Sembilan Belas

“Ada apa pagi-pagi ngumpulin kami disini? masih ngantuk nih.” Ijan menguap lebar, Evan membantunya menutup mulut dan pria gembul itu tampak malu-malu sebab Devina menertawakannya. 

“Meskipun hari ini kita kelas siang, bukan berarti bisa tidur tidur terus Ndut. Kamu nggak ingat kejadian Keyla semalam, kita harus bergerak cepat sebelum hantu itu meneror yayasan, dan semakin sering menampakkan diri di depan anak-anak.” 

“Terus apa rencana kita pagi ini?” Pertanyaan Evan mengurungkan niat Ijan untuk mendebat Shella. 

“Jadi gini, kamu ingat Dicky kan?” 

“Maksud Kak Devi, Dicky anak Tpq yang ngatain Ijan gendut?” tanya Kia. Devina mengangguk. 

“Ya, rumah Dicky tepat di sebelah rumah Kang Warmin. Dan ayahnya bekerja di kantin bersama mbak Inem dan bang Heru. Nah, aku ada ide hari ini kita main-main aja ke rumah mereka, sambil memantau rumah kang Warmin. Siapa tau nanti kita bisa menemukan petunjuk disana.”

“Aneh nggak sih kalau kita berenam tiba-tiba main ke rumah Dicky?” tanya Husin.

“Nggak tiba-tiba kok Husin, sebenarnya aku ada kepentingan sama ibunya Dicky. Mbak Wardah itu senior aku, dia dulu bekerja di swalayan. Sekarang berhenti karena punya bayi. Jadi, menurutku wajar kalau aku ajak kalian, yah itung-itung biar kenal tetangga kan?” 

Semua setuju dengan usul Devina, dan sepakat berangkat setelah sarapan tepat jam tujuh pagi. 

.

Mereka telah tiba di depan sebuah rumah sederhana yang menurut Devi adalah rumah Dicky. Rumah Warmin berada di sisi kanannya menghadap rumah Dicky, dan di depannya ada jalan kecil menuju belakang rumah Dicky. 

Rumah Warmin tak begitu luas, tapi desain bangunannya sudah kekinian. Berbeda dengan rumah Dicky yang jauh lebih besar dan luas, hanya saja masih menggunakan desain kuno. 

Pintu terbuka, seorang wanita menggendong balita berusia sekitar lima bulan menyambut mereka dengan sukacita. “Oh Devi, ayo masuk. Ajak semuanya masuk sini. Mari jangan sungkan-sungkan,” ucapnya sembari membuka pintu. “Mas… Mas Rois, ada tamu Mas. Dicky… ayo keluar Nak, ini loh ada kakak-kakak dari Tpq, ayo salim dulu,” imbuh wanita itu meneriaki suami dan putra sulungnya. 

“Kita di luar aja mbak, panas banget ini cuacanya. Kayaknya diluar malah bisa santai anginnya sepoi-sepoi.” Devina mengajak yang lain untuk duduk di lantai tegel kuno motif bunga-bunga. 

“Loh, gimana sih kok teman-temannya diajak duduk disitu.” 

“Nggak apa-apa mbak, kami nyaman disini. Lebih enak lesehan, adem,” jawab Evan.

“Oalah, jadi malu saya. Maaf lo ya… ya beginilah rumah Dicky, rumah sederhana dan kuno, maklum peninggalan mertua.” Wardah tampak malu-malu berjalan masuk ke dalam rumah. Suaminya, Rois yang baru saja keluar dari kamar menjabat tangan tamunya, diikuti Dicky yang tampak lebih pendiam dan sopan. Sungguh berbeda dengan Dicky di Tpq. 

“Wah, mimpi apa saya semalam para guru Tpq bertandang ke gubuk saya, masya Allah… mari silahkan sambil disambi jajanan desanya,” ucap Rois tatkala Wardah kembali dengan beberapa toples jajanan kering. 

“Iya, maaf lo adanya cuma ini. Lah nggak tau saya kalau kakak-kakak cantik dan tampan ini mau datang ke gubuk kami, kamu kok ya gak bilang sih Dev, tau gitu kan aku bisa siap-siap apa gitu,” ucapnya ramah. 

“Sudah mbak, ini sudah sangat banyak. Oh iya, Dicky kesini.” Shella melambaikan tangan pada Dicky yang bersembunyi di balik kelambu kamarnya. Anak lelaki itu segera mendekat, duduk disamping ayah dan ibunya. 

Percakapan ringan seperti saling berkenalan nama, asal tempat tinggal sampai hobi pun mereka bahas bersama, bahkan tanpa dinyana Rois dulu pernah mondok di pesantren keluarga Husin, lelaki itu sangat terkejut sebab ia lah yang dulu sering menggendong Husin saat masih bayi. Hanya saja semenjak lulus dari pesantren ia belum pernah lagi datang berkunjung. 

