Kia sangat bersyukur, di dalam angkutan hanya ada mereka berenam. Setidaknya tingkah konyol Shella tak dilihat orang lain. Mendadak sopir angkutan menghentikan kendaraan tanpa aba-aba. Hal itu membuat pertengkaran Shella dan Ijan otomatis terhenti, dan yang membuat Kia puas adalah saat kepala Husin terantuk kursi sopir bagian belakang.
“Aduh.” Lelaki itu mengaduh seraya mengusap jidatnya yang memerah, Kia berusaha menahan tawa tapi tidak dengan Shella, ia terbahak-bahak sambil menunjuk muka Husin yang tampak kesal.
“Makanya, jadi orang jangan sombong. Emangnya dikira ini SMAHI, kamu disini bukan siapa-siapa Husin, kamu juga nggak terlalu cakep dibanding Evan,” gumam Shella di kalimat terakhirnya. Namun, masih bisa didengar semua orang. Evan pura-pura menatap jendela, sambil sesekali berdeham-deham.
Sedangkan Husin, ia mendesis kesal dengan mata nyalang menatap Shella. Membuat gadis itu ikut melotot sambil menggerakkan kepala berkali-berkali seolah menantang lelaki yang dulu sangat digandrunginya itu.
“Apa, apa? sini maju! disini nggak ada pak Dewa, nggak ada kak Nia juga,” ucapnya lagi, Kia menarik tangan gadis itu meminta Shella menghentikan sikap konyolnya.
“Shella, udah… malu sama kak Devi, kenapa sih kamu? dari kemarin juga suka banget rusuh,” kata Kia, bukan tanpa alasan Kia mengatakan itu, sebab memang dari kemarin saat di perjalanan beberapa kali Shella berbeda pendapat dengan Ijan, mungkin itulah yang membuatnya kesal pada pria gembul itu, dan rasa kesalnya merembet pada Husin yang sedari tadi hanya memilih diam.
“Baiklah, untung Kia memintaku diam. Kalau tak, habis kalian berdua.”
“Ssst, udah.” Lagi-lagi Kia memintanya diam, Ijan dan Husin pun sudah tenang. Mereka berdua fokus menatap jendela, pemandangan gelap telah berubah terang sejak beberapa saat lalu. Mereka telah keluar dari rindangnya hutan jati, memasuki sebuah gapura bertuliskan selamat datang di Kota Bengkala, kota indah bersih berseri.
Sesuai slogannya, kota itu memang sangat indah dan bersih. Sepanjang jalan Kia menyaksikan tanaman tabebuya berjajar rapi, bunga yang dikatakan sebagai saudara kembar sakura itu berwarna pink cerah. Jalanan juga sangat bersih, beberapa petugas kebersihan bahkan masih terlihat aktif bekerja di sepanjang jalan.
Area pertokoan memadati kota, ada juga perumahan elit bahkan bioskop. Kampus mereka berada tepat di sisi kanan gedung olahraga, angkutan berwarna biru tua itu berhenti tepat di depan gerbang, mereka berenam membayar sesuai ongkos dan segera turun dari kendaraan berbentuk kotak itu.
“Wuah, serius ini kampus kita? kita akan belajar disini Ki?” Mata Shella berbinar, bibirnya sedikit terbuka sebab rasa kagum memenuhi rongga dadanya.
“Jangan katro deh cungkring…” Ijan mengejeknya seraya berjalan mengikuti Husin yang telah lebih dulu masuk ke dalam gerbang bersama Evan.
“Heh? apa kamu bilang Ndut? ulangi sekali lagi!”
“C-U-NG-K-R-I-NG bacanya Cungkring, lihat tubuhmu kayak kurang gizi begitu, perutnya aja yang gede.” Ijan meleletkan lidah, matanya bahkan berkedip-kedip menyebalkan. Shella menarik nafas panjang, ia tak bisa membantah karena keluhannya selama ini memang sulit gemuk tapi perutnya besar.
“Ki…,” rengeknya seolah meminta pembelaan.
“Udahlah, makanya kamu. Udah yuk masuk nanti kita ketinggalan.” Kia menarik tangan Shella untuk mengikuti Devi masuk ke dalam kampus. Tapi sayangnya mereka berdua kehilangan jejak saat Devina dan yang lain berbelok arah, dua gadis bagai anak ayam kehilangan induknya di tengah padatnya mahasiswa dan mahasiswi yang memenuhi halaman kampus.
