak menyukainya, padahal ia tidak mengenalnya. Ia pertama kali bertemu dengan wanita ini saat acara pernikahannya tempo hari. Semuanya kembali ke meja kerja masing-masing.
"Vano tolong tunjukkan meja kerja Caitlyn," pinta Junior.
Vano pun mengangguk menyetujui ucapan Junior.
"Aku kira tempat kerjaku di ruangan CEO?" tanya Caitlyn.
"Kau tahukan aku tidak suka bekerja satu ruangan dengan orang lain?" ucapan Junior membuat Caitlyn bungkam seribu bahasa.
Melihat sikap tegas Junior, Caitlyn tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat membuat chemistry seperti yang ada dalam novel-novel apabila berada jauh dari CEO nya.
"Jasmine, ikut saya!" titah Junior lalu melenggangkan kakinya memasuki ruangannya diikuti Jasmine.
Jasmine menutup pintu rapat-rapat setelah ia memasuki ruangan Junior. Ia langsung duduk di sofa di samping Junior sedang duduk menikmati kopinya.
"Kau itu bisa profesional tidak?" tanya Junior tegas.
"Professional gimana, Pak?" tanya Jasmine yang masih tidak paham arah pembicaraan Junior.
"Kalian berada di luar lama sekali, kalau mau pacaran jangan di jam kerja. Mengerti!" cerca Junior.
"Perasaan enggak lama banget deh! Lagian Pak, cari bahan kain yang bagus itu sangat sulit. Bapak enggak tahu apa saya kepanasan, kaki saya pegal-pegal ini malah diomelin" Jasmine menggerutu seraya mengerucutkan bibirnya.
"Jangan terlalu akrab dengan orang lain, ingat Oma Alexa selalu mengawasi kita" sahut Junior beralasan.
Entah mengapa ia tidak menyukainya ketika miliknya berdekatan dengan orang lain. Bolehkah Junior mengaggap Jasmine miliknya meskipun ia tidak mencintai wanita ini tapi dia adalah istri sah Junior.
"Hem, baiklah!"
Junior memberikan satu cup kopi yang tadi ia pesan, namun karena kelamaan ia taruh di dalam lemari es yang ada di dalam ruangannya.
"Minumlah! Kau pasti sangat lelah" ujar Junior dengan wajah kakunya tanpa senyum dan tanpa ekspresi.
Jasmine menerima minuman itu dengan senang hati, namun karena ia sudah tidak haus ia memilih menaruh minuman itu di atas meja.
"Ehmm ..Junjun." panggil Jasmine manja.
"Kenapa?" tanya Junior.
"Aku merasa asistenmu itu tidak menyukaiku, tapi aku belum pernah bertemu dengannya selain saat acara pernikahan kita tempo hari" keluh Jasmine.
"Itu mungkin hanya perasaanmu saja," balas Junior.
"Apa mungkin dia menyukaimu?" tanya Jasmine seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Junior.
Pandangan mata mereka bertemu, jarak mereka kini sangat dekat. Junior mendorong kening Jasmine dengan jadi telunjuknya agar Jasmine menjauh darinya.
"Aku dan dia bersahabat dari dulu, jadi enggak mungkin dia suka aku" kilah Junior.
"Enggak ada yang namanya persahabatan antara wanita dan pria," cibir Jasmine.
"Sama halnya dengan kamu dan Vano kan?"
Huft! Pria ini pandai sekali memutar balikkan fakta. Jasmine lebih memilih undur diri daripada terus berdebat dengannya.
"Kopimu tidak di minum?" tanya Junior ketika Jasmine hendak pergi meninggalkan ruangannya.
"Berikan saja, pada ulat keket mu itu!" ucap Jasmine dengan nada ketus.
Ia lalu melenggangkan kakinya meninggalkan ruangan Junior dengan wajah ditekuk. Bisa-bisanya dia membandingkan persahabatan dirinya dengan Caitlyn dan Jasmine dengan Vano. Jelas berbeda, Caitlyn terlihat menyukai Junior membuat Jasmine tidak suka dengan wanita yang sudah mengibarkan bendera perang kepadanya.
Ya, wanita itu mengibarkan bendera perang lewat tatapan tajamnya kepada Jasmine. Seolah dia lupa apabila Jasmine adalah istri dari atasannya.
