Akhirnya Shella bisa bernafas lega, dokter bilang tak ada yang serius pada diri Kia, gadis itu hanya terguncang hingga membuatnya demam. Sebenarnya Shella penasaran apa yang membuat Kia terkejut hingga seperti ini, tapi ia memilih diam dan bertanya nanti saat keadaan Kia lebih baik.
Dua gadis itu membantu Kia kembali ke dalam mobil, disana Evan telah menunggu. “Kak Dev, anterin aku urus administrasi yuk. Aku kurang paham Kak, biarin Kia disini dulu, toh ada Evan juga,” ujar Shella, “Van, jaga Kia baik-baik ya, kalau sampai ia terluka itu jelas salah kamu,” imbuhnya lagi. Evan tersenyum sembari mengangkat dua jempol.
“Ki, tunggu sebentar ya.”
Kia mengangguk lemah. Untuk beberapa saat terpaksa ia hanya berdua bersama Evan di dalam mobil, lelaki itu hanya diam. Kalau saja Kia sehat pasti akan terasa sangat canggung, tapi kondisi tubuhnya membuat ia tak peduli.
“G-gimana kata Dokter? kamu sakit apa Kia?” Evan membuka percakapan.
“Hanya kecapekan saja, dengan istirahat sebenarnya juga udah sehat. Shella aja yang lebay,” jawabnya lirih. Evan memandang wajah pucat Kia dari kaca spion, tersenyum lega setelah mendengar jawaban dari gadis itu.
“Oh iya Van, sapu tangan kamu masih ada padaku, maaf ya aku lupa mengembalikannya.”
“Nggak usah dikembalikan, pakai saja."
“Jangan begitu, kulihat ada sulam inisial nama kamu di sapu tangan itu. Khawatirnya itu dari orang spesial,” seloroh Kia tanpa berpikir panjang, ia merasa pusing bahkan berbicara sambil memejamkan mata. Tak sadar bila Evan menoleh ke belakang dan menatapnya dengan senyuman.
“Cantik,” gumamnya lirih.
“Apa Van?” Kia membuka mata, Evan segera mengalihkan tatapannya pada jendela mobil.
“Oh, maksudku itu bukan sapu tangan spesial seperti yang kamu kira. Aku, hanya ingin kamu bisa selalu mengingatku ketika memakai sapu tangan itu,” tuturnya lagi.
“Baiklah, aku akan mengingatmu sebagai teman terbaikku. Terima kasih ya Van, sudah menjadi teman dan mengantarku ke klinik. Aku lelah, biarkan aku tidur dulu ya.” Kia kembali menutup mata, ia sengaja menghindari percakapan lebih panjang dengan lelaki bule itu karena pembahasan mereka terasa semakin aneh menurutnya, dan itu membuat Kia merasa tak nyaman.
Beruntung Shella dan Devi segera tiba, hingga tak butuh waktu lebih lama untuk Kia berpura-pura tidur. “Van, setelah ini kita mampir beli bubur dulu ya, di depan tak jauh nanti ada tulisan bubur ayam, kita berhenti disitu,” pinta Devi. Evan mengangguk dan segera menghidupkan mesin mobil.
“Biar aku aja yang turun Shel, kamu temani Kia disini ya,” ucap Devina tatkala Evan telah berhasil menepikan kendaraan mereka.
“Makasih Kak,” lirih suara Kia membuat Devi kembali berbalik, ia tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam antrian pelanggan bubur yang memang lumayan banyak. Menurut Devi, bubur disini memang sangat enak hingga hampir setiap waktu antrian pelanggan seolah tak pernah surut.
“Nanti kamu makan bubur, minum obat terus istirahat ya Ki, besok kalau kamu belum sehat nggak usah ke kampus dulu.”
Kia menggeleng lemah, “aku nggak apa-apa Shel, nanti setelah istirahat juga pasti sehat lagi.”
“Kamu jangan maksa ih,” potong Shella, menatap kesal pada temannya itu, “Ki, apa yang sebenarnya terjadi? aku yakin kamu lagi sembunyikan sesuatu. Ya kan?” bisik Shella. Kia hanya diam, sengaja tak membagi kisah semalam pada Shella sebab tau gadis itu penakut. Ia tak ingin Shella merasa tak nyaman mengingat perjalanan mereka masih sangat panjang di desa Gondowangi.
