Jarum jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, sepertinya Inem baru saja selesai memasak. Wanita itu membawa dua tamunya duduk di ruang tengah depan televisi.
“Maaf lo ya Kia, rumahnya kotor. Ini tadi rencananya mau lipat baju sambil nonton televisi, soalnya dua hari lagi kami mau pergi ke puncak.”
“Wah, mau bulan madu ya mbak Inem?” tanya Devina.
“Ah, iya Dev… kalian pasti sudah tau dari Kang Rois kan kalau kami sudah menikah, yah meskipun pernikahan kami belum di daftarkan di negara,” ucapnya lagi seraya menuangkan teh hangat dari teko kecil ke dalam gelas, dan menghidangkannya pada ketiga gadis itu.
“Iya mbak, ngomong-ngomong selamat ya mbak Inem. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.”
“Makasih Kia doanya, oh iya, kalau yang pake kacamata ini siapa namanya?” Inem menatap Shella yang tampak kaget, pasalnya mata gadis itu terus menyisir lantai.
“Ah… ah, itu lantainya bagus mbak,” ucap Shella.
“Shel, mbak Inem tanya namamu, kenapa kamu malah bahas lantai?” Kia menepuk pundak Shella dan menggosoknya kuat.
“Oh, namaku Shella mbak. Maaf ya, aku gagal fokus sama keramiknya, motifnya bagus.”
“Loh, tapi ini nggak ada motifnya loh mbak Shella.” Kening Inem berkerut, merasa heran dengan sikap gadis yang baru ditemuinya ini.
“Shel, kamu masih kepikiran ibu kamu ya? sampe nggak fokus gitu, gini mbak Inem sebenarnya tadi pagi dia dapat kabar kalau ibunya sakit, jadi kayaknya Shella kepikiran deh.” Terpaksa Kia berbohong, ia tak punya cara lain untuk menyikapi sikap ceroboh Shella.
“Oalah gitu, pantes aja. Semoga ibunya lekas sehat ya mbak Shella, yuk sambil diminum tehnya.” Inem menawarkan teh hangat dan beberapa cemilan diatas meja. Kia tak ingin membuang waktu terlalu lama, ia meminta izin untuk menumpang toilet, dan Inem mengantarnya ke ruang belakang. Kamar mandi mereka berada di samping dapur.
Sementara menunggu, Devina bertugas mengalihkan perhatian Inem. Gadis cantik itu memang terkenal dengan kemampuan bersosialisai, hingga tak butuh waktu lama baginya membuat Inem larut dalam obrolan. Shella memilih diam menyimak, tak ingin membuat masalah lagi.
BRAK… PRANG…
“Suara apa itu?” ucap Inem.
Suara yang berasal dari arah dapur itu membuat Shella dan Devi saling pandang, sedangkan Inem segera berlari memeriksa. “Kak Dev, gimana kalau kita ketahuan?”
“Ssst, kita ikut cek ke belakang sekarang.”
Keduanya menyusul Inem ke dapur, mereka bertiga sama-sama terkejut saat melihat Kia terjatuh di atas kotak kayu yang hancur berantakan. “Astaga Kia, apa yang terjadi?” Shella berjongkok disamping Kia.
“Maaf mbak Inem, aku hancurkan kotak kayunya mbak, aku kepleset saat keluar dari kamar mandi dan jatuh.” Kia meringis menahan sakit.
“Ya udah nggak apa-apa Kia, itu kotak kayu memang sudah lapuk. Kamu nggak ada yang luka kan?”
“Nggak tau mbak, tapi kayaknya nggak ada deh.”
“Da-darah? Kia tangan kamu berdarah.” Suara Shella terdengar sampai ke rumah Rois, mereka yang mulanya hanya mengira suara benda jatuh, akhirnya sadar dengan apa yang terjadi. Husin dan Evan berlari menyusul bahkan sampai lupa mengenakan alas kaki.
“Kia, apa yang terjadi?” tanya Evan.
Tak banyak tanya Husin segera menggendong Kia, membawanya menuju rumah Rois. Ia benar-benar tak memperdulikan sekitar, bahkan saat Kia meminta untuk diturunkan, Husin tak peduli.
.
“Jangan lebay deh Husin, ini kan cuma kegores paku,” ucap Kia ketika pemuda itu tengah mengobati tangannya.
“Diamlah, paku pun kalau udah berkarat bisa bikin tetanus tau, ceroboh banget sih," omelnya.
“Bukan gitu, aku nggak enak aja sama yang lain. Kamu sampe gendong aku segala, apa coba yang akan dipikiran Ijan, kak Devi dan Evan tentang kita?”
Husin terdiam, ia baru saja selesai membalut luka Kia menggunakan plester. Shella menatapnya heran,“kamu benar-benar nggak tertolong Husin, udah sana keluar!” titahnya.
