Rumah Warmin sangatlah sederhana, tak terlalu besar tapi tampak nyaman dan bersih. Menurut Devi, orang tua Warmin telah tiada, selama ini Warmin tinggal bersama adik sambungnya. Yang sebenarnya adalah keponakan sang ayah.
Suasana begitu ramai, banyak saudara dan tetangga yang ingin mengikuti tahlil malam pertama untuk Warmin. Tak heran jika Devina mengatakan lelaki itu memang sangat baik, ramah dan suka membantu. Namun, Kia masih tak mengerti kenapa bisa orang sebaik itu memiliki kematian yang begitu tragis, sungguh malang sekali nasibnya.
“Ayo kita masuk,” ajak ustadzah Aisyah kepada tiga gadis itu. Mereka disambut oleh para perempuan yang diduga sebagai kerabat dan tetangga Warmin, duduk bersama di ruang tamu beralaskan tikar. Kia bisa merasakan aura mistis yang kental dalam rumah kecil itu, padahal dari luar rumah terlihat biasa saja, ia begitu tak nyaman hingga sedikit sesak dan berkeringat dingin.
“Kamu kenapa Ki?” tanya Shella yang menyadari perubahan pada diri temannya.
“Nggak apa-apa Shel.”
Tiba-tiba saja semua lelaki yang duduk di ruang depan berdiri, mereka menyambut kedatangan seseorang. “Kak Dev, itu siapa?” tanya Shella.
“Itu Pak Darma, ayah Rendra yang kuceritakan kemarin,” bisik Devi di samping kedua temannya. Mereka melihat Pak Darma yang duduk di samping Husin dan Ijan, aura lelaki itu juga tampak aneh di mata Kia. Namun, ia memilih abai saat acara tahlil di pimpin oleh Pak Umar.
Tahlil bersama berjalan lancar, para warga banyak yang memilih langsung pulang. Heru dan Inem tampak sibuk membagikan bingkisan untuk setiap orang yang mengikuti acara tahlil bersama. Begitulah adat di desa itu menurut Devina, tak begitu jauh berbeda dengan di kota tempat tinggal Kia dulu.
Kini giliran mereka, ustadzah Aisyah mendekati Inem dan memeluknya. Memberi kekuatan lewat kata-kata semangat dan doa. Kia merasa aneh sebab wanita itu sama sekali tak tampak tengah bersedih hati. Namun, Kia mencoba mengenyahkan pikiran buruk itu.
Sesaat setelah berpamitan, Shella menggandeng lengan Kia untuk berjalan lebih dulu meninggalkan Devina dan ustadzah Aisyah. “Gimana Ki? nggak ada yang aneh saat berjabat tangan dengan calon istri pak Warmin?”
“Hmm? maksud kamu apa Shel?”
“Ah Kia, kayak yang waktu itu sama Kak Nia, apa kamu nggak lihat apa-apa?”
“Nggak ada Shel, kemampuan itu tak bisa kukendalikan, tak semua orang bisa kulihat masa lalunya hanya dengan berjabat tangan. Kalau aku mampu lakukan itu pada semua orang, sudah pasti aku akan melihat masa lalumu,” ucap Kia menahan tawa.
“Loh, kenapa aku?”
“Kali aja aku nemu bahan buat cepuin kamu tiap hari.” Kia tertawa pelan, ia menyadari Evan menatapnya dari kejauhan. Lelaki itu duduk di samping mobil yang akan membawa mereka kembali ke yayasan.
.
Malam itu suasana asrama putri lebih sepi daripada hari-hari sebelumnya, jam tidur aktif untuk anak-anak adalah jam 11 malam, tapi baru jam sepuluh pintu kamar telah terkunci. Penghuninya memilih istirahat di awal waktu, padahal malam itu adalah malam minggu, besok adalah hari libur.
Kia, Shella dan Devina baru saja kembali dari acara tahlil, mereka sedikit terkejut saat menyadari lampu koridor asrama telah berganti lampu tidur. “Tumben sekali anak-anak sudah pada tidur?” ucap Devina, mereka bertiga segera masuk ke dalam kamar.
“Kita tidur juga yuk, perasaanku nggak enak, gimana Ki? tebakanku benar kan? ada kan?” Shella merapatkan diri di samping temannya.
“Ada apa sih? orang nggak ada apa-apa juga, ya udah kita tidur aja. Ehm, ada yang mau ke kamar mandi?”
“Nggak dulu deh, kamu Shel?” tanya Devina, berjalan mendekati kedua temannya.
