“Lantas Ayah, apa kegunaan kalung ini?”
“Kalung ini akan menangkal kejahatan makhluk halus yang mengganggu, selain itu kalung ini bisa memberimu kekuatan ajaib, mungkin menjadi pengendali saat keadaan sulit, bukankah itu keren?” Ayah terkekeh saat melihat Kia berdecih. “Pesan Ibu, gunakanlah sebaik mungkin,” imbuhnya lagi.
“Wah, udah kayak Scarlet Witch dalam film The Avengers Age Of Ultron dong ya,” canda Kia.
“Ayah serius, jangan bercanda terus. Sebenarnya ibu meminta ayah memberikan kalung ini padamu saat ulang tahun yang ke tujuh belas tahun, tapi sayangnya ayah lupa.”
“Astaga Ayah, wah… kalau ibu tau pasti ibu akan mengomel, ayah yang selalu pelupa.”
“Bukan begitu Kia, seperti yang ayah ceritakan tadi. Kutukan itu berasal dari leluhur ibu, jadi yang memiliki kemampuan sama dengan mu adalah ibumu, bukan ayah. Itulah yang membuat ayah lupa.”
“Minimal khawatir kek sama anak satu-satunya, bisa-bisanya Ayah lupa.”
“Iya iya maaf.” Keduanya pun tertawa bersama.
Kia baru ingat percakapan itu, “Kalung, iya kalung,” ucapnya panik, berusaha keras mencapai lemari pakaian. Meski jatuh bangun pada akhirnya ia berhasil meraih gagang lemari. Suara kepala menggelinding masih terdengar jelas, tangan Kia gemetar hebat hingga kotak kayu yang baru saja diraihnya jatuh berserak di lantai. Namun, anehnya Shella dan Devina seolah tak mendengar apa-apa, tidur mereka begitu nyenyak dan damai.
Hampir saja Kia menangis, dari sekian hantu yang pernah dilihatnya hantu kepala ini yang sangat mengerikan. Jantungnya berlompatan tak jelas, kakinya lemas bagai jelly, nafasnya sesak dengan mata yang mulai buram oleh genangan air di setiap sudutnya.
“Ibu, tolong Kia. Tolong…” ucapnya lirih.
Kalung liontin kristal sudah ditangan, perlahan Kia keluar dari kamar. Tapi tak ditemukan lagi hantu kepala itu. Ia melangkah pelan sepanjang koridor asrama, tepat di samping jalan menuju area masjid terdapat cermin besar, dan dari pantulan cermin Kia melihat sesosok tubuh lelaki mengenakan pakaian satpam.
Awalnya Kia mengira itu adalah satpam yang sedang berjaga, ia bertekad akan meminta bantuan minimal mengganti lampu depan kamar agar tak lagi horor. Tapi, saat Kia mendekat, ia sangat terkejut sebab di tangan lelaki itu ada kepala yang wajahnya menatap Kia dengan seringai menyeramkan.
“Haah!..” Kia segera membekap mulutnya sendiri, matanya memindai punggung lelaki itu hingga sampailah ia pada bagian leher yang terputus dan mengalirkan darah segar disana. Bahkan leher yang menganga itu terkadang menyemburkan darah kental berwarna hitam, bau anyir menyergap indra penciuman Kia. Seketika itu ia merasa mual, perutnya seolah diaduk-aduk dan ia muntah di tempat.
“Hoek…hoek…”
Sial bukan kepalang hantu itu mendengar suara Kia, tubuh tanpa kepala itu pun berjalan mendekat, mungkin efek mata tak berada di tempat membuat langkah hantu itu sedikit lebih lambat. Kia mencoba mundur, tapi kepala itu berhasil mendeteksi keberadaannya.
KAMU DISINI….. Suara serak yang menyeramkan terdengar seolah berbisik di samping telinga. Kia merasa putus asa, dan saat itulah liontin kristal di tangannya tiba-tiba saja memancarkan sinar berwarna biru yang begitu cerah. Kia memejamkan mata, dan saat itulah ia mendengar suara jeritan yang semakin menjauh bersamaan dengan hilangnya kesadaran.
.
“Kia, Kia…Tazkia… bangun Kia!”
Tepukan tangan di pundak dan suara lelaki yang terus memanggil namanya membuat Kia tersadar, saat membuka mata ia menemukan Husin. Kia tersenyum, menyentuh pipi lelaki itu seraya berkata, “bahkan, dalam mimpi pun kamu tetap terlihat tampan,” gumamnya.
Husin menahan tawa, “baru sadar kamu kalau aku tampan? selama ini kemana aja?” jawab Husin yang membuat Kia terkejut.
“Loh, kok tengil. Aku lagi mimpi kan? kenapa Husin dalam mimpi nggak ada bedanya sama di dunia nyata?” Kia duduk dan cemberut. Wajahnya tampak menggemaskan di mata adik Nia itu.
“Ah, sudahlah. Sana bangun! ngapain tidur disini? digondol wewe tau rasa kamu!”
Barulah Kia mengingat apa yang terjadi, ia mendesis pelan sebab tiba-tiba saja merasa pusing. Hal itu membuat Husin khawatir tapi lelaki itu masih saja jaim, ia bahkan menendang-nendang kaki Kia dengan sepatunya. “Bangun! aku tinggal nih.”
“Iya iya, ah Husin disini gak ada wewe, tapi hantu kepala,” ucapnya.