Mau tak mau Husin pun menuruti keinginan mereka, kembali ke depan rumah meninggalkan dua gadis itu di dalam rumah. Di luar, ia disambut pertanyaan oleh Rois dan Ijan, hanya Evan yang memilih diam menatap langit, entah apa yang dipikirkan lelaki itu.
“Kia mana?” Devina dan Wardah baru saja kembali dari rumah Inem, keduanya segera masuk rumah saat Rois menunjuk ke arah ruang tamu. “Ki, kamu nggak apa-apa?” tanya Devi.
“Nggak apa-apa Kak, untungnya cuma kegores, tadi sudah dibersihkan sebelum diobati, insya Allah aman.”
“Oh iya, ada salamnya Inem kalian nggak perlu khawatir. Kotak kayu berisi perlengkapan bangunan itu memang sudah sangat tua, dia kerap meminta suaminya menggantinya dengan yang baru. Tapi, Heru belum sempat melakukannya karena sibuk di tempat kerjanya yang baru. Jadi dia minta maaf kalau akhirnya itu melukai kamu.”
“Aku nggak apa-apa mbak Wardah, malah aku yang nggak enak udah bikin rusuh.”
“Sudahlah, kita semua bersyukur tak ada hal buruk yang terjadi padamu,” imbuh Wardah lagi. Wanita itu lantas berjalan keluar rumah, memanggil suaminya dan meminta semua orang berkumpul di dalam, rupanya ia sudah memasak berbagai macam hidangan saat Kia, Shella dan Devi pergi ke rumah Inem tadi.
“Ayo makanlah dulu sebelum kalian kembali ke yayasan. Makan yang banyak ya, habiskan kalau perlu. Aku akan sangat bahagia jika kalian mau habiskan semua,” ucapnya penuh semangat.
***
“Bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi Kia?” tanya Devi. Mereka telah pulang dan kini berkumpul di depan swalayan.
“Sepertinya aku sudah menemukannya.” Kia diam sejenak.
“Apa itu? apa yang kamu temukan?” tanya Shella tak sabar.
“Lantai merah. Aku menemukan lantai merah di bawah kotak kayu, ada sekitar enam keramik dengan warna berbeda yang ditutup menggunakan kotak alat bangunan, aku mencoba menggesernya meski tahu itu berat. Tapi, aku merasa ada yang aneh, aku yakin ada yang meniup telingaku, dan sebab terkejut aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.” Kia menutup kalimatnya dengan wajah sedih.
“Jangan bikin aku merinding deh Kia, masa siang-siang ada demit sih?” Ijan memeluk Evan, membuat pria itu semakin kesal, berusaha melepas tangan si gembul dari pundaknya.
“Aku pun kurang yakin, aku harus kesana lagi. Pasti ada sesuatu di balik lantai merah itu, aku bisa merasakannya.”
“Itu terlalu berbahaya, jika memang di lantai itu mereka menyembunyikan sesuatu, pasti sekarang mbak Inem akan semakin menutupinya. Dan lagi, alasan apa yang akan kita buat untuk masuk ke dalam rumah itu?” ucap Evan. Mereka berlima pun setuju dengan pendapatnya.
“Ah, aku tahu. Kak Dev, bukannya tadi mbak Inem bilang dua hari lagi akan pergi berbulan madu ke puncak? bisakah kita menggunakan kesempatan itu?” Shella tampak sumringah saat mengingat rencana Inem.
“Baiklah, aku akan coba meminta tolong mbak Wardah dan Kang Rois juga.”
“Kak Devi, kamu yakin mereka bisa dipercaya?” tanya Husin. Devina menatap mata Husin dalam, untuk beberapa saat mereka hanya saling pandang hingga Husin berinisiatif mengalihkan pandangan lebih dulu, dan itu berhasil menyadarkan Devi juga.
“Kita tak punya cara selain ini, sejauh ini aku tau bagaimana kang Rois dan mbak Wardah. Mereka dapat dipercaya, apalagi kang Rois santri abah kamu kan? harusnya kamu jauh lebih bisa meyakinkannya daripada aku.” Devina beranjak lebih dulu kembali ke yayasan, tanpa berpamitan gadis itu berjalan terburu-buru, terlihat sangat aneh di mata teman-temannya.
“Kak Devi kenapa ya? apa dia marah sama kamu Husin?”
“Kenapa memangnya Ndut?” tanya Shella.
“Barusan Husin sempat meragukan idenya untuk meminta tolong pada orang tua Dicky. Apa dia tersinggung ya?”
“Tak mungkin, mungkin dia ada kepentingan lain. Ya udah kita kembali ke asrama saja untuk sekarang, kita perlu istirahat sebelum ke kampus. Oh iya, ingat ya… masalah ini, hanya untuk kita.” Kia mengingatkan teman-temannya, dan mereka pun kembali ke kamar masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
ren rene
di balik lantai merah ada hartanya warmin ya
2024-06-03
1