Kedatangan mereka disambut langsung oleh Ustadz Subkhi dan istrinya, yang menurut Pak Andi adalah pengelola yayasan UH (Uswatun Hasanah), juga beberapa lelaki dan perempuan yang Kia kira adalah guru disana.
“Assalamualaikum, selamat datang di yayasan Uswatun Hasanah, kami semua sudah sangat menunggu kedatangan adik-adik dari SMA Harmoni Ilmu, mari silahkan duduk.” Ustadz Subkhi mempersilahkan mereka duduk di atas hamparan karpet berwarna biru yang terdapat beraneka suguhan khas desa di atasnya.
Semua orang duduk lesehan, dan ustadz Subkhi meminta maaf karena tempatnya yang sangat sederhana, bahkan kenyataan mereka harus duduk lesehan tanpa kursi.
“Tidak apa-apa Ustadz, ini sudah lebih dari cukup. Ustadz sudah menyambut kedatangan kami sendiri itu sudah suatu kehormatan bagi kami, mengingat jadwal Ustadz yang sangat padat,” timpal pak Andi, anak-anak hanya diam menyimak pembicaraan orang dewasa tanpa berani menyela.
Pak Andi mulai membicarakan tentang maksud kedatangan mereka, meski ini adalah keinginan ustadz Subkhi juga. Menitipkan kelima anak yang dibawanya itu. “Anak-anak ini, mendapat beasiswa di universitas Gading di kota ini. Sesuai rencana, kami akan menitipkan mereka pada Pak ustadz, agar mereka juga bisa membantu Pak Ustadz dan ustadzah menjaga adik-adik di yayasan Uswatun Hasanah.”
“Baik Mas Andi, itu juga keinginan kami. Kebetulan yayasan Uswatun Hasanah sangat membutuhkan bantuan tenaga pengajar, utamanya anak-anak TPQ. Karena semenjak kami membuka Taman pendidikan Alquran setahun yang lalu, siswi yang mendaftar semakin lama semakin banyak. Kalau untuk guru sekolah pagi, insya Allah sudah cukup. Guru Tpq yang membantu istri saya ini yang masih kurang,” jawab ustadz Subkhi setelah menunjuk istrinya yang tersenyum ramah.
“Iya Pak Ustadz, insya Allah mereka dikasih tugas apa saja sudah bisa. Ustadzah mau dibantu masak, bersih-bersih juga bisa ini mbak Kia sama mbak Shella. Kalau benerin genteng atau yang berurusan kerjaan lelaki insya Allah tiga jagoan SMAHI ini juga mampu,” canda pak Andi lagi, berhasil mencairkan suasana hingga seisi ruang tertawa oleh ucapannya.
“Tenang saja mas Andi, kami akan menjaga adik-adik yang cantik dan ganteng ini di desa kami, di jamin mereka akan betah di desa Gondowangi. Siapa tau bisa dapat jodoh orang sini juga, ya kan? kayak ustadz Subkhi yang kecantol Neng Aisyah,” timpal bapak Kepala desa membuat kelima remaja ini tampak malu-malu.
Apalagi saat Pak Andi mengaminkannya, Evan mendorong pundak Ijan dan membuat lelaki bertubuh sedikit berisi itu terhuyung ke depan. Untung saja ia mampu menahan beban tubuhnya, kalau tidak bisa saja ia jatuh diatas tumpukan kue talam di dalam piring.
Ditengah riuhnya suasana dalam ruangan, hawa dingin dan kencangnya angin dari kipas angin yang sengaja diletakkan disetiap sudut ruangan membuat Kia ingin buang air. Ia merasa sungkan jika harus meminta izin saat percakapan masih berlangsung. “Shel, aku pengen pipis. Gimana nih? dimana ya letak toiletnya?”
“Kayaknya aku tadi sempat lihat deh Ki, di samping pos satpam ada tulisan toilet, di pintu masuk Ki. Mau kuantar?” Shella menatap temannya yang mulai meringis menahan keinginan buang hajat.
“Nggak usah deh, biar aku berangkat sendiri,” jawab Kia. Ia hanya tak ingin menarik perhatian banyak orang jika harus pergi dengan Shella. Jika sendiri, dengan tubuhnya yang mungil mudah baginya menyelinap di antara para guru yang duduk di samping pintu.
“Mau kemana?” tanya Husin tatkala melihat Kia beringsut meninggalkan ruangan. Kia hanya melirik, ia masih kesal lantaran sepanjang perjalanan Husin bersikap seolah tak mengenalnya. Lelaki itu hanya diam memejamkan mata, bahkan saat Kia mengajaknya berbincang, Husin dengan sengaja tak menjawab pertanyaannya. Evan dan Ijan lah yang aktif mengajak dirinya dan Shella berbincang.
“Hah, ternyata kamu punya mulut juga,” ketus Kia dengan suara lirih yang masih mampu didengar Husin. Lelaki itu tampak heran, tapi tak berniat memberikan jawaban lagi. Ia membiarkan Kia melewatinya dan menghilang di balik pintu.
Kia pun berangkat seorang diri dan berhasil sampai di depan toilet, ia berhenti sejenak sebab mendengar suara gaduh dari dalam toilet yang terletak dipojok bangunan itu. Suasana sangat sepi, sebab semua orang berkumpul di dalam ruangan, bahkan para satpam dan tukang kebun menyimak jalannya acara perkenalan dari luar ruangan. Sesekali mereka tertawa bersama, mungkin candaan Pak Andi, Ustadz Subkhi dan juga pak Kades membuat perut mereka tergelitik.
BUGH! BUGH!
Kia terkesiap, ia mendengar seperti suara adu jotos diantara dua orang di dalam sana, Kia melupakan keinginan buang air, ia mencoba mengintip dan keluarlah seorang lelaki berkulit gelap dengan bulu-bulu tipis yang tumbuh rapi di atas bibirnya. Lelaki itu tersenyum melihat Kia. “Mau ke toilet Neng?”
“Ah, i-iya Pak.”
“Toilet ini sudah tidak berfungsi Neng, kalau Neng mau buang hajat ke sebelah sana saja Neng, itu disamping kantin,” tunjuk lelaki dengan peluh membanjiri wajahnya.
Kia merasa curiga dengan gelagat lelaki di depannya yang seolah tengah menyembunyikan sesuatu. Namun, ia tak mau mencari masalah dihari pertama kedatangannya. Ia mengucapkan terima kasih, mengangguk berpamitan dan segera melangkah pergi menuju toilet disamping kantin, tepat disisi kanan masjid yang ditunjukkan oleh lelaki itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
apa gelud ma adiknya
2024-06-18
0
Zuhril Witanto
🤣🤣🤭
2024-06-18
0
FiaNasa
baru nyampek situ aja kita udah menemukan keanehan nih,,,ada apa ya dlm toilet itu,,apakah lelaki yg kluar itu sudah membunuh orang dlm toilet🤔🤔🤔🤔
2024-05-26
1