Baru saja selesai minum obat, Shella sudah mengomel agar Kia segera beristirahat. “Nanti perut aku besar kalau habis makan langsung tidur.” Kia cemberut menatap temannya yang berkacak pinggang di depan ranjang, sedangkan Devi tak henti-hentinya menahan tawa melihat tingkah dua temannya itu.
“Ah, masa bodoh. Yang penting sehat dulu, aku mau kita berangkat ke kampus bareng besok.” Shella masih bersikeras dengan keinginannya. Kini ia malah mendorong-dorong pundak Kia agar gadis itu mau merebahkan diri.
“Baiklah, baiklah. Tolong ambilkan aku kotak kayu di dalam lemari.”
“Nih, sekarang jangan banyak alasan, tidur saja kami mau cari sarapan,” perintah Shella setelah memberikan kotak kayu ukiran bunga yang diambilnya dari dalam kemari pakaian Kia. Keduanya pun berpamitan meninggalkan Kia sendiri.
Kia masih memikirkan kejadian semalam, jika sang ayah mengatakan kalung itu bisa melindunginya tapi kenapa ia malah jatuh sakit? meskipun hantu kepala itu memang menghilang saat kalung mengeluarkan cahaya, tapi saat itu juga Kia malah pingsan.
Kia mulai mengetikkan sebuah pesan untuk sang ayah, ia menceritakan apa yang terjadi secara singkat dan bertanya kenapa dia malah sakit? bahkan seluruh tubuhnya masih terasa nyeri. Butuh beberapa waktu sampai ayahnya membaca isi pesan itu, dan ketika pesan berubah menjadi centang biru, ponselnya berdering kencang.
“Assalamualaikum, iya Ayah.”
Kamu nggak apa-apa Nak?
“Jawab salam dong ayah,” protes Kia.
Iya, maafkan ayah. Waalaikum salam. Serius Kia, kamu nggak apa-apa kan? apa ayah ambil cuti aja besok dan datang menjengukmu?
“Nggak perlu Ayah, baru juga berapa hari disini. Kia nggak apa-apa kok, cuma demam biasa.”
Syukurlah kalau begitu, makanya ayah kan sudah bilang pakai kalung itu. Semisal ada makhluk astral yang energinya sangat kuat, itu tak akan sampai menyakitimu karena kalung itu akan menjaga.
“Iya Ayah, mulai sekarang akan Kia pakai.”
Baiklah. Istirahat aja biar lekas sehat, nanti ayah telepon lagi ya, ayah sedang ada rapat sebenarnya.
“Baiklah Ayah, aku matikan. Assalamualaikum.”
Tanpa menunggu jawaban, Kia telah memutus panggilan. Diletakkannya ponsel di atas meja lalu membuka kotak dan meraih kalung di dalamnya, kristal biru itu bagus juga sebenarnya, Kia pun memutuskan mengenakan kalung itu sejak detik ini.
***
Lamat-lamat terdengar senandung sholawat nabi dari arah masjid, suaranya sangat merdu menentramkan jiwa. Menyirami gersangnya hati yang telah lama merindu pada sang baginda. Kia duduk di depan kamar, ada bangku panjang disana. Ia bersama gadis-gadis dari Mts Uswatun Hasanah yang kebetulan tengah berhalangan dan tak bisa ikut serta kegiatan di masjid.
Kia sadar selama ini kurang bergaul dengan mereka, jujur saja ia masih kesulitan mengakrabkan diri dengan orang baru. Berbeda dengan Shella yang mudah bergaul. Seperti kali ini contohnya, Kia lebih banyak diam memilih mendengarkan seorang gadis bernama Laila.
“Sepertinya kegiatan di masjid sudah selesai, aku balik ke kamar dulu ya kak,” ucap Laila, Kia mengangguk dan mempersilahkan gadis itu pergi dari sisinya. Lantas ia melihat Shella berjalan seorang diri mendekatinya.
“Hey Nona, sudah sehat kah? kenapa ada di luar kamar malam-malam begini?” Shella kembali mengomel, kali ini dengan tangan membawa sajadah dan mukena yang belum sempat dilipat.
“Aku sudah sehat Shel, pegang aja keningku udah nggak panas lagi,” ucapnya meraih tangan Shella dan membawanya menuju kening.
“Baiklah, tapi lebih baik kita masuk saja. Ini sudah malam.” Keduanya pun kembali ke dalam kamar. Shella berkata jika ia heran melihat Kia yang sudah sehat. Jangankan Shella Kia sendiri tak mengerti, setelah memakai kalung pemberian sang ibu tiba-tiba saja badannya terasa segar, seolah tak pernah sakit.
“Apapun alasannya itu melegakan,” ungkap Shella kemudian. Gadis itu mulai menceritakan kegiatannya sehari ini tanpa Kia, hingga gosip panas yang ia dengar dari penghuni asrama.
“Maksud kamu? adik Pak Warmin dan calon istrinya sudah berjualan kembali?”
