Tujuh Belas

“Kenapa harus menunggu hari ini Kia?” 

“Ya karena memang belum waktunya, lagian kenapa sih?” Kia heran dengan tingkah pemuda di depannya itu. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba Husin kesal padanya karena ia tak segera menceritakan apa yang dialaminya selama ini.  

“Gimana kalau sesuatu yang berbahaya terjadi padamu?” 

“Kamu mengkhawatirkanku Husin?” 

Husin semakin salah tingkah saat Kia berusaha menggodanya, mata Kia menelisik dalam pada raut wajahnya yang mendadak terasa panas. Sempat gelagapan mencoba menghindari manik hitam legam itu. 

“K-kata siapa? aku hanya tak mau Kak Nia khawatir padamu, dia sudah anggap kamu seperti adiknya sendiri. Makanya aku peduli, dan lagi kenapa tadi pagi kamu bisa sedekat itu dengan Evan? kamu bahkan bersandar pada pundaknya.” 

Kali ini Kia diam, ia sendiri sangat ingin menghapus kejadian itu. “Kok kamu bisa tahu sih? kayaknya posisimu jauh di belakangku deh. Aah, kamu mengintip kami ya?” 

“Hah, mengintip katamu? memangnya aku kurang kerjaan apa? perlu kamu ingat ya Tazkia, meski tempat asal kita bukanlah pesantren. Namun, Kak Nia dan Kak Dewa selalu mendidik kita untuk tidak sembarangan berinteraksi dengan lawan jenis. Makanya di Smahi dulu semua tempat terpisah kecuali swalayan dan perpustakaan. Itu pun kalau murid putra dan putri tak sengaja bertemu mereka tetap harus menjaga diri tak bisa sembarangan berinteraksi.” 

“Oh iya? tapi seingatku kamu dulu bebas menyapaku.”

“Astaga Kia, pokoknya gitu deh.” Husin semakin kesal saat Kia terus menjawab setiap ucapannya. Bahkan gadis itu tertawa lirih melihatnya tampak frustasi. 

“Bilang aja kamu cemburu, ya kan?” 

Wajah Husin memerah, Kia bisa melihat itu meskipun Husin mencoba memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. “Jangan sembarangan kalau bicara, kenapa juga aku harus cemburu pada kalian?” 

“Hey, kalian berdua ngapain sih? teman-teman pada nungguin juga, malah enak-enakan nge ghibah berdua disini.” Shella datang mendekat, gadis itu berjalan sembari melakukan rutinitasnya yaitu membetulkan letak kacamata yang melorot.

Kedatangan Shella seperti anugrah dari yang maha kuasa bagi Husin, pemuda itu menggunakan kesempatan ini untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Kia yang sebenarnya sudah jelas jawabannya apa. Hanya saja gadis itu tak juga peka. 

“Ayo Ki, malah pacaran.” Shella meraih tangan Kia dan menariknya pelan. Namun, hal mengejutkan terjadi. Mendadak Kia menarik kembali tangannya hingga tak sengaja membuat tangan Shella tersentak ke samping. 

“Ada apa Kia? kamu bikin kaget aja deh.” 

“Apa yang baru saja kulihat?” gumam Kia menatap telapak tangannya sendiri. “Shel, boleh pinjam tanganmu?” 

“Buat apa?” 

Tanpa menjawab pertanyaan Shella, Kia meraih tangan gadis itu dan memejamkan mata untuk beberapa saat. Shella tak mengerti apa yang terjadi, ia hanya membiarkan Kia melakukan apa yang diinginkan. 

“Shel, tadi pagi kamu meminta Winda mengantar coklat untuk siapa?” 

“Astaga Kia.” Shella membekap mulutnya sendiri, ia tak menyangka temannya bisa melihat masa lalu dengan menyentuh tangannya, padahal gadis itu mengatakan bahwa kemampuannya ini sama sekali belum berkembang, bahkan Kia tak bisa mengontrol tangan siapa yang menampilkan masa lalu pemiliknya. “Apa ini kebetulan?” ucapnya lagi dan Kia hanya memberinya gelengan kepala. 

.

Kini mereka berenam telah berkumpul kembali, Devina mulai menjelaskan pendapat mereka tentang teka-teki hantu kepala. “Setelah mendengar pemikiran Ijan, kami sepakat bahwa pulang itu maksudnya adalah rumah. Coba kalian pikir, setiap kali kalian mendengar kata pulang, tempat pertama yang terlintas dalam pikiran kalian dimana? pasti rumah kan? tempat kita berkumpul dengan keluarga.” 

“Tapi, rumah siapa Kak?” 

“Ya rumah Pak Warmin lah Cungkring, masa rumah kamu? kejauhan.” 

Shella melirik Ijan, lelaki itu tersenyum puas setelah berhasil membuatnya kesal. 