“Waduh, kita kehilangan mereka Ki,” keluh Shella, matanya memindai gerombolan wanita dan pria yang terus saja berlalu lalang di depan mereka.
“Kamu sih,” gerutu Kia sedikit kesal.
“Bukan salahku, itu salah si gendut Ki.” Shella merapatkan diri di samping lengan Kia, terbiasa berada di sekolah asrama yang hanya ada perempuan, mereka berdua sedikit kikuk jika berhadapan dengan lelaki sebanyak ini. Dalam hati, Kia benar-benar menyalahkan Shella tapi ia memilih diam.
Dering ponsel membuyarkan fokus keduanya, Kia segera mengeluarkan gawai dari dalam tas, nama Devina bergoyang di atas layar. Menyentuh tombol berwarna hijau, dan suara Devina terdengar di telinga, Kia sangat lega.
“Hallo, Kakak dimana? kita kayaknya tersesat deh kak.”
Kamu dimana sekarang? coba jelaskan posisimu nanti aku jemput
Suara di seberang meminta Kia menjelaskan posisinya. Pandangan Kia menyisir sekitar, ada mushola kecil dan sebuah ruangan bertuliskan Ruang workshop. Shella diam menyimak saat Kia menjelaskan dimana mereka berada.
“Jalan ke kiri ya kak dari musholla ini, apa kak? laboratorium? oke kak kita berangkat sekarang.” Tanpa mematikan panggilan, Kia berjalan cepat diikuti Shella di belakangnya, ia sedikit panik saat tak sengaja melihat hal aneh di toilet musholla. Shella memahami hal itu, mereka berdua berjalan cepat hingga tak sengaja menabrak seseorang.
BRUK
“Aduh, maaf ya aku nggak sengaja.” Tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang sedikit retak, Kia mengucapkan maaf, dengan dibantu Shella ia berdiri sembari membersihkan pakaiannya yang kotor oleh debu.
“Ah, sial. Jalan pake mata! siapa sih kamu? kayaknya aku belum pernah lihat, kamu anak baru?”
“I-ya Kak, m-maafkan kami,” jawab Shella terbata.
“Hey, kita kan udah minta maaf. Lagian lihat, ponselku retak karena kamu, bukankah harusnya impas diantara kita?” ucap Kia kesal. Devina berlari mendekat, wanita itu tampak terkejut dan segera membungkuk di depan lelaki yang mengumpat Kia beberapa saat lalu.
“Maafkan kami Rendra, mereka anak baru tolong dimaklumi.”
Kia melongo melihat pemandangan ini, dalam hatinya bertanya-tanya siapa lelaki bernama Rendra ini, kenapa Devina begitu takut padanya. Kia kembali mengalihkan pandangan pada lelaki bermata elang itu.
“Ki, menunduklah,” bisik Devina sambil menarik tangan Kia. Shella mengikuti gerakan seniornya itu, ia bahkan memukul-mukul lengan Kia agar segera peka akan situasi ini. Dalam pikirannya, jika Devina sampai seperti ini, sudah pasti lelaki bernama Rendra bukanlah mahasiswa biasa.
“Sudahlah Ren, lepaskan aja mereka. Nggak ada gunanya juga,” sanggah pemuda berpakaian sedikit urakan yang berdiri tepat di samping lelaki itu, Kia melihat Rendra tergagap, tapi segera memberi jawaban.
“B-baiklah, aku maafkan. Lain kali lebih hati-hati, dan kamu Vina ajari mereka kalau tak ingin teman-temanmu ini mendapat masalah.” Rendra melenggang pergi, ia melewati Husin yang menatapnya tajam. Kia bisa melihat tangan Husin terkepal, untungnya Ijan dan Evan berusaha menarik tangannya agar lelaki itu tidak menambah masalah.
Selepas kepergian Rendra, suasana kembali normal. Para mahasiswa dan mahasiswi kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing, Devina membawa teman-temannya menuju mushola, di sana ia menjelaskan siapa sebenarnya Rendra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
lanjut
2024-06-19
0
ren rene
sepertinya husin jeaelous
2024-06-03
0