Lampu penerangan dalam ruangan 4x6 meter itu telah berganti dengan lampu tidur yang cahayanya lebih redup, Kia dan Devina baru saja kembali dan mendapati Shella telah terlelap.
“Sudah tidur aja dia, katanya bakal sulit tidur karena dekat perlintasan kereta api.” Kia tersenyum melihat Shella, menarik selimut yang terlepas dari tubuh dan memasangnya kembali hingga menutup atas perut.
“Dia tadi udah minum obat Kia, wajar kalau udah ngantuk, biarin ajalah. Oh iya Kia, kamu berapa bersaudara?” Devina meletakkan pakaian di gantungan, lantas meraih rak kecil berisi berbagai macam perawatan wajah yang terletak di atas meja.
“Aku anak tunggal Kak, ibuku sudah tiada. Aku hanya tinggal bersama ayah,” jawabnya sopan, Kia ikut melakukan hal sama, ia sempat mencuci muka tadi sambil menunggu Devina di kamar mandi.
“Jadi, ayah kamu sendirian dong sekarang?”
“Ya, begitulah Kak. Sebenarnya aku juga kepikiran mau tinggalin ayah sendiri di rumah, tapi mau gimana lagi. Untungnya rumah Bibi tak jauh dari rumah kami, jadi ayah tak sepenuhnya sendiri.” Meski bibi dan ayah bagaikan kucing dan tikus.
“Syukurlah, kalau aku ada enam bersaudara. Aku anak ketiga, saudaraku banyak, jadi ketika ustadz Subkhi memintaku pada abi dan umi, mereka setuju begitu saja. Apalagi saat Ustadz bilang akan membantuku mendapatkan beasiswa di universitas Gading.” Devina tersenyum, Kia sadar gadis di depannya memiliki senyum yang sangat manis, rambut hitamnya panjang bergelombang. Kulitnya yang seputih susu, juga body nya yang sangat indah, Kia saja kagum melihat kecantikannya, apalagi lelaki di luar sana.
“Selain kuliah, apa kegiatan kakak di sini? apa membantu ustadzah Aisyah di Tpq juga?” tanya Kia. Devina menggeleng, ia kembali meletakkan rak kecil berisi macam-macam skincare ke atas meja.
“Tugasku menggantikan ustadz, mengaji kitab kuning bersama anak-anak setiap selepas subuh dan setelah ashar. Tapi, hanya jika ustadz sedang ada kondangan di luar kota. Selebihnya, aku bekerja di swalayan seberang jalan. Di samping ndalem ustadz Subkhi.”
“Bekerja Kak? serius? emang boleh bekerja disini?”
“Tentu saja itu khusus untukku Kia, ah.. Bercanda. Swalayan itu milik yayasan, anak-anak biasanya belanja disana, tapi ada jam tertentu boleh keluar untuk belanja," tuturnya.
Kia tersenyum, sebenarnya ia menyadari seorang Devina mendapat perlakuan khusus disini, ia tinggal secara gratis di yayasan, dan bahkan untuk sehari-hari Devina makan di ndalem ustadz, mungkin karena memang dia orang kepercayaan ustadz. Kia tak ingin memperpanjang pembahasan, ia tiba-tiba teringat perjumpaannya dengan seorang gadis di kolam.
“Oh iya kak, tadi waktu di kolam aku nggak sengaja ketemu gadis berpakaian merah dari ujung kepala sampai ujung kaki, aku sempat kaget karena warna pakaiannya benar-benar menyala dalam gelap.” Kia terkekeh mengingat kejadian itu, saat ia hampir terjengkang akibat rasa terkejut.
“Pakaian merah? kamu serius?” Wajah Devina mendadak tegang, tangannya yang semula sibuk dengan selimut berhenti bergerak, Kia sadar ada yang tak beres dengan kejadian yang menimpanya. Perlahan ia mengangguk, sambil menunggu jawaban Devina lagi.
Devi diam sejenak, menarik nafas panjang. “Dengarkan Kia, aku lupa memberitahu kamu satu peraturan aneh di yayasan ini. Sebenarnya semua penghuni yayasan dilarang menggunakan pakaian berwarna merah,” ucapnya.
“Hah? tapi, kenapa?”
“Jangan tanya alasannya, aku pun tak tahu. Menurut mereka yang telah lama disini, peraturan itu sudah ada sejak pertama kali ustadz Subkhi membuka yayasan ini. Dan, kalau kamu melihat orang berpakaian merah, kemungkinan dia bukan manusia.”
DUAGH...
“Astaghfirullah.” Serentak dua perempuan itu menjerit, saling tatap dengan nafas tersengal. Suara benda jatuh tepat di atas atap kamar mereka, suaranya sangat keras menandakan benda yang jatuh tidaklah kecil.
“Suara apa itu Kak?”
Devina menggeleng, tapi ia memberi kode agar mereka tidur saja menyusul Shella yang telah larut dalam mimpi. Dua perempuan itu akhirnya memilih merebahkan diri dan memejamkan mata hingga pagi menjelang.
Keesokan paginya, seisi yayasan dihebohkan oleh berita kecelakaan di rel kereta api semalam. Seorang lelaki yang diduga bekerja di yayasan mereka adalah korbannya. Anak-anak berebut melihat dari jendela kelas para polisi dan petugas tim SAR yang beroperasi di sekitar TKP.