“Iya, rumah pak Warmin. Dan untuk lantai merah kita bisa coba cari petunjuk di rumah itu, siapa tau kita bisa menemukan jawabannya disana. Bagaimana menurutmu Kia? Husin? kami menunggu pendapat kalian,” tutur Devina lagi. 

Husin mengangguk pelan, ia merasa pendapat Ijan dan Devina itu masuk akal. Setidaknya mereka harus mencoba segala hal untuk bisa memecahkan masalah ini.

“Kalau kamu Kia?” Devina menatapnya.

“Ehm, baiklah. Kita harus mencoba segala cara. Tapi, bagaimana kita bisa masuk ke dalam rumah pak Warmin, Kak Dev?” 

Permasalah baru kembali muncul, mereka berenam hanya bisa saling pandang, tak ada satupun yang bisa memberikan solusi. 

***

Adzan maghrib kali ini terdengar begitu syahdu, semua calon jamaah satu persatu memasuki halaman masjid. Sebagian dari mereka ada yang sudah bersiap dari rumah dan langsung menuju shaf kosong untuk menghamparkan sajadah disana, ada juga yang langsung ke kamar mandi untuk bersuci dan mengambil wudhu. 

Kia dan Shella telah bersiap bersama anak-anak Tpq, mereka duduk khusyuk menyimak dan menjawab adzan. Jujur saja Kia merindukan suara ini, suara yang sering didengarnya di masjid SMAHI dulu. Suara milik pemuda tampan bernama lengkap Husin hanan At-taqiyy, adik ipar Baruna Dewa. 

Pemuda yang digandrungi teman-temannya, bahkan Shella sekalipun. Mengenang hal itu membuat Kia merindukan si rame Danisa dan Arin, juga si culun Dita, tak lupa juga si manis Zaina. Bagaimana kabar mereka sekarang. 

“Kenapa kamu mesem-mesem sendiri Ki? jangan bilang kamu beneran suka sama Husin?” tanya Shella tatkala mereka baru saja selesai membaca doa setelah adzan.

“Apaan sih? aku cuma lagi rindu teman-teman yang lain. Arin, Nisha, Dita dan Zaina.” 

“Iya, aku juga rindu mereka. Kita bahkan belum sempat membuat grup chat seperti rencana kita saat itu.” Shella tersenyum mengenang masa-masa bersama teman-teman gokilnya saat masih menjadi siswi SMAHI. “Kami selalu berkumpul di depan kamar Arin untuk mencuri-curi pandang ke asrama putra.” Shella menahan tawa mengingat tingkah konyol mereka kala itu. 

“Itu saat-saat kalian mengidolakan Husin kan?” tanya Kia sambil melirik Husin yang sedang bercengkrama dengan anak-anak Tpq. 

“Siapa?aku? mengidolakan Husin? yang benar saja Kia.” 

“Kamu amnesia? siapa dulu yang pernah bilang ‘kalau kak Nia aja secantik itu, kamu pasti bisa bayangkan gimana cakepnya Husin Hanan At-taqiyy’. Lupa kamu Shel? apa perlu ku ingatkan kembali? bahkan kamu panggil kak Husin, kak Husin dan kak Husin.” 

“Ssstttt… ih Kia, jangan keras-keras. Itu kan dulu, yang penting sekarang mah nggak. Yah memang sih Husin tampan, tapi ada yang lebih tampan dari dia,” ucap Shella malu-malu. Kia meraih tangan Shella, tapi gadis itu segera menariknya lagi. 

“Hah, hampir aja. Jangan berani-berani melihatnya lagi Kia… Aku gak ridho dunia akhirat,” ungkapnya. 

“Makanya ceritain dong, apa pria yang lebih tampan dari Husin itu adalah pria coklat? dan siapakah dia?” Kia menelisik mata temannya yang berkedip-kedip lucu, Shella sadar tak bisa lagi menyembunyikan hal ini dari Kia. Meski dilarang, gadis itu akan mencari kesempatan menyentuh tangannya dan melihat semua yang terjadi di masa lalunya. 

“Baiklah baiklah, tapi janji jangan bocor,” ungkapnya dengan bibir cemberut. 

“Tentu saja, kita kan sahabat.” 

Shella melihat sekeliling, lalu membisikkan satu nama di samping telinga Kia. “Ya Allah, ini benar?! aduh gimana dong, tapi kayaknya dia…”

“Suka kamu kan? aku juga tau itu.” 

Kia beringsut mendekat, hendak mengajukan pertanyaan lain saat Husin membacakan iqamah. Ternyata ustadz Subkhi telah tiba, mereka harus menunda percakapan dan segera melaksanakan sholat maghrib bersama. 

Terpopuler

Comments

Biah Kartika

Biah Kartika

ijan ya sell 🤭😂

2024-08-26

0

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

suka ma evan

2024-06-19

0

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

Evan yaaa yg disukai Shella 😅 halaah jadi cinta segi tu gitu nya dweeehh /Facepalm//Facepalm/

2024-06-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!