“Iya, sungguh tak pantas kan? bahkan ini belum genap satu minggu sejak kepergian calon suami juga kakak lelakinya, tapi mereka malah bertingkah”.
“Bertingkah bagaimana maksud kamu Shel? yang namanya manusia, mungkin mereka sayang kalau libur terlalu lama.”
“Masalahnya mereka kelewat akrab sampai kesannya malah kayak orang pacaran, ya tentu aja jadi bahan gunjingan. Orang-orang lebih kasihan pada Pak Warmin daripada mereka berdua. Mana kabar hantu kepala juga santer dimana-mana.”
TOK TOK TOK… seorang gadis muncul dari balik pintu yang memang sengaja dibiarkan terbuka. “Kak Shella, jadi nggak malam ini?” tanya gadis manis itu.
“Aah, iya.. aku hampir lupa Win. Baiklah, tunggu aja di luar, kamu cari tempat nanti aku menyusul ya.”
“Baik Kak, teman-teman juga udah pada nunggu.” Gadis bernama lengkap Winda itu tersenyum mengangguk pada Kia, lantas segera pergi meninggalkan mereka berdua.
“Mau kemana Shel?”
“Itu, mereka minta di ajari beberapa materi pelajaran. Kamu mau ikut? kamu kan pinter, sedekah ilmu Ki.” Shella mulai memasang hijab, menyematkan jarum pentul di bawah dagu, merapikan lipatan kain berwarna biru muda yang menjuntai di depan dada sambil sesekali berputar-putar di depan cermin, senyum mengembang dari bibirnya.
“Udah… udah cantik, siapa sih yang mau lihat?”
“Nggak gitu juga Ki, dimanapun dan kapanpun kita harus memberikan penampilan yang terbaik. Gitu Loh, ah udahlah, mau ikut nggak?”
“Nggak deh, baru juga pusingnya ilang mikirin pelajaran malah makin pusing nanti,” keluh Kia.
“Ya udah, sendiri aja disini. Awas ada hantu kepala.” Ucapan Shella membuat jantung Kia kembali berdetak kencang, jujur saja ia masih trauma bertemu hantu tanpa kepala yang menyemburkan darah kental berbau anyir itu. Shella tertawa sambil mengatakan jika ia bercanda, mungkin gadis itu merasa tak nyaman karena Kia tampak terkejut dengan candaannya.
Kia memutuskan pergi ke swalayan untuk menemui Devi, sambil mencari udara segar ia juga bisa membeli ice cream. Sudah lama ia tak membeli salah satu jajanan favoritnya itu, mendadak ia jadi sangat bersemangat.
Di pos jaga ia sempat menyapa Bejo dan Dori yang tengah asyik mendengarkan musik dangdut, bahkan Bejo sempat membantunya untuk menyeberang jalan, mereka adalah orang-orang baik, pikir Kia.
Malam ini swalayan tak begitu ramai, tapi Kia tak melihat Devina disana. Hanya ada rekannya sesama perempuan yang berjaga di samping kasir.
Menuju box ice cream, Kia sengaja memilih ice cream rasa buah karena mengidam sesuatu yang segar. Kali ini pilihannya jatuh pada ice cream rasa mangga. Saat berjalan menuju kasir, Kia sempat melihat seorang pelanggan yang tertidur di ujung ruang. “Kenapa tidur disitu?” gumamnya.
Swalayan ini memang memiliki tempat bersantai di bagian dalam dan luar, keinginan memilih tempat itu untuk menikmati ice creamnya pupus sudah, sebab ia kalah cepat dengan orang lain.
“Mau tambah rotinya Kak?” tanya kasir wanita yang menerima belanjaan Kia. Kia menggeleng, cukup ice cream dan sosis rasa sapi yang akan menemaninya malam ini. “Kakak cari siapa ya?” Wanita itu kembali mengajukan pertanyaan saat gerakan kepala Kia menoleh ke kanan dan kekiri tertangkap ekor mata sang kasir.
“Ehm.. Kak Devi mana ya?”
“Oh temannya Devi, ada kok dia di gudang. Bentar lagi juga kembali, tunggu aja,” saran wanita itu. Kia mengangguk mengerti, membayar sesuai total belanja dan segera keluar dari swalayan. Ia terpaksa memilih bersantai di kursi luar, meski angin malam itu terasa sangat dingin. Kia membuka bungkus ice cream dan mulai menikmatinya, ia tersenyum lega saat segarnya mangga bercampur susu mengalir di tenggorokan menuju lambung.
“Aah… nikmat mana yang kau dustakan,” gumamnya pelan.
“Katanya sakit? tapi makan ice cream?"
"Aah, ya Allah."
Entah kenapa sejak kejadian malam itu Kia jadi mudah terkejut, ia bahkan menjatuhkan ice cream saat mendengar suara seorang lelaki disebelahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
siapa ..Husin apa evan
2024-06-19
0
FiaNasa
asti yg negur KIA itu Evan...klau Husin g mungkinlah begitu kan Husin slalu jaim m kia 😀
2024-05-30
0