Junior menatap Jasmine yang saat ini meminum minuman miliknya, ia yang membawanya untuk nya. Tapi ia sendiri yang meminum dasar gadis aneh. Junior kembali mengingat ucapan Vano yang mengatakan apabila ia sedang mengejar wanita yang ia cintai. Apa mungkin gadis itu Jasmine?
"Kenapa lihatin kayak gitu? Cantik ya?" tanya Jasmine percaya diri dengan senyum merekah.
"Kau cantik dilihat dari lubang sedotan!" cibir Junior lalu melemparkan bantal sofa kepada Jasmine.
Jasmine kembali meminum minuman milik Junior, Junior merebut minuman itu dari Jasmine.
"Kau sudah memberikannya kepadaku, kenapa kau ambil lagi?" tanya Junior lalu meminum minuman itu.
"Pelit banget sih! Aku kehausan tahu!" cibir Jasmine.
"Andaikan aku tahu perusahaan ini milik keluarga Smith aku enggak akan melamar kerja di sini. Tapi aku udah nyaman kerja di sini, jadi kita damai ya. Jangan ngerjain aku lagi kayak tadi" ajak Jasmine bernegosiasi dengan suaminya.
"Jadi itu alasan kamu enggak meneruskan perusahaan milik Uncle Gerry?" tanya Junior selidik.
"Kamu belum pernah merasakan rasanya menjadi anak yang diabaikan oleh orang tua sendiri hanya karena kita memilih jalan yang lain. Ada seorang pria yang bernasib sama denganku, dan aku mencintainya. Tapi perasaan itu harus aku buang jauh-jauh karena sekarang aku sudah menikah." cerocos Jasmine panjang lebar.
"Kamu punya pacar? Ku kira enggak ada yang mau sama kamu" ejek Junior membuat Jasmine mengerucutkan bibirnya.
Kini giliran Jasmine yang melemparkan bantal sofa mengenai Junior. Junior kembali menatap Jasmine, gadis ini memang terlihat berbeda, ia terlihat lebih kuat meskipun sebenarnya ia rapuh.
"Kenapa kamu Nerima pernikahan ini?" tanya Junior penasaran.
"Karena kakak yang meminta, dia adalah duniaku. Satu-satunya keluargaku yang selalu mendukung langkahku. Kamu pikir aku tidak sakit ketika kehilangan kakak terbaik ku? Aku pun sama seperti mu Junjun, hanya saja aku tidak ingin Kakak diatas sana kecewa melihat aku terus bersedih. Aku harus melanjutkan hidupku, membuktikan padanya bahwa aku bisa menjadi adik yang membanggakan." Bulir bening menetes begitu saja tanpa permisi membasahi kedua pipinya.
"Kamu ketemu dengannya di saat terakhir, sementara aku? Aku bertemu dengannya hanya beberapa kali dalam setahun ini, andai aku mengetahui ini akan terjadi aku akan lebih banyak meluangkan waktu untuk berada di dekatnya. Tapi takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Untuk itu aku mohon, berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Buktikan kepada kakak apabila kamu bisa hidup lebih baik tanpanya" ucap Jasmine panjang lebar membuat Junior tersentuh mendengarnya.
"Bukan berarti kita melupakannya, kita bisa menyimpan kenangan bersama nya dalam hati saja. Tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan yang berkepanjangan." sambung Jasmine.
Junior tidak menyangka gadis yang terlihat ceria itu ternyata lebih bersedih daripada dirinya. Semua yang dikatakan oleh Jasmine benar, ia tidak boleh terus menerus terpuruk atas kepergian Paris.
Jasmine pun pamit undur diri, karena jam makan siang sudah berakhir. Ia tidak mau ada staff yang melihat dirinya berduaan dengan CEO baru mereka.
Junior menyandarkan punggungnya pada kursi setelah menghabiskan makanannya. Ia memejamkan matanya mencerna setiap ucapan yang diucapkan oleh Jasmine tadi.
Jasmine kembali ke meja kerjanya, tiba-tiba saja Vano memberikan secangkir es kopi untuk dirinya. Pria ini sungguh baik hati sekali, ia selalu tahu apa yang diinginkan oleh Jasmine.
Waktu terus berlalu tanpa terasa waktu jam kerja telah berakhir. Jasmine dan yang lainnya saling berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing. Vano menawarkan Jasmine untuk pulang bersama, Jasmine pun tidak menolak. Ia masuk ke dalam mobil Vano, Junior melihat Jasmine masuk ke dalam mobil Vano.