"Dia kenapa? Tiba-tiba saja marah. Dasar wanita sulit dimengerti!" gumam Junior ketika melihat kopi yang ia berikan kepada Jasmine tidak disentuh oleh istrinya.
Tak lama kemudian Caitlyn masuk ke dalam ruangan membuat Junior mendelik, ketika melihat wanita itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu? Istriku saja mengetuk pintu lebih dahulu sebelum masuk sini. Jangan lupa di sini aku atasanmu Caitlyn!" tegas Junior.
Caitlyn menundukkan kepalanya ketika mendengar ucapan Junior. Ia selalu lupa apabila Junior selalu profesional dalam bekerja.
"Maaf!" ucap Caitlyn.
"Ada apa?" tanya Junior sambil membuka berkas-berkas yang berada di atas meja kerjanya.
"Sepertinya Jasmine dan Vano sangat akrab ya? Apa kau tidak curiga pada mereka?" tanya Caitlyn mengompori Junior agar tidak menyukai istrinya.
"Mereka hanya berteman," jawab Junior santai.
"Kau yakin? Tapi pria itu menatap Jasmine penuh damba, dia juga lumayan tampan menurutku" tukas Caitlyn membuat Junior jengah mendengarnya.
"Kalau kau hanya ingin bergosip sebaiknya keluar saja, aku banyak sekali pekerjaan sebelum acara fashion show dimulai. Mulailah mengakrabkan diri dengan yang lain, karena acara ini membutuhkan kerjasama tim" pungkas Junior dengan tegas.
Caitlyn pun pamit undur diri, ia lalu keluar dari ruangan Junior dengan raut wajah kecewa.
"Dia benar-benar sulit sekali ditaklukkan, aku enggak akan pantang mundur. Lihatlah sebentar lagi aku yang akan menjadi Nyonya Smith" Caitlyn tersenyum menyeringai dalam hati.
Malam ini Jasmine masih berkutat di meja kerjanya yang berada tidak jauh dari kamar mereka. Junior yang hendak mengambil minum melihat lampu di dalam ruangan kerja masih menyala. Ia langsung masuk ke dalam ruangan kerja, ia melihat Jasmine masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Kau tidak tidur?" tanya Junior sambil meminum susu hangat yang baru saja ia buat.
"Sebentar lagi, aku sedang membuat rok kebaya yang pas untuk atasan brukat ini."
Jasmine nampak terlihat cantik meskipun penampilannya saat ini acak-acakan. Rambut dicepol keatas dengan pensil yang berada di dekat telinganya.
Pandangan matanya masih fokus dengan rok kebaya yang ia buat. Junior mendaratkan bokongnya pada sofa yang berada di sana.
"Apa perlu aku bantu?" tanya Junior menawarkan.
"Tidak usah? Kau tidur saja" tolak Jasmine.
Tiba-tiba saja jarinya tertusuk oleh jarum, membuat Jasmine memekik. Junior bergegas menghampiri istrinya, dengan reflek ia memasukkan jari yang tertusuk ke dalam mulutnya.
Pandangan mata mereka kini saling bertemu, Jasmine merasakan hal aneh saat ini. Jantungnya berdetak lebih kencang saat ia berada lebih dekat dengan suaminya. Ada desiran aneh yang sulit ia artikan saat ini. Sedetik kemudian ia tersadar dari lamunannya.
Junior kembali mengambil susu yang ia letakan di atas meja setelah melihat tidak ada lagi darah yang keluar dari jari istrinya. Ia memberikan plester kepada Jasmine dan Jasmine menerimanya.
"Kau suka sekali dengan susu," ucap Jasmine ketika melihat suaminya itu sangat menikmati susu buatannya sendiri.
"Iya, karena dari sumbernya aku belum mencoba."
Eh?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
ˢ⍣⃟ₛ ❃ ᏝᏬᏕᎥ ❃
perasaan seorang istri ya jas apa lagi cath liat nya intens dan terlalu dekat
2024-10-27
1
🍒⃞⃟🦅sɪɴᴛᴀ❣𖤍ᴹᴿˢ᭄off
walah ini namanya kode brangkas minta di buka kan🤣🤣
2024-08-08
2
🍒⃞⃟🦅sɪɴᴛᴀ❣𖤍ᴹᴿˢ᭄off
dih ngarep bener dirimu satu ruangan dengan junior
2024-08-08
2