“Ya Allah, ini tandanya aku disuruh sowan sama mbah kyai, bisa-bisanya putra beliau disini. Ya Allah Mas, jadi ini mas Husin yang dulu kecilnya guanteng itu ya, lah sekarang kok makin ganteng ya Mas.” 

Husin menunduk malu, teman-temannya turut berbahagia atas apa yang terjadi. Dan saat itulah pintu rumah sebelah terbuka, seorang perempuan hanya mengenakan daster selutut sedang menyapu, mereka tak bisa melihat jelas wajah wanita itu sebab separuh gerbang depan rumah masih tertutup. 

“Loh mbak Wardah, itu yang di rumah kang Warmin siapa ya?” tanya Devi. 

“Oh itu, kalian pasti belum tau ya. Itu Inem, dia sudah menikah sama Heru, katanya sih nikah siri. Tapi, kita semua tetangganya nggak ada yang tau kebenarannya, mereka bilang nikahnya di luar kota, tepatnya di kampung Inem.” 

“Loh, kok bisa nikah sama Bang Heru mbak? kan itu calon kakak ipar dulu?” Ijan mencoba menggali informasi sembari menggeser toples untuk lebih dekat dengannya. Shella yang menyadari hal itu menahan tawa.

“Ya itulah, katanya sih di kampung Inem sudah kesebar kabar gadis itu akan menikah, jadi kalau tiba-tiba gagal keluarganya akan malu, karena Inem dulu menolak banyak lamaran sebab orang tuanya terlanjur menyukai Warmin. Jadi, daripada gagal ya udah dinikahkan aja sama Heru, gitu kan Bang ceritanya?” 

“Kurang lebih begitu, tapi sebenarnya kami tau apa yang terjadi,” ucap Rois lirih. 

“Apa itu Kang?” tanya Husin. 

“Tapi janji ya, kalian jangan cerita ke siapa-siapa. Kami cuma cerita ini pada kalian, kami percaya kalian orang baik. Sebenarnya pada hari kalian tiba di yayasan, saat itu kami petugas kantin dapat bagian tugas konsumsi. Saya diminta teman-teman untuk mengambil piring di gudang, dan saat itulah ehm…” Rois diam sejenak, memandang putranya yang tak disadari telah menyimak percakapan mereka. “Dicky, tutup telingamu,” titahnya kemudian.

Wardah segera menutup telinga putranya, Ia juga baru sadar anak pertamanya ikut mendengar apa yang seharusnya tak didengar anak seusia itu. 

“Saya berani bersumpah, wallahi, billahi…saya melihat dengan mata kepala sendiri mereka berdua berzina di dalam gudang.” 

Mereka berenam serentak membaca istighfar, tak bisa berkomentar apapun. Bahkan suasana menjadi tegang setelah mendengar pengakuan ayah Dicky itu. 

KRIEEET… 

Gerbang terbuka dan mereka tak sengaja saling berhadapan dengan Inem disana. “Eh, mbak Inem… sini mbak main-main ke rumahku, kebetulan ini ada anak-anak dari yayasan. Gurunya Dicky di Tpq,” ucap Wardah berdiri menyapa Inem. 

Wanita itu tersenyum ramah, dan matanya tak sengaja melihat Kia. “Loh, Kia? kamu disini…? ayo mampir ke rumahku. Yang lain juga boleh kok, eh…maaf lo Kang Rois aku jadi ngerebut tamunya.” Inem tersenyum genit, diam-diam Wardah mencebikkan bibir melihat sikap genit wanita cantik itu. 

“Ah, nggak apa-apa Nem, udah ambil aja siapa aja yang kamu mau. Kamu kenal mbak Kia? silahkan mbak kalau mau mampir ke rumah Inem, kayaknya dia sendirian, suamimu kerja kan Nem?” 

“Iya Kang, aku kesepian. Ayo Kia, Dev kamu juga boleh ikut.” Inem melirik Wardah dan kembali berkata, “maaf ya mbak Wardah tamunya aku sewa dulu.” 

Wardah tersenyum kecut, tapi ia mempersilahkan Kia yang tiba-tiba saja berdiri bersama Shella dan Devina. Mereka bertiga memutuskan mampir ke rumah Inem, sedangkan tiga yang lain tetap di rumah Rois. 

Terpopuler

Comments

Biah Kartika

Biah Kartika

kesempatan buat mereka masuk rumah pak min

2024-08-26

0

Ass Yfa

Ass Yfa

ih Inem genit, wajar selingkuh tuh suami tetangga digenitin juga

2024-06-21

0

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

moga dapat petunjuk

2024-06-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!