“Kia, kamu ngelindur ya? makanya kalau mau tidur baca doa dulu, biar nggak mimpi aneh-aneh. Ih bahaya banget kamu ngelindurnya ampe jalan-jalan keluar kamar. Besok kalau tidur kunci pintu, minta kak Devina sembunyikan kuncinya, biar kamu nggak keluyuran. Untung saja aku ke swalayan, kalau nggak? sampai pagi kamu disini. Malu-maluin aja, udah sana kembali ke kamar.”
“T-tapi Husin, aku bener baru aja lihat hantu kep..”
“Haish…balik nggak! ku aduin kak Nia nih, Kia buat masalah di yayasan. Mau?”
“Nggak, ya udah deh aku balik.” Dengan wajah cemberut terpaksa Kia kembali ke kamar. Sesekali menoleh ke belakang, dan Husin masih saja melotot padanya. Lelaki itu benar-benar memastikan Kia masuk ke dalam kamar dan baru kembali ke kamarnya sendiri saat Kia tak lagi terlihat.
***
Kicau burung di pucuk cemara terdengar menentramkan jiwa, embun masih basah, kabut tipis menghias jalanan. Udara begitu segar, tapi tidak bagi Kia. Pagi ini ia mendadak demam tinggi, badannya menggigil kedinginan. Shella kebingungan melihat temannya yang tiba-tiba saja jatuh sakit. “Kak, kita bawa Kia ke rumah sakit aja, dimana Kak rumah sakitnya? jauh nggak dari sini?”
“Ada klinik langganan anak-anak yayasan tak jauh dari rel kereta Shel, kalau ke rumah sakit malah jauh, di samping kampus. Gini aja, ada mobil kesehatan milik yayasan, biar aku bicara ke ustadzah Aisyah, nanti kita antar Kia kesana.”
Sebenarnya Shella masih tak nyaman setiap kali mendengar rel kereta, tapi ia tak berani banyak bicara pada Devina. “Baiklah Kak. Ki, sadar ya Ki jangan pingsan dulu ya. Kita pergi ke klinik, ya Allah kenapa lah ini? tiba-tiba demam tinggi.”
Tak butuh waktu lama, Devina datang membawa kunci mobil. “Shel, mobilnya ada tapi sopirnya yang tidak ada. Kata Kang Dori, pak Dadang supir yayasan hari ini sedang izin. Kang Dori pun tak bisa membawa mobil, gimana dong?”
“Boleh titip Kia sebentar Kak? aku akan cari supir,” ungkap Shella. Berlari-lari kecil keluar kamar menuju asrama putra, kebetulan sekali ia melihat tiga teman lelakinya tengah duduk berbincang seraya menikmati secangkir kopi di depan kamar mereka.
“Ada apa Cungkring? dikejar setan kamu?”
“Lebih serem dari setan Ndut. Oh iya, kalian bertiga, siapa yang bisa bawa mobil?” tanya Shella dengan nafas terputus-putus.
“Aku bisa, bawa mobil-mobilan. hehehe,” Ijan terkekeh dengan leluconnya sendiri, Shella melirik tajam.
“Aku sedang tidak bisa bercanda ya Ndut, jangan bikin masalah, kubuat nangis darah nanti kamu.”
“Serem banget,” jawab Ijan.
“Ada apa Shell? Evan kayaknya bisa tuh,” ucap Husin santai, ia sedang pw (posisi wenak) hingga rasanya tak ingin diganggu siapapun hari ini. Esok mereka akan mulai aktif kuliah, jadi hari ini Husin ingin menghabiskan waktu hanya dengan berguling-guling di kamar.
“Bukannya kamu juga bisa? aku pernah lihat kamu antar Pak Dewa dulu di SMAHI.”
“Aku lagi malas Jan, biarlah Evan aja.”
“Bener bisa Van?” tanya Shella lagi, Evan mengangguk pelan. “Baiklah, ayo ikut aku. Antar kami ke Klinik, tiba-tiba saja Kia demam tinggi, keadaannya bener-bener kacau aku sangat khawatir.
Mendengar nama Kia, Husin segera berdiri. “Biar aku aja, ya…biar aku aja Shel. Van, sini kunci mobilnya biar aku aja, kamu istirahat sama Ijan aja Van”
“Nggak usah Bro, kamu tadi bilang malas kan? kamu melempar tugas padaku, dan kamu tak bisa memintanya kembali.” Evan mengedipkan sebelah mata, tanpa memperdulikan lelaki di depannya ia segera mengikuti Shella yang terus mengomel sebab Husin yang plin plan.
“Haish, sial. Kenapa si cungkring nggak bilang dari awal sih?” gumam Husin, suaranya lirih tapi masih mampu didengar Evan yang duduk di sampingnya.
“Kamu suka Tazkia ya Husin?”
“Ih, ngawur kamu Jan. Kenapa loh ini anak, bisa-bisanya bilang begitu.”
“Hah, nggak sadar juga kamu. Semua juga tau kali. Diam-diam kamu suka lihatin Kia, saat Kia dimarahi anak Pak Darma di kampus, kamu juga marah-marah nggak jelas. Bahkan kamu tau Kia tak suka jus jeruk. Dan tingkahmu barusan, jelas sekali. Si Evan juga, kenapa kalian menyukai wanita sama, kayak nggak ada cewek lain aja.”
“Maksudmu? Evan menyukai Kia?”
“Bukankah itu sudah jelas? kalian sama saja,” kata Ijan sembari meraih cangkir kopinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
astaghfirullah
2024-06-19
0