“Kamu serius mbak? ih kok ngeri sekali ya?”
“Serius lah Wati, pokoknya aku nggak mau pulang terlalu malam dari sekarang, warung mbok Sumi aja yang biasanya tutup jam tiga malam sekarang mentok jam dua belas aja. Banyak yang lihat Wati, kasihan ya.”
Evan menatap Shella dan Kia bergantian, percakapan dua wanita yang tengah mengantri bubur di samping mobil mereka memancing rasa ingin tahu ketiganya. “Maaf Bu, apa ya yang sedang Ibu ceritakan?” tanya Shella.
“Eh, kalian guru baru di yayasan ustadz Subkhi ya?” tanya wanita yang hanya mengenakan daster dengan rambut digelung ke atas. Shella tersenyum mengangguk.
“Oh kebetulan, bagaimana di asrama? nggak ada kejadian aneh kan? imbuhnya lagi. Pertanyaan yang semakin membuat ketiga remaja ini bingung.
“Kejadian apa ya yang Ibu maksud?”
“Kayaknya mereka nggak tau mbak, udah ceritain aja biar mereka bisa lebih hati-hati, secara kepalanya nyangkut di atap asrama putri kan?”
Shella memandang kedua temannya, perasaannya mendadak tak nyaman. Ia memutuskan mendengar saja cerita dua wanita yang salah satunya diketahui bernama Wati itu. “Jadi gini, masyarakat desa banyak yang melihat hantu tanpa kepala, mereka mengira itu hantu Warmin yang jadi arwah penasaran. Tapi, sebagian lain melihat hantu itu membawa kepala di tangan kanan, dan memang kepala itu wajah Warmin. Jadi, di yayasan aman-aman aja kan? soalnya kan kepalanya jatuh di atap.” Wanita itu menutup cerita dengan ekspresi wajah ngeri.
Ketiga anak remaja itu hanya diam, Shella meremas tangan Kia. “Ya sudah Bu, terima kasih ya informasinya." Beralih menatap Kia yang hanya diam, Shella tak peduli jika Evan meninggalkan mereka saat terdengar dering ponsel dari saku bajunya.
“A-apa? kenapa menatapku seperti itu?”
“Sepertinya aku tau kenapa kamu sakit. Kamu lihat kan? hantu itu.”
“Nggak, aku aja baru denger ceritanya dari ibu tadi,” kilah Kia terlihat panik.
“Aku tau kamu tak pandai berbohong, ayolah Ki jangan simpan semuanya sendiri kalau ujung-ujungnya malah bikin sakit,” protes Shella.
“Kamu keberatan rawat aku ya?” Kia mengedipkan mata berulang kali, ia berusaha meraih hati Shella agar omelannya segera berhenti. Kia sudah bisa menebak jika Shella pasti akan mengomel tiada henti, bahkan mungkin gadis itu tak akan peduli meskipun ada Evan dan Devina bersama mereka.
“Bukannya begitu Ki, mana ada aku bilang keberatan. Aku cuma nggak mau kamu sakit.”
“Ih, aku merinding Shel. Jangan ngomong gitu lagi ah, kalau Evan dengar ucapanmu tadi ntar kita dikira nggak normal lagi.” Kia menahan tawa melihat Shella semakin frustasi, gadis berkacamata itu bahkan mengacak hijabnya sampai tak berbentuk. Namun, segera merapikannya kembali saat mendengar pintu kemudi terbuka dan Evan tampak terkejut saat melihatnya.
“Eh, hehehe. Sudah selesai kah?”
“Sudah, tapi kak Devi belum selesai. Kita tunggu dia kan pastinya?”
“Ya pasti dong, masa mau ditinggal, hehe.” Shella merasa malu, tak menyangka Evan melihat tingkah konyolnya. Ia semakin kesal sebab Kia tak mampu menahan tawa, bahu gadis itu berguncang hebat. Meski Kia memilih menyembunyikan diri di balik tubuh Shella tetap saja Evan bisa melihat jika gadis itu tengah menahan tawa hebat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
FiaNasa
KIA punya kemampuan gitu tp.dia penakut ya,,lagian juga kalungnya cuma dipegang kok g langsung dipake aja..
2024-05-29
1