Beberapa saat setelah melepas kepergian anak-anak Tpq yang dijemput orang tua masing-masing, mereka berenam sepakat untuk berkumpul di depan swalayan. Kebetulan Devina juga sedang bekerja.
Suasana yayasan tampak sangat hidup, anak-anak sedang belajar di ruang kelas, suara mereka terdengar sampai ke seberang jalan, dimana Kia dan yang lain tengah bersantai menanti Devina yang masih sibuk melayani pelanggan.
“Suara tawa anak-anak terdengar jelas ya dari sini,” ucap Shella, tersenyum mengingat teman-temannya di asrama Harmoni Ilmu. Betapa bahagianya masa-masa itu, ia rindu bisa bersenda gurau seperti saat itu.
Shella melirik ke empat temannya, ada yang asyik makan sambil menonton video, ada yang melamun, ada juga yang tidur. Sedangkan Kia di sampingnya masuk dalam golongan yang tidur. Ia jadi kesal sendiri, bahkan para satpam di pos jaga tampak asyik bersenda gurau satu sama lain.
“Hey, kalian berdua kalau tidur pulang ajalah sana. Kamu juga Ndut makan aja kerjaanmu itu, terus kalau makan nggak sambil nonton kartun botak kembar itu bisa nggak sih? bosen aku lihatnya.”
Ijan meliriknya kesal, tak menghiraukan omelan Shella dan tetap fokus pada roti di tangan. Kia yang semula meletakkan kepala di atas meja kini duduk tegak menatap kosong ke arah meja, lamat-lamat ia mendengar Shella bergumam. “Apakah kita kalah sama para satpam? bahkan mereka yang tua aja asyik banget, kita malah diem bae kek kerupuk melempem.”
Omelan Shella mampu membuat Evan dan Husin beranjak dari duduknya, mereka berdua masuk ke dalam swalayan dan kembali dengan sekantong ice cream di tangan Husin, dan camilan pedas di tangan Evan. Keduanya berjalan beriringan menuju meja ujung dimana Shella masih saja mengomel sebab Kia yang terlihat malas-malasan.
“Kia, buat kamu,” ucap kedua lelaki itu serentak, hal itu memancing atensi Ijan dan Devi yang kebetulan baru saja keluar menemui mereka.
“Serius nih kalian berdua nggak ada yang mau kasih ke aku aja? itu kebanyakan loh kalau buat Kia.”
Ijan berdeham-deham, membuat Husin jadi salah tingkah. “Kata siapa ini buat Kia aja, kamu nggak lihat ada berapa ice cream di dalam kantong? ada bagian buat kamu dan Ijan, bahkan pak satpam di sebelah pun boleh ambil kalau mau, aku bisa beli lagi kalau habis.” Husin meletakkan kantong plastik di atas meja dan kembali ke tempat duduknya.
“Kalau kamu Van?” tanya Shella, jujur saja ia berharap Evan akan memberikan jawaban yang sama seperti yang dilakukan Husin.
“Ah, maaf. Tapi ini aku beli untuk Kia karena aku tau dia suka pedas, tapi kalau kamu mau kamu bisa minta padanya, aku yakin Kia akan berbagi denganmu.” Evan tersenyum, memaksa Kia menerima pemberiannya.
“Cie…perhatian kali lah kamu Van, suka Kia kah?” Pertanyaan Ijan hanya mendapat senyuman dari pria bule itu, sedangkan Shella seketika menunduk sedih.
“Ah, ini ki-kita makan bersama aja ya Shel…”
“Hey…ada apa itu?” Devina menunjuk ke arah yayasan. Satpam jaga sudah tak ada di tempat bersamaan dengan suara jeritan. Husin kembali ke yayasan segera, diikuti Devina, Ijan dan Evan di belakangnya.
“Shel, tunggu.” Kia menarik lengan Shella saat gadis itu berniat akan mengikuti teman-temannya, kepalanya berputar ke belakang menatap Kia disana. “Kita tunggu disini saja, kamu lihat? bahkan ponsel Husin ada disini. Siapa yang akan jaga kalau kita semua kembali ke yayasan.”
Shella mengangguk dan kembali duduk ke tempatnya, kali ini ia lebih diam. “Shel, maafin aku ya.”
“Kenapa kamu minta maaf? jangan aneh-aneh deh Ki, kalau memang Evan seperti itu ya karena dia menyukaimu. Toh, dia juga nggak tau tentang aku dan perasaanku. Dia berhak menyukai siapa pun, sama sepertiku yang berhak menyukainya. Tapi, kamu diam ya Kia, jangan sampai ada yang tau meskipun itu kak Devi.” Kia mengangguk, keduanya pun kembali diam.
Ijan berlari-lari kecil, nafasnya ngos-ngos an hingga ucapannya pun terputus-putus. “Me-mereka me-li…huh huh.”
“Duduklah dulu Ndut, nih minum.” Shella memberinya air mineral, saat sudah lebih tenang Ijan kembali memberi penjelasan.
“Mereka melihat hantu kepala,” ucapnya.
“Hah? siapa maksud kamu Jan?” tanya Kia.
“Anak-anak dari kelas delapan, tiga anak yang sedang izin ke kamar mandi di tengah belajar, hantu itu berjalan dari gudang kosong menuju lapangan bola.”
Devina berlari-lari menuju rumah Ustadz Subkhi, dan tak lama kemudian pemimpin yayasan akhirnya turun tangan. Bersama istrinya, ustadz Subkhi berlari menuju yayasan. Menurut Evan yang mengikuti Devi salah satu dari ketiga anak itu sekarang sedang kesurupan, tenaganya sangat kuat hingga tiga satpam kesusahan menenangkannya. Husin pun tengah membantu di dalam.
“Ki, ayo kita kembali,” ajak Shella. Kia mengangguk setuju, mereka segera kembali ke yayasan setelah merapikan barang-barang.
.
Ustadz Subkhi mencoba berbagai cara agar jin yang ada dalam tubuh gadis bernama Keyla itu bisa keluar. Tapi jin lelaki itu benar-benar kuat. Bahkan tiga satpam di tambah Ijan, Evan dan Husin bergantian memegang tangan dan kaki saja merasa kewalahan. Suara gadis itu berubah seperti suara lelaki yang terus saja marah tak terkendali.
“Ki, cepat bantu ustadz,” bisik Shella disamping telinga Kia, tapi gadis itu masih maju mundur saja. Ia merasa tak nyaman jika orang sebanyak ini nantinya akan mengetahui kemampuannya.
“Ayo, tunggu apalagi. Kasihan ustadz dan teman-teman kita.”
“Ta-tapi, nanti mereka tahu.”
“Astaga, apa ini saatnya kamu mengkhawatirkan hal itu?”
Kia merasa ucapan Shella ada benarnya juga. Namun, baru saja hendak mendekat jin itu menatap Kia tajam dan berbicara lewat tubuh gadis malang itu. LAKUKAN SEGERA PERINTAHKU, AKU TAK PUNYA WAKTU. SEGERAAAA, AAKKHHH….
Keyla pun pingsan, ustadz Subkhi mengatakan jika jin itu sudah pergi, hanya saja beliau bingung apa maksud dari perkataannya. Kia dan yang lain tak ada yang berani berbicara, meski sebenarnya mereka mengerti maksud jin itu yang kemungkinan adalah jin qorin dari mendiang Warmin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Syab Rian
di tunggu update nya lagi ka
2024-06-02
3
ERiyy Alma
Maafin ya kalau up nya agak telat, dan agak pendek ceritanya. Maklumin hari libur yak. hehe 🙏/Chuckle/
2024-06-02
2