Kebetulan Kia dan yang lain sedang ada janji dengan pihak kampus untuk menyelesaikan administrasi. Hingga mereka bisa melihat langsung di samping tempat kejadian. Seorang wanita menangis tergugu dalam pelukan lelaki, beberapa ibu-ibu juga mengerumuni keduanya. Kia merasa tak asing melihat wanita itu, tapi ingatannya yang buruk akan wajah seseorang membuatnya tak bisa mengingat siapa wanita itu.
Menurut Devina, korbannya bernama Warmin. “Itu siapa Kak?” tanya Kia.
“Beliau salah satu satpam yayasan, beliau satpam yang sangat baik dan sopan.” Devina tampak sedih, air mukanya sendu, bahkan pipi putih nan mulusnya berubah warna kemerahan.
“Maksud aku, wanita itu. Yang menangis disana, siapa dia?”
“Oh, itu mbak Inem. Calon istrinya, mereka berencana akan menikah, kalau nggak salah itu satu minggu lagi.” Air mata Devi luruh sudah, ia tak kuasa menahan rasa iba akan musibah yang menimpa pasangan itu.
“Astaghfirullah, kasihan sekali. Kalau yang itu siapa mbak? yang lagi peluk mbak Inem?” Kali ini Ijan di belakang Shella ikut berkomentar, lelaki gembul itu masih sempat menyelipkan roti ke dalam bibir kecilnya.
“Itu Bang Heru, adik sambung Kang Warmin.”
Mereka terdiam sejenak, larut dalam suasana sedih. Hingga tiba-tiba Husin menepuk pundak pemuda di depan Devina. “Maaf Bang, sebenarnya apa yang sedang dilakukan polisi dan tim SAR? sepertinya mereka tengah mencari sesuatu?”
“Kalian nggak tahu? kepala Kang Warmin belum ditemukan,” jawab pemuda itu, mereka syok mendengar jawaban ini.
“Ja-jadi, maksudnya kepala korban putus gitu?” Shella kesulitan bernafas, kepalanya mendadak pusing, pandangannya kabur dan ia terhuyung ke samping. Untung Evan cepat membantunya agar tetap bisa berdiri stabil. Ijan tersedak roti, ia batuk-batuk dan Devina yang kebetulan tengah membawa botol minum segera memberinya bantuan.
“Kamu nggak apa-apa Shel? kamu belum sehat ya?” Kia sangat khawatir pada sahabatnya ini, ia segera mengambil alih Shella dari tangan Evan.
“Aku nggak apa-apa Ki, cuma terkejut,” jawabnya berusaha menenangkan diri. Kia melirik Devina yang menanyakan hal sama pada Ijan, lelaki gembul itu mengangguk pelan, semburat merah jambu mencuat dari pipi bakpaonya yang berwarna putih.
Sebuah angkutan umum berhenti di seberang jalan, Husin berjalan lebih dulu meninggalkan teman-temannya, Kia berdecih kesal sebab lelaki itu sangat menyebalkan sejak di perjalanan kemarin. Bahkan sikapnya yang dingin seolah tak pernah mengenal Kia saja, padahal dia dulu suka menggoda.
Bukan berarti Kia ingin digoda, hanya saja bukankah sikap yang seperti itu terkesan sombong? gimana menurut kalian? Pasti kalian juga setuju kan dengan pemikiran Kia ini. Awas saja ya kamu, Husin!
Perjalanan menuju kampus, mereka harus melewati hutan jati yang begitu rindang, suasana di sana dingin dan gelap. Akan sangat menyeramkan di malam hari, setidaknya begitulah pemikiran Ijan saat ini. Lelaki gembul itu sebenarnya penakut, sangat penakut hingga sering ngompol jika sudah sangat ketakutan. “Kak Devi, akses ke kampus cuma satu arah ini?” katanya.
“Iya, kenapa?”
“Ah, nggak apa-apa Kak.”
“Kamu takut ya Ndut?” ejek Shella tanpa rasa bersalah, ia sangat santai memanggil lelaki yang baru beberapa hari dikenalnya dengan sebutan Ndut mentang-mentang tubuhnya padat berisi, justru Kia yang tampak tak nyaman akan sikap temannya ini.
“Shella…,” gumamnya.
“Apa?” Shella benar-benar tak sadar bahwa Ijan cemberut menatap dirinya.
“Siapa yang kamu panggil Ndut?”
“Ya kamu lah, memang kamu nggak gendut? aku kan cuma bilang apa adanya.”
“Hah, benar-benar ya gadis ini. Sini kalau berani, ayo kita adu skill sekalian,” tantang Ijan berapi-api.
“Apa? skill? emang apa skill kamu? makan?”
“Astaghfirullah, Shella… udah ih.” Kia berusaha menarik temannya yang hendak mendekati Ijan, begitupun Evan yang juga berusaha menenangkan Ijan, Devina menahan tawa, menutup mulut dengan satu tangan. Hanya Husin yang diam tak peduli, lagi-lagi Kia kesal karena Husin bersikap dingin padanya dan Shella, padahal mereka sudah saling kenal sejak lama. Kusumpahin kejedot kursi, biar tau rasa kamu Husin!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Khaliilah Fazia Eksyar
lucunya kia sama husin/Drool/
2024-06-27
0
Zuhril Witanto
astaghfirullah... pasti inem dan Heru dalang nya
2024-06-19
0
Zuhril Witanto
mungkinkah warming di bunuh Heru saudaranya
2024-06-19
0