“Kakak yang rajin ke kamar mandi aja absen, apalagi aku. Ya udah kita tidur aja yuk.” Tanpa berganti pakaian Shella dan Devi segera merangkak menuju ranjang masing-masing, begitupun Kia.
Tak butuh waktu lama, Shella dan Devina telah terlelap, menyisakan Kia yang tak bisa berhenti memikirkan ekspresi wajah Inem dan Heru yang menurutnya tampak mencurigakan. Mereka bercanda di depan kotak sumbangan kematian, tapi hanya sebentar karena rombongan dari yayasan baru saja tiba, hanya saja Kia sempat melihat hal itu.
Kia mengingat ponselnya yang mati sejak acara perkenalan tpq tadi, khawatir sang ayah menghubunginya seperti kali terakhir, Kia segera mengambil benda pipih yang tersimpan di lemari pakaian. Tangannya tak sengaja menyentuh kotak kayu dengan ukiran bunga yang diberikan sang ayah padanya, kotak itu jatuh dan terbuka. Muncul sinar dari dalam kotak itu yang membuat Kia penasaran.
Meraihnya dan membawa benda itu dalam pangkuan, duduk di bibir ranjang seraya kembali mengingat percakapan dengan ayah kala itu. “Apa maksud ayah dengan keturunan terakhir?”
“Kamu ingatkan, dulu ibu selalu mewanti-wanti agar tak berpacaran, agar tak bermain-main dengan lawan jenis, fokus saja pada belajar.”
“Tentu saja ingat, sebab hal itu Kia jadi sering ngebantah ibu, lagian aneh masa cuma temenan sama cowok aja dilarang, orang nggak ngapa-ngapain juga, ibu terlalu ketat nggak kayak ayah.”
“Itu semua ibu lakukan untuk kebaikanmu, keluarga kita memiliki kutukan yang turun temurun Kia.” Ayah diam sejenak, memandang manik hitam milik sang putri.
“Kutukan? jangan bercanda deh ayah, masa di zaman canggih gini masih ada kutukan. Sudahlah, lagian Kia juga tau kok ibu melakukan hal itu hanya karena terlalu sayang pada Kia, Kia aja yang nggak paham, dan sekarang barulah menyesal. Kenapa dulu tak nurut dan jadi putri yang baik untuk Ibu,” tutur Kia sedih.
“Ayah serius Kia, dengarkanlah dulu. Ini kalung milik ibu, kutukan itu berasal dari nenek moyang ibu yang dulu melakukan kesalahan besar. Akibatnya, anak turun yang harus mendapat hukuman.”
“Hukuman? Memangnya apa hukumannya Ayah?”
“Hukumannya ada dua macam, yang pertama adalah kemampuan melihat makhluk halus dan sering mendapat teror, dan hukuman kedua…”
GEDEBUG….
Lagi-lagi lamunan Kia terpotong oleh sebuah suara, kali ini benda terjatuh di luar kamar. Tak lama kemudian benda itu seperti menggelinding melewati depan pintu, berjalan mondar mandir beberapa kali.
Kia berdiri untuk mengembalikan kotak berisi kalung sang ibu kembali ke lemari, ia penasaran dengan apa yang didengarnya. Perlahan ia membuka handle pintu, melongok ke arah depan kamar yang ternyata lampunya telah padam. Hanya ada pantulan cahaya dari halaman masjid yang membuat keadaan depan kamar menjadi remang-remang. “Kenapa ini lampunya kok mati, tadi kan masih nyala,” gumamnya pelan.
Saat Kia hendak kembali menutup pintu, tiba-tiba saja benda bulat mirip bola berwarna hitam menggelinding di lantai tepat di depan matanya. Kia penasaran siapa yang bermain bola di tengah malam begini, tapi anehnya bola itu tak juga berhenti. Melainkan kembali menggelinding ke tempat asal, dan saat itulah Kia melihat struktur wajah pada sisi bola. Mata melotot, hidung dan bibir yang terbuka, sedangkan darah tercecer dari ujungnya yang merupakan leher yang terpotong dari kepala itu.
Nafas Kia tercekat, reflek tangannya menutup pintu. Tubuhnya luruh begitu saja seolah kekuatan kaki menghilang, ia merangkak mendekati ranjang. Tangannya bertumpu pada kain sprei, berusaha menenangkan diri. Rasanya Kia seperti pernah melihat wajah itu. Untuk beberapa saat ia mencoba mengingat, dan wajah dalam potret di ponsel Bejo hadir dalam ingatannya. Kia menunduk dengan nafas berat, “Pak Warmin.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
warming gentayangan
2024-06-19
0
FiaNasa
warmin jd hantu
2024-05-29
0