Benar dugaan Junior, wanita yang diincar oleh Vano adalah istrinya. Ia bergegas masuk ke dalam mobil lalu melakukan kendaraannya membelah jalanan kota.
Beberapa menit kemudian mobil Vano telah sampai di depan halaman rumah Junior dan Jasmine.
"Kamu udah lama pindah ke sini?" tanya Vano selidik.
"Baru beberapa hari ini," jawab Jasmine.
Vano merasa rumah ini rumah mewah meskipun terlihat sederhana dari luar. Ia penasaran Jasmine tinggal bersama siapa di rumah ini, bukankah kedua orangtuanya masih berada di Paris? Atau mungkin ia tinggal sendirian? Begitu banyak pertanyaan yang ingin Vano tanyakan. Namun lidahnya terasa keluar untuk bertanya.
"Aku duluan ya! Makasih ya, Vano" ucap Jasmine lalu keluar dari mobil Vano.
Vano tersenyum lalu melambaikan tangannya, ia pun melajukan kembali kendaraannya meninggalkan rumah Jasmine.
Jasmine berjalan menuju pintu masuk, ia sangat terkejut ketika ia sampai Junior sudah duduk di sofa ruang tamu sambil tumpang kaki. Bukankah pria itu belum pulang? Tapi mengapa ia sudah sampai terlebih dahulu? Atau ia memiliki pintu kemana saja Doraemon sehingga ia dengan cepat sampai ke rumah.
"Ada hubungan apa kamu sama Vano?" tanya Junior selidik.
"Cie..cie cemburu?" goda Jasmine membuat Junior salah tingkah.
"Bukan cemburu, wajar saja seorang suami bertanya seperti itu. Nanti kalau orang lain lihat kan mereka akan bertanya sama suaminya."
"Aku sama Vano cuma berteman, sudah biasa dia nganterin aku pulang. Jadi hal ini udah enggak aneh buat kita " jawab Jasmine santai.
"Lain kali diantar supir saja, kalau kamu enggak mau bareng aku. Aku enggak mau nanti kalau kerabat Daddy melihat menyangka kamu selingkuh," tegas Junior.
"Baiklah!" jawab Jasmine setuju.
"Hari ini sangat melelahkan," ucap Jasmine lalu memejamkan matanya.
Junior hanya menggelengkan kepalanya melihat Jasmine yang merebahkan tubuhnya di atas sofa. Apa ia terlalu kejam hari ini kepadanya sehingga istrinya nampak kelelahan sekali.
Ia kembali mengingat bagaimana ia mengerjai Jasmine hari ini. Entah mengapa ia sangat senang melihat gadis ini marah-marah tapi tetap melakukan apa yang ia suruh. Gadis pembangkang, tapi menurut segala permintaan suaminya. Bahkan ia dengan mudah menyetujui permintaannya barusan agar ia tidak pulang bersama Vano lagi.
Bagaimana jadinya apabila Vano tahu istri yang ia nikahi adalah wanita yang ia cintai. Meskipun belum ada cinta diantara keduanya tapi Junior tetap menghormati pernikahan ini. Ia tidak mau mengecewakan Paris dan kedua orangtuanya.
Junior berlalu masuk ke dalam kamar mereka, sementara Jasmine masih bersantai di ruang tamu sambil meluruskan kakinya. Hari ini sangat melelahkan, ah.. rasanya berendam di dalam bathtub akan sangat menyenangkan. Jasmine bangkit dari tidurnya ia lalu berjalan masuk menuju kamarnya, ia melenggang masuk menaruh tas miliknya pada walk in closet.
Jasmine tahu Junior pecinta kebersihan dan kerapihan, oleh karena itu kali ini ia tidak bisa sembarangan menaruh barang miliknya.
Ia membuka pintu kamar mandi, Jasmine sangat terkejut ketika melihat pemandangan di depan sana yang membuat imannya menipis.
"Kyaaaa Junjun, itu terong atau pisang!" teriak Jasmine membuat Junior terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
ˢ⍣⃟ₛ ❃ ᏝᏬᏕᎥ ❃
terong?? pisang dikamar mandi??
2024-10-27
1
ˢ⍣⃟ₛ ❃ ᏝᏬᏕᎥ ❃
saking sayangnya sama kakak jadi mau nerima wasiat nya ya jas
2024-10-27
1
ˢ⍣⃟ₛ ❃ ᏝᏬᏕᎥ ❃
siapa tuh yang di sukai jasmine
2